Bab 15 Ancaman Hidup Aisyah terperangkap di sebuah ruangan. Kini Aisyah harus menghadapi preman yang tadi menggertak komplotan Thomas. Satu sisi Aisyah lega karena terlapas dari ancama komplotan Thomas, tetapi di sisi lain Aisyah tercekam dengan kedatangan sosok preman yang

Bab 14 Melawan Kebatihilan Demi sebuah cita-cita, Aisyah harus bisa melalui berbagai rintangan kehidupan. Perlakuan apapun yang didapatkan dari Tante Meyda, Aisyah jalani dengan penuh kesabaran. Namun, sekeji apapun perlakuan perempuan keturunan cina itu, Aisyah tak berani menyampaikan kepada bapaknya.

Bab 13 Kejamnya Ibu Tiri “Aisyah bangun, kita sudah sampai.” bisik Dimas pada Aisyah Aisyah terbangun dari tidurnya.Cukup lama dia tenggelam dalam tidurnya, hingga tak terasa sudah sampai di tempat tujuan. Aisyah pun turun dari mobil. Dengan langkah gontay Aisyah

Bab 12 Perjalanan ke Jakarta Enam tahun berlalu sudah. Aisyah sekarang sudah duduk di bangku kelas enam Sekolah Dasar. Aisyah tumbuh menjadi anak yang cerdas, sehingga setiap tahun selalu mendapatkan peringkat pertama di kelasnya. Aisyah juga anak yang rajin. Dia

Bab 11 Berkah Kecerdasan Temaram suasana menjelang magrib sore itu, belum ada penerangan listrik di rumah Aisyah. Penerangan masih menggunakan lentera. Terdengar suara benda jatuh. Sutinah terperanjat. “Braak …,!” Sutinah meloncat kaget. Sejak tadi siang Sutinah duduk termenung di depan

Bab 10 Sutinah Pulang Pagi itu warga kampung Sukamiskin digegerkan dengan berita kepulangan Sutinah. Kabar itu berawal dari Pak Ustad Saeful, yang mengabarkan kepada warga bahwa Sutinah ada di mesjid Al-Iklas. Hampir semua warga kampung itu datang ke mesjid Al-Ikhlas.

Bab 9 Rindu Keluarga Dalam pelariannya, Dimas tak menentu tinggal. Dengan uang curiannya, dia bisa pergi kemana saja. Dia pun sempat singgah ke rumah sakit jiwa, tempat Sutinah dirawat. Baru saat itu Sutinah dijenguk Dimas. Sehari setelah Dimas kabur dari

Bab 8 Di Sebuah Pesta Hingar bingar dan gelak tawa menyemarakan rumah Berta. Siang itu di gelar pesta perayaan keberuntungan. Berta mengundang seluruh anak buahnya. Berbagai makanan disajikan. Bahkan minuman keras pun disajikan. “Hey! Dimas kenapa Kamu melamun saja? Ayo

Bab 7 Harapan yang Kandas Kampung Sukamiskin dirundung duka nestapa. Hangusnya gubuk itu menambah pedih kehidupan dua bocah terlantar. Bertubi-tubi Aisyah diuji kesabaran oleh Sang Pencipta. Kesengsaraan sudah nyata di depan mata. Aisyah berdiri mematung melihat onggokan puing-puing sisa kebakaran.

Bab 6 Derita Aisyah Setelah Sutinah ditempatkan di Rumah Sakit Jiwa, Aisyah hidupnya semakin menderita. Ia tinggal bersama adiknya di rumah tanpa ada orang dewasa yang menemani. Dimas, selaku bapaknya tidak setiap hari datang ke rumah, karena dirinya sudah terjajah

Bab 5 KDRT Tiga bulan kemudian. “Plak, plak!” Terdengar suara tamaparan keras. “Blug!” suara tendangan menghantam benda terdengar jelas. Begitulah suara- suara yang terengar oleh Aisyah setiap kali bapaknya pulang. Selalu saja ada keributan di rumah. Tidak ada perlawanan dari

Bab 4 Prahara Keluarga Tiba-tiba Dimas muncul begitu saja dari arah dapur. Entah bagaimana caranya dia bisa berada di dapur rumahnya, padahal keadaannya sangat gelap. Memang Sutinah tak pernah menyalakan lentera di dalam dapur. “Kang Dimas? Kenapa akang bisa ada

Bab 3 Bapaak …! Berita meninggalnya abah Maksum di kampung itu, membuat warga kampung merasa iba pada Aisyah. Sungguh sangat menyayat hati. Anak sekecil Aisyah harus menanggung duka nestapa seperti itu. Secara sukarela warga kampung mengurus jenazah abah sebagaimana lazimnya.

Bab 2 Dasar Bocah! Selepas salat magrib, Aisyah segera membuka bingkisan makanan dari Bu Berta. Tangannya sedikir gemetar karena sudah tidak tahan menahan lapar seharian. “Hm …, makanan apa ini Bah, aku belum pernah liat sebelumnya, apakah ini halal untuk

Bab 1 Aisyah Kkrrk … krrrk … suara perut Aisyah seakan beriringan dengan suara rintik hujan yang sejak dini hari belum juga reda. Pagi ini cuaca sangat tidak bersahabat. Langit mendung, hujan terus mengguyur perkampungan yang jauh dari hiruk pikuk

Novel Takdir Cinta Tari  yang ditulis oleh Rita Rosidah adalah novel yang mengisahkan bagaimana menerima takdir dengan sebaik mungkin, sehingga menggiring ke jalan yang menuju ke arah kebahagiaan yang indah, bagaimana wanita bersikap dalam kehidupan membesarkan anak-anaknya dengan penuh cinta