Romantika Aisyah 10

Romantika-Aisyah.jpeg

Bab 10
Sutinah Pulang
Pagi itu warga kampung Sukamiskin digegerkan dengan berita kepulangan Sutinah. Kabar itu berawal dari Pak Ustad Saeful, yang mengabarkan kepada warga bahwa Sutinah ada di mesjid Al-Iklas. Hampir semua warga kampung itu datang ke mesjid Al-Ikhlas.
Berita kepulangan Sutinah pun sampai ke telinga Aisyah. Antara percaya dan tidak mendengar orang-orang bergunjing tentang kepulangan emaknya. Tanpa berpikir panjang lagi, Aisyah berlari tunggang langgang menuju mesjid. Terbelalak mata Aisyah melihat emak benar-benar ada di mesjid.
Tanpa ragu lagi Aisyah langsung menghampiri emaknya dan berteriak, “Emaak …!”
Sutinah dan Aisyah berpelukan saling melepas kerinduan. Pertemuan antara ibu dan anak itu membuat haru semua orang yang ada di situ. Tangisan bahagia saling tercurah antara Sutinah dan Aisyah. Sungguh tragedi yang memilukan.
“Emak, Emak pulang sama siapa? Emak sehat? Kenapa emak ada di sini?” tanya Aisyah bertubi-tubi.
“Alhamdulillah, emak sehat. Emak pulang bersama bapak, Nak. ” jawab Sutinah.
“Bapak? Sekarang bapaknya mana, dari tadi Aisyah gak lihat bapak.” ucap Aisyah sambil melihat keadaan sekitar mesjid.
“Maksud Kamu, Dimas yang mengantarkanmu ke sini?” tanya ustad Saeful kepada Sutinah menyelidik.
“Iya, Pak Ustad, semalam saya dijemput suami saya dari rumah sakit, terus saya dibawa mampir ke mesjid ini, katanya dia mau istirahat dulu sebentar. Setelah itu …, saya tidak tahu kemana suami saya, saya kira dia ada di sini.” Sutinah menjelaskan kejadian semalam.
Hari semakin siang, warga kampung itu semakin banyak yang berdatangan. Mereka menyambut kedatangan Sutinah dengan suka cita. Namun, walaupun kegembiraan yang dirasakan, air mata selalu saja menetes menyambut kedatangan Sutinah. Mereka merasa iba dan terharu.
Mang Kuyan yang berada di antara kerumunan itu langsung memberika pengumuman “Bapak-bapak, ibu-ibu, kita harus lebih waspada. Tadi kalian dengar sendiri kan, Sutinah pulang diantar suaminya, ini berarti si Dimas sudah kembali ke kampung kita.”
Kata-kata Mang Kuyan membuat Sutinah terheran-heran.
“Mang, ada apa dengan suami saya? Kenapa warga kampung harus waspada sama suami saya? Apakah suami saya maling?” tanya Sutinah heran.
“Aisyah, ada apa dengan bapakmu? Kenapa Nak, Jawab!” Sutinah mulai panik.
Seorang pun tak ada yang berani menjawab pertanyaan Sutinah. Sumuanya bungkam, mereka hanya tertunduk, khawatir Sutinah jiwanya kembali terguncang jika diberitahu, bahwa Dimas sebenarnya sedang menjadi buronan polisi. Suasana pun mendadak hening sesaat.
Di tengah keheningan itu, datanglah rombongan dari aparat desa. Ternyata, hanya beberapa jam saja. berita tentang kepulangan Sutinah sampai ke kepala Desa Padasuka. Pak Zaenal sebagai kepala Desa, sangat terkejut mendengar tentang kepulangan Sutinah.
Melihat rombongan dari desa, orang-orang pun menyingkir, mempersilakan Pak Zaenak untuk melihat Sutinah.
“Bu Sutinah? Ibu sudah pulang Bu? Sama siapa ibu pulang? … Bu Sutinah baik-baik saja kan? ” Pak Zaenak bertanya dengan hati-hati.
“Eh, Pak Kades, iya Pak, alhamdulillah…, saya sudah sembuh. Semalam saya pulang dijemput suami saya. Maaf, saya belum sempat mengucapkan terima kasih kepada Bapak, berkat jasa Bapak, saya sekarang sekarang bisa berkumpul lagi dengan suami dan anak-anak.” jawab Sutinah dengan wajah sumringah.
Pak Zaenak mendekati Sutinah perlahan. ”Bu, suami ibu sekarang tinggal dimana?” bisik Pak Zaenal. Sutinah tidak langsung menjawab. Ia malah mengernyitkan alisnya. Diam sesaat, lalu dipandanginya kembali orang-orang yang masih berkerumun di situ. Dia tidak mengerti kenapa semua orang menanyakan Dimas.
“Maaf…, bapak-bapak, ibu-ibu, jika boleh saya tahu, ada apa dengan suami saya? Apakah dia melakukan sesuatu yang melanggar hukum? Sekarang dia dimana? Apakah masih kerja dengan Bu Berta?” tanya Sutinah penuh heran.
Semuanya tidak ada yang berani menjawab. Mereka hanya saling memandang. Hingga pada akhirnya Pak Kades memerintahkan semuanya bubar.
“Bapa-bapak, Ibu-ibu, mohon maaf, sepertinya Bu Sutinah harus istirahat dulu, silakan kembali ke rumah masing-masing, dan saya mengimbau kepada warga Kampung Sukamiskin, agar turut peduli kepada keluarga Bu Sutinah.” ucap pak Kades tegas.
Warga kampung itu meninggalkan mesjid satu-persatu. Sutinah pun memandang kepulangan mereka satu- persatu. Aisyah masih dalam pelukan Sutinah, seolah mereka enggan terpisahkan lagi.
Setelah lama Pak Kades berbincang dengan Sutinah. Akhirnya Pak Kades beserta rengrengan mengantarkan Sutinah ke rumahnya. Mereka merasa khawatir akan kondisi Sutinah yang masih belum sembuh total.
“Mak, ayo kita pulang, kasihan Akbar di rumah menunggu.” ajak Aisyah. “
“O ya, Aisyah, dari tadi emak belum lihat adikmu, sama siapa dia? Emak kangen sekali.” ucap Sutinah.
“Akbar bersama Ceu Nunung, istrinya Mang Kuyan, emak masih ingat sama ceu Nunung? Dia baik sekali. Suka jagain Akbar, mandiin Akbar, Ceu Nunung udah kayak emaknya Akbar, Mak.” papar Aisyah.
“Sudah sudah, nanti saja di rumah ceritanya ya Aisyah, kasihan, emakmu mungkin butuh istirahat dulu. Jangan semua cerita disampaikan ke emakmu sekarang, pelan- pelan saja, bertahap. Bapak khawatir terjadi sesuatu pada emakmu. Ayo, sekarang kita ke rumahmu.” ajak pak Kades menyudahi percakapan.
Setibanya di rumah Aisyah, Sutinah tercengang, karena rumah yang dia lihat bukan rumahnya yang dulu. Ceu Nunung dan Mang Kuyan sudah berdiri di depan rumah Aisyah.
“Ayo Mak, kita masuk.” ajak Aisyah
“Ini rumah siapa Aisyah? Mana rumah kita? Katanya akan pulang ke rumah kita? Bapakmu mana?” tanya Sutinah.
Aisyah tidak menjawab. Dia menoleh ke arah Pak Kades seolah meminta isyarat apakah dia boleh menjawab pertanyaan emaknya atau tidak. Pak Kedes pun menggelengkan kepalanya. Aisyah paham maksud Pak Kades. Jadi, Aisyah memilih diam saja. Aisyah menuntun emaknya masuk ke rumah.
“Bu Sutinah, biar nanti saya yang menjelaskan semuanya, kenapa Aisyah tinggal di rumah ini. Sekarang ayo kita masuk, kita ngobrol di dalam ya, Bu.” ucap pak Kades dengan penuh kelembutan.
Setelah semuanya duduk dengan tenang, pak Kades pun mulai menceritakan semua peristiwa yang terjadi pada keluarga Aisyah.
“Begini Bu, rumah ini rumah Bu Sutinah. Jadi Ibu boleh tinggal di rumah ini selamanya. Rumah ibu yang dulu, sudah pada rusak, jadi warga kampung bergotong royong memperbaiku rumah ibu.”
“Nah, selama ibu di rumah sakit, Aisyah dan adiknya diurus sama keluarga Ceu Nunung, karena suami ibu sibuk kerja.” jelas pak Kades kemudian.
pak Kades tidak menceritakan hal yang sebenarnya terjadi. Kalau dia mengatakan yang sesungguhnya, dikhawatirkan Sutinah jiwanya akan terguncang kembali. Untuk sementara dia merahasiahkan dulu peristiwa kebakaran rumah Aisyah, longsornya rumah Bi Onah, meninggalnya Berta, dan menghilangnya Dimas.
Sutinah pun bisa menerima arahan dari pak Kades. Dia hanya manggut-manggut saja. Dipandanginya setiap sudut ruangan rumah. Rumah itu hanya berukuran 3 x 2 meter, bertiang kayu, dan berdinding anyaman bambu. Teramat sederhana.
Setelah situasinya tenang, pak Kades bersama rombongan, Ceu Nunung dan Mang Kuyan segera meninggalkan rumah itu. Tinggallah mereka bertiga. Sutinah, Aisyah, dan Akbar.
***
Perlahan, akhirnya Sutinah pun mengetahui musibah yang sudah dialami Aisyah. Semenjak dirinya diungsikan di rumah sakit jiwa. Tidak ada kabar apa pun tentang keluarganya. Sutinah hampir tak percaya mendengar itu semua.
Sutinah tak bisa membayangkan betapa anak-anaknya kucar-kacir ketika rumahnya hangus terbakar. Rumah Bi Onah yang terkena longsor, hingga Dimas yang sekarang menjadi buronan karena tersangka kasus pembunuhan Berta.
Rupanya nasib baik masih belum berpihak pada Aisyah. Bocah sekecil itu harus menanggung beban yang begitu berat. Dia harus membantu emaknya mencari nafkah untuk keperluan sehari-hari. Tak ada jalan lain, akhirnya Aisyah mengais rezeki dari rumah ke rumah menjajakan tenaganya untuk menjadi binatu.
“Mak, emak baik-baik ya di rumah, jaga adik, Aisyah mau ke rumah warga dulu, siapa tahu ada yang mau nyuruh nyuci. Lumayan, upahnya bisa untuk beli makanan hari ini, Aisyah lihat di dapur sudah tidak ada beras sebutir pun.” ucap Aisyah lirih.
“Aisyah, jadi selama ini Kamu bekerja nyuci baju orang?” tanya Sutinah sambil memegang telapak tangan Aisyah yang mungil. Tangan Aisyah dibelai-belai lalu diciuminya. Tak terasa air mata Sutinah pun berderai. Dia merasa iba melihat Aisyah yang harus bekerja seperti itu. Tak selayaknya Aisyah bekerja seperti itu.
“Ya, Mak, hari ini Aisyah mau ke rumahnya Pak Agung, biasanya hari Minggu Pak Agung selalu ada di rumah. Dia itu orangnya baik sekali, Mak. Suka ngasih uang, padahal Aisyah gak nyuci baju- bajunya.” kata Aisyah polos.
“Nak, sepahit apapun hidup kita, jangan sampai kita mengemis meminta-minta sedekah orang. Itu tidak baik, karena itu sama dengan menghinakan diri kita sendiri.” ucap Sutinah.
“Nggak Mak, Aisyah gak minta-minta, Pak Agung itu melarang Aisyah mencuci pakaiannya karena Aisyah belum bisa pake mesin cuci, jadi ya … sudah Aisyah menyapu halaman rumahnya saja. Boleh kan Mak?” tanya dengan mata berbinar.
“Coba semua orang kaya seperti Pak Agung ya Mak, cuma nyapu aja dia ngasihnya lima puluh ribu, itu dua kali lipat dari upah mencuci pakaian. Waah …, kalau tiap hari Aisyah nyapu di halaman rumah Pak Agung, kita bisa kaya ya Mak.” lanjut Aisyah dengan lugunya. Walaupun Aisyah belum sekolah, tetapi Aisyah sudah mengerti pecahan rupiah.
Begitulah keseharian Aisyah dalam menjalani kehidupan bersama ibu dan adiknya dalam kesengsaraan yang mendera. Hidup hanya mengharapkan belas kasihan orang. Sementara Dimas belum tahu dimana rimbanya. Tak ada seorang pun yang tahu keberadaan Dimas.

(Visited 4 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan