Kota Subang OLEH : REISHA PUTRI Pohon hijau mengepung Penghias mata Burung-burung berkicau Penuh makna Embun di pagi buta Warnai hari tanpa cahaya Cangkul bersinergi Awali hari sang pekerja Derap pejalan kaki Menelusuri romansa alam Di hamparan perkebunan Seperti labirin

Perampas OLEH : REISHA PUTRI Hujan deras mengguyur Beriring petir bersahutan Pohon-pohon tak lagi terdian Seperti dirampas dan diterbangkan angina Kau tiba-tiba datang Menutup semua atap kehidupan Kau tak kasat mata Namun sangat berkilat Kau menjadi perbincangan Kau menjadi topic

Terkenang Kota Kelahiran OLEH : REISHA PUTRI Kegelapan sirna ditelan mentari Kutapaki jalan penuh arti Mengayomi langkah demi langkah Sungguh, teramat elok Kulintasi kota kenangan Yang selalu hadir dalam angan-angan Begitu banyak bayangan Terlihat bagai khayalan Subang nama cantikmu Nanas

Teman Seperjuangan OLEH : REISHA PUTRI Dewi malam t’lah turun, terganti raja siang Jendela terbuka tertiup angin kencang Kutatapi awan yang berlalulalang Menunggu hari yang tak kunjung datang Tak terasa waktu berjalan begitu cepat Hari yang dinantikan kini telah tiba

Tatap Muka OLEH : REISHA PUTRI Keadaan telah berbeda Tak seperti biasanya Bagai mimpi di siang bolong Menghampiri tak terduga Si putih biru hanya tersenyum Menunggu hari itu tiba Tiang kokoh berdiri laif Menanti Sang Saka dikibar siswa Gelak tawa

Sketsa Takdir OLEH : REISHA PUTRI Mata tertutup, Burung kedasih berkicau jauh di atas awan Langit kelam menghias alam Ditemani cahaya yang memudar Kau merambat, Menjelajahi penjuru dunia Kau tak terlihat, Bagai makhluk tak kasat mata Kau renggut insan bernyawa

Sahabat OLEH : REISHA PUTRI Dewi malam yang tak bertemu mentari Mustahil untuk saling menyapa Atau sekedar bersitatp Terpisahkan jarak logika Bunga mawar yang mekar Membuat harsa relung hati Menyebarkan serbuk harum Walaupun bertangkai duri Telah terukir janturan latif Bersama

Rantai Metamorfosisi OLEH : REISHA PUTRI Penghias langit mulai bertebaran Bagai bunga di musim semi Telah datang hari yang dinantikan Beranjak kupergi Menuju kehidupan baru Meninggalkan kepompong Untuk menjadi kupu-kupu Terpancar senyum Serta keindahan ahlak Sederhana namun bermakna Menyambut hangat

Pondok Bali OLEH : REISHA PUTRI Langit senja berhiasi Awan -awan tersenyum sepi Menteri yang perlahan tenggelam Ke tebing lautan Pondok bali Batu dirangkai berjejeran Membatasi daratan dan lautan Ombak yang bergulung merdu Menghantam kuat pertahanan darat Laut biru penghias

Piramida Ilmu OLEH : REISHA PUTRI Waktu berjalan begitu cepat Menghantarku ke masa peradaban Dari secuil kertas Tuk menjadi sebuah buku Kubuka lembaran kertas kosong Tertulis lewat tinta hitam Sepenggal kisahku mencari ilmu Mungkin dulu belum pernah kutahu Kumerantau ke

Pelita Masa Kini OLEH : REISHA PUTRI Mataku berbinar binar Melihat dirimu yang sangat tegar dibawah rindangnya pohon beringin Merajut hidup di majelis mulia Dekap kaki melangkah Menelusuri perkarangan rumah Bunga mekar tersenyum gembira Berjumpa tuan yang sangat dinanti Kau

Panglima Berpeci OLEH : REISHA PUTRI Dibalik kemajuan zaman Terselip era yang kejam Terhalang perisai tameng Begitu kuat menggelegar Kau sosok yang tangguh Menghadapi berbagai deraan Kau kibaskan sorban Menghadapi Perubahan zaman Kau ajarkan kami hidup mandiri Kau didik kami

Kukenang OLEH : REISHA PUTRI Ketika dering telepon mencetak rekor Gawai penuh berita duka Tak ada yang bisa menyangkal Bahwa kematian di pelupuk mata Keceriana seketika lenyap Tertelan gelapnya malam Kutatapi dengan nanar Haus ilmuku tertahan sudah Perlahan canda mulai

Koper Kehidupan OLEH : REISHA PUTRI Koper putih,,, Koper beroda kutarik Menuju hamparan padang pasir Masih ringan belum terisi Kugandeng sajadah Meratap rumah Pencipta Kusujud,,, Penuh akan asa Suara lembut lantunan ayat Alquran Masuk ke gendang dengan nyaman Kuberdoa,,, Penuh

Curug Cileat OLEH : REISHA PUTRI Awan-awan bergulung Menatap gunung yang hijau Disinari cahaya mentari pagi Begitu sejuk dipandang mata Di balik rimbunnya pepohonan Terselip pemukiman insan Dipenuhi dedaunan bergoyang Menyambut setiap yang datang Kau berada di pelosok Diapit jalanan

Covid-19 OLEH : REISHA PUTRI Kau menutup pandangan Menjauhkan genggaman tangan Menghentikan langkah insan Menyulitkan mata pencaharian Kau datangi bumi pertiwi Tanpa ada kata permisi Merenggut relung hati Tanpa rasa manusiawi Kutahu… Kau hanya makhluk kecil Mencari tubuh persinggahan bukan

Corona OLEH : REISHA PUTRI Corona,,, Kau menetap cukup lama Tak terhitung berapa nyawa yang kaurenggut seketika Tanpa ada sepatah kata Tapi kutahu… Dibalik keberadaanmu tersurat sebuah hikmah Untuk para insan yang lemah Tak luput dari salah Di balik bahayamu…

Bekal Nanti OLEH : REISHA PUTRI Di persimpangan jalan Menatap senja penghias hari Mentari telah sembunyi di cakrawala Tertutup gumpalan awan lembut Jelajahi waktu demi waktu Hingga berbekas telapak kaki Nikmati pengalaman baru Demi meraih sebongkah Ilmu Hati seluas samudra

Terangkai Oleh : Yara Atiatul F Satu kata membuat sukma berdetak Senyum s’lalu tertarik memancarkan kebahagiaan Menanti datangnya hari esok Hanya ingin mendapatkan satu kata Berjuanglah, Raihlah dengan kerja keras Bangkitkaniah asa Jiwa ragamu Agar membuatkan kata sukses Satu kata

Takdir Oleh : Yara Atiatul F Hujan mengalir deras Bersanding angin Bau tanah tercium nyata Kilatan petir menyambar Mengantarkan getaran di jendela Bising hujan bergema mengalun di gendang telinga Namun , tiada lama berselang Kala waktu bicara Awan berpangku bidadari

Subang nan Elok Oleh : Yara Atiatul F Sinar mentari Yang memberikan kehangatan pagi Hamparan perkebunan teh Bagai permadani hijau Gugusan kabut beradu dengan langit Hawa sejuk nan jernih Angin menggetarkan dedaunan Aliran sungai bersinar, Menyilaukan penglihat Subang Menyuguhkan kemolekan

Siapa Pelakunya? Oleh : Yara Atiatul F Angin berteriak lancang Menerpa kulit wajah insan Menebus relung terdalam raga Aku diri masih bertanya Tentang virus yang kini melanda dunia Makhluk kecil yang tak mudah ditakluk Virus lugu yang mudah dicampakkan Ketika

Pena Guruku Oleh : Yara Atiatul F Pena guruku Terus menari nari dalam diriku Menuliskan rantai kata bermakna Mewarnai sanubari Membuncahkan asa hidupku Kau t’lah memberikan seribu nilai Memberi sejarah di takdirku Memberi pita beribu asa Kini … Biarkan aku

PATIMBAN Oleh : Yara atiatul F Saat kutapakkan kakiku di pasirmu Kulihat, Debur ombak memecah pantai Kudengar, Cicit camar terbang melayang Kurasakan hembusan angin, Membelai tubuhku Kulihat Perahu berbaris di pantaimu Bagai pagar kebeningan pasirmu Airmu nan biru Tersimpan berbagai

Padatnya Kotaku Oleh : Yara Atiatul F Mentari mulai menafikan sinarnya Awan mulai mengerubuti cakrawala Kicauan burung berterbangan Menghias penjuru-penjuru Subang Derap suara langkah kaki mengalun di telinga Padatnya jalanan, Meramaikan kebisingan Kota Subang Perayaan di siang hari Memadati jalanan

MIMPI Oleh : Yara Atiatul F Oh, mimpi… Mewarnai tidur lelapku Bagaikan pelangi di angkasa Walau maya tampak begitu nyata Aku bisa melakukan apa saja Terbang diangkasa tanpa Sayap Berjumpa dengan Presiden Indonesia Atau menjadi idola anak sedunia Begitu memesona

Kungkungan Oleh : Yara Atiatul F Helaan napas terdengar gusar Frustasi melanda pikiran Gundah gulana meraba jiwa Alunan lirih berdengung di telinga. Kubuka jendela Pak Akbar berkeliling Bu Irma merawat tanaman Kini menetap tak ada yang terlihat kubuka pintu Terkuak

Komitmen Oleh : Yara Atiatul F Berjuta waktu diriku lewati Diisi dengan menulis kata demi kata, Hingga menjadi sebuah kalimat, Kalimat bermakna jika kubaca slalu Tak sempurna tulisanku Tak pintar diriku Namun, waktu begitu banyak Selalu kusisihkan untuk menulis Menulis

Kesempatan Oleh : Yara Atiatul F Serasa jarum jam Kini berdetak lebih cepat Raja siang telah berangsur naik Kujejaki kembali hari Baru sesaat rasanya Perjalanan pagi hari Menyapa burung yang berkicau Menyapa bunga yang bergoyang Mengambil secarik kertas Mencatat kata

Isolasi Covid-19 Oleh : Yara Atiatul F Kala pintu berderit, terkunci Jendela ditarik hingga tertutup Tirai bergeser mengalang pandang Masker dikenakan dimulut Berjalan mondar mandir Sambil mata terus menatap tirai, Datang seseorang mengetuk pintu Hanya tangan yang bisa keluar Bertatap

Irisan Duka Oleh : Yara Atiatul F Dulu dia berhura-hura Bermanja-manja di dekapan sang ibu Meminta-minta di bahu sang ayah Tak ingat usia sudah mampu berdiri tegak Lambat-laun mereka meninggalkan dia Bersam sosok bidadari mungil yang lugu Merutuki kebodohannya yang

Garis Terdepan Oleh : Yara Atiatul F Orang-orang bermata redup Berlarian menghindar dari corona Hatinya remuk bagai tertusuk belati Lemah tak berdaya, tak ada asa Bila kau butuhkan telinga untuk didengar Bahu untukmu bersandar Untukmu… sang pahlawan Yang berusaha terus

CURUG CILEAT Oleh : Yara Atiatul F Di bibir Curug Cileat Kududuk bersama para penjelajah Kupandangi langit nan biru Kupandangi hamparan sawah nan luas Angin bertiup semilir, ah sejuknya Kicau burung bersahut-sahutan Kupu-kupu pun beterbangan Hinggap di bunga yang mekar

Angan Oleh : Yara Atiatul F Telaga bening Tanaman penghias alam Bersinergi merangkai keindahan Ibarat kepingan surga Angan … Membuat insan berandai-andai Menjulang menembus angkasa Menggapai bintang Tak dipungkiri Angan tak mudah digapai Tak bisa tanpa mencoba Lewat usaha tiada

Alam Kotaku Oleh : Yara Atiatul F Tugu nanas yang menjulang tinggi Bermahkotakan sinar mentari Awan yang menawan, Selalu setia menemani Tiupan sang bayu, Jalan yang berputar Kidung burung yang merdu Terasa nyaman tanpa kebisingan, Tanpa polusi udara Dengan asaku

Zamrud Khatulistiwa (Karya : Nifa Nurazizah) Purnama raya penghias malam Ujung dunia yang indah Telah hujan Muncul Selendang raja yang indah kuingin kelilingi dirimu Kuingin temui dirimu Zamrud khatulistiwa Begitu besar harapanku Zamarud khatulistiwa Banyak keindahan tersimpan Nusantara …. Begitu

Wabah yang memisahkan (Karya :Nifa Nurazizah) Angin yang bertiup Bunga yang terhembus ungin Terdapat kekompakan dari kalian Sama Sama Saling melengkapi Lalu kemana orang penyemangat kemana mereka pergi Kita slalu bersama Untuk meraih tugas maksimal Nilai kelompok bukun hambatan Bagaimana

Takdirmu Pasti Indah Oleh : Nipa Nurazizah Telah kususun banyak rencana Telah kupadatkan jadwal harianku Untuk hari lubur yang akan datang Namun semuanya berantakan Makhluk kecil jadi penyebab Bisa menebang Menumbangkan raga nan nyawa Telah beribu-ribu banyaknya Engkau makhluk kecil

Rembulanku Oleh : Nipa Nurazizah Rembulan bersanding gemintang Mereka sama-Sama hadir Saat malam menjelang Menyinari seluruh buana Rembulanku… Kemana kau pergi Kaupergi tanра pamit kaupergi tanpa jabat tangan Di mana kausaat ini Rembulan yang selalu menyinari Apakah engkau tiada untuk

PJJ Oleh : Nipa Nurazizah Telah satu tahun siswa Siswi dirumahkan Telah menumpuk rasa rindu terpendam Sukma terus menangis Akan PJJ saat ini Pembelajaran saat ini… Lebih rumit dimengerti Lebih sulit dibanding sekolah biasa Yakin pasti ada bukit Di balik

Pantai Pondok Bali Oleh : Nipa Nurazizah Ombak mengiring air Ke kedaratan yang membentang Aku tak bosan menyaksikanmu kausungguh mencuci mataku Menyaksikan ombak berkejaran Tak ada beranjak untuk pulang Karena menikmatit keelok pondok bali Bukan Bali lokasinya Hanya nama Pantai

Pangeran Mulia Oleh : Nipa Nurazizah Pagi yang dingin Telah di selimuti kabut Kalbu tertusuk ilalang Kau hadir menggandeng tangan Penyemangat hidup Pembimbing hidup Penerang hidup Pemandu hidup Ayah engkau bagai pangeran Engkau insan mulia Begitu besar jasamu Begitu besar

Pahlawan Oleh : Nipa Nurazizah Engkau begitu berjasa pada dunia Kau rela tinggalkan keluarga tercinta Demi Negara kita Kau rela tinggalkan rumah Di kala semua sibuk bercengkrama Kau rela berjuang menangani pasien Yang menyandang penyakit hebat Paramedis, pahlawan pandemi Di