Roamtika Aisyah 3

Romantika-Aisyah.jpeg

Bab 3
Bapaak …!
Berita meninggalnya abah Maksum di kampung itu, membuat warga kampung merasa iba pada Aisyah. Sungguh sangat menyayat hati. Anak sekecil Aisyah harus menanggung duka nestapa seperti itu. Secara sukarela warga kampung mengurus jenazah abah sebagaimana lazimnya.
Abah adalah satu-satunya tumpuan hidup keluaga Aisyah. Kondisinya memang sudah renta. Walaupun sudah tua, tapi abah masih bisa bekerja serabutan, semisal menjadi buruh nyangkul di sawah, menjadi kuli bangunan, atau apa pun yang bisa abah lakukan. Demi sesuap nasi, abah rela bekerja apa saja
Kepergian abah tentunya akan sangat menoreh kenangan tersendiri bagi warga kampung. Tak ada lagi lantunan suara adzan khas Abah Maksum. Hampir seluruh warga kampung itu mengenal sosok abah. Sosok pekerja yang tekun, telaten, penyabar, walaupun upah yang ia terima tidaklah seberapa
Isak tangis keluarga menambah haru suasana. Aisyah tak henti-hentinya menangis. Jerit tangis Aisyah begitu menyayat. Dalam hatinya bertanya-tanya,”Kenapa abah pergi secepat ini? kepada siapa lagi aku minta uang jajan kalau emak sama bapak ga punya uang? bagaimana kabar emak sama bapak? apakah mereka sudah tahu abah meninggal? bagaimana ini?”
Akhirnya meledaklah tangisan Aisyah. “Abaaah …! jangan pergi abah! Kenapa abah pergi gak bilang-bilang …? Sekarang Aisyah sama siapa? Emak gak tau gimana nasibnya di ruma sakit. …Bapaak cepat pulang pak! Aisyah takut sendirian di rumah hu hu hu ….”
“Ssh ssh ssh …, sudah sudahlah Aisyah, jangan menangis seperti itu, Kamu tidak sendirian di sini, ada banyak tetangga yang membantumu nanti, sabar ya sayang …,” ucap Bi Onah sambil merangkul Aisyah. Bi Onah adalah salah seorang warga kampung yang rumahnya tak jauh dari rumah Aisyah.
“Ya, Aisyah … tidak baik meratapi orang yang meninggal seperti itu, sebaiknya Kamu doakan abah masuk surga, dan bisa pergi dengan tenang, sekarang Kamu ngaji ya, bacakan surat Yasin untuk abahmu.” bujuk pak usatad. Sepertinya Aisyah pun menuruti nasihat pak ustad.
Qur’an lusuh kesayangan pun diraihnya, Aisyah mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Kali ini Aisyah membaca lebih tartil seolah ingin menghartarkan abahnya ke tempat pengistirahatan dengan sempurna. Orang –orang yang mendengarkan alunan suara Aisyah, terhanyut dalam suasana duka
Entah sudah berapa jam Aisyah duduk bersimpuh di samping jenazah abah. Suara parau Aisyah melantunkan ayat suci Al-Quran dalam surat Yasin terdengar sangat menyayat hati. Betapa tidak, di tengah lantunannya itu sesekali Aisyah terisak nestapa.
“Pak ustad, jangan dimakamkan dulu ya, emak sama bapak belum pulang.” pinta Aisyah kepada pak ustad yang meminpin pengurusan jenazah. Ditatapnya wajah orang –orang yang ada di sekitar rumah, Aisyah berharap ada seseorang yang memberikan kabar tentang emak dan bapaknya. Namun, orang-orang itu hanya menundukkan kepala seakan memberikan isyarat bahwa mereka tidak punya kabar apa pun tentang orang tuanya.
Hari sudah semakin siang, kabar tentang emaknya Aisyah belum juga di dapat. Orang-orang sudah mulai gelisah, karena jenzah belum juga dikebumikan. Terdengar beberapa orang berbisi-bisik untuk menyegerakan proses pemakaman. Tak terbayangkan perasaan Aisyah pada waktu itu, bocah seusia Aisyah sudah dihadapkan pada problematika yang sulit.
Siang berganti sore. Ditengah kegelisahan orang-orang di rumah duka, mereka dikagetkan dengan datanganya mobil pick-up milik pak lurah. Mobil itu berhenti tepat di depan rumah Aisyah. Biasanya mobil itu digunakan untuk mengangkut sayuran. Serempak perhatian semua orang tertuju pada mobil itu.
“Sutinah pulang …, Sutinah pulang.” Beberapa orang hampir bersamaan mengatakan kepulangan Sutinah. Mendengar suara kepulangan Sutinah, Aisyah pun setengah berlari memburu keluar sambil berteriak “Emaaak …! Bapaaak …!” kembali tangis Aisyah pun pecah. Kali ini tangisannya lebih keras dari sebelumnya. Seolah ingin mencurahkan segala rasa yang sejak tadi terpendam.
Kembali suasana duka mewarnai suasan di rumah itu. Sutinah emaknya Aisyah pulang bersama suaminya. Sutinah turun dari mobil perlahan, karena kondisinya belum begitu pulih setelah melahirkan tadi malam. Nampak seorang petugas rumah sakit menggendong bayi, turut mengantarkan kepulangan Sutinah.
Dalam kondisi lemah tak berdaya Sutinah pun langsung memburu abah yang sudah terbungkus kain kafan. Sutinah menangis sejadi-jadinya. Tangisan Sutinah membuat orang-orang tak kuasa menanhan tangis. Kembali suasana haru menyerbu rumah duka itu.
Sang bayi pun seakan turut mengiringi suasana duka. Tangisan bayi kian menambah kepiluan suasana sore itu. Sebagian ibu-ibu yang masih ada di rumah duka, turut mengurus bayi. Begitulah kehidupan datangnya ajal tak bisa diduga demikian juga kelahiran jabang bayi tak dapat tolak. Itulah takdir, sebagaimana Allah berkehendak, maka itulah yang terbaik untuk hamba-Nya.
***
Suasan senja di pemakaman Kampung Sukamiskin mengantarkan kepergian Abah Maksum. Sutinah anak semata wayang Abah Maksum tak kuasa untuk mengantarkan ayahnya ke pengistarahan terakhir. Terlebih Aisyah, dia hanya mampu menatap kepergian robongan jenazah ke pemakaman. Dia lebih memilih menemani emaknya di rumah.
Aisyah mulai disibukkan mengurus ibunya yang masih lemah setelah melahirkan. Suka duka bercampur suka cita. Kehadiran bayi di rumah itu dapat mengobati duka lara Aisyah sepeninggal abahnya. Aisyah bocah kecil berperawakan kurus, begitu cekatan dalam mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga. Tak selayaknya seusia Aisyah harus mengerjakan pekerjaan yang begitu kompleks. Mulai dari menanak nasi, mencuci pakaian, mencuci piring, menyapu lantai, bahkan sekarang pekerjaannya ditambah dengan menjaga adik kecil yang baru saja lahir.
Beberapa hari berlalu. Kesehatan Sutinah sudah agak pulih. Kondisi ini setidaknya dapat mengurangi beban pekerjaan Aisyah. Hingga pada suatu malam Aisyah tertidur di atas pangkuan emaknya. Sutinah tak tega untuk membangunkan Aisyah. ditatapnya wajah Aisyah sambil dibelai-belai rambutnya yang terurai panjang.
“Aisyah, betapa malang nasibmu Nak, mungki Kamu terlalu lelah menjalani kehidupan ini, maafkan emak yang selalu merepotkanmu, tidak selayaknya Kamu bekerja secape ini Nak, harusnya emak yang melakukan ini semua, tapi apalah daya … kondisi emak begitu rapuh. Badan ini rasanya lemas sekali, terlebih sekarang adikmu juga membutuhkan perawatan. Emak merasa menjadi seorang ibu yang tidak berguna.” ucap Sutinah lirih sambil menahan isak tangisnya.
Rupanya Aisyah mendengar ucapan emaknya.”Mak, sudahlah …, Aisyah gak apa apa kok, Aisyah kuat kok bekerja, Aisyah rela menjalani ini semua, yang penting emak sehat, dede bayi juga sehat.” ucap Aisyah dengan suara serak.
“Kamu gak tidur Nak? Emak pikir Kamu sudah tidur.” Tanya emak kaget mengira Aisyah sudah tertidur.
“Belum Mak, sudah lama Aisyah gak tidur di pangkuan emak.” kata Aisyah sambil tersenyum bahagia. Ia begitu merasakan suasana nyaman tidur di pangkuan emaknya.
Sesekali Aisyah membuka matanya sambil mengubah posisi tidurnya, sekadar memastikan bahwa emanya baik-baik saja. Dengan suara parau Aisyah bertanya kepada emaknya,”Mak, bapak mana, sudah malam begini kok ga ada di rumah.”
“Bapakmu kan malam ini kebagian ronda, jadi mungkin bapak tidurnya di pos ronda.”
“Kok bapak ngerondanya tiap malam sih Mak, bapak si Junengsih teman Aisyah cuma semalam aja, itu pun kadang ada kadang nggak.” Pertanyaan polos meluncur begitu saja dari mulut Aisyah.
“Ya …, sebenarnya jadwal ngeronda bapak juga cuma satu malam. Nah, malam-malam yang lainnya bapak ngeganti bapak-bapak lain yang gak bisa ngeronda karena kesibukkannya. Lumayanlah, bapak dapat uang pengganti. Makanya kita masih bisa makan, walaupun bapak gak kerja.” jelas Sutinah meyakinkan.
“Oh, begitu ya Mak, kasihan bapak … setiap malam pasti kedinginan tidur di pos ronda.” ucap Aisyah. Aisyah pun bangkit dari pangkuan emaknya. Diikatnya rambut yang terurai dan duduk sila menghadap emak semangat.
“Loh kok Kamu malah bangun, ada apa Nak?” tanya emak kaget
“Boleh tidak Mak, Aisyah ngeronda ngegantiin bapak, biar bapak bisa tidur di rumah, ngejaga emak, adik bayi, boleh kan Mak?” tanya Aisyah polos. Kepolosannya itu membuat Sutinah tertawa kecil.
“He he he, Aisyah Aisyah …, masa anak kecil ngeronda, mana bisa Nak, emang Aisyah berani kalau ada maling di kampung kita? Yang ngeronda kan harus bisa menangkap maling itu.” jawab emak. Keceriaan nampak terbersit sedikit pada wajah Sutinah, karena dia merasa terhibur dengan petanyaan lucu dari Aisyah.
“Oh …, gitu ya Mak? Emang di kampung kita suka ada maling, Mak?” Lagi-lagi Aisyah bertanya dengan kepolosannya. Aisyah jadi penasaran. Dia selalu saja ingin serba tahu tentang suatu hal, termasuk masalah ngeronda.
Malam ini Sutinah dan Aisyah berbincang begitu asyiknya, hingga tak terasa malam pun semakin larut. Aisyah tertidur di pangkuan emaknya. Sutinah memindahkan posisi tidur Aisyah di sebelah bayinya. Sutinah tidur bersama kedua anaknya dengan lelap.
Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara kentongan. “Tong tong tong …!” Suara kentongan saling bersahutan. “Maliing …, maliiing …,” petugas ronda pun berteriak teriak. Teriakan itu mendakan adanya maling di kampung itu. sudah beberapa hari kejadian seperti itu terulang. Namun, maling yang diteriakkan peronda itu masih saja gentanyangan.
Sutinah dan Aisyah terperanjat kaget mendengar suara kentongan dan teriakan. Kenyenyakan mereka hanya sesaat saja. Baru saja Aisyah dan Sutinah terlelap, kini hati mereka gelisah tak menentu mmaling.edengar orang-orang teriak
Suara kentongan itu semakin jelas terdengar. “ Bu Sutinah …, Bu!” terdengar suara yang meronda memanggil-manggil Sutinah. “Bu …, bangun Bu, tadi kami melihat malingnya lari ke arah rumah Ibu.” teriak beberapa orang.
“Dor dor dor!” suara pintu digedor sangat keras. Sutinah pun segera bangun dari tempat tidur, setengah berlari menuju pintu. Kaget bukan kepalang pintunya digedor petugas ronda. Dibukanya pintu rumah lebar-lebar. Terlihat para petugas ronda sedang memeriksa sekeliling rumah Sutinah
“Ibu baik-baik saja? Ibu gak kenapa-napa? Apa ibu gak lihat ada orang yang masuk rumah ini? tadi kami mengejar maling, dan arahnya menuju ke rumah ini!” jelas Mang Kuyan terengah-engah.
“Apa!? maling!? Masuk rumah ini?! Eu … a .. aku gak lihat Mang, Perasaan gak ada orang masuk.” jawab Sutinah gugup. Kegugupan Sutinah bertambah ketika Mang Kuyan bersama teman rondanya masuk sonder permisi.
“Eh …, kalian mau apa?” tanya Sutinah sambil menahan Mang kuyan masuk rumah. “Emangnya Kalian yakin maling itu masuk rumahku?” tanya Sutinah penasaran.
“Bu…!Sudah beberapa hari ini kampung kita kedatangan maling. Kami berusaha untuk menagkap maling itu. Nah, malam ini maling itu datang lagi, setiap ketahuan dan dikejar, selalu saja maling itu larinya ke rumah ini.” jawab Mang Kuyan masih terengah-engah.
Keributan di luar membuat Aisyah terbangun dari tidurnya. Aisyah pun segera ke luar rumah. “Maak …, ada apa ribut-ribut.?” tanya Aisyah sambil menggisik-gisikkan matannya karena masih mengantuk. “Kenapa orang-orang masuk ke rumah kita? Mereka siapa, Mak?” Aisyah terus bertanya karena merasa ada yang aneh dengan suasana seperti itu.
Mang Kuyan memaksa masuk rumah dan memeriksa setiap ruangan. Dia tak menghiraukan larangan Sutinah, karena dia merasa yakin kalau maling itu ada di sekitar rumah ini.
“Mereka itu yang bertugas ngeronda malam ini, sekarang bagian mang Kuyan dan teman-temannya yang ngeronda. Mereka sedang mengejar maling. Katanya maling itu masuk rumah kita.” papar Sutinah kepada Aisyah.
“Hey! Aisyah …, Kamu lihat ada orang yang masuk ke rumah ini gak?” tanya Mang Kuyan lebih tegas lagi. Seolah-olah Mang Kuyan tak percaya dengan jawaban Sutinah.
Sejenak Aisyah berpikir, “Kenapa mereka mengejar maling sampai ke rumah in? Aisyah pun langsung teringat bapaknya yang tidak ada di rumah karena mendapat tugas meronda.
“Loh Mang, bapak mana?” tanya Aisyah
“Kamu ini ditanya malah balik nanya, mana mang tahu dimana bapakmu.” jawab Mang Kuyan dengan nada ketus.
“Bukannya bapak juga ngeronda malam ini? Kok bapak ga ada? Emang ngejar malingnya nggak barengan ya, Mang?” tanya Aisyah
“Apa katamu? Bapakmu ngeronda malam ini? Ooh … jadi malam ini bapkmu gak ada di rumah? Hey denger ya Aisyah, Bu Sutinah … si Dimas itu sudah lama gak pernah ngeronda. Kalau gak percaya, tanya tuh sama bapak-bapak yang lagi ngerobda sekarang.”
“Apa? bapak gak pernah ngeronda? Ah Mang Kuyan bohong.” ujar Aisyah dengan nada kesal.
“Eeh … dasar bocah! Dibilangin kok malah ngeyel!” hardik mang Kuyan.
“Sudah-sudah, sekarang bapak-bapak sudah memeriksa rumah kami kan, dan malingnya tidak ada di sini. Jadi, silakan bapak-bapak cari di tempat lain saja. Di rumah ini ada bayi, kasihan khawatirnya dia terganggu dengan keributan ini, maaf ya bapak-bapak, kalau memang nanti kami melihat maling itu berkeliaran di rumah ini, kami akan teriak minta tolong.” papar Sutinah menyudahi perbincangan.
Mang kuyan dan teman-temanya segera meninggalkan rumah Sutinah. Aisyah sempat mendengar gerutuan bapak-bapak patugas ronda itu sebelum keluar. Mereka mengataka “ Jangan-jangan si Dimas maling itu.” perkataan itu Aisyah simpan dalam hati saja, Aisyah merasa belum saatnya bertanya kepada emaknya.
“Aisyah …, nah, seperti itulah tugas yang meronda itu, Aisyah masih mau jadi petugas ronda? Kerjaannya itu ya ngejar maling seperti tadi. Ayo! Sekarang kita tidur lagi, kasihan dede bayinya tidur sendirian, yuk.” ajak emak sambil merangkul Aisyah.
Aisyah tak segera menuruti ajakan emaknya , dia masih teringat gerutuan petugas ronda tadi yang mencurigai bapaknya maling. Walau pun dengan berat hati Aisyah bertanya juga kepada emaknya. “Mak, kalau bapak ngerondanya dimana?”
Sebenarnya Sutinah pun sudah curiga dengan kepergian suaminya ngeronda tiap malam. Tapi kecurigaannya tak pernah ditunjukkan. Bagi Sutinah apapun yang dilakukan suaminya di luar rumah, itu hanya semata-mata untuk mencari nafkah keluarganya.
Baru saja Sutinah mau menjawab pertanyaan Aisyah, tiba- tiba terengar suara barang jatuh dari arah dapur. “Praang…!” mereka kaget bukan kepalang. Spontan mereka berpelukan ketakutan.
“Mak … suara apa itu? Aisyah takut Mak, jangan-jangan itu maling.” Aisyah memeluk erat emaknya sambil menangis ketakutan.
“Tenang, tenang Aisyah, kita harus tenang, kita berdoa saja smoga itu kucing yang lompat dari atas genting dapur.” Sutinah berusaha meyakinkan Aisyah.
Akhirnya dalam keadaan yang mencekam, Sutinah dan Aisyah meberanikan diri berjalan ke arah dapur. Mereka harus tahu, suara apa itu tadi. Tak ada benda yang dijadikan sebagai alat pemukul, kecuali sapu injuk dan sapu lidi. Aisyah memegang sapu lidi, sedangkan emaknya memegang sapu injuk.
Seperti detektif dalam film-film di TV, Aisyah dan emaknya mengendap-endap berjalan berjinjit ke arah dapur. Tidak ada cahaya sedikit pun, gelap. Perlahan-lahan emaknya menyalakan lentera cadangan yang menempel di dinding bambu dapur.
Apa yang mereka dapatkan di dapur itu, serempek mereka menjerit “Bapaaak …!”

(telah diposting di arumliterat.blogspot.com)

(Visited 6 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan