Mang Becak

becak.jpg

“Mang Becak?”
Oleh: Arum Handayani
Quota habis, tak bisa pesan go-jeg. Ya … terpaksa aku harus pulang naik becak sore ini. Andai saja Erni bukan anak kepala sekolah, aku enggan datang ke rumahnya. Ujung-ujungnya dia cuma ngerjain aku mengerjakan PR-nya. Jika aku tolak permintaannya, sudah pasti aku dapat masalah di sekolah. Ah, ingin rasanya aku memutar waktu ke depan lebih cepat. Lulus dari sekolah ini dan say good bye, Erni!

Hari mulai gelap, aku khawatir ibuku marah. Ibuku paling tidak suka kalau anak gadisnya pulang lewat Magrib. Apalah daya, laju becak tak sekencang mobil atau motor. Berkali-kali aku minta pada tukang becak itu agar lebih kencang lagi mengayuh becaknya. Namun, tukang becak itu tetap saja mengayuh becaknya perlahan. Kesal sudah barang tentu. Sudah lajunya pelan, eeh … tukang becaknya malah banyak nanya ini itu. Aku hanya menjawab seperlunya dengan nada ketus. Kepo banget ini tukang becak. Akhirnya kuputuskan untuk ganti becak. Walau masih jauh perjalanan, kubayar tukang becak itu sesuai kesepakatan harga. Dia menolak, dengan alasan belum sampai tempat tujuan. Malah dia menyuruhku naik kembali becaknya. Ah …, kesel benget! Sudah kepo, belagu, sok ngatur lagi tukang becak ini. Aku tak menghiraukan ajakan tukang becak itu, segera aku naik becak yang lain, yang menurutku lajunya lebih kencang. Ternyata strategiku tepat, becak pengganti ini memang lajunya lebih cepat, sehingga aku lebih cepat sampai ke rumah.

Keesokan harinya aku berangkat ke sekolah. Erni mengajakku berangkat bareng, sebagai balas jasa kemarin aku sudah bantu dia mengenjakan PR-nya. Lumayanlah aku bisa nebeng naik motornya. Tiba di sekolah, seperti biasa di kelas selalu ribut jika guru belum masuk kelas. Ternyata bu Ratna berhalangan masuk, karena harus mengikuti rapat di luar sekolah. Keributan seketika hening ketika Pak Dodi masuk ke kelas dan mengumumkan guru pengganti. Selang bebera menit, datanglah sang guru baru itu. Dia masih muda, tampan, atletis, berpakaian rapi dan berkelas. Topi yang dipakainya semakin menambah necis penampilannya. Hampir semua murid terkesiap melihat sosok guru baru itu. Ketika sang guru itu membuka topinya dan melirikku dengan senyuman manisnya. Deg! Seolah jantungku berhenti. Mang Becak?

(Visited 64 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan