Romantika Aisyah 14

Romantika-Aisyah.jpeg

Bab 14
Melawan Kebatihilan

Demi sebuah cita-cita, Aisyah harus bisa melalui berbagai rintangan kehidupan. Perlakuan apapun yang didapatkan dari Tante Meyda, Aisyah jalani dengan penuh kesabaran. Namun, sekeji apapun perlakuan perempuan keturunan cina itu, Aisyah tak berani menyampaikan kepada bapaknya.
Waktu demi waktu kian berlalu, hingga sang waktu pun menghantarkan Aisyah ke dunia remaja. Aisyah sekarang bukan lagi sebagai gadis kecil ingusan yang kampungan. Aisyah sekarang tumbuh menjadi sosok remaja yang tangguh mandiri dan tidak mudah menyerah.
Tiga tahun sudah menjalani kehidup di kota metropolitan. Kehidupan yang dapat menyilaukan mata, dan menyesatkan akhak jika tidak dibentengi keimanan yang kuat. Dasar keimanan Aisyah cukup kuat. Nasihat emaknya selalu dijadikan sebagai kompas kehidupannya.
Selepas lulus dari SMP, Aisyah baru berani meminta izin kepada bapaknya untuk menemui emaknya di kampung. Sebelumnya permohonan izin pulang kampung ini selalu ditolak bapaknya.
“Pak, kali ini mohon izinkan Aisyah menemui emak dan adik di kampung ya, Aisyah sangat rindu mereka. Biar Aisyah pergi sendiri saja, gak usah diantar. Aisyah khawatir nanti ibu akan marah kalau Bapak ngantar Aisyah ke kampung.” Aisyah memohon kepada bapaknya dengan rasa cemas, khawatir permintaannya tidak dikabulkan lagi.
“Aisyah, sabarlah dulu, nanti kalau sudah waktunya, Kamu pun akan bertemu dengan emak dan adikmu. Sekarang belum waktunya. Kamu gak usah khawatir keadaan emak sama adikmu, mereka baik-baik saja.” ucap Dimas
“Tapi Aisyah ingin ketemu emak sama adik Pak, sebentar saja.” Aisyah memaksa bapaknya supaya memberi izin pulang kampung.
“Ehm ehm …, ada yang mau pulang kampung nih kayanya … Joni! Ingat ya perjanjian kita.” suara Tante Meyda mengagetkan Aisyah dan Dimas. Rupanya Tante Meyda mendengar percakapan mereka.
“Eh …, siapa yang mau pulang kampung? Gak ada.” Dimas mengelak.
“Jangan berkelit Joni, aku tahu anakmu sangat ingin pulang ke kampung, terus kamu mengantarnya, dan itu kesempatan kamu bertemu dengan mantan istrimu, iya kan? tanya Tante Meyda
“Mey, a …. aku sama sekali tidak bermaksud untuk ….” ucap Dimas terputus
“Ah! Sudahlah, aku tidak mau berdebat. Kamu harus ingat perjanjian kita sebelum nikah. Kamu boleh membawa anakmu ke sini, dengan syarat, setelah itu Kamu tidak akan lagi menemui istrimu.”
Melihat situasi seperti itu, Aisyah pun langsung menyela percakapan mereka. “Maaf Bu, semua ini salah Aisyah, bapak sama ibu jadi bertengkar gara-gara Aisyah minta pulang ke kampung.”
“Hm …, Aisyah memang Kamu itu anak yang cerdas. Pinternya Kamu langsung mengerti. Jadi, mulai sekarang Kamu gak usah punya keinginan pulang kampung lagi ya sayang …, Bukannya hidup Kamu di sini sudah cukup senang?” ucap tante Meyda.
“I … iya Bu, Aisyah tahu itu, sebenarnya Aisyah bisa pergi sendiri Bu, tapi Bapak tidak mengizinkan. Aisyah hanya ingin ngasih lihat ijazah pada emak, Aisyah juga kangen sama adik Akbar, mungkin emak akan meresa senang, kalau Aisyah bisa menemui emak barang sejenaak saja Bu.” ucap Aisyah tertunduk, dia berharap Tante Meyda bisa mengerti.
“Sudahlah Aisyah, lulus SMP itu belum bisa apa-apa. Kamu harus belajar lagi sampai SMA, atau mungkin sampai sarjana. Jadi, jangan cari-cari alasan buat pulang kampung.” ucap perempuna pencemburu itu.
Tante Meyda sama sekali tidak mau mengerti keinginan Aisyah. Dia merasa khawatir kalau Aisyah pulang kampung, Dimas pun pasti menyusul ke kampung. Pasti ada pertemuan dengan Sutinah. Dia tidak mau Dimas terbawa kenangan masa lalunya.
***
Masa perjuangan Aisyah masih terbentang panjang. Ia harus terus bergelut dengan berbagai rintangan untuk mencapai cita-citanya. Menjadi sosok wanita karier itulah yang diharapkan Aisyah. Dia tidak mau hidup dalam kemiskinan terus. Teramat perih jika hidup selalu dibelenggu kemiskinan.
Pahit getir kehidupan semasa kecilnya menjadi cerminan untuk merajut masa depannya. Yang selalu menjadi penyemangat hidup adalah sosok emak dan adiknya. Aisyah ingin membahagiakan kedua orang tua dan adiknya.
Tantangan terbesar adalah menghadapi fenomena kehidupan remaja di kota metropolitan. Hampir setiap hari Aisyah menyaksikan teman-temanya sepulang dari sekolah nongkrong di mall, keluyuran yang gak jelas tujuannya, merokok, minum minuman keras, pembulian, bahkan ada di antara mereka yang sudah berani mencoba narkoba dan melakukan seks bebas.
Aisyah selalu menolak ajakan temannya yang menjurus ke arah hal negatif. Karena dasar keimanan Aisyah yang kuat, Aisyah tidak pernah terlibat dalam fenomena itu. Kini Aisyah sudah berseragam putih abu. Ia tumbuh menjadi sosok gadis yang santun, cerdas, agamis, dan bersahaja. Namun, satu hal yang tidak bisa dihindarinya, yaitu pembulian.
.
Hingga pada suatu saat, ketika Aisyah sedang melintas di antara teman-temannya, jilbab yang dipakainya dijambak oleh seseorang yang merasa keki dan iri kepada Aisyah.
“Auwh …! Astagfirullah! Kenapa kalian tega berbuat ini padaku?” Aisyah berteriak kesakitan. Hijabnya terlepas, dia panik dan meringis kesakitan. Rambutnya yang hitam legam terurai membuat orang-orang terpesona.
Mendengar teriakan Aisyah, teman-teman di sekitarnya tertawa terpingkal-pingkal, seolah melihat dagelan gratis siap untuk disoraki.
“Wow, coba lihat ini kawan, ternyata cantik sekali dia.” ucap Thomas menggoda. Diambilnya jilbab yang terlepas dari kepala Aisyah, lalu diciumnya. “Hmm …, wangi nian, jilbabnya aja sudah wangi apalagi orangnya.” goda ketua geng siswa itu.
“Thomas! Kembalikan jilbabku!” teriak Aisyah sambil menjulurkan tangannya. Aisyah berusaha merebut jilbabnya dari tangan Thomas. Namun, usahanya meleset, karena Thomas tubuhnya lebih tinggi dan perkasa.
“Ayo ambil, sini …!” kata Thomas sambil mengacung-ngacungkan jilbab Aisyah. Aisyah berusaha terus untuk meraihnya. Lalu Thomas melemparkan jilbab Aisyah ke teman yang lain. Begitu seterusnya sampai akhirnya Aisyah merasa kelelahan dan berlutut.
Aisyah tidak lagi bisa meronta. Tak ada satu orang pun yang menolong Aisyah dari pembulian teman-temannya. Ia hanya bisa menangis dan berdoa.
“Ya Allah ampuni hambamu ini, aku tak berniat membuka aurat, tapi mereka begitu tega mempermainkanku seperti ini, ampuni mereka ya Allah, beri hidayah pada mereka, supaya aku terlepas dari pembulian ini.” doa Aisyah dalam hati sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Tiba-tiba Thomas melemparkan jilbab Aisyah kemudian lari terbirit-birit bersama teman-temannya. “Ada Pak Irwan, ayo cabut teman-teman!” seru Thomas. Pak Irwan adalah sosok guru yang ditakuti siswa. Aisyah pun selamat dari pembulian itu dan segera mengambil jilbabnya kemudian segra dipakai.
“Aisyah, Kamu tidak apa-apa?” tanya Pak Irwan
“Oh …, gak Pak, gak apa-apa. Trimakasih, Bapak sudah mau menolong saya.” ucap Aisyah sambil terisak.
“Siapa mereka” tanya Pak Irwan.
“Mereka …, mereka Thomas dan kawan-kawannya. Aku gak tahu, mengapa mereka selalu berbuat begitu padaku, apa salahku pada mereka, sampai sampai mereka gak bosan-bosannya terus membuliku. Kalau hanya sekadar dikatain aku gadis norak, kampungan, aku masih bisa bersabar, tapi…, kalau sudah menjahili jilbabku, aku sangat tidak terima Pak.” ucap Aisyah sambil mengepalkan tangannya.
“Ya, Bapak sangat paham itu. Kamu harus sabar ya Aisyah. Sekarang Kamu masuk kelas, biar semuanya bapak yang menangani.” Perkataan Pak Irwan menenangkan Aisyah.
***
Saat perjalanan pulang sekolah, Thomas bersama komplotanya sudah berdiri berjejer menghalangi jalanan yang biasa dilewati Aisyah. Aisyah terperanjat, lalu balik arah. Aisyah berpikir, pasti mereka akan memperdayainya lagi. Karena Aisyah tahu, Thomas dan komplotannya mendapat hukuman dari Pak Irwan, mereka berdiri tegak di depan tiang bendera sambil menghormat.
“Kejaaar …!” teriak Thomas
Mendengar teriakan Thomas, Aisyah pun berlari sekencang-kencangnya. Rasa takut yang terus mendera perasaan Aisyah, memberikan kekuatan yang tidak diduga, akhirnya Aisyah bisa lolos dari kejaran komplotan Thomas.
Tanpa disadari, pelarian Aisyah sampai di sebuah tempat yang kosong. Tempat ini seperti bekas kedai yang tak terurus. Aisyah merasa asing dengan tempat ini. Karena sudah kelelahan, akhirnya Aisyah memutuskan untuk bersembunyi di tempat ini. Berkali-kali dia menengok ke arah belakang. Komplotan Thomas sudah tidak terlihat. “Hh …, aman, selamat, Alhamdulillah.” ucap Aisyah terengah-engah.
“Hh, ini dimana? Tidak ada orang. Rasanya aku belum pernah ke tempat ini, tapi lumayanlah untuk bersembunyi.” ucap Aisyah
Terdengar suara gertakan langkah orang- orang. Spontan Aisyah pun mencari tempat perlindungan. Dia jongkok bersembunyi di tempat yang tidak bisa dilihat orang. Matanya dipicingkan untuk melihat. Ternyata komplotan Thomas sedang mencari-cari Aisyah.
“Sial! Cepat benar cewek kampungan itu larinya.” gerutu Thomas.
“Iya Tom, tapi aku yakin, pasti dia larinya ke sini, sekarang kita menyebar, pasti dia bersembunyi di sekitar ini.” ucap salah seorang dari komplotan Thomas.
“Ayo! Cari sampai dapat! Masa kita kalah sama cewek? Kita harus buat perhitungan dengan dia! Berani-beraninya dia mengadu sama Pak Irwan. Ayo cari!” perintah Thomas semakin penasaran.
Mendengar percakapan mereka Aisyah semakin ketakutan. Keringat mengucur deras membasahi sekujur tubuhnya. Tiba-tiba … ada seseorang yang menemukan tempat persembunyian Aisyah. Aisyah panik, bergetar seluruh tubuhnya. Dipeluknya lutut untuk menahan rasa takut.
“Ssst …!” Rama, salah seorang dari komplotan Thomas memberikan isyarat kepada Aisyah agar tidak berteriak. Aisyah heran, mengapa Rama tidak segera menangkapnya, tapi malah memberikan isyarat agar dirinya diam. Yang lebih mengherankan Aisyah, Rama meninggalkan Aisyah begitu saja seolah tidak melihat apa-apa.
“Di sini tidak ada! Ayo kita cari di tempat yang lain saja.” seru Rama.
“Tdak! kita tidak boleh menyerah begitu saja, aku mau kalian semuanya cari perempuan itu sampai dapat!” kata Thomas
“Tapi Tom, aku pikir tidak mungkin perempuan itu berani sembunyi di tempat ini. Kita cari di tempat lain saja. Tempat ini kotor, dan …iih serem.” Rama menimpali perintah Thomas.
“Hey! Kau Rama, Diam! Luh jangan so ngatur. Gue yang berkuasa di komplotan ini. Owh…, ternyata eluh pengecut ya? Nyesel aku punya anak buah kaya luh!” bentak Thomas.
Di tengah keributan mencari Aisyah, datanglah seorang pria menyeramkan. Tubuhnya tinggi besar, berotot, seperti preman. “Woy, siapa kalian? Ngapain di situ hah?” tanya pria bertato itu.
“Cabut…!” Thomas memberi komando agar meninggalkan tempat itu sambil lari terbirit-birit. Semua komplotan Thomas berlarian. Aisyah menyaksikan kejadian itu antara lega dan takut.
Lepas dari mulut buaya masuk ke mulut harimau. Inilah peribahasa yang menggambarkan situasi Aisyah saat itu. dia merasa lega karena terlepas dari ancaman komplotan Thomas, tapi sekarang dia harus berhadapan dengan preman yang lebih menakutkan dari sosok Thomas.

(Visited 6 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan