Romantika Aisyah 7

Romantika-Aisyah.jpeg

Bab 7
Harapan yang Kandas
Kampung Sukamiskin dirundung duka nestapa. Hangusnya gubuk itu menambah pedih kehidupan dua bocah terlantar. Bertubi-tubi Aisyah diuji kesabaran oleh Sang Pencipta. Kesengsaraan sudah nyata di depan mata.
Aisyah berdiri mematung melihat onggokan puing-puing sisa kebakaran. Semuanya ludes terbakar. Tak ada satu benda pun yang selamat. Yang tersisa hanyalah baju yang melekat di tubuh. Itu pun sudah dipakai beberapa hari, sehingga tampak dekil dan bau.
Adiknya tak pernah lepas dari gendongannya. Kemana pun dia pergi adiknya selalu dibawa. Air matanya mengalir tiada henti. Ia hanya mampu meratap, menagis, dan menanti uluran tangan orang-orang sekitar.
Dalam tangisnya dia berucap. “ Dek, sekarang kita tinggal dimana? Barang-barang kita semuanya hangus terbakar. Kita sekarang gak punya apa-apa. Kepada siapa kita minta tolong Dek? Hk hk hk …, bapak belum juga datang. Ya Allah, aku harus kemana, aku tak tahu harus berbuat apa.”
Selintas dia terpikir sosok Bu Berta. “Apakah kita harus datang ke rumah Bu Berta ya Dek? Ah, tidak! Aku tidak mau kejadian beberapa hari yang lalu terulang. Maksud kita mau ketemu Bapak, eh… dia malah mengusir kita ya Dek. Bapak … sama sekali nggak ngebela kita” ucap Aisyah kepada adiknya yang belum mengerti apa-apa.
Ditatapnya wajah adik dengan penuh kasih sayang. Lalu diciumnya berulang kali. Didekapnya erat-erat seolah Aisyah tidak mau terpisahkan dengan adiknya. Karena hanya adiknya yang menjadi penyemangat hidup.
Rasa berdosa terhap ibunya kian mendera. Aisyah tidak bisa menjaga rumahnya dengan selamat. Rumah kenangan tempat berkumpul bersama emak dan bapaknya kini tinggallah kenangan
“Aisyah, Kaukah itu?” tanya seseorang mengagetkan Aisyah.
Aisyah pun menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Penglihatannya agak samar karena masih tersisa asap reruntuhan yang terbakar. Dia berharap yang memanggilnya adalah emak. Namun, harapan Aisyah kandas. Ternyata yang memanggilnya adalah bapak.
“Bapaak …!” jerit Aisyah.
“Aisyah, sini Nak!” kata Dimas.
Akhirnya Dimas pun muncul setelah mendapat kabar tentang kebakaran rumahnya. Waktu peristiwa itu terjadi, Dimas sedang pergi di luar kota. Kepergiannya menemani Bu Berta untuk belanja keperluan wanita yang telah merebut status Sutinah.
Aisyah pun menghampiri bapaknya setengah berlari. Kesedihan yang ia alami, rasanya ingin ditumpahkan kepada bapaknya. “Ayo Dek, kita ke bapak, bapak datang, alhamdulillah.” ucap Aisyah kepada adiknya sambil membetulkan gendongannya
“Awas jatuh, Nak. Hati – hati.” ujar Dimas sambil mengulurkan tangannya.
Baru saja Dimas mau merangkul anak-anaknya, tiba-tiba tangan Berta menepis tangan Aisyah. Dimas tidak tahu kalau Berta mengikutinya. Berta tidak mau tangan Dimas menjamah kedua bocah itu, karena kondisinya yang kotor dan bau. Dia tidak sadar, kalau kedua bocah itu adalah anak kandung Dimas.
“Hey! Aisyah, jangan mendekat! Itu badanmu kotor sekali” bentak Berta
Dimas yang menyaksikan adegan itu langsung berpaling ke arah Berta. Dia tidak menyangka kalau Berta akan berbuat setega itu. Betapapun bejadnya Dimas, ia masih punya hati nurani melihat kondisi anaknya seperti itu.
“Berta! Ddia anak-anakku, tega sekali Kamu melarang mereka mendekat padaku?” tanya Dimas memelas.
“Ya, aku tahu mereka anakmu, tapi mereka itu kotor dan bau, nanti Kamu terbawa kotor, aku tidak mau itu.” jawab Berta ketus.
“Justru mereka kotor dan bau, aku harus memandikan mereka. Mereka butuh pertolongan. ” ucap Dimas
“Biar warga kampung saja yang mengurus bocah-bocah itu. Ayo Dimas, masih banyak yang harus kita kerjakan di rumah.” bentak Berta lagi.
“Berat … Berta, tunggu! Tunggu dulu, aku tak tega melihatnya, Kamu dengar, dia memanggi-manggilku terus, mungkin mereka belum makan. Kamu dengar itu, Berta” ucap Dimas memohon dan berusaha melepas pegangan tangan Berta.
“Suruh saja mereka mandi sendiri, gak usah kamu repot-repot memandikan mereka. Atau biasanya juga warga kampung ini yang mengurus mereha. Kita masih banyak kerjaan!” ujar Berta sambil menarik tangan Dimas agar segera meninggalkan tempat itu. Mata Berta melotot ke arah Aisyah
Langkah Aisyah pun terhenti, rasa rindu pada bapaknya tak dapat tercurahkan. Aisyah takut berhadapan dengan Berta. Akhirnya langkah Aisyah pun mundur perlahan.
“Bapak …, bapak mau kemana Pak? Aisyah ikut hiks hiks.” isak Aisyah. Namun, isak tangis Aisyah tak dihiraukannya. Dimas lebih memilih mengikuti ajakan Berta meninggalkan tempat itu.
Kini bukan saja tangisan Aisyah yang memangil-manggil ayahnya, adik Aisyah pun ikut menangis. Akhirnya kedua bocah itu ditinggalkan di antara onggokan puing-puing sisa kebakaran.
Tangisan bocah itu pun memancing pendengaran orang-orang sekitar yang kebetulan sedang berada di situ. Mereka turut menyaksikan adegan tadi. Sungguh sangat menyayat di hati. Hampir semua orang mengumpat Dimas dan Berta.
“Dasar, wong gendeng, kok tega anaknya diterlantarkan begitu?”
“Ya, begitulah kalau sudah dimabuk harta!”
“Wong edan!”
“Si Dimas itu mungkin matanya sudah buta, telinganya sudah tuli, anaknya merengek-rengek gini kok dibiarkan. Dasar sinting!”
Begitulah warga kampung menghujat kelakuan Dimas. Aisyah yang sejak tadi mematung di situ pun mendengar hujatan warga kampung kepada bapaknya. Ditutunya telinga rapat-rapat, ia tak mau lagi mendengar perkaatan jelak untuk bapaknya
Karena jaraknya belum begitu jauh, sebenarnya Dimas pun mendengar hujatan warga pada dirinya. Namun, pada saat itu Dimas tak bisa berbuat apa-apa. Dimas hanya bisa mengikuti kemauan Berta. Berta terus saja menarik tangan Dimas. Dimas tak berani melawan. Dia hanya bisa memandangi anak-anaknya dari kejauhan.
“Aisyah …, Akbar, sabar dulu ya Nak, bapak belum bisa berbuat apa-apa. maafkan bapak. Tunggu …, tunggu waktunya, bapak janji, bapak pasti akan membawamu Nak. Jangan Kau dengar omongan orang-orang itu!” jerit suara dalam hati Dimas.
Aisyah pun sama, hanya bisa memandangi ayahnya dari kejauhan. Aisyah tak tega melihat bapaknya diseret-seret Berta. Lebih baik Aisyah menghentikan panggilannya, dari pada bapaknya terus terusan diseret Berta.
Postur tubuh Berta yang tinggi besar, sangat memungkinkan untuk menyeret-nyeret Dimas yang berperawakan kurus. Dimas seakan terseok-seok mengikuti langkah Berta yang tenaganya seperti kuda.
Akhirnya warga kampung pun satu per satu meninggalkan tempat kebakaran itu. Satu persatu pula Aisyah memandangi orang-orang yang meninggalkan tempat itu. Akankah ada pertolongan dari mereka? Aisyah sangat berharap satu di antara mereka ada yang meraihnya. Namun, tak ada seorang pun yang mengajak Aisyah pulang.
“Dek, kita pulang kemana ?” tanya Aisyah kepada adiknya. Karena tidak ada yang mau menolong, akhirnya Aisyah pun menagis lagi, sambil terus mengayun-ayunkan gendongan adiknya. Suasana bertambah pilu, karena adinya pun turt menangis.
Adalam keadaan terhimpit begini, Aisyah teringat emaknya. “Emak, tolong Aisyah Mak, Maak …, Aisyah harus sama siapa?” isak tangis kedua bocah itu mengiringi hari yang mulai gelap.
“Aisyah…, Aisyah…!”
Mendengar suara orang memanggil namanya, Aisyah pun menghentikan tangisannya. Suara itu begitu akrab di telinga Aisyah.
“Bi Onah? Bibi …, tolong Aisyah Bi, bapak pergi lagi, Aisyah gak tau harus tinggal sama siapa, Aisyah sudah gak punya apa-apa, Aisyah … Aisyah …” Aisyah tak dapat maneruskan kata-katanya. Dia terkulai lemas. Adiknya hampir jatuh. Bi onah pun dengan sigap segera merangkul Aisyah.
“Toloong …, tolong!” teriak Bi Onah.
Bi Onah tak mampu harus mengurus kedua bocah itu sendirian. Ia berteriak meminta tolong. Teriakan Bi Onah pun terdengar oleh warga yang kebetulan lewat hendak menuju mesjid untuksalat berjamaah magrib.Tak lama kemudian, datang beberapa warga menghampiri Bi Onah yang meminta tolong.
“Tolong bapak-bapak, ibu-ibu, tolong saya! Ini si Aisyah sepertinya mau pingsan, badannya lemas sekali. Ini juga adiknya dari tadi menangis terus. Saya tadi ke sini karena mendengar suara Aisyah yang meminta tolong.” Ucap Bi Onah dengan nada panik
“Loh, bukannya tadi ada bapaknya? Lah, kemana itu sin Dimas? Aku kira dia membawa anak-anak ini. Wah! Dasar sontoloyo itu si Dimas, kok tega meninggalkan anaknya dalam situasi begini.” ucap salah seorang warga.
“Sudah –sudah, jangan banyak bicara ayo bawa anak ini ke mesjid saja. Kasihan, mungkin anak ini belum makan dari siang” warga lain mengingatkan
“janag-jangan, biar dibawa kerumahku saja.” Kata Bi Onah.
Mendengar Bi Onah hendak membawa Aisyah ke rumahnya. Aisyah pun menguatkan dirinya untuk menolak. perlahan dia berucpa” Jangan Pak, jangan dibawa ke rumah Bi Onah. Biar saya di mesjid saja”
“Aisyah, kenapa Nak, Kamu gak mau ke rumah bibi?” tanya Bi Onah heran
” Aisyah takut Bi, Aisyah takut sama Asep …, biarlah Aisyah di mesjid saja.” Lalu Aisyah pun terkulai lemas tak berdaya.
Tampak kesibukan warga kampung mengurus kedua bocah itu. Aisyah dan adiknya dibawa ke rumah Bi Onah sesuai permintaan Bi Onah. Permintaan Aisyah diabaikannya, karena Bi Onah pikir, biarlah nanti dia yang mengurus Asep supaya Aisyah mau tinggal di rumahnya.
Beberapa saat kemudian, Aisyah sudah berada di rumah Bi Onah. Aisyah baru tersadar dari pingsannya. Aisyah membuka matanya pelan –pelan. Dia masih lemas. “Aku dimana? Adikku mana?” tanya Aisyah dengan suara parau.
“Tenang Aisyah, Kamu sekarang ada di rumah bibi. Tuh adikmu lagi di gendong Bi Tuti” jawab Bi Onah.
“Ah, syukurlakKamu sudah sadar Aisyah, Kamu tenang dulu ya,ini adikmu Bibi gendong.” Kata Bi Tuti. Bi Tuti adalah saudaranya Ni Onah. Rumahnya tak jauh dari Bi Onah.
Ketika tersadar, bahwa dirinya berada di rumah Bi Onah, Aisyah pun segera bangkit.”Apa? ini di rumah Bi Onah? A …, aku harus pergi Bi, Aku … aku takut sama Asep.” Kata Aisyah kaget
Memang ketika itu, Aisyah melihat Asep yang sedang berdiri di antara kerumanan orang- orang. Seperti biasanya, Asep selalu memelototi Aisyah. Memang Asep kurang suka dengan kehadiran Aisyah di rumahnya.
“Hey… tenang Aisyah, Kamu mau pergi kemana? Bukannya Kamu masih lemes? Sudah, jangan hiraukan si Asep, biar nanti bibi yang urus. Sekarang Kamu mandi saja dulu, terus makan ya.” kata Bi Onah.
Berada di antara dua pilihan, memang bukan kondisi yang menyenangkan. Begitu pun dengan Aisyah. Dia merasa dilema antara butuh pertolongan Bi Onah dan takut terhadap Aisyah. Selaku bocah seumuran Aisyah memang belum saatnya dihadapkan pada masalah seberat itu.
Akhirnya, Aisyah memutuskan untuk menerima tawaran dari Bi Onah, walaupun harus melawan rasa takut terhadap Asep. Aisyah berpikir, seandainya dia memilih untuk tinggal di mesjid, belum tentu dia sanggup merawat adiknya seorang diri?
Atas musibah yang dijalani Aisyah, banyak warga kampung yang merasa simpati. Rumah Bi Onah hampir setiap hari kedatangan tamu. Mereka berkunjung sekadar memberikan bantuan makanan atau pakaian seadanya. Warga kampung secara bergantian mengurus Akbar, adiknya Aisyah.

(telah diposting di arumliterat.blogspot.com)

(Visited 3 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan