Hipni Nurul Amalia_Sebuah Jawaban 2_SMPN 2 Tanjungsiang

20210419_171500.jpg

Sebuah Jawaban
Oleh: Hipni Nurul Amalia
SMPN 2 Tanjungsiang

Selepas salat subuh, Kirana sibuk membersihkan bawang putih dan cabe rawit untuk ayam geprek. Hari Jumat ini ia harus mempersiapkan seratus porsi ayam geprek untuk di bagikan pada warga yang terdampak virus Corona. Meskipun jemarinya cekatan mengupas kulit bawang putih dan membuang tangkai cabe rawit, tapi dalam pikirannya melayang-layang pada selembar masker kain pemberian Rian.
Halte busway menjadi saksi saat Rian menyodorkan selembar masker kain pada Kirana. Awalnya Kirana menganggap masker berwarna putih itu hanya masker kain biasa. Sama seperti masker kain yang dijual pedagang di pinggir jalan. Namun jantungnya berdegup kencang saat melihat bordiran warna merah di permukaan masker bertuliskan, “Nikah, yu!”
“Kamu sedang tidak bercanda, kan?” tanya Kirana pelan tertahan permukaan masker yang dikenakannya.
“Ini memang kado yang terlambat untuk ulang tahunmu seminggu lalu. Aku tidak mungkin bercanda untuk hal serius, “Kirana maukah kau menikah denganku?” kata Rian dengan bibir bergetar.
Tentu saja Kirana tak melihat getaran bibir itu karena Rian juga memakai masker. Namun Kirana masih bisa menatap kesungguhan yang terpancar di kedua mata tegar yang berkaca-kaca.
Jantung Kirana masih berdegup kencang, ia sama sekali tidak menduga kalau Rian akan senekat itu. Di tengah pandemi Covid-19 dan kesibukan pekerjaannya, seorang laki-laki mengajak menikah. Jika di film-film romantis, lelaki mengungkap perasaannya dengan sekuntum bunga, mungkin lakon yang dijalani sekarang berjudul “Katakan dengan Masker Kain.”
Perasaan bahagia dan risau berkecamuk dalam hati dan pikiran. Kirana tersadar kalau umurnya sudah merangkak kepala tiga. Ia juga sudah bosan mendengar pertanyaan dari orang tua, teman, maupun kerabat, “Kapan nikah? Ibu sudah kepengen gendong cucu.” Niat baik dari Rian mungkin jawaban dari Tuhan atas doa-doanya selama ini.
Namun, apakah ia harus menikah di tengah wabah? Apakah niat baik Rian terucap di waktu yang kurang tepat, atau justru inilah waktu terbaik untuk membangun rumah tangga? Kirana terombang-ambing jalan pikirannya. Sore itu Rian benar-benar membuatnya terasa seperti memotong ayam yang usai di goreng terus si geprek diatas secobek sambel.
“Saat ini kita memang harus menaati protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah untuk menjaga jarak. Tapi yang dianjurkan, jaga jarak secara fisik. Jadi tak ada larangan untuk merapatkan perasaan dan menyatukan hati,” kata Rian.
Kirana menatap orang-orang yang menunggu kereta. Di tengah pandemi dan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) beberapa orang terpaksa ke luar rumah untuk berbagai keperluan penting. Operator kereta menerapkan beberapa aturan yang disesuaikan dengan protokol kesehatan seperti memakai masker, jaga jarak, dan pengecekan suhu tubuh penumpang sebelum masuk stasiun. Kapasitas penumpang setiap gerbang kereta pun di batasi, begitu juga dengan jadwal operasi hanya dari pukul 06.00 sampai 18.00 WIB.
Jika tidak ada kegiatan bakti sosial bagi-bagi paket sembako untuk warga sekitar stasiun, Kirana tidak akan ikut bergabung dengan teman-temannya dari komunitas pengguna KRL. Kirana lebih memilih baca buku, nonton tv, mencoba menu masakan baru, atau rebahan di rumah selepas menyelesaikan pesanan ayam geprek dari beberapa pelanggan.
“Saat ini kita sedang mengalami musim yang sulit,” kata Kirana. Matanya menatap matahari yang mulai meredup mendekati ufuk barat. Bersembunyi di punggung gedung-gedung tinggi.
“Tidak ada kata sulit kalau kita lalui bersama,” kata Rian berusha meyakinkan. Kirana menatap papan petunjuk kedatangan kereta. Suara pengumuman yang terdengar dari speaker stasiun menggambarkan hal yang sama.
“Kirana, kamu nggak harus menjawab sekarang, kereta kita akan segera datang,” kata Rian. Kirana menggangukan kepala. KRL tujuan Bekasi mulai menampakkan wujudnya, orang-orang pun berdiri mendekat ke peron empat.
“Ingat jaga jarak, jaga hati, dan jaga perasaan,” kata Rian yang berdiri di belakang Kirana.
“Ah, gombal!” jawab Kirana sambil mengerling manja.
“Kok gombal sih, Mbak.”
Kirana gelagapan dan mulai tersadar dari lamunannya. Di depannya, Bu Sri sudah membawa panci besar berisi potongan daging ayam. Bu Sri adalah tetangga Kirana. Dia selalu minta bantuan kepada Bu Sri kalau ada orderan ayam geprek yang tidak bisa ditangani sendiri.
“Mbak, ini ayamnya sudah di bersihin terus diapain lagi?” tanya Bu Sri.
“Oh, maaf, Bu seperti biasa Bu, dimarinasi dulu, direndam bumbu yang ada di baskom biru itu. Dibagi dua Bu, kalau baskomnya tidak cukup!” kata Kirana.
“Iya, Mbak. Tumben hari ini Mbak banyak ngelamun.”
“Nggak ada apa-apa kok Bu.”
Kirana menatap bawang putih, cabe rawit, tepung terigu, dan aneka bumbu yang disiapkan untuk membuat seratus porsi ayam geprek. Masih banyak hal yang harus dipersiapkan agar semua siap tepat pada waktunya. Ia harus melupakan sejenak masker putih dan pertanyaan yang tertulis dipermukaannya.
Kirana dan Rian bertemu untuk pertama kalinya sekitar sebelas bulan sebelumnya di sebuah workshop yang digelar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Kirana memang sedang rajin mengikuti workshop yang berhubungan dengan ekonomi kreatif dan peluang usaha di era digital saat ini. Ia ingin sekali punya usaha sendiri dibidang kuliner. Ia pun banting stir dari kerja rutin menjadi karyawan.
Saat menunggu workshop dimulai, tiba-tiba seorang laki-laki datang menanyakan apakah di sebelah Kirana sudah ada yang mengisi. Karena kursi itu masih kosong, Kirana mempersilakan lelaki itu duduk. Keduanya pun saling menyapa dan ngobrol akrab setelah Rian mengaku tinggal di wilayah Bekasi dan rutin naik KRL.
Sejak saat itu keduanya sering bertemu di workshop atau dalam KRL. Kalau Kirana gemar memasak, Rian lebih tertarik pada dunia fotografi. Tak jarang, Rian diam-diam memotret Kirana yang sedang tekun menyimak paparan narasumber yang jatuh bangun merintis bisnis hingga sukses. Foto itu kemudian melayang ke telepon genggamnya lewat aplikasi WhatsApp disertai kata-kata rayuan.
Karena Rian pula, Kirana lambat laun tertarik pada dunia fotografi. Beberapa kali ia menerima ajakan Rian untuk ikut workshop fotografi. Promosi sebuah produk memerlukan foto-foto yang menarik. Foto-foto itu sangat diperlukan untuk promosi usaha “Ayam Geprek Jeng Kirana” yang kini mulai dirintisnya.
Lambat laun keduanya akrab, dekat, dan saling membantu. Rian membuatkan logo hingga brosur “Ayam Geprek Jeng Kirana” untuk disebar di akun media sosial. Kirana juga beberapa kali membantu Rian saat mendapat order pemotretan. Hingga di akhir tahun lalu, Rian menyatakan cintanya kepada Kirana. Tentu saja, Kirana tak ragu menerimanya.
Tapi ajakan untuk menikah dari Rian membuat Kirana bimbang. Ia tidak bisa membayangkan harus menikah di musim wabah. Sebenarnya tak masalah harus menikah di kantor urusan agama (KUA) tanpa ada keramaian, namun ia tidak bisa membayangkan menaiki rumah tangga di tengah-tengah situasi yang penuh dengan ketidakpastian.
Kirana menatap potongan daging ayam yang berenang di genangan minyak panas. Aroma wangi yang khas memenuhi dapur rumahnya. Untuk menjadi seporsi hidangan ayam geprek yang rasanya lezat tiada tara dan pedasnya membuat penikmatnya ketagihan. Ayam harus menjalani banyak pengorbanan, disembelih kemudian dagingnya dipotong-potong, dikucuri cairan jeruk nipis atau direndam bumbu, dan dicelupkan ke dalam minyak mendidih. Setelah matang, daging ayam harus digeprek dan dilumuri sambal.
Dering telpon menyadarkan Kirana dari lamunannya, “Apakah ayam gepreknya siap edar, Tuan Putri?” tanya Rian di ujung telepon.
“Masih bau ayam goreng begini kok dipanggil Tuan Putri. Ini lagi digoreng ayamnya. Bantuin dong biar cepat selesai!”
“Siap Tuan Putri, apa yang bisa saya bantu?”
“Ngulek sambal.”
“Ganteng-ganteng kok di suruh ngulek sambal!”
“Ya, udah benerin genteng bocor atau nguras toren air kalau gitu!”
“Waduh mending ngulek sambel aja deh.”
“Ya udah, cepetan! Nggak kelar nih kalau diajak ngobrol terus.”
“Siap, ini sudah ada di depan rumah.”
“Ih, kamu kebiasaan, bukannya ketuk pintu.”
Meskipun virus Corona merebak, masih ada saja pelanggan setia yang memesan ayam geprek. Untung saja ada bang Rizal tukang sayur langganan yang selalu siap mengantar bumbu dan sayuran, serta bang Tomi yang mensuplai daging ayam. Kirana tinggal memesan pada mereka, jadi ia tidak perlu pergi ke pasar yang beresiko terpapar virus Corona.
Kirana menatap Rian yang sedang sibuk membagikan menu ayam geprek kepada tukang ojek yang mangkal di pertigaan. Ia mengabadikannya lewat telepon genggam sebagai laporan untuk para donatur. Kirana memang rutin membagikan paket ayam geprek pada orang-orang yang terdampak virus Corona. Awalnya dari uang pribadi, selanjutnya ada saja donatur yang menitipkan sebagian rezekinya pada Kirana.
Kirana merasa beruntung karena Rian selalu membantu dan mendampinginya. Rian sangat sopan dan tak terlihat canggung saat membagikan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan. Rian juga terlihat akrab dan tak berjarak saat berbincang-bincang dengan mereka. Apakah Tuhan mengirimkan sosok Rian sebagai imam untuk mendampinginya menghadapi berbagai kemungkinan di musim pandemi?
Peron satu stasiun kembali berdenyut dengan keriuhan-keriuhan. Sore ini, Kirana kembali mengikuti bakti sosial yang digelar komunitas pengguna KRL. Acara penyerahan paket sembako kepada warga yang terdampak Covid-19 di sekitar stasiun berjalan lancar.
Rian dengan kedua telinga tersumpal earphone, menggoyang-goyangkan kepala sambil mencuci kedua tangannya di wastafel yang diletakan di pinggir peron. Wastafel dan handsanitizer di tempat keramaian maupun fasilitas umum menjadi pemandangan tak asing sejak adanya pandemi virus Corona.
Kirana tersenyum, “Sebenarnya aku sudah menyiapkan sebuah jawaban, tapi lihat sebentar lagi kereta tujuan akan datang. Kita harus segera merapat ke peron empat.
“Ayolah, ya atau tidak itu saja.”
“Sabar ya, itu kereta sudah dekat, pakai masker ini, masker kamu dari tadi belum di ganti. Kata para ahli, masker kain pling lama dipakai selama empat jam. Entar sampai rumah jangan lupa langsung dicuci!” kata Kirana sambil menyodorkan masker kain berwarna putih.
Rian menerima masker kain pemberian Kirana. Matanya berkaca-kaca menatap permukaan masker. Kirana telah memberikan jawaban dengan memesan masker kain bertuliskan, “Pinang aku dengan bismillah!”*)

(Visited 11 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan