WABAH_NAZHIFA KHOIRUNNISA_SMPN 1 PABUARAN

FOTO-NAZHIFA.jpeg

WABAH

Nazhifa Khoirunnisa

Sudah 1 tahun lamanya virus covid-19 mewabah dinegara Indonesia. Mengharuskan semua warga untuk mematuhi protokol kesehatan. Sekolah pun belum di buka kembali. Banyak siswa yang kesusahan untuk mengerti materi pelajaran. Wabahini sangat membuat keresahan wargabumi. Covid-19 sudah memakan puluhan ribu korban jiwa,covid-19 virus yang mengerikan. Virus covid-19, memang sangat mengerikan, karenanya aku hidup dengan perasaan bersalah. Aku benar-benar kesepian, tidak ada yang menemaniku, teman-temanku, semua orang seakan-akan pergi menjauh setelah mendengar kabar, bahwa aku terkena virus covid-19 dan menyebabkan kedua orangtuaku meninggal karenaaku yang menular-kan virus tersebut. Virus covid-19, semakin hari semakin ganas, semakin hari semakin banyak memakan korban.Dan keluarga ku, termasuk korban dari virus covid-19.

  • •••••••••••••••

Vika, gadis yang kesepian 1 tahun terakhir ini. Vika, gadis malang karena dia salah satu korban wabah virus covid-19. Vika setiap hari selalu menulis di buku diary nya, menumpahkan segala emosi kedalamnya, salah satunya emosi tentang kematian kedua orangtuanya. Hari-hari vika hanya ditemani dengan kesedihan, penyesalan, dan keputusasaan. Dia sedih,karena kedua orangtuanya telah tiada. Dia menyesal,karena ketika pertama kali di beritakanwabah virus covid-19 sudah memasuki wilayah Indonesia,dia tidak mempercayai virus tersebutada. Hingga akhirnya, dia terjangkit virus covid-19.Yaa, awalnya memang vika yang tertularvirus covid-19, di susul oleh kedua orangtuanya. Itukarena vika tidak menghawatirkan viruscovid-19. Dia ber-putus asa, karena dia tidak mempunyaitujuan hidup. Awalnya, vika tidak tahu menahu tentang gejala penderitavirus covid-19. Jadi ketika vikasudah merasakan gejala-gejala tersebut, vika hanyamengabaikan nya, dan hanya meminumobat yang biasa terjual di pasaran. Kedua orangtuanyasempat khawatir dengan keadaan vika,karena melihat demam dan batuk yang terus menerus.Kedua orangtuanya pun menyuruh nyake dokter untuk memeriksa keadaan nya, namun vikatetep tidak mau periksa dengan alasanmalas. Vika pikir ini hanya deman dan batuk biasajadi tidak perlu berobat ke dokter. 1 minggu vika demam dan batuk, kedua orangtuanyapun tertular. Merasa cemas, keduaorangtuanya langsung pergi ke rumah sakit. Ketikahasilnya keluar keduanya terkejut. Hasil tesmenandakan bahwa mereka positif covid. Pihak rumahsakit tidak mengizinkan mereka pulangkarena harus di karantina, untuk antisipasi agar tidakmenular kepada orang lain. Merekadengan cepat menelepon vika anaknya, mengabarkan bahwamereka tidak bisa pulang untuksementara waktu. Vika sempat bingung kenapa keduaorangtuanya tidak bisa pulang?Memangnya mereka ada dimana? Tidak biasanya keduaorangtuanya menginap di rumahsaudara?. Lantas vika menanyakan alasannya, keduaorangtuanya langsung memberi tahubahwa mereka harus di karantina karena menderita viruscovid-19. Kedua orangtuanya tidakmengizinkan vika untuk datang ke rumah sakit di sebabkankondisi vika yang belum membaik.Takutnya vika pun harus ikut di karantina. Vika sangat mencemaskan kedua orangtuanya. Vikamencari berbagai macam cara untuk

menyembuhkan tubuhnya. Dia sangat ingin menjumpai kedua orangtuanya. Disini vika tersadar,bahwa dia yang pertama kali tertular virus covid-19berujung menular ke ibu bapaknya. Vika tidak menyerah mencari cara untuk menyembuhkannya. Akhirnya vika merasa bahwatubuhnya sudah membaik. Karena dirasa membaik, vikasegera berangkat ke rumah sakitdimana kedua orangtuanya di rawat. Sesampainya vika di rumah sakit, vika langsung menanyakanruangan keduanya. Karenaperaturan rumah sakit, vika hanya bisa melihat keduaorangtuanya lewat jendela yang tersediadisana. Kedua orangtuanya berada di ruangan terpisah,jadi vika harus menemui nya satuper-satu. Melihat wajah pucat sang ibunda, vika menangis,vika merasa bersalah, kedua orangtuanyaseperti ini itu di sebabkan oleh vika yang tidak menjagakesehatan. Tapi vika bersyukur saat inivika di beri kesempatan untuk melihat kondisi keduaorangtuanya. Tidak jauh beda dengan ibunya, bapaknya pun samapucatnya dengan wajah sang ibu. Vikaberdoa agar keduanya bisa sembuh seperti dirinya. Sesampainya di rumah, vika menangis keras diiringikata maaf kepada ibu bapaknya.Karenanya mereka harus kesakitan dan tidak bisa pulang.Ketika tangis vika mereda vikalangsung mengingat wajah kedua orangtuanya, seketikaitu tangisan nya yang sebelumnyamereda kembali terdengar.

  • •••••••••••••

Vika tidak pernah absen menjenguk ibu bapaknya. Tapihari ini vika tidak bisa mengunjungi mereka ke rumah sakit, karena tugas kuliahnya yang menumpuk. Di sela-sela vika mengerjakan tugasnya, vika mendapat telepon dari nomor tidak dikenal,meskipun tangannya masih disibukkan dengan mengetik di laptop, Vika masih menyempatkan waktu untuk menjawab telepon tersebut. “Halo, dengan siapa ini?” Sapa vika, dilanjutkan menanyai siapa lawan bicaranya. “Halo, dengan ibu vika?” “Iya saya sendiri”. Jawab vika. “Baik ibu vika, ini dari pihak rumah sakit mengabarkanbahwa ibu anda, pasien covid-19 meninggal dunia pada jam 13.47 WIB”. Jelas lawan bicaranya.Penjelasan yang sangat luarbiasa jelas, sampai Vika tidak mampu berkata-kata. “Ibu Vika?” Panggilan dari telepon pun, vika tidakmampu menjawab. Sadar dari lamunannya, Vika langsung bergegas dengancepat menuju rumah sakit. Vikatidak peduli dengan apapun saat ini yang dia pedulikanhanyalah ibunya sendiri. Vikamenggunakan mobilnya dengan sangat tidak waras, diamengemudi dengan laju mobil yangsangat cepat karena dia ingin segera menemui ibundanya.

Vika sudah menginjakkan kaki di lantai rumah sakit,Vika berlari dengan secepat mungkin,Vika terlihat seperti dikejar oleh hantu. Keadaanfisik vika sangat kacau, berlari tidakmenggunakan sendal atau sepatu, dia masih mengenakanpakaian tidur, rambut tidak tersusunrapi, dan keringat yang bercucuran di sekujur tubuhnya. Sampailah dia di depan ruangan ibunya, keinginannyasaat ini, dia sangat ingin memelukibunya untuk terakhir kalinya. melihat tubuh ibunyayang sudah kaku mungkin juga sudahsangat terasa dingin, vika hanya mampu mengeluarkanair matanya, kedua telapak tangannyamenempel di kaca seakan-akan dia ingin menerobos darikaca yang ada di depan nya. Di pemakaman yang sepi dan menegangkan, Vika menyaksikanibunya masuk ke liang lahat,pemakaman ibunya tidak dikunjungi oleh banyak orang,pemakaman ibunya dikunjungi hanyabeberapa orang saja, namun dari keluarga hanya vikaseorang. Selesai pemakaman ibunya, Vika langsung kembalike rumah sakit dan melihat keadaanayahnya.Vika berjalan di lorong rumah sakit yang ramaitapi terasa kosong dan sunyi. Vikaberjalan menunduk, tidak mempedulikan orang lain yangmembicarakan penampilannya.Sepanjang lorong rumah sakit vika menjadi buah bibirorang-orang. Vika menegakkan kepalanya kembali setelah dia sampaidi depan ruangan ayahnya. Vikamerasa heran karena melihat ada beberapa orang yangmenggunakan baju APD di dalamruangan ayahnya. Vika hanya menunggu di luar, karenamungkin mereka sedang memeriksakondisi bapaknya. Salah satu dari mereka yang menggunakan baju APDkeluar dari ruangan ayahnya, segerasaja Vika menanyakan bagaimana kondisi bapaknya. “Permisi dok, bagaimana kondisi bapak saya, apakahsudah membaik?” Tanya vika, menatapke arah dokter dengan penuh harapan. Dokter menggelengkan kepalanya, sebagai jawabandari pertanyaan vika. Harapan vikapupus setelah melihat jawaban dokter tersebut. “Maaf vika, sebelumnya kami sudah berusaha untukmenyembuhkan bapak kamu, tapi Tuhanberkehendak lain.” Kata dokter dengan nada rasa bersalah. Seperti dihantam batu besar, vika terjatuh lemas.Baru saja dia kehilangan ibunya, dihari yangsama dia harus kehilangan bapaknya juga. Vika terdiamlama, vika merasa dirinya sama sajaseperti virus covid-19. Secara tidak langsung vikayang membantu covid-19 untuk membunuhkedua orangtuanya. Vika di kelilingi rasa bersalah setiap harinya,Vika berhenti kuliah, Vika dijauhi teman-temannya, dan tidak ada keluarga dari ibu ataupun bapaknyayang menemani nya. Setelah kedua orangtuanya meninggal, Vika hidup sebatang kara, ditemani perasaan menyesal, merasa bersalah, tangisan, dan emosi yangada dalam pikirannya.

Di masa pandemi seperti ini sebaiknya tetap menjaga diri, dan mematuhi protokol kesehatan.

 

*Nazhifa Khoirunnisa

, Minggu, 18 April 2021*

(Visited 6 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan