Pandemi Cepatlah Berlalu

Pandemi Cepatlah Berlalu
Oleh: Syifa Nurhasanah
SMPN 2 Tanjungsiang

Sinar mentari pagi menembus kaca jendela kamar seorang gadis. Kicauan burung terdengar saling bersahutan, hingga mengusik tidur sang gadis. Dengan langkah gontai dan mata setengah mengantuk gadis itu membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Udara segar langsung berhamburan memasuki kamarnya. Sang gadis menghirup udara segar itu sepuasnya. Hana, nama gadis itu.

Di meja makan Hana sedang sarapan bersama ibunya. Tiba-tiba….
“Dua warga negara Indonesia positif terpapar virus Corona usai melakukan kontak langsung dengan warga negara Jepang. Presiden menghimbau kepada masyarakat agar tidak panik.”

Suara dari televisi tersebut membuat gadis cantik itu terkejut, “Apa itu virus Corona?” gumamnya. Lalu ia berpamitan kepada ibunya untuk pergi ke sekolah. Di perjalanan menuju sekolah ia terus saja bertanya-tanya dalam hatinya, “Apa itu virus Corona?”

Tak terasa Hana sudah sampai di sekolah. Ia segera menuju kelasnya. Baru saja gadis berkerudung itu duduk, terdengar suara dari pengeras suara yang menyuruh seluruh siswa berkumpul di lapangan. Di depan lapangan tampak seorang guru sedang memberikan informasi bahwa sekolah akan diliburkan selama dua minggu karena adanya wabah Covid-19. Semua siswa pun diperbolehkan untuk pulang.

Di perjalanan pulang Hana melihat sebuah mobil ambulans yang terparkir di depan halaman rumah tetangganya, dan beberapa orang yang berpakaian serba putih terlihat sedang membawa seseorang menggunakan tandu.
“Mungkin ada yang sakit,” gumam Hana.

Hana bergegas memasuki rumah dan mencari keberadaan ibunya.
“Assalamualaikum. Bu, Hana pulang,” ucapnya sambil celingukan.
“Waalaikumsalam. Sini, Nak, Ibu di dapur!”
Hana menghampiri ibunya yang sedang berkutat dengan peralatan dapur.
“Bu, sekolah Hana diliburin sampai dua minggu loh, katanya karena ada wabah Covid-19,” jelas Hana.
“Iya Nak, kamu harus hati-hati mulai sekarang. Kamu tadi lihat di televisi kan kalo ada dua orang warga negara Indonesia yang positif Covid-19, ternyata itu tetangga kita loh, Nak,” ucap ibunya panjang lebar.
Hana berusaha mencerna perkataan ibunya. “Apakah orang-orang yang tadi berpakaian serba putih itu sedang membawa pasien positif Covid-19?” Hana buru-buru pergi ke kamarnya.

Dari jendela kamarnya, Hana mengintip aktivitas orang-orang berpakaian serba putih itu.
“Gak nyangka tetangga aku sendiri yang terpapar virus Corona,” ucapnya lirih.

Di luar langit mulai gelap yang menandakan malam telah tiba. Hana dan ibunya sedang menonton televisi di ruang keluarga.

Tiba-tiba terlintas pertanyaan di pikiran Hana, “Bu, Hana mau nanya awal mula adanya virus Corona itu gimana sih?” tanya Hana.
“Virus Corona pertama kali ditemukan di China tepatnya di Kota Wuhan, namun belum ada yang tau pasti dari mana datangnya virus tersebut. Ada yang menyebutkan bahwa virus Corona ditularkan dari hewan kepada manusia,” jawab Ibunya.
Hana mengangguk pelan, menandakan Hana mengerti dengan penjelasan ibunya.
“Virus Corona itu bisa menular dari sesama manusia juga ya, Bu?” tanya Hana lagi.
“Iya, jadi sekarang kalau Hana mau keluar rumah harus selalu menggunakan masker. Selain itu kita juga harus rajin mencuci tangan dengan air yang mengalir, dan harus menjaga jarak, hindari berkerumun!” jelas ibunya.

Karena sudah mengantuk Hana pergi ke kamarnya untuk tidur. Ia menjulurkan tangannya dan mematikan saklar lampu. Setelah tiga puluh menit berlalu akhirnya Hana bisa tertidur dengan lelap.

Tak terasa dua minggu telah berlalu, dan setiap hari kasus positif Covid-19 di Indonesia semakin bertambah. Besok adalah hari Hana kembali sekolah. Hana sangat bersemangat karena besok ia akan bertemu kembali dengan teman-temannya.

Malam hari pun tiba, Hana sedang mempersiapkan barang-barang yang akan ia bawa besok. Setelah selesai, Hana pun berbaring di tempat tidur sambil memainkan ponsel miliknya.

Ting….
Terdengar suara dari ponsel Hana. Dan ternyata itu adalah pesan dari grup whatsapp sekolahnya.
“Selamat malam anak-anak, gimana liburan kalian seru, kan? Menurut surat edaran dari pemerintah kita tidak bisa melakukan pembelajaran secara tatap muka besok. Jadi kami dari pihak sekolah memutuskan untuk melakukan pembelajaran secara daring (dalam jaringan). Artinya kita akan melakukan pembelajaran jarak jauh. Kalian belajar dari rumah,” jelas seorang guru.

“Belajar dari rumah? Eummh, kayaknya seru,” gumam Hana.
Hana pun mematikan lampu kamarnya dan tertidur.

Kriing…. Kringg….
Terdengar suara alarm dari jam milik Hana. Suara alarm tersebut berhasil membangunkan gadis manis itu dari tidurnya. Ia segera merapikan tempat tidurnya dan bergegas pergi mandi. Lima belas menit kemudian ia telah selesai melakukan ritual mandinya. Kemudian gadis dengan senyum manis itu mencari ibunya.
“Hana, sini! Ibu di luar, Nak, lagi nyiram tanaman,” teriak ibunya dari luar rumah.

Hana pun menggantikan pekerjaan ibunya. Sambil bekerja sesekali Hana bersenandung. Ia tersenyum ketika melihat tanaman yang tadinya layu menjadi segar setelah disiram.

Setelah selesai melakukan pekerjaannya Hana kembali ke kamarnya untuk belajar. Perutnya terasa lapar.
“Bu, Hana ke depan dulu yah mau beli cemilan. Ibu mau?” tanya Hana.
“Enggak deh, eh pake maskernya, ya, jangan lupa!” teriak ibunya.

Hana pun bergegas pergi membeli cemilan dengan berjalan kaki. Sesampainya di sana, Hana melihat banyak sekali orang yang tidak memakai masker dan saling berkerumun. Hana pun berinisiatif untuk menegur salah seorang ibu yang tidak menggunakan masker.
“Bu, kenapa Ibu gak pake masker?” tanya Hana.
“Ngapain juga pake masker, kan di lingkungan kita gak ada yang positif Covid-19. Lagian juga tetangga kita yang positif udah dibawa ke rumah sakit. Jadi aman, dong kalo gak pake masker juga,” jelas Ibu itu.
“Benar juga, ya!” gumam Hana pelan.

Setelah selesai Hana pun kembali pulang ke rumahnya. Kemudian ia mencari ibunya dan menanyakan perihal Ibu tadi.
“Bu, kenapa kita harus pake masker? Kan, di lingkungan kita gak ada yang positif Covid-19?” tanya Hana.
Ibunya pun menjawab sembari tersenyum, “Gini, ya Nak, virus Corona itu bisa menyebar melalui percikan air liur. Agar tidak terjangkit virus Corona, salah satu cara mencegahnya adalah dengan memakai masker. Masker dapat menjadi salah satu penghalang virus masuk ke tubuh kita. Yang namanya virus gak bisa kita liat dengan mata telanjang, harus menggunakan alat khusus. Jadi lebih baik kita mencegah virus itu masuk ke tubuh kita daripada mengobatinya setelah virus itu masuk ke tubuh kita. Mencegah kan lebih baik daripada mengobati,” jelas Ibunya.

Tak terasa sudah sembilan bulan Hana berada di rumah, dan belajar dari rumah. Sambil melihat keluar jendela Hana membayangkan masa-masa di mana kehidupan di dunia ini masih normal. Hana merindukan masa-masa itu, andai saja manusia bisa pergi ke masa lalu mungkin Hana akan melihat dirinya di masa lalu yang ceria dan bebas untuk melakukan aktivitas apapun.

“Hana kamu kenapa ngelamun, Nak?” tanya Ibunya.
“Bu, Hana rindu sekolah seperti biasa, kenapa harus ada virus Corona? Hana benci virus Corona! Virus Corona merenggut semua kebahagiaan Hana, Bu. Kapan virus ini akan pergi, Bu?” tanya Hana sambil meneteskan air mata.

Ibunya memeluk Hana dan berkata, “Nak, ini semua cobaan dari Tuhan untuk manusia. Hana berdoa aja sama Tuhan supaya virus ini cepat hilang dari bumi kita tercinta ini. Hana harus tenang sekarang, kan sudah ada vaksin untuk mencegah agar tidak terinfeksi virus. Ibu yakin sebentar lagi pandemi ini akan berakhir, Nak! Pemerintah bersama masyarakat sudah melakukan berbagai cara untuk mencegah meluasnya penyebaran virus ini. Insyaallah virus segera hilang dari muka bumi. Tuhan tau apa yang terbaik untuk kita,” jelas ibunya.

Hana mengusap air matanya dan kembali tersenyum, ia yakin suatu saat nanti virus ini akan musnah. Sambil melihat foto dirinya Hana tersenyum dan berkata.
“Pandemi cepatlah engkau pergi dari bumi ini, biarkanlah kami manusia melakukan aktivitas secara normal kembali.” lirih suara Hana.

Entah kapan virus ini akan pergi mungkin satu tahun lagi atau mungkin dua tahun lagi. Tidak ada yang tahu kapan pandemi ini akan menghilang. Kita manusia hanya bisa berdoa, namun Tuhanlah yang akan menentukan semua. Pandemi ini juga ada manfaatnya. Dengan kita tidak boleh keluar rumah kita jadi banyak menghabiskan waktu di rumah dan menjadi lebih dekat dengan keluarga. Selalu patuhi protokol kesehatan dan jaga kesehatan, ya!*)

(Visited 44 times, 1 visits today)

One thought on “Pandemi Cepatlah Berlalu

Tinggalkan Balasan