Hipni Nurul Amalia_Sejuta Mimpi di Balik Pandemi_SMPN 2 Tanjungsiang

20210419_171500.jpg

Sejuta Mimpi di Balik Pandemi
Oleh: Hipni Nurul Amalia
SMPN 2 Tanjungsiang

“Jumlah pasien yang terpapar Covid-19 di Indonesia hingga hari ini mencapai 8.345 jiwa. Maka dari itu pemerintah selalu menghimbau masyarakat untuk tetap …
“Klik,” tv dimatikan.
“Ah, sampai kapan?” gumam Devi.
Devi masuk ke kamar, kemudian merebahkan tubuhnya. Pandemi Covid-19 benar-benar menjadi sorotan dunia. Virus yang begitu cepat penyebarannya, merebut rezeki kalangan menengah ke bawah. Merenggut jutaan hak pelajar, mencerabut tawa dan kebahagiaan manusia-manusia tak berdaya. Tidak pernah terlintas di pikiran Devi jika semua ini akan terjadi.
Sejak satu bulan yang lalu tak pernah lagi ia temui matahari pagi yang selalu menemaninya berjalan kaki. Tak pernah lagi terdengar tawa anak-anak kecil yang biasa berlarian di gang depan rumahnya. Teras tetangga tampak kosong tanpa ibu-ibu yang asyik bergosip di sore hari. Semua mengurung diri di rumahnya masing-masing, terperangkap oleh risau dan bosan. Hanya ada sepi, hening, dan cemas.
Saudara sebangsa dan setanah air dibungkam Ccovid-19. Setiap hari selalu ada berita kematian, meski di sisi lain Devi bersyukur beberapa saudaranya terselamatkan. Tetapi, tetap saja Devi merindukan saat di mana ia bersenda gurau dengan teman-temannya. Saat dimana semua masih baik-baik saja.
“Devi, ayo makan dulu!” panggil ibunya. Ibu Devi seorang ibu rumah tangga, ayahnya seorang pedagang mie ayam yang setiap hari berkeliling untuk menghidupi keluarga kecilnya. Sedangkan Devi, ia pelajar Sekolah Menengah Pertama. Keluarga Devi menjadi salah satu dari sekian banyak masyarakat yang terdampak Covid-19. Langganan ayahnya semakin sepi setiap hari. Sehingga penghasilannya semakin berkurang. Tentu saja hal ini berdampak kepada keluarga itu. Ibu dan anak itu sedang makan diselingi mengobrol. Devi duduk di depan ibunya.
“Kamu tahu Bu Imas yang rumahnya di ujung gang itu?” tanya ibu Devi.
“Ya, emangnya ada apa?” sahut Devi balik bertanya.
“Adiknya yang menjadi perawat pasien Covid-19 di Bandung, sekarang terinfeksi. Sebelumnya ia merawat pasien Covid-19, dan sekarang ia dirawat.
Lagi-lagi Devi cemas, sehingga ia segera menghabiskan makanannya dan kembali ke kamar. Devi membuka buku-buku pelajarannya. Saat ini, ia hanya tahu angka-angka yang berjajar tanpa paham, tulisan-tulisan tanpa makna, dan rumus-rumus tanpa mengerti cara. Tiba-tiba ia jadi rindu dengan Pak Soni yang selalu menegurnya ketika Devi ketahuan makan saat jam pelajaran. Sekarang Devi hanya bisa bersabar, Covid-19 benar-benar merenggut kata “baik-baik saja” dari setiap titik di muka bumi.
“Assalamualaikum,” suara ayah Devi membukakan pintu, ia baru saja pulang bekerja.
“Waalaikumsalam,” Devi segera ke luar kamar dan mencium tangan ayahnya. Ibunya datang membawa secangkir teh hangat. Mereka bertiga duduk di ruang tamu. Ayah Devi menarik napas panjang, “Setiap hari, dagangan Ayah semakin sepi pembeli. Ayah terpaksa harus berhenti jualan, kita sudah tidak punya modal lagi.” Devi dan ibunya hanya terdiam.
“Lalu bagaimana untuk seterusnya, Yah?” tanya ibu Devi dengan nada sedih. Ayah Devi tidak menjawab, ia benar-benar bingung. Penghasilannya sekarang tidak tentu, bagaimana perut keluarganya dapat terisi?
Devi masuk kamarnya tanpa mengucap sepatah kata pun. Devi ingin bisa membantu, tetapi ia sama sekali tidak berdaya. Devi tercenung, marah pada keadaan tidak akan membuahkan apa-apa, protes pada Tuhan pun tidak ada gunanya. Sulit, semua ini begitu sulit.
Devi membuka ponselnya, membuka satu pesan dari gurunya, “Devi, ini ada lomba membuat cerpen, kamu suka membuat cepen bukan? Ikutlah, tapi waktu cuma tersisa tiga hari, kamu mau coba?”
Devi melihat poster lomba membuat cerpen tersebut. Benar saja, waktu tersisa tiga hari untuk pendaftaran dan pengiriman naskah. Namun hadiah yang dicantumkan cukup menarik bagi Devi, “Aku akan coba. Jika aku menang uang dari hadiah lomba membuat cerpen ini dapat membantu keluargaku. Jika kalah tidak masalah, aku dapat pengalaman. Tuhan bantu aku,” lirih suara Devi.
Pukul sembilan malam, Devi masih terjaga di depan laptop tuanya. Jari-jarinya menari di atas keyboard dan otaknya diputar untuk menemukan bahan cerita. Ia benar-benar berharap memenangkan lomba itu untuk membantu perekonomian keluarga. Devi berusha keras, ia sangat berusaha. Semalaman Devi tidak tidur sama sekali. Syukurlah naskahnya masih bisa dikirim. Devi membuka ponselnya dan mendaftarkan diri via email. Setelah itu ia mengirimkan naskahnya. Devi sudah berusaha, sekarang saatnya ia berdoa dan bertawakal. Apa pun hasilnya, Devi siap menerima.
Hari pengumuman juara lomba menulis telah tiba. Hasilnya diunggah di website resmi penyelengara lomba. Devi begitu cemas, jantungnya berdetak kencang, “Huft, baiklah. Tuhan, teguhkanlah hatiku,” batin Devi.
Devi membuka website tersebut, alangkah terkejutnya, ia menempati urutan ke satu dari lomba itu. Ia tertegun, tak mampu berkata-kata. Setelah kesadarannya pulih, ia segara memberitahu ibunya.
“Ibu, alhamdulilah! Aku … aku berhasil, Bu,” Devi menangis dipelukan ibunya.
“Alhamdulilah, Nak, Ibu bangga padamu,” ibu Devi memeluk Devi lebih erat.
“Sekarang pergilah, beritahu ayahmu!”
Devi bergegas menemui ayahnya yang sedang menonton televisi. Terdengar seorang pewara berita sedang menyampaikan informasi seputar perkembangan wabah Corona, “Kabar baik. Langit Jakarta kini membiru setelah bertahun-tahun dipenuhi asap kelabu. Hal ini diduga karena jumlah asap di kota menurun sejak diterapkan social distancing dan physical distancing akibat pandemi Covid-19.”
Devi menghentikan langkahnya, ia tersenyum. Sekarang Devi sadar, Tuhan menghendaki sesuatu bukan tanpa alasan. Virus ini kejam pada manusia, tetapi penyelamat bagi alam semesta. Sekaraang Devi paham, bahwa selalu ada hikmah di balik semua yang terjadi, Corona mengajarkan arti kebersihan.
Dengan adaanya pandemi Covid-19, menggunakan masker saat ke luar sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang. Rasanya sudah menjadi kebiasan. Tidak hanya memakai masker, mencuci tangan pun sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang.
“Yah, maaf mengganggu. Devi hanya ingin memberitahu Ayah kalau Devi berhasil memenangkan lomba menulis cerpen. Hadiahnya bisa dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari,” ucap Devi, disambut pelukan haru sang Ayah.
Pagi hari….
“Kukuruyuuuuuuuk … kukuruyuuuk …” suara ayam berkokok.
“Citt … citt … ciit …,” suara burung. Devi pun bergegas bangun.
Semenjak ada pandemic, Devi selalu menyempatkan untuk berolahraga setiap pagi, “Ah, segar sekali pagi hari ini,” ucap Devi sambil menggerakan badannya. Devi pun berolahraga sambil menikmati segarnya pagi hari.
(30 menit kemudian)
“Dev … bantuin Ibu, Nak!” ucap ibunya dari jendela.
“Iya, Bu,” kata Devi dengan tergesa-gesa. Devi pun membantu pekerjaan ibunya.
“Kriiing … kriing …” suara ponsel Devi. Ia pun membuka pesannya.
“Zoom di mulai lima belas menit lagi, ya, anak-anak,” pesan dari guru Devi.
“Bu, pekerjaan Ibu sudah selesai? Devi mau mandi dulu ya, sebentar lagi mau zoom,” ucap Devi kepada ibunya.
“Iya, awas jangan tidur!” ucap ibu Devi sambil bercanda.
(15 menit kemudian)
Zoom telah dimulai, Devi pun belajar.
Benar kata otang pintar, selalu ada hikmah di balik musibah. Sebelum pandemi, pekerjaan Devi hanyalah tidur, bermalas-malasan, tidak pernah membantu orang tua, dan juga jarang belajar. Devi mengambil hikmah dari adanya Covid-19 ini, bisa merasakan hidup bersih dan sehat, membantu orang tua, dan menghabiskan waktu untuk belajar.
Sore hari pun tiba, matahari mulai tenggelam disambut dengan senja yang sangat indah. Devi langsung begegas ke luar rumah untuk melihat senja. Devi melihat ada seorang ibu yang sedang membuang sampah sembarangan tepat di pinggir rumahnya. Ia segara memberi tahu ayahnya, “Ayah … Ayah … aku melihat seorang ibu yang membuang sampah di pinggir rumah kita,” ucap Devi.
“Iya, Nak, itu contoh orang yang tidak mau menjaga lingkungan dan membantu negara. Kita tidak boleh seperti itu, kita harus membantu negara kita,” jawab ayah Devi dengan tenang.
“Bagaimana caranya, Yah?” tanya Devi dengan bingung.
“Jaga kebersihan, contohnya jangan buang sampah sembarangan. Mulailah dari langkah kecil seperti itu. Kita mencegah berkembangnya virus bukan hanya harus menggunakan masker saja, tetapi juga harus menjaga lingkungan kita. Percuma kalau kita rajin pakai masker dan mencuci tangan pake sabun tapi lingkungan kita masih kotor, sampah di mana-mana. Mulailah dari hal-hal kecil, diawali dari diri kita, dan lakukan sekarang. Berbuat baik jangan ditunda-tunda,” jawab ayahnya.
Mendengarnya penjelasan ayahnya, Devi jadi sadar. Ternyata disaat kondisi seperti ini bukan hanya diri kita sendiri yang dijaga tetapi lingkungan pun harus dijaga.*)

(Visited 7 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan