Dewi Lovita Apriani_Penghuni Lain_SMPN 2 Tanjungsiang

Screenshot_20210418-103504_WhatsApp2.jpg

Penghuni Lain
Oleh: Dewi Lovita Apriani
SMPN 2 Tanjungsiang

Aku, Sindy Angelita Rachelia adalah seorang wanita yang kata orang bisa sedikit memahami tentang keanehan dalam hidup. Ya, benar! Aku adalah seorang anak indigo katanya, tapi tenang saja aku rasa aku sama seperti gadis-gadis biasa. Aku adalah anak blasteran Belanda Indonesia.
Suatu hari saat malam tiba. Aku merasakan keanehan pada diriku. Aku berusaha untuk tetap tenang karena aku tahu jika aku takut maka energi roh halus akan semakin kuat. Aku berusaha tenang seolah gak ada apa-apa. Namun semuanya berubah saat sesuatu di ruang televisi pecah. Aku tidak tahu itu apa. Aku langsung melihatnya untuk memastikan apa yang terjadi. Aku tahu itu bukan hal aneh bagi keluarga kami tapi jujur aku takut akan hal itu.
“Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres di rumah ini,” kata adikku.
“Ya, ada sesuatu yang gak beres di rumah kita. Aku tahu kamu mengerti akan hal itu.
“Berdoalah, Nak! Sesungguhnya Allah Maha Pelindung,” ibu menenanggkan.
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh lagi. Semua kaget. Ayah mengingatkan agar semua segera pergi tidur. Lalu mereka pergi ke kamarnya masing-masing. Pada akhirnya mereka bisa tidur dengan tenang tanpa ada yang menggangu sama sekali, padahal sebelumnya mereka sudah merasakan keanehan.
Kepribadianku tertutup, tidak gampang bergaul. Sikap itu aku dapat dari kesakithatianku. Dahulu aku sangat periang, suka bergaul sama banyak orang, suka berada di tempat yang ramai. Aku suka menyapa orang, baik yang lewat di depanku atau yang sedang diam sekali pun. Pernah ada kejadian, waktu itu aku sedang berada di tempat umum. Aku sedang mengalami kesulitan, tetapi tidak ada seorang pun yang kuanggap teman datang menghampiriku. Bahkan teman terdekat pun gak ada, padahal aku butuh banget bantuan mereka.
Nah, setelah kejadian itu semuanya jadi berubah. Aku tidak lagi menjadi orang yang periang, tidak suka bergaul sama banyak orang, lebih suka menyendiri di tempat sepi, tidak lagi suka menyapa orang orang, menjadi orang yang kurang peduli terhadap sekitar.
Waktu telah menunjukkan pukul enam pagi. Aku bersiap untuk ke sekolah. Pertama aku mandi dulu karena sangat gerah. Ketika sedang mandi aku melihat bayangan lewat. Aku berusaha biasa saja bahkan sambil nyanyi-nyanyi gak jelas. Tetapi sebenarnya hatiku sedang gak tenang. Aku menutupi semua ini agar terlihat biasa-biasa saja seperti tidak ada yang terjadi.
Kami sudah siap di meja makan untuk sarapan. Kami selalu sarapan bersama hal itu mempererat ikatan keluarga kami. Pada siang hari kami jarang sekali berkumpul. Masing-masing memiliki kesibukan. Ayahku bekerja dan ibuku juga bekerja di suatu perusahaan ternama di Indonesia.
“Kamu cepat berangkat nanti kesiangan,” ibu mengingatkan.
“Iya, Bu bentar lagi, (aku merasa seperti ada yang sedang mengawasi dan aku menyadari itu.)
“Cepat, Nak atau nanti kamu akan terancam!” kata Ayah.
“Maksud ayah?”
“Nanti akan Ayah ceritakan ketika kamu sudah berumur tujuh belas tahun,” Ayah melanjutkan.
Keluargaku belum mengetahui kalau sebenarnya aku telah merasakan sesuatu sejak lama. Aku menutupi itu semua, seolah-olah tidak ada yang terjadi pada diriku. Lain halnya dengan adikku, ia tidak mengetahui banyak soal ini karena ia belum cukup umur.
Tibalah di sekolah, aku langsung masuk ke kelas dan aku menyadari ada yang terus mengikutiku. Dia selalu ada di sekitarku, mengikutiku ke mana pun, seperti pengawal. Kadang aku takut, tapi aku mencoba berpikir positif. Bahwa keberadaannya tidak akan menggangguku.
Tiba-tiba aku merasa pusing sekali saat belajar. Memang aku mempunyai penyakit tekanan darah rendah. Jika aku punya suatu masalah pasti tekanan darah aku langsung down banget. Saat ini aku gak punya masalah, tetapi mengapa tiba-tiba aku merasakan itu?!
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Bu Siska.
“Ya, Bu, saya baik-baik saja,”
Bel sekolah pun berbunyi. Aku dan temanku pergi ke kantin untuk jajan. Sebenarnya aku selalu mentraktir dia. Tujuanku agar ia mau berteman denganku. Aku sempat berpikir, bahwa ia akan mendekatiku karena uang. Tetapi aku salah. Saat itu aku lupa bawa uang dan aku menceritakannya pada temanku itu. Ternyata dia sangat kasihan padaku, aku kaget saat mendengar ucapannya itu, “Ternyata masih ada orang baik, ya di dunia ini,” kataku dalam hati.
“Jadi, gak, jajannya? Aku ada sedikit uang, ayoo aku traktir!!!”
“Makasih, ya,”
“Ehh, santai, kayak ke siapa aja!”
“Iya,” dalam hati aku bersyukur banget punya teman kaya kamu.
Hari itu aku bahagia banget, ketawa-ketawa sama dia. Seperti aku kembali menemukan diriku yang dulu. Betapa bodohnya aku, mengira bahwa semua sahabat bisa didapat dengan uang. Ya, ternyata aku salah karena masih banyak orang baik di dunia ini. Yang tidak mengukur semuanya dengan uang.
“Bisa, gak kalo nanti kamu main ke rumahku?” aku bertanya di sela-sela kunyahan permen karet.
“Boleh, emang rumah kamu dimana?”
“Pondok Indah, Nomor 14,” jawabku.
Suatu sore temanku benar-benar datang ke rumahku. Ia merasa sedikit aneh melihat bangunan rumahku yang konsepnya kebelanda-belandaan.
“Rumah kamu, kok kayak agak aneh dan maaf-maaf menurutku rumah ini agak angker,” ujarnya. Aku gak marah dia berbicara seperti itu, karena aku sendiri juga merasakannya. Aku mengajaknya bermain di kamarku. Ia pada awalnya merasa takut, tetapi lambat laun menjadi senang. Menurut dia, kamarku jauh lebih nyaman dibanding ruangan lain.
Tidak terasa waktu sore, temanku harus pulang karena adiknya harus mengaji. Kini aku sendirian di rumah. Kemudian aku menyalakan televisi dengan volume suara agak keras. Hal itu sengaja aku lakukan agar rumah tidak terlalu sepi. Hingga tak sadar aku pun tertidur. Awalnya aku merasakan tidur seperti biasanya namun mungkin tidurku terlalu lama hingga sesuatu seperti sedang menindihku. Aku sadar akan tetapi tidak bisa bergerak, yang aku rasakan sangat engap, sampai gak bisa berbicara. Aku panik dan menangis.
Ayah dan ibuku pulang. Mereka membangunkanku. Hufhh, aku bernapas lega, bisa bangun lagi. Aku langsung memeluk ibuku, “Ibu, aku takut, gak mau ada dirumah ini,” ibuku tampak heran.
“Kamu kenapa, Nak? Ada sesuatu yang mengganggumu?”
“Tenang, Nak, Ayah selalu ada untukmu!”
“Ayah apa yang sebenarnya terjadi?”
“Ini bukan saatnya Ayah memberitahu mu, Nak.”
“Tapi aku sangat tersiksa sekali, Yah,” aku merajuk.
“Iya, Ayah akan menceritakannya saat kamu berusia tujuh belas tahun, Nak.”
Waktu menunjukkan pukul dua belas. Aku dibangunkan oleh ibuku. Tanpa aku sadari sebenarnya sakarang ini adalah hari ulang tahunku yang ke tujuh belas. Aku merasa sangat bersyukur masih bisa bernapas hingga saat ini. “Tidak terasa aku makin dewasa,” ujarku dalam hati.
“Selamat ulang tahun anakku sayang, panjang umur, sehat selalu, makin dewasa pastinya,” ibu menciumku dengan penuh kasih sayang.
“Makasih, Bu. Ibu telah mendidik dan membesarkanku sampai saat ini. Dan ibu selalu ada untuk anakmu ini,” jawabku penuh haru.
“Selamat ulang tahun bidadari cantik Ayah. Ayah bangga padamu, Nak, semoga kamu lebih baik dari sebelumnya, ya!”
“Wah, Kakak makin tua aja, ya, hahaha…,” adikku mengolok-olokku.
Tiba-tiba lampu di rumah kami mati. Suasana berubah mencekam.
“Coba lihat rumah tetangga mati lampu, gak?” perintah ayah.
“Enggak, kok, Yah. Lampu di rumah mereka menyala,” jawabku.
“Waah, ini paling-paling ada yang merasa terganggu dengan keributan kita di tengah malam,” kata ayah. Jadilah semua berkerumun di sekitar kue ulang tahun yang ada lilinnya. Aku menagih janji ayah untuk menceritakan semua padaku. Singkat cerita, ternyata memang di rumah kami ada penghuni lain. Makhluk tak kasat mata yang berbagi tempat tinggal dengan keluarga kami. Kami hanya bisa berdoa agar mereka tidak mengganggu, dan semoga mereka tidak berniat menampakkan wujud aslinya di hadapan kami.*)

(Visited 26 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan