Dewi Lovita Apriani_Mata Uang_SMPN 2 Tanjungsiang

Screenshot_20210418-103504_WhatsApp2.jpg

Mata Uang

Oleh: Dewi Lovita Apriani
SMPN 2 Tanjungsiang

Di suatu desa hiduplah seorang keluarga yang tidak berkecukupan. Keluarga itu terdiri atas Ayah, ibu, dan anak. Mereka hidup seadanya, Ayahnya pengangguran dan ibunya tukang sapu jalan. Mereka menghabiskan waktu dijalanan.
Sang Ayahnya mantan anak punk, dulu ia ketua gengnya. Ayahnya tidak melanjutkan pendidikan formal, ia bersekolah sampai jenjang SMP dan ibunya juga sama, dulu mereka bersekolah di tempat yang sama.
Suatu hari Ayahnya sedang duduk melamun meratapi hidupnya, rasanya ia tak lagi sanggup menjalani hari-harinya. Tak sedikit orang yang memandangnya sebelah mata. Ia malu dan sangat kesal. Anaknya sendiri pun sering ia marahi karena emosinya tidak stabil. Ia ingin mengubah nasibnya menjadi lebih baik, tetapi tidak tahu caranya.
Lalu ia memutuskan untuk bertanya ke Pak Ustaz. Siapa tahu Pak Ustaz mempunyai solusi atas masalah yang sedang dihadapinya.
“Pendidikanmu sampai jenjang apa?
“Saya hanya tamatan SMP, Pak Ustaz. Pergaulan saya kurang bagus dan menggagap pendidikan itu tidak penting. Jadi saya bersekolah asal-asalan.”
“Nah, kamu keliru, pendidikan itu penting!”
“Benar, Pak Ustaz. Saya menyadari itu sekarang. Saya berharap Pak Ustaz dapat memberi saya pekerjaan. Saya sangat membutuhkannya. Tolonglah, Pak!”
“Saya tidak bisa memberikan pekerjaan untuk saat ini. tetapi selagi kamu bisa berusaha dan kamu mampu untuk berubah saya yakin pasti ada jalannya,” ujar Pak Ustaz menasehati.
Ayah pun pulang ke rumah dengan keadaan masih gelisah. Diperjalanan ada satu orang yang mengolok-olok Ayah. “Hey, kamu orang miskin, kenapa masih ada di sini bukankah tempatmu di kolong jembatan?” seringai orang itu. Ayah tidak marah, tetapi Ayah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia akan menjadi orang sukses.
Aku berpikir untuk mendapatkan uang dengan cara mengumpulkan barang bekas dan menjualnya ke Ahmad. Dari hasil penjualan itu aku mendapat sedikit uang yang bisa ku gunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Aku pulang ke rumah dan melihat Ayah yang begitu murung dan ibu yang sedang membereskan rumah. Aku meberikan uang itu kepada ibu, “Bu, ini ada sedikit uang, semoga bisa membantu,” ibu menerima uang itu dengan tangan gemetar.
“Ini uang dari mana, Nak?” tanya ibu dengan suara tercekat. Kemudian aku ceritakan semuanya kepada ibu. Tiba-tiba Ayah datang, ia berdiri di antara aku dan ibu.
“Maafkan Ayah, Nak, Bu! Ayah orang yang tidak berguna. Ayah selalu merepotkan dan menjadi beban kalian. Ayah belum bisa membahagiakan kalian. Besok Ayah akan mencari pekerjaan. Kalian doakan Ayah, ya!”
Ayahnya menyesali sikapnya di masa lalu, “Aku menyesal karena semasa muda tidak belajar sungguh-sungguh. Aku tidak ingin anakku bernasib seperti diriku. Aku ingin anakku menjadi orang sukses dan bahagia.”
Sejak hari itu, Ayah giat mencari kerja. Ia mau bekerja apa saja, tidak mengenal lelah. Aku bahagia melihat perubahan pada diri Ayah. Dalam setiap kesempatan aku selalu berdoa agar kehidupan keluarga kami berubah ke arah yang lebih baik. Aku juga bertekad untuk membahagiakan kedua orang tuaku, “Aku gak bisa gini-gini aja! Aku harapan terbesar orang tuaku. Aku harus sekolah yang rajin! Aku bisa … aku bisa … dan aku tahu itu.Meskipun aku bukan terlahir dari orang yang kaya raya tapi aku bisa kaya, insyaallah atas izin Allah dari mulai detik ini menit ini dan di jam ini aku akan berjuang!”
Dengan bekal tekad yang kuat, aku belajar sungguh-sungguh, menghapalkan semua materi yang kupelajari di sekolah, dan mengerjakan pekerjaan rumah dengan penuh semangat.
Waktu telah menunjukkan pukul sembilan, aku tidak mau lagi begadang dan melakukan kegiatan gak jelas. Aku akan tidur, mempersiapkan energi untuk esok hari. Aku melihat masa depanku cerah.
Aku bangun dalam keadaan segar bugar. Waktu menunjukkan pukul 04.30 WIB, aku mempersiapkan segala sesuatunya dengan penuh semangat. Ketika membantu ibu pun kulakukan sambil bersenandung.
Semangat dan doa-doaku membuahkan hasil. Prestasiku di sekolah terus membaik. Hal ini membuat guru-guru senang dan sayang kepadaku. Tak jarang aku diberi uang jajan atau makanan oleh guru-guruku.
Sepulang sekolah aku mendapat kabar gembira bahwa Ayah sudah mendapatkan pekerjaan dari temannya. Itu berkat kebaikan Ayah di masa lalu. Dulu Ayah pernah menolong temannya itu, sebagai balas jasa Ayah diberi kesempatan bekerja di perusahannya sebagai tukang bersih-bersih. Ijazah SMPnya tak layak untuk menjadikan Ayah sebagai manajer perusahaan tersebut. Ayah senang dan aku juga senang sekali dengan kabar itu.
Ayah menjalankan tugasnya dengan sungguh-sungguh. Pengalaman pahitnya selama ini telah memberinya pelajaran berhaga. Ia tidak mau terjatuh ke jurang yang sama untuk kedua kalinya.
Ayah mempelajari banyak hal di perusahaan itu. Temannya pun tidak pelit dengan ilmu yang dimilikinya. Tak segan-segan ia membagi kunci rahasia suksesnya kepada Ayah. Dan Ayah belajar cepat, seperti berpacu dengan waktu.
Setelah terkumpul cukup uang, Ayah mencoba bisnis kecil-kecilan dengan menjadi suplier barang bagi perusahaan tempatnya bekerja. Kejujuran, semangat, dan kerja keras Ayah menjadikan Ayah partner bisnis yang baik. Temannya semakin percaya.
Beberapa tahun telah berlalu, bisnis Ayah berkembang dan kami memutuskan untuk pindah. Keluarga kami sekarang sudah berkecukupan bahkan lebih dari cukup. Ayah selalu mengingatkan aku untuk terus belajar dan menempuh pendidikan setinggi-tingginya, “Pendidikan itu penting. Kamu akan dihargai karena itu, dan yang terpenting lagi kamu harus memiliki sikap yang baik. Pendidikan dan sikap yang baik adalah mata uang yang berlaku di mana-mana,” begitu selalu nasehat Ayah.*)

(Visited 12 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan