Anisa Sabrina Qona’ah_Keluargaku Surgaku_SMPN 2 Tanjungsiang

Screenshot_20210419-053736_WhatsApp2.jpg

Keluargaku Surgaku
Oleh: Anisa Sabrina Qona’ah
SMPN 2 Tanjungsiang

Rangga, anak yang terkenal. Berasal dari keluarga miskin di sebuah kampung kecil. Ia sering sekali diejek temannya karena ia tidak memiliki apa yang mereka semua punya. Namun Rangga bukan anak yang mudah putus asa apalagi karena ejekan. Ia memiliki mimpi yang satu saat akan dibuktikan kepada semua temannya. Sehingga mereka sadar bahwa kemiskinan bukan bahan ejekan.
Saat ini Rangga duduk di kelas sepuluh. Ia dapat bersekolah karena memiliki bantuan dari pemerintah yang dikhususkan untuk anak dari keluarga kurang mampu. Ia termasuk anak yang pintar, tidak malas dalam beribadah, rajin mengaji, dan bila azan berkumandang selalu bergegas berangkat ke mesjid yang tidak terlalu jauh jaraknya dari rumahnya. Setiap ada tugas dari sekolah ia selalu langsung mengerjakannya sepulang sekolah. Orang tuanya bekerja serabutan.
Kumandang azan subuh terdengar sampai ketelinganya Rangga. Ia langsung terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Kemudian ia membangunkan orang tuanya.
“Tok … tok … tok!” Rangga mengetuk pintu kamar ibu dan ayahnya.
“Bu, bangun ayo kita salat subuh!” kata Rangga
“Iya, Nak bentar,” jawab ibunya dari dalam kamar.
“Ayah, ayo kita salat ke mesjid!” ajak ibu kepada ayah Rangga. Saat dibangunkan, ayah Rangga malah marah dan membentak istrinya.
“Apa sih kamu, kalau mau salat ya salat aja jangan ganggu orang tidur, sana pergi!” hardiknya.
Istrinya hanya menghela napas karena dia sudah terbiasa dibentak oleh suaminya kalau di ajak salat.
“Gimana, Bu? Apakah Ayah mau salat bareng kita?” tanya Rangga.
“Biarlah, Nak, ayahmu tidak akan pernah berubah sampai kapan pun!” jawab ibunya.
“Oh, ya, sudah. Kita saja yang pergi,” kata Rangga sambil tersenyum kepada ibunya. Akhirnya mereka berdua pergi bersama ke mesjid. Di sana sudah ramai dengan orang yang hendak salat berjamaah. Mereka semua salat dengan hati yang tenang dan damai. Ketika hendak pulang, Rangga melihat seorang anak bersama ibu dan ayahnya pulang dari mesjid.
“Andai saja ayahku pria yang soleh, aku akan menjadi anak yang paling bahagia,” Rangga membatin. Wajah Rangga berubah menjadi sedih.
“Kamu kenapa, Nak?” tanya ibunya.
“Oh, nggak, Bu. Gak kenapa-napa kok.”
“Ayo kita pulang!” ajak ibunya.
“Iya, Bu ayo!” jawab Rangga.
Tidak lama kemudian mereka sampai di rumah. Pagi itu pakaian yang harus dicuci banyak sekali.
“Bu, boleh aku bantu yah mencuci ini semua?” tanya Rangga kepada ibunya.
“Iya, Nak. Ibu mau masak nasi dulu, ya.”
“Iya, Bu,” sambung Rangga.
Saat ibu Rangga mau memasak nasi, persediaan beras tinggal sedikit. Ia bingung karena tidak punya uang untuk membeli beras. Ia bermaksud mengutang beras ke warung.
“Nak, Ibu mau ke warung dulu, ya.”
“Iya, Bu,” jawab Rangga.
Saat sampai di warung yang lumayan jauh dari rumahnya, pemilik warung tidak memberikan pinjaman beras dengan alasan ibu Rangga telah memiliki utang yang cukup banyak. Ibu Rangga pulang dengan muka sedih dan tangan kosong.
“Loh, kok Ibu sedih gitu mukanya?” tanya Rangga.
“Iya, Nak. Ibu tidak bisa mendapatkan beras,” jawab ibunya.
“Gakpapa, Bu. Hari ini aku gak makan dulu. Ibu sama Ayah saja yang makan, ya,” ucap Rangga sambil tersenyum.
Hari itu Rangga mencoba menahan rasa laparnya. Bila perutnya terasa lapar langsung saja ia minum air putih. Dia berpikir kapan penderitaannya ini berakhir. Saat itu sudah masuk waktu salat zuhur. Rangga segera menunaikan salat lalu berdoa, “Ya Allah, tumbuhkanlah rasa sabar dan kuatkanlah hati ini dalam melewati cobaan yang Engkau berikan, agar aku bisa menerimanya dengan ikhlas,” kata hatinya sambil menangis.
Pak Ustaz melihat Rangga yang sedang berdoa sambil meneteskan air mata. Kemudian ia menghampiri Rangga, “Kamu kenapa, Nak? Coba ceritakan kepada Bapak, apa masalahmu? Mungkin Bapak bisa membantumu?” kata Pak Ustaz sambil memegang bahu Rangga.
“Ini masalah keluarga, Pak. Saya belum makan dari pagi sampai sekarang dan hanya bisa mengganjal perut dengan air putih saja. Ibu saya tidak memiliki uang untuk membeli beras,” jelas Rangga sambil terisak.
“Bapak boleh bantu kamu?” tanya Pak Ustaz.
“Tidak usah, Pak. Nanti merepotkan.”
“Bukan saya yang akan repot tapi kamu yang akan direpotin.”
“Memangnya Bapak mau merepotkan saya gimana?”
“Lebih baik kamu ikut ke rumah saya, yuk!” ajak Pak Ustaz. Mereka berdua lalu keluar dari mesjid menuju ke rumah Pak Ustaz itu. Di sana banyak sekali bakwan buatan istri Pak Ustaz
“Nah, kamu bisa membantu istri saya menjual bakwan ini, nanti Bapak akan bagi dua hasil penjualannya, bagaimana?”
Rangga tersenyum dengan senang
“Terima kasih, Pak. Saya tidak tahu harus mengucapkan apa lagi,” kata Rangga.
“Iya, sama sama. Sekarang kamu berangkat jualan biar bisa membeli beras buat ibumu! Tapi sebelum kamu berangkat, makan dulu biar kamu tidak lemas dan tambah semangat menjual itu semua”
“Iya, Pak, terima kasih. Saya makan, ya.”
“Silakan makan saja!” kata Pak Ustaz. Rangga langsung melahap bakwan panas buatan istri Pak Ustaz.
Setelah makan, Rangga langsung pergi untuk berjualan. Alhamdulillah bakwan yang di jual Rangga bisa habis dalam waktu yang cepat. Ia langsung kembali ke rumah Pak Ustaz.
“Assalamualikum!”
“Waalaikumsalam,” jawab Pak Ustaz.
“Ini, Pak, bakwannya udah habis,” kata Rangga.
“Wah kamu hebat ternyata, ini untuk kamu. Bapak berikan semua hasilnya.”
“Saya tidak bisa menerimanya, Pak, karena ini bakwan milik Bapak.”
“Tidak usah mikirin itu, cepat pulang dan belikan uang itu beras untuk kamu makan sama keluargamu!”
“Iya, Pak terima kasih banyak.”
“Assalamualaikum. Saya pulang, Pak.”
“Waalaikumsalam. Hati hati, Nak!”
Setiap hari Rangga berjualan bakwan milik Pak Ustaz. Upah yang ia terima dimasukkan ke dalam celengan yang ia sembunyikan. Hasilnya terkumpul cukup banyak. Saat itu sekitar pukul delapan pagi, Rangga menghampiri ibunya.
“Bu, aku punya uang. Sepertinya cukup untuk membeli gerobak untuk berjualan.”
“Kamu dengan susah payah mengumpulkan semua itu, Nak. Kami orang tua hanya menikmati hasilnya saja. Ibu malu, Nak,” kata ibunya sambil menangis.
“Nggak papa, Bu. Ini akan menjadi perjuangan dalam menghadapi cobaan.”
“Ya, sudah. Sekarang Ibu jangan sedih lagi. Ibu bisa kan buat nasi bungkus?” tanya Rangga kepada ibunya.
“Bisa kok, gampang,” ibunya tersenyum.
Mereka memperoleh gerobak dengan harga murah karena ada yang lagi butuh uang dan menjual gerobaknya.
“Alhamdulillah, Bu kita mendapatkannya,” mereka berdua tersenyum bahagia.
Ayah Rangga yang semula tegas dan sering marah merasa malu melihat perjuangan Rangga yang begitu keras. Tersentuh dan luluh hatinya. Ia meminta maaf kepada anak dan istrinya.
“Ayah minta maaf sama kalian. Ayah baru sadar karena kelakuan Ayahlah keluarga kita jadi sengsara begini, sekarang Ayah akan memperbaiki diri ayah.”
Hari demi hari, bulan demi bulan mereka lalui bersama-sama dengan berbahagia. Akhirnya mereka bisa membangun rumah yang bagus dan mereka bisa mempunyai warung nasi dari kerja keras mereka selama ini. Kini Rangga menjadi pria yang memiliki semangat berjuang di dalam hidupnya. Rangga sangat senang melihat semua perubahan dalam hidupnya. Perlahan hal-hal baik menghampiri keluarganya. Rangga merasakan ketenangan, kenyamanan, dan kebahagiaan bersama keluarganya.*)

(Visited 4 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan