TSABITA PUTRI HADIAN_TERTEKAN_MTsN 2 SUBANG

TSABITA.jpeg

TERTEKAN

Ku buka mataku di pagi yang indah walaupun sedang pandemi. Di kamarku yang berwarna polos, aku segera menuju kamar mandi untuk menyikat gigi, cuci muka dan tidak mandi. Dunia tahu bahwa aku malas mandi.

Ibuku selalu sibuk dengan pekerjaannya. Ibuku menjadi garda terdepan untuk mengurus pasien covid-19 di RS Ciereng Subang, sedangkan ayahku membuka usaha workshop yang lumayan besar di daerahku.

Aku berada dipenghujung semester mata kuliah, tinggal menyusun skripsi dan wisuda diakhir bulan yang akan datang. Aku adalah anak semata wayang dikeluargaku dan pastinya aku sangat dekat dengan orang tuaku, terlebih pada ibuku. Meskipun jarak menghalangi kami untuk bertemu tapi kami selalu berkomuniasi dengan cara video call untuk saling memberi kabar.

“Ibu kapan pulang? Syadza kangen banget sama ibu, ibu sehatkan di rumah sakit?” Tanyaku sambil melihat layar ponsel yang terdapat wajah ibu. “Iya nak, ibu sehat, bentar lagi ibu pulang ngambil cuti seminggu sabar ya sayang,” Papar ibuku. Entah sampai kapan komunikasi itu berakhir.

Aku kesepian dalam rumahku, hanya ada ayahku dan aku yang saling menyibukan dengan kegiatan masing-masing. Aku sangat senang mendengar kabar akan kepulangan ibuku yang besok akan pulang ke rumah.

Aku ingin mempersiapkan kedatangan ibu dengan pesta kecil yang aku buat bersama ayah. Aku mulai mendekor ruangan keluarga dan rungan dapur untuk dihiasi balon, bunga, serta pernak-pernik pesta.

Sedangkan ayahku memasak hidangan untuk kami santap dihari kepulangan ibu besok pagi. “Ayah, Syadza udah gak sabar ibu pulang ke rumah.” Ucapku sambil memeluk punggung ayah yang sedang sibuk memasak sayur sup kesukaan ibu. “Iya nak ayah juga gak sabar ibu pulang.” Ucap ayah sambil tersenyum padaku.

“Tring…tring…tring.” Suara telepon rumahku berdering, menandakan ada yang menelpon. Ayahku segera menerima panggilan itu. “Hallo, apakah ini dengan keluarga dokter Dara?” Tanya seorang petugas medis. “Iya benar” ayahku menjawab dengan cepat. “Maaf pak, saya ingin mengabarkan bahwa dokter Dara wafat, karena terpapar covid-19. Satu jam lagi ambulan segera datang ke pemakaman khusus. Saya perwakilan dari rumah sakit Ciereng Subang, turut berduka cita atas kepergian beliau.

“Blug…” terdengar suara telepon jatuh ke lantai. Aku menoleh dengan cepat dan bergerak menemui ayah. “Kenapa yah?” Aku bertanya dengan cemas, ayahku terdiam sejenak dan berkata “Ibu, Sya…ibu wafat terpapar virus corona.” Ucap ayah dengan suara parau. Aku terjatuh lemas mendengar kabar ibuku wafat di hari kepulangannya ke rumah. Bukannya pulang ke rumah, ibuku malah pulang ke Rahmatulloh. Aku menangis dan sesekali menjerit memanggil-manggil ibuku yang sudah tiada.

“Ayah, Syadza pengen nyusul ibu ke RS,” ucapku dengan menangis.” “Ngak boleh Sya, bahaya!” jelas ayah padaku sambil memelukku. Walaupun ayah sangat sedih, ayahku berusaha tegar menutupi kesedihan yang amat sangat sedih.

“Ngiung…ngiung…” suara ambulan melewati rumahku yang menuju tempat pemakaman. Tempat pemakamannya tidak terlalu jauh dari rumahku.

Ayah bersiap untuk segera ke pemakaman. Dia mengenakan baju APD (alat pelindung diri) dan tak lupa memakai masker, ayah melarangku untuk ikut karena terlalu berbahaya untuk diriku yang tidak terlalu sehat.

Aku mengurung diri di kamarku sambil memeluk erat foto ibuku. Air mataku terus turun membasahi tempat tidurku, sudah sangat lama tidak keluar kamar.

Setiap aku mengingat kenangan lama yang tersimpan jelas di memori otakku, aku tak berhenti untuk menangis. Mengingat kebahagiaan yang hadir di hidupku, aku terlalu larut dalam kesedihan sampai nafsu makanku turun.

Rumah kami yang sederhana menjadi saksi bisu atas kebahagiaan dan keharmonisan yang pernah ada. Di rumah ini aku masih merasakan hadirnya wanita yang telah melahirkanku dan mencintaiku dengan ikhlas.

Ayah berpesan untuk tidak terlalu sedih atas kepergian ibu. Tinggal ayah yang sekarang mendukungku dan yang kupunya satu-satunya untuk menceritakan segala keluh kesahku.

Satu bulan kemudian aku menaburkan kelopak mawar merah dan putih, di atas makam berumput hijau yang pendek dan rapih. Ayah melanjutkan aktivitasku, di susul menuangkan air mawar di sekeliling tanah hingga semerbak harum mengisi udara.

“Ibu,” sapaku seraya mengusap batu nisan, “Syadza udah datang, ibu bahagia ya di sana. Jangan khawatir, Syadza selalu doain ibu, kan kata ibu kalau doa anak sholeh bakal dikabulkan sama Allah,” ucapku sambil mencium batu nisan.

Memang ketika hidup bersama ibu, aku hampir tidak merasakan sedih yang teramat kini, aku ikhlas dengan kepergian ibu.

Aku memutuskan untuk bekerja di salahsatu RS di Subang setelah aku wisuda. Menjadi garda terdepan yang siap untuk membantu masyarakat Indonesia dan mengabdi pada negara.

TAMAT

(Visited 8 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan