TSABITA PUTRI HADIAN_MASALALUKU MASA DEPANKU_MTsN 2 SUBANG

TSABITA.jpeg

MASALALUKU MASA DEPANKU

Aku terbangun dari tempat tidurku. Melihat jam yang berada disamping tempat tidurku. Waktu menunjukan pukul 04:30, yang artinya aku harus segera solat subuh. Cisalak sangatlah sejuk hari ini membuatku betah berlama-lama di kota Cisalak. Tempat ini lebih adem disbanding rumahku yang ada di Blanakan.

Namaku Syifa. Lebih tepatnya lagi Habbatur Syifa. Akhir-akhir ini aku disibukan dengan ngajar disalahsatu SMA. SMA yang tidak terlalu jauh dari kostanku.

SMA Negeri Cisalak. Disitulah aku memulai karirku sebagai guru Bahasa Inggris. Meskipun aku masih berumur 22 tahun aku sudah mendapat gelar S1 dan lulus PNS. “Stand up please.” Ucap salah satu muridku saat aku mulai memasuki kelas. “Greating to owr teacher” ucapnya lagi, terus disambut lagi dengan siswa-siwi yang lainnya. “Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.” Jawabku sambil tersenyum ramah. Aku tidak merasa lelah dengan pekerjaanku, karena aku ikhlas beramal ilmu lilahita’ala.
“Mau makan siang gak?” ucap Fathar padaku sambil tersenyum. “Mau.” Jawabku sambil tersenyum lebar “Bareng yuk.” Ajak dia padaku. Akupun mengangguk dan beranjak dari ruang guru.

Entah sejak kapan aku mempunyai rasa yang lebih padamya. Hanya saja, aku tidak mau mengungkapkannnya kepada Fatar. Aku mempunyai hutang budi padanya. Karena yang selama ini membantuku untuk hidup di kota orang. Merantau jauh di kampung halamanku.

“Miss, Syifa kan?” Guru Bahasa Inggris baru di SMAN 1 Cisalak?” ucap laki-laki itu padaku. “Iya pak saya mau mencari alamat SMA nya malah muter-muter tempat ini, kayanya saya nyasar deh,” ujarku sambil kebingungan. Laki-laki yang kebetulan sama-sama mengajar di SMA yang sama denganku langsung mengantarkan ke tempat yang aku tuju.

Fatar memanglah baik dan ramah, nilai plusnya Fatar terbilang tampan dan muda. Tak jarang siswa-siswi nya mengidolakan dia. Setiap hari dia disibukan oleh siswi-siswi yang mengirimnya cokelat maupun surat.

“Aduh, banyak banget surat-suratnya, udah tahu gurunya lagi sibuk.” Ujarnya sambil berbenah di meja guru. Aku yang mendengan celotehan Fathar langsung tertawa renyah.
“Eh, Atan kan Syifa lagi nyari kost-kostan yang deket dari sini ada kah?” Tanyaku tanpa canggung karena kami sudah mulai dekat. “kost-kostan yah? Nanti deh Atan cari yang deket sama sekolah ini.” Jawab Atan padaku. Walaupun dia sibuk dengan pekerjaannya, tetapi masih menyempatkan untuk membantu diriku.

Entah perasaan ini dari mana dan dari kapan. Yang jelas aku menyukai laki-laki itu.
Semakin hari terlalui oleh waktu. Semakin dekat hubunganku dengan Fatar. Aku merasa senang, karena perasaanku yang disimpan sangat lama dan dipendam, akhirnya terpecahkan saat dia akan melamarku.

“Dret…dret…dret” suara ponselku bergetar cukup lama karena aku sedang berada di dapur. “Hallo,” ucapku pada Fatar. Dia menelponku pada saat pukul 09.30. hal itu sangatlah jarang dia lakukan. “Syifa, besok lusa boleh gak Atan kerumah kamu. Sekalian mau bawa umi abah. Soalnya Atan mau melamar kamu. Bisa kah?” Papar dia dibalik layar ponselku. Aku kaget bukan main sekaligus senang dengan apa yang Fatar ucapkan padaku. “Insya Allah bisa tan, nanti Syifa mau bilang dulu ke bapak,” ucapku sambil menahan rasa Bahagia di balik teleponku.

Aku ingin langsung bertanya pada ayahku, tetapi rasa kantuk itu menyerangku dengan cepat. Aku tertidur dengan senyum tipis di wajahku.

“Dret…dret…dret” ponselku berdering menunjukan nama yang tertera dilayar ponsel. Cepat-cepat ku angkat ponsel karena telepon itu dari ayah. “Syifa, Hallo,” ucap ayah yang memulai pembicaraan. “Iya ayah, kenapa?” tanyaku pada ayah. “Kalau kamu gak sibuk, ayah minta kamu pulang hari ini ada hal yang mau ayah bicarakan sama kamu.” Ujar ayah padaku. “Iya, yah bisa. Kan hari ini Syifa libur.” Jawabku pada ayah.
Aku memutuskan untuk membicarakan Fatan di rumah, karena toh hari ini aku pulang. Aku sampai ke kampungku pukul10:30, karena jalan sangat macet. Aku menuju rumahku dengan membawa tas agak besar karena aku akan menginap semalam.

“Tok…tok…tok…” aku menggedor pintu rumahku yang terbuat dari kayu jati. “Assalamu’alaikum,” ucapku. “Waalaikumusalam” jawab orang yang ada di dalam rumah. Aku kaget karena banyak orang asing di rumahku. Aku menyalami ibuku dan menanyakan kabarnya. Begitupun sebaliknya ibu menanyakan kabarku. Karena di dalam rumah, aku tidak melihat ayah sehinga aku menanyakan keberadaan ayah pada ibuku. Ibu menunjukan bahwa ayah berada di ruang tamu. Aku bergegas menemui ayah. “Ayah gimana kabarnya?” tanyaku sambil mencium tangan ayah. “Alhamdulillah, baik nak. “Eh iya, ini kenalin teman baik ayah, Namanya pak Satria. Kalua ini ibu Sindi ibunya bapak Satria.” Jelas ayahku. Aku langsung mencium tangan mereka dan tersenyum ramah. Sudah beberapa menit kami berbincang, akhirnya ayah menjelaskan maksud dari disuruh aku pulang.

“Syifa, ayah akan menjodohkan kamu sama anak nya pak Satria, ayah seneng kalua kamu setuju sama keputusan ayah,” ucap ayah sambil melihat ke arahku. Aku kaget bukan main. Mengintat Fatar yang akan melamarku besok lusa.

“Langit,” panggil pak Satrio. Aku menoleh kearah orang yang dipanggil olehnya. Aku kaget melihat laki-laki itu. Laki-laki itu bernama Langit Shakara Raja. Orang yang pernah hadir dalam msalaluku. Langit Shaka Raja, orang yang paling nyebelin di kampus. Dia terbilang sangat pengganggu ketenangan. Walaupun dia usil di kampus dengan wajah tampannya dia sering disukai oleh mahasiswi kampus kecuali Syifa.

Langit keheranan dengan aku, karena sejarahnya PDKT tak pernah gagal. Hari-hariku yang selalu di penuhi oleh keusilan Langit menjadi lebih ceria. “Syif, lo mau gak jadi pacar gue.” Ucap Langit yang mengatakan permintaan. “Ogah ih,” ucapku dengan malas, karena aku sudah tahu Langit playboy.

Langit menembakku berkali-kali tapi hasilnya selalu aku tolak. Semakin hari Langit semakin jauh dariku. Aku merasa aneh dengan perasaanku yang tanpa ada Langit, aku merasa kehilangan dia. Padahal aku sudah mulai menyukainya.

Aku dilema memikirkan pilihan yang sulit ku putuskan. Aku tidak ingin mengecewakan ayahku sendiri, jadi aku menuruti keputusan ayah. Ya, aku dijodohkan dengan orang di masalaluku. Sebenarnya aku masih mempunyai perasaan terhadap Langit, begitu juga Langit terhadapku.

Hari ini, aku resmi bertunangan dengan Langit. Aku merasa senang sekaligus merasa bersalah terhadap Fatar. Aku mulai berani jujur pada Fatar dan memberinya kabar bahwa aku sudah bertunangan dengan langit dan akan segera menikah.

Aku meraih ponselku dan menelpon Fatar. “Hallo, Atan aku mau ngomong sama kamu,” ucapku memulai pembicaraan. “Iya kenapa? Mau ngomong lamaran ya sama aku? Hehe,” ucap Fatar sambil tertawa renyah. “Bukan” ucapku lagi. “Terus apa dong?” Tanya Fatar. “Aku sudah dijodohkan sama orang tuaku. Aku harap kamu datang ke hari pernikahan ku minggu ini.” Paparku dengan rasa bersalah. Fatar terdiam sejenak dan berkata “owh, gitu ya? Tadinya Atan yang akan melamar kamu besok,” Fatar menjawab dengan tawa terpaksa. “Aku harap, kamu gak marah sama aku.” Ucapku ditelepon. “Aku ikut bahagia kalau kamu bahagi,” ucap Fatar.

Fatar merelakan ku dengan ikhlas. Aku bersyukur karena tidak ada perdebatan diantara kita. Aku merasa, kisahku dengan Langit belumlah usai. Hari pernikahan aku dan Langit, jadi awal kisah cinta kami. Dan akhirnya aku dan Fatar sama-sama saling mengikhlaskan satu sama lain.

TAMAT

(Visited 13 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan