TSABITA PUTRI HADIAN_CINTA YANG TERTUKAR_MTsN 2 SUBANG

TSABITA.jpeg

CINTA YANG TERTUKAR

Husain adalah anak yang aktif dalam menjelajah alam. Rumah Husain dekat dengan Gunung Tangkuban Perahu. Keindahannya, membuat Husain terpukau melihatnya. Dia enggan meninggalkan desa tercintanya. Subang, Jawa Barat kota kelahiran Husain.

Ibu menyuruh Husain untuk mencari ilmu di pondok pesantren, dan Husain pun menyetujuinya. Alasan orang tua Husain menyuruh ia mondok karena Husain nakal di desanya. Dia sudah membuat sapi-sapi warga kabur dari kandang, karena diusapkan daun yang membuat sapi gatal-gatal.

“Hai anak nakal!” teriak seorang kakek paruh baya ia marah karena sawah miliknya dirusak oleh Husain dan teman-temanya. Tak jarang Husain bolos dari pengajian dan malah bermain futsal. Tetapi orang tuanya bersyukur karena Husain tidak mengenal miras dan narkoba. Orang tuanya memaklumi kenakalannya karena memang Husain memiliki jiwa petualang.

Di rumah panggung yang sangat sederhana, ibu Husain sedang sibuk menyiapkan barang-barang untuk keperluan Husain di pondok nanti. “Husain, ibu sudah masukan lima buah sarung bapakmu, dirawat yah Sen,” papar ibu kepada Husain. Husain hanya mengangguk mantap dan tersenyum.

Walau Husain terkenal nakal di kampungnya, tetapi sangat sopan kepada orang tuanya, ia tidak berani melawan ibu atau bapak nya, ia juga sangat peduli terhadap lingkungan dan mencintai alam.

Karena keluarga Husain tidak mempunyai kendaraan. Mereka memutuskan untuk naik kendaraan umum. “Ayo pak kita berangkat,” ujarnya pada bapaknya. “Iya nak sebentar kita pamitan pada ibu dulu.” Husain pun mengangguk.

“Sholeh ya Husain, nurut sama kyiai belajarnya yang bener, ibu selalu dukung kamu nak,” papar ibu, sambil berusaha menahan tangis. Husain pun mengangguk dan menyalami tangan yang selama ini merawat dan membesarkannya dengan kasih dan cinta. Suasana itu pun membuat mereka sedih, banjir air mata yang mereka tumpahkan untuk perpisahan ini, tak lama kemudian bapak langsung mengajak ia untuk berangkat.

“Sudah bu, ikhlaskan Husain untuk mencari ilmu.” Bapaknya berusaha menenangkan keduanya. Ibunya hanya mengantarkan mereka dijalan raya yang ramai banyak sekali kendaraan berlalu lalang.

Merekapun saling berjabat tangan satu sama lain, untuk sementara ini berpisah. “Assalamu’alaikum,” ucap bapak dan Husain. “Waalaikumussalam,” jawab ibu Husain. Di dalam bus yang tidak terlalu besar, dengan warna cat yang memudar. Husain dan bapaknya sangat berdesakan berada dalam bus itu. Husain duduk di bangku penumpang, sedangkan bapaknya berdiri di samping Husain dengan membawa satu koper besar dan satu tas kecil. Sedangkan Husain hanya membawa satu tas yang agak besar. Keduanya sangat merasakan lelah perjalanan ini. “Pak?” ucap Husain serta menoleh ke arahnya, “Ia nak kenapa?” jawab bapaknya tanpa menoleh ke arah Husain. “Apa di pondok itu menyenangkan? Soalnya Husain takut pak, takut gak betah, takut guru ngajinya galak, kaya pak selamat gitu loh pak, guru ngaji Husain,” Husain berkata dengan laganya yang lebay. Bapaknya langsung menjelaskan bahwa yang Husain katakan tidak benar.

“Sstt… gak boleh gitu Sen, entar kualat loh, dia bukannya galak Sen, cuma tegas kepada murid-murudnya, beliau ingin murid-muridnya berhadil dan sukses menjalani hidup. Hidup itu bukan untuk leha-leha atau bermalas-malasan, hidup itu pilihan antara kamu sukses dan gagal.” Papar bapaknya untuk meluruskan pikiran anaknya.

“Ckkkckkik…” suara rem itu berbunyi pada bus yang butut itu. Para penumpang satu persatu turun dari bus dan membayar uang kepada kondektur. Sampailah Husain dan bapaknya ke pondok pesantren, pondok yang permai, dan menyejukan kalbu.

“Assalamu’alaikum,” ucap Asep bapaknya Husain kepada seseorang. “Waalaikumussalam,” jawab seseorang itu. “Eh Asep, dari mana aja ente, ane tungguin dari tadi, mau daftarin anak elu ya? Papar lelaki itu lagam khas betawi. Laki-laki yang berumur sekitar 49 tahun dengan sorban putihnya, dia jua menggunakan kopiah yang berwarna hitam. Laki-laki itu bernama Imam Abdul Syiam. Ternyata, Imam adalah teman satu perjuangan di pondok yang sama, Pondok Pesantren At-Taufiq dan sekarang dia jadi kyai sekaligus ketua Yayasan pondok.

Mereka berdua sedang asik-asiknya ngobrol tentang masa lalu yang telah lama memudar, mereka sedang melepas rindu saat ini. Sementara Husain, sedang berjalan menyusuri koridor pondok.

Bangunan yang besar, tetapi masih lebih kalah besar dengan pesantren modern yang ada di kota-kota besar. Bangunan yang masih bilik itu, masih kokoh dari dulu, tehelnya masih dari kayu, dan sangat sederhana. Bukan pesantren modern, tetapi pesantren salafiyah yang semua dilakukan dengan mandiri. Nyuci dan nyetrika sendiri.

Perlahan Husain sudah agak-agak hafal dengan tempat-tempat yang akan ia tempati nanti. “Bruukkk.” Terdengar buku yang jatuh Husain menoleh kearah suara itu. “Eh, aa gak apa-apa?” ucap Husain kepada santri lama. “Gak apa-apa kok cuma kewalahan aja bawanya,” jawab santri itu kepada Husain. “Oh, sini sama saya bantu bawa bukunya, sekalian mau lihat-lihat tempat di pondok ini A.” santri itu pun mengngguk dan tersenyum lebar. Santri itu bernama Irsyad, yang sudah dua tahun mondok di Pesantren At-Taufiq.

“Ooh…Husain namanya, santri angkatan baru ya?” ucap ketua santri yang bernama Toto. “Ia A,” jawab Husain kepada Toto. “Sini kita bawain barang-barangnya, kamu kobongnya di sini nama kobongnya Ali bin Ali Thalib, Husain hanya mengangguk mantap. “Irsyad, Aceng, Abdul bawain barang-barang santri barunya!” ia menyuruh ketiga santri itu.

Walaupun mereka baru bertemu satu hari, mereka sudah terlihat akrab, mereka saling bercerita tentang asal kampung mereka masing-masing. Sungguh pertemanan beda umur masih bisa terlihat menyenangkan, mereka tidak membeda-bedakan satu dengan yang lainnya.

“Santri putra, lima menit lagi kobong harus kosong, waktunya ke masjid!” seru Rahman, dia adalah salah satu keamanan di pondok, yang tugasnya memperingati santri lain. Pintu kayu kobong Ali bergetar-getar digedornya. Semua santri terpogoh-pogoh, tidak ada yang berani berleha-leha. Keamanan putra pasti telah berjaga-jaga.

Teng … Teng … Teng … bunyi lonceng itu, menandakan waktu untuk pergi ke sekolah. Kecuali santri yang sedang sakit. Santri baru semangat untuk pergi ke sekolah barunya. Seharusnya, Husain mondok dari kelas satu SMP, tetapi ia lebih memilih masuk pondok dari kelas satu SMA. Karena Husain masih ingin memilih berpetualang di alam bebas. “Kelompok satu pergi ke halaman sekolah, kelompok dua pergi kelapangan sekolah, kelompok tiga pergi kekantin, kelompok empat pergi ke belakang sekolah, cepat … cepat … cepat!” seru guru itu pada siswa-siswi baru SMAN 1 Tanjungsiang. Pembimbing siswa baru itu bernama Minah. Guru tergalak, tertegas, tercerewet, dan tercantik.

Husain ditugaskan untuk menggambar denah sekolah, mencatat nama-nama guru, satpam, dan penjaga kantin, semua harus ia catat dalam waktu yang singkat. “Huuufft…cewek semua kelompokku.” Ucap dia sambil menepuk jidat dengan tangannya. Mereka pun berjalan bersama sambil memperhatikan setiap sudut sekolah. “Membuat denah sudah, tinggal apa ya?” tanya Husain pada kelompoknya. Walaupun mereka baru kenal sudah tidak ada kecanggungan lagi.

“Haba tahu!” kita harus mencatat nama-nama yang ada di sekolah ini, mulai dari guru-guru, satpam, penjaga perpus, penjaga kantin.” Jawab Haba, dengan antusias. “yok…ayo…ayo” ucap mereka. Mereka menikmati masa perkenalan ini dengan menyenangkan dan enjoy. Momen yang tidak pernah mereka lupakan.

Akhirnya, waktu pembagian kelas pun telah tiba, kelompok itu semua berpencar kelasnya, kecuali Husain dan Haba, mereka satu kelas, kelas X-IPA.

“Gimana Sen, hari pertama sekolah? Ada cewe yang namanya Haba gak?” ucap Irsyad, kakak kelas Husain. “Rame A, di sekolah teh ada banyak temen satu jurusan, gurunya juga banyak yang ramah, kalau Haba kayaknya sekelas deh A, tadi juga satu kelompok.” Jawab Husain kepada Irsyad.

“Bagus atuh kalau sekelas, aku sama Haba teh udah kenal dari lama, nanti atuh mau nitip surat ya.” Papar Irsyad. Husain mengangguk sambil membereskan buku-buku dalam tasnya.

“Ba, ini ada surat dari A Irsyad, salam ceunah.” Mereka berdua sudah terlihat sangat kenal karena mereka berdua sudah sering bercanda bersama dan belajar bersama. Setiap hari Husain mengantarkan surat-surat yang telah Irsyad titipkan kepadanya, begitu juga Haba yang menitipkan jawaban surat untuk Irsyad lewat Husain. Tak jarang sesudah Husain memberikan surat itu, mereka jadi lebih sering mengobrol, menceritakan desanya, pengalamannya sampai mereka meledek dan bercanda bersama. Setiap harinya Haba dan Husain menjadi lebih akrab.

Sudah hampir menjelang kelulusan, Irsyad lebih sering belajar untuk mempersiapkan ujian akhir di SMA nya. Irsyad sangat sibuk belajar sampai lupa pada kedekatan pertemanan Husain dan Haba yang semakin dekat.

Haba orang yang pandai bergaul dengan teman, jadi karena setiap hari Husain bertemu dengan Haba, mereka semakin akrab. Sikap Haba yang semakin cuek pada Irsyad, membuat dia semakin bingung. Haba yang asalnya ceria dan menyenangkan kian berubah.

“Haha … haha ….” Suara itu membuat penasaran Irsyad, Ketika Irsyad sedang berada di samping kelas Haba. Ternyata suara tertawa itu berasal dari Husain dan Haba, mereka terlihat sangat bahagia. Melihat itu, Irsyad terbakar api cemburu.

“Naha, A Irsyad pindah kobong A Toto?” tanya Husain pada Toto. “Duka atuh Sen, katanya mah gak betah.” Husain hanya mengangguk bingung, dia langsung menghampiri Irsyad yang berada di kobong Umar bin Khotob yang jauh dengan kobong Ali.

“A Irsyad, kenapa atuh pindah kobong?” tanya Husain pada Irsyad. “Ngga,” ucap Irsyad dingin. “A Irsyad marah sama saya?” tanya Husain bingung. “Kamu suka ya sama Haba? Saya yang berjuang Sen saya. Kenapa kamu yang bapernya? naon maksud? udahlah lupain pertemanan kita!” papar Irsyad pada Husain. “A Irsyad salah paham.” Irsyad meninggalkan Husain dengan rasa marahnya.

Husain gagal menyembunyikan perasaannya pada Haba, Haba sebenarnya pernah bilang pada Husain, bahwa Haba lebih nyaman pada Husain dari pada Irsyad. Tetapi Husain masih menjaga perasaan Irsyad.

Irsyad ingat, bahwa Husain dan ia akan berkuliah bersama dan menjaga tali persahabatan mereka, rencana itu seakan hilang terbawa angin.
Irsyad yang sudah menganggap Husain sebagai adik sendiri, mereka kecewa dibuatnya. Alasan mereka merencanakan kuliah di Indonesia tapi Irsyad memutuskan untuk pergi ke Kairo, Mesir.

“Ding … dong … selamat datang di Bandara Halim Perdana Kusuma, semoga perjalanan anda menyenangkan Ding … dong ….” Suara dari pintu masuk bandara. Irsyad memutuskan pergi ke Mesir dan melupakan Haba, cinta pertamanya.

“A Irsyad …” teriak laki-laki yang berada di belakang Irsyad. “Husain?” ucap Irsyad, bingung. “A Irsyad, saya gak mau kaya gini, saya gak mau tali persahabatan kita hancur gara-gara cinta. Mana janji Aa yang mau kuliah bareng? Maaf A, sudah mengecewakan kepercayaan Aa” papar dia sambil mengerutkan kening.

“Iya Sen, saya sudah memaafkan. Maafkan saya juga sudah memutuskan tali persahabatan.” Mereka saling berjabat tangan untuk perpisahan yang menyedihkan tapi menyenangkan, karena mereka sudah saling memaafkan, cinta bukanlah segalanya.

TAMAT

(Visited 6 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan