Subang Kota Kelahiranku_Luna Agnia 9A_SMPN 1 Cibogo

Subang , kota kelahiran ku

Rasa gembira ku memenuhi seluruh hati
Angin berhembus kencang di sertai dingin yang menusuk rusuk
Tapi semua itu tak kurasa kan

Rasa nya ingin cepat sampai
Ingin lihat bagai mana kota kelahiran ku .
Yang menjadi saksi aku tumbuh sampai dewasa
Ku tutup mata ku dan menyenderkan kepala ku ke kursi mobil ku
Ku turun kan kaca mobil setengah terbuka ku lihat pemandangan yang indah sekali dan sama sekali tidak berubah masih tetap asri seperti dulu
Pohon rindang berderet di mana mana . Ya walaupun agak sedikit kengerian karena terlalu banyak pohon di tambah jalan yang gelap tanpa penerangan . Tapi walaupun begitu masih banyak yang kendaraan yang berlalu lalang

Ku rapat kan jaket tebal ku karena kedinginan

Kapan ya perjalanan ini cepat selesai
Gumam ku

Ku lihat sebuah pondok cemilan berolahan nanas si madu

[ mang Agus , tolong ya berhenti di sana ] ucap ku sambil menunjuk
[ baik non] kata nya sambil memarkirkan mobil

Aku pun masuk
Tercium aroma nanas yang segar nan manis
Ku lihat berbagai macam olahan yang di pajang .
Semua olahan itu tampak enak dan segar

[ silahkan Bu di coba ini sample nya ] [ Hah ini sample ? ] [ Iya benar Bu ]. [ Ini adalah makanan paling laris di sini Bu] kata nya
Ku coba dodol nanas yang terbungkus plastik itu
Wahhhhh enak banget kata ku kegirangan

[ Kaka saya mau ya 5
[ Kaka saya mau ya ini 5 bungkus tolong nanas si madu nya 3 Iket ] Pesanan pun datang
[ ini Bu , terima kasih datang kembali Bu ] kata gadis mungil itu
Hummm ️ aku pun tersenyum

“Mang…”, panggilku.
“Ada apa,neng?”
“Ini tolong ya bawa ke bagasi nanti kamu kemari lagi.”
‘Mohon maaf neng,”, ” Boleh tanya, kok…oleh-olehnya terlalu banyak ya?”
“Oh… ini.  Sekalian buat mamang dan keluarga.”

“Hah … serius neng ?”, Katanya kegirangan.

“Iya, mang.”, “Ya udah, gih bawa ke bagasi mang.”, “Udah ini kita makan dulu, tuh di resorttunjuk ku
[ Baik neng ] Tak lama kemudian sosok lelaki bertubuh kekar hitam legam itu datang
[ Sudah mang?] [ Sudah]

Kami pun membeli makanan di pinggiran.
Kami makan dengan lahap karena kelaparan.
Mamang terlihat sangat kaku dan sungkan. Padahal dia susah menjadi supir pribadiku dari aku usaha dari nol sampai aku sukses.
Inilah yang aku sukai dari lelaki itu
Selain baik hati dan penyayang dia juga lelaki yang sangat jujur dan amanah.

Aku menyodorkan banyak lauk-pauk untuk ia makan.
Mukanya terlihat kebingungan.
“Udah mang,makan saja!” , jangan sungkan aku juga sudah anggap mamang sebagai ayah saya sendiri.”
Mata nya terlihat menangis namun bahagia.

“Hatur nuhun,neng.”, “Kuring teu salah gaduh dunungan anu bener-bener mikanya’ah ka kuring.”
Suaranya gemetar menahan tangis.

Kami pun makan dan melanjutkan perjalanan.
Waktu terus berputar.
Dari detik menit dan jam.
Aku pun sampai di tempat yang paling aku rindukan selama bertahun-tahun.
Terlihat wanita yang sudah rapuh di makan waktu dan usia.
Meskipun begitu wajahnya masih saja cantik seperti dahulu.
Kekuatannya masih besar.
Matanya yang indah melihat ke arahku.

Mata kami bertemu.
Matanya terlihat berbinar-binar hendak mengeluarkan air dari matanya
Aku tersenyum melihat orang yang paling aku rindukan ada di depan mataku.
Aku berlari dan memeluk tubuh ibuku yang mengecil.
Ku cium aroma tubuhnya yang selalu di olesi minyak zaitun olahan sendiri.  Wangi nya berbeda dari yang lain karena turun temurun. karena itu lah kulit ibu masih tampak muda walau  sudah berumur.
Ku usap air matanya dengan tanganku kurasa sekarang wajahnya yang mulai keriput karena usia.

“Kumaha damang, Ibu?”
“Alhamdulillah, anjeun sok séhat, kumaha damelan anjeun? Saé?”
“Alhamdulillah, bu damang. Teu aya masalah didamel, sadayana aman dina kendali …hehe…”
“Syukur …Alhamdulillah atuh.”     “Parantos tuang?”                              “Parantos Ibu , nuju di jalan.”
Ibu pun tersenyum dan membiarkanku masuk untuk istirahat.
“Wahhh …. rumahnya tak berubah sama sekali.”, gumamku dalam hati.
Ku lihat foto-foto keluarga kami mulai dari keluarga besar maupun keluarga kecil kami.
Ku lihat foto yang berbaris di dinding dan tembok.
Sesekali ku tertawa melihat foto masa kecilku karena tingkahku , yang sangat nakal.
Ku pandangi foto mendiang ayahku yang meninggalkanku 5 tahun silam.

“Hufttt ….. “, Ku hembuskan nafas kasar.
“Jika ayah disini, aku ingin bertanya apa aku membanggakanmu,ayah?”, gumamku.
Ku usap foto ayahku yang tampan itu.

Aku pun masuk ke kamarku.
“Wahhh….tetap sama, ya!”, ” jadi teringat masa sekolah dulu waktu di bangunkan ayah.”
Ku lihat sebuah almari kaca kecil di pinggir tempat tidurku.
Ku lihat barang-barangku.

“Wahhh ….. masih ada ya, ternyata.”
Ku pandangi semua barang-barang itu
Dan mengingat kenangan indah itu
Semua barang itu di berikan dengan jerih payah keringat ayah.
Ayah selalu membuatku tertawa dengan perbuatannya.
Bukan dengan barang dan uang.
Cukup lelucon yang dia berikan pasti menjadi mood booster bagiku.

Tak terasa mengenang masa lalu itu. Membuatku meneteskan air mata.
Tak terasa tangan seseorang menyentuh bahuku.
“Non, permisi tadi mbak Siska bilang …. Besok ada meeting mendadak di kantor, dan tak bisa ditinggalkan.”

“Hummm ….baiklah, mang.  saya beres -beres dulu.”
Mamang pun meninggalkanku dari kamar.
Akupun dengan berat hati pulang ke Jakarta.
“Berat sekali hati ku meninggalkan tanah kelahiranku.’
Tok..tok…tok…(bunyi pintu diketok).
Terdengar suara seseorang sedang mengetuk kamarku.
Sosok ramah yang tak ingin kutinggalkan, datang.
Ya itu ibu ku.
Ku peluk tubuh ibu dan berbicara agar ibu paham keadaan yang tengah ku alami.
“Bu, ma…”
“Parantos, si . Mamah parantos terang.” , “Mamah ogé ngartos, anjeun ati-ati, nya!” “barudak di jalan sering maén kadieu.”,  katanya sambil tersenyum tipis.
Aku pun mengemas barang dan keluar untuk menaruh barang di bagasi mobil
Aku pun memeluk ibu dan pamit
Mobil pun berjalan dengan kecepatan rata- rata.
Sekilas ku lihat.
“Wahhhh….. alun- alun kota.”, gumamku.
“Wahhh….. semua tampak berbeda.”
Ku hirup udara sejuk pagi hari terasa sangat sejuk.
Alun-alunnya terasa amat bersih, sampah berada pada tempatnya.
Perasaan damai menyelimutiku.
Angin berhembus menambah eloknya pemandangan alun-alun.

Ku lihat sebuah bangunan sebelah alun-alun yang kosong.
Bangunan itu telah usang di makan waktu
Aku masih ingat kapan bangunan itu di bangun kucermati setiap penjuru.
Ya walau tak kelihatan semua karena tertutup pagar.

Tapi pandangankupun teralihkan ke seorang anak kecil bertubuh kurus dan pakaian compang-camping. Terlihat sedang mengadahkan sebuah kaleng bekas kaleng susu.
“Mang, tolong berhenti ya!”, kata ku.
Lalu kendaraanpun kepinggir, dan menghampiri anak kecil itu.

“Kak …. Minta sedekahnya”, anak itu menengadahkan kaleng miliknya.

Ku ambil secarik uang kertas dan memasukannya ke dalam kaleng miliknya.
Tampak matanya berbinar melihat apa yang kuberikan untuknya.
“Nak, ini ada sedikit makanan untukmu dan keluargamu.”, kataku.
Sambil memberikan oleh-oleh yang harus nya aku bawa untuk karyawan kantorku.
Anak itu menangis.
Akupun merentangkan tanganku , tapi anak itu pun menggeleng.
“Kenapa,nak ?”
“Kotor, Bu” singkatnya sambil menunduk.
Aku pun tersenyum dan memeluknya. Anak itupun tersentak kaget.
“Makasih,kak.”, kayanya sambil tersenyum manis.
“Nak, ini ada sedikit uang untukmu makan berhari-hari.”,  kata ku sambil menyodorkan amplop berisi uang.
“Terima kasih,kak … terima kasih.” , dia pun menangis.
“Ya sudah, nak.  saya mau melanjutkan perjalanan saya, ya!”,
Anak itu pun mengangguk.
Akupun masuk ke mobil dan melanjutkan perjalananku.
Waktu terus berjalan dari detik pindah ke menit.
Beberapa puluh menit berlalu.
Mobil kami melaju dengan rata-rataku. lihat pemandangan alam indah dari sisi juram.
Wahhh… indah sekali mata hari mulai menerangi jalan.
Sinarnya menghangatkan tubuhku.
Mataku dimanjakan dengan keindahan alam itu.
Pohon berderet hijau.
Masih asri seperti dulu ingin kutinggal lama disini menikmati kebahagiaan.
Yang menghangatkan hati , bercanda tawa bersama ibu tercinta.
Ingin kukatakan bahwa aku menyayangi nya.
Tapi mulutku seakan bungkam.
Tapi waktupun tak bisa diubah aku harus pulang ke Jakarta.

Ku pandangi deretan pohon yang berjajar rapih.
Banyak nanas yang di gantung siap dijual.
Para pedagang berderet dari awal jalan sampai akhir.
Ada pula yang menjual labu kabochan.
Warnanya sangat mencolok nan indah. Perpaduan warna jingga penuh dengan sedikit hijau di dekat tangkainya.

Memang berat untukku meninggalkan kota kelahiranku, dengan ibu yang menyayangiku.
Tinggal sendirian tanpa anak-anak di sampingnya.

Meski begitu rasa rinduku telah terobati dengan pemandangan indah.
Dan pelukan hangat ibuku.

 

 

 

(Visited 1 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan