Kado untuk Ayah_Luna Agnia 9A_SMPN 1 Cibogo

IMG-20210411-WA0013.jpg

Matahari mulai terbit, ayam berkokok, angin sejuk menyeruak kedalam tulang rusuk.
Sinar matahari mulai menyinari kamarku yang setengah terbuka.
Alarmku bergetar.
Drtttt…drtttt.. drttttt….

Cklek …. (Suara pintu terbuka).
“Nak, bangun…. heiii ….kamu gak sekolah?”
“Hummm..  iya Bu.” ( suara khas bangun tidur).
“Ya..udah, ibu mau nyiapin sarapan dulu.” “Kamu mandi lalu sholat…. oke!”

Aku pun beranjak dari tempat tidurku dan membereskannya.
Aku masuk kamar mandi setelah itu mandi. Dan mengganti pakaianku
lalu aku berwudhu.

Setiap tetesan air wudhu hatiku menjadi tenang dan tentram.
Lalu aku mendekatkan diri kepada Allah. Dengan membaca ayat-ayat suci Alquran yang pendek dan penuh makna.
Aku berdoa air mata tak sadar menetes di pipiku.
Aku berdoa agar aku dijauhkan dari hal yang buruk.

Setelah selesai berdoa, aku turun untuk sarapan.
“Nak,sini sarapan!”
Suara lembut dan ramah menyapaku.
Ayahku tersenyum sambil menyeruput kopinya.

“Wahhhh…. nasi goreng.”
” Iya, nak.  Ayo… makan,  nanti ayah antar kamu sambil ayah berangkat kerja.”
Aku memakan-makanan kesukaanku dari kecil.
Aku makan dengan lahap seperti manusia belum makan selama beberapa hari.
Tak bisa di pungkiri makanan ibu memang paling enak.
“Makannya hati -hati,nak!”

“Iya b..u aukub juga pelan-pelan Kwok.” Ucap ku kesusahan dengan mulut penuh makanan.
Ibu dan ayahku bergeleng sambil tertawa.
“Uhukkk ….uhukkk ( tersedak)
“Ya …ampun, kata ibu juga pelan-pelan!”
Ibu khawatir sambil menyodorkan Segelas minuman.
“Hufttt …”
“Bwhwhhwhh … “, kami pun tertawa bersama.

“Berita hari ini , terdapat virus baru di Indonesia yang saat ini menyebar.

Virus itu datang dari China , Wuhan
Menurut para ahli virus ini sangat mematikan.
Kini di Indonesia terdapat orang yang tertular.
Bagi kalian jagalah kesehatan jangan lupa pakai masker dan gunakan hand sanitizer!”
Ibu dan ayah ku saling pandang satu sama lain.
“Wah…. bahaya ya,pak virusnya. Kita semua harus hati-hati!”

“Iya… Bu”
“Nak, kamu harus jaga kesehatan,ya!” “Besok kita beli masker medis , hand sanitizer dan vitamin c.”

Selesai sarapan aku masuk ke kamar untuk mengambil tas.
Tring.. suara notif chat grup dari hpku.
Wali kelas :”Assalamualaikum anak anak karena ada virus baru yaitu covid 19. Kalian diwajibkan menggunakan masker ke sekolah sekian terima kasih. ”
Akupun mengambil masker dan menggunakannya.

Aku berangkat bersama ayah menuju sekolah.
Sesampainya aku pun salaman dengan ayah.
Aku mengecup tangan ayah dan meminta restu agar aku dapat mengikuti pelajaran dengan sangat baik.

Ayah ku tersenyum. Aku pun berbalik Tapi tak mendapati sosok lelaki terhebat itu.

“Ayah sudah pergi, ya”
Aku pun masuk
Aku mengikuti pelajaran seperti biasa.

Ting..tong …saatnya istirahat .. ..
(Suara menggema menunjukkan bahwa susah waktu nya anak-anak
istirahat)

Guru : “Nak, sebelum kalian istirahat kalian gunakan masker dan pakai hand sanitizer, ya!”
Murid / siswa- siswi: “iya… Buuuu”

Akupun bersama satu sahabatku Carina,
pergi ke kantin tanpa masker.
Kami Abai terhadap kesehatan itu.
Kami berbicara berbincang-bincang.

Tak lama pelajaran terakhir di mulai dan itu adalah pelajaran guru Matematika paling killer.
Beliau mendapati aku dan Carina yang masuk tanpa masker.
Beliau menjewer kuping kami.
“Kalian ini kenapa Abai?”, “Apa kalian tak tau virus itu amat berbahaya?” Dia berbicara lantang sambil membulatkan mata.
“Maafkan, kami Bu.”, ” Kami berjanji tak akan mengulanginya lagi”, Kami meminta maaf sambil meringis kesakitan.
“Sudah duduk lah.”, beliau melepaskan jewerannya.

Pelajaranpun berakhir.

Di depan sekolah aku melihat sosok yang paling kuat.
Dia melambaikan tangannya.
“Amell.. teriak nya”
“ayah..”
Ya itu adalah ayah ku orang paling kuat yang pernah aku temui.
Dia pahlawan bagiku.
Lalu kamipun bergegas pulang, karena waktu sudah sore menunjukkan pukul 15:21.

Aku pun mandi dan bersiap kebawah untuk makan malam.
Tringg…notif pesan dari handphone ku.

“Assalamualaikum…. anak-anak, ibu akan memberitahu kan bahwa Fitri positif covid 19.”,  “oleh karena itu, sekolah di liburkan selama dua minggu. terimakasih perhatiannya!”

Mukaku pucat tanganku bergetar.
“Apa…. teman sekelasku terkena covid 19?”,Gumam ku.
Aku pun menyesal karena abai.
Aku berjanji untuk tak abai.

Hari demi hari  berlalu.
Semakin hari semakin banyak orang yang terkena virus itu. Mulai dari puluhan hingga ratusan.
Seperti lumpur yang dicelupkan ke air. Maka airnya akan bercampur lumpur.
Virus itu semakin berkembang biak dan semakin banyak.

Beritapun tak luput dari pasal virus itu, penyebarannya, hingga sekolah yang di liburkan.
Aku rindu temanku aku menyesal karena sudah abai.
Karena virus itu semua berubah
Sekolah menjadi via daring / online.
Menggunakan handphone masing-masing.
Baju seragamku yang dulunya cocok di badanku kini telah kecil karena pertumbuhanku.
Sepatuku yang dulu nya keren sekarang usang karena di makan rayap.
Semua berita tentang virus itu semakin hari semakin banyak.
Hingga banyak yang menyebarkan artikel hoax yang harusnya tak terjadi pada masa ini.

PSBB di kotaku mulai di tegakan, semua menjadi ketat.
Para peracik obatpun dan tenaga kesehatan semakin bekerja keras.
Mereka berkorban nyawa demi semua orang.
Sampai tenaga kesehatanpun tak tidur siang dan malam.
Agar pasiennya sembuh. Mereka susah payah tetapi masyarakat masih saja banyak yang abai.
Dan tak memenuhi standar kesehatan.
Dokterpun mulai banyak yang tumbang dan kehilangan nyawanya.
Tante Sri yang paling aku sayangi juga harus tumbang karena virus itu.
Semua keluargaku satu persatu tumbang dan meninggalkan dunia ini.
Tanteku dan omku yang termasuk tenaga kesehatan.
Aku sangat sedih dan terpukul.
Kini senyuman itu telah hilang semua berubah.
Orang yang paling aku sayangi harus menghilang.
Aku rindu masa seperti dulu .

Aku berharap semua menjadi normal.
Genap beberapa bulan virus itu melanda
Semua orang bosan karena perkembangan nya naik dan turun.
Mereka mulai abai terhadap standar kesehatan.
Bahkan ada juga yang tak memakai masker.
Padahal itu adalah sifat yang sangat wajib.

Aku rindu masa dulu, aku sedih saat Tante dan om ku di makamkan aku tak bisa melihat wajahnya terakhir kali.
Aku rindu mereka.
Kapan ya pandemi ini akan berakhir?
Aku rindu masa masa dulu.
Apakah Pandemi ini akan terus seperti ini.
Pertanyaan itu menyeruak di otakku.
Aku sambil menyeringai memikirkan kenanganku dengan almarhum Tante Sri dan om Andi.
Saat kami tertawa dan bahagia pada masa dulu.
Kenangan itu berputar kembali
Memikirkan yang terjadi roda memori ingatan dulu kembali terputar.

Semenjak kepergian mereka aku jadi jarang keluar kamar.
Jarang makan dan lain-lain cenderung aku menjadi emosional aku jadi egois.
Sudah hari ke 30 aku seperti ini
Aku merindukan mereka.

Ibu ku tak jarang menangis karena kondisi ku.
Karena mereka tau Tante Sri dan om Andi adalah orang paling special di hidupku.
Mereka juga amat terpukul oleh kepergian tante dan omku.

Tak lupa juga aku dan keluargaku selalu beribadah dan meminta kepada Allah.
Kami berserah diri atas apa yang Tuhan berikan.
Aku selalu berdoa agar pandemi ini cepat berlalu.

Suatu hari adalah kejadian yang paling membuatku terpukul beberapa ratus kali
Seperti petir di siang hari.

Berita itu membuatku stress dan depresi
Aku benci hidupku.

Drtt….drtt….(Suara telepon berdering)

“Haloo… ini dengan siapa?”, Tanyaku.
“Hallo… ini dengan keluarga bapak Rendra?”
“Iya, benar. ada apa ya ?”, Jawabku bingung.
“Bapak anda ada di rumah sakit karena kecelakaan lalu lintas.”
(Bruk )… Handphone ku pun jatuh. Aku terduduk lemas.
Air mataku menetes deras.
Aku menjambak rambutku dan menyakiti diriku sendiri.
Aku berteriak histeris
” AYAH …… AYAH ”
Ibu ku pun berlari mendengar aku yang berteriak histeris.
Dia mengambil tanganku yang sedang menjambak rambutku.
“Hikssss… ibuuuuu…”, suara ku serak.
Aku bergetar hebat seluruh tubuhku berguncang.

“Kenapa,nak ?” Tanya ibuku .
“Ibuuuu ….ayahhhh di rumah sakit.” hiks ….”Dia kecelakaan saat tadi sore.”

Aku menangis sejadi-jadinya.

Ibuku menangis sambil jatuh terduduk.
“Kamu gak bohong kan, nak ?” “Hah… ?”,” Gak bohong kan?”
“Enggak .. bu,aku gak bohong.”
“Gak , gak pasti kamu bohong,nak”
Aku pun tak menjawab lagi. Beberapa menit kami menenangkan diri.

Kamipun pergi ke rumah sakit.

Langkah kakiku sangat berat.
Setiap langkah yang kupijakan ke tanah semakin perasaanku tak enak.

Aku masuk ke ruangan ayahku.
Aku sangat sedih melihat ayah tidur di ranjang tak bergerak.
Banyaknya alat yang menutupi tubuhnya.

Aku mendekat.
“Ayah,  cepet semmbuhh ,ya ayah!” suara ku menahan tangis.
“Ayah,bangun ya!”, ” Kan besok ulang tahun ayah.” “Masa ayah tidur sih.” ucap ku sambil senyum kecut.
“Ayahhhh? Ayahhhh?”, “Kapan ayah bangun?” “Nanti kalo ayah bangun kita makan bareng ya!”, “hehe…. liat, anak ayah yang satu ini akan makan lahap.”
“Ayah, kok tidur mulu, ayah gak capek ya!”
Ibu ku menangis melihatku seperti itu.

Alat pendeteksi jantung pun berbunyi
Tittttttttt……

Aku menoleh ke alat jantung itu,sementara ibu berlari mencari dokter.

“GAK… GAK… GAK MUNGKIN”
aku mendekati alat itu dan menggedor- gedor atas layarnya.
“Pasti ini salah”

Dokter pun. Masuk dan kami di suruh keluar.
Aku dipaksa ibu untuk keluar dari ruangan.
Gelisah dan pikiran buruk datang padaku.

Beberapa menit kemudian dokter keluar.
Aku berdiri dan menghampiri beliau
“Mohon maaf Bu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain.”

“Apa…. ?”

Air mataku menetes deras.
“Gak mungkin,dok.”, “Dokter pasti salah kan?”
“Ini kenyataan,nak”  (dia pun menunduk)
Aku berlari Kedalam ruangan.

Aku memeluk jasad ayah yang dingin wajahnya yang tampan itu kini telah pucat
Aku menangis histeris.
“Ayah… bangun…. hiks… kan besok ayah ulang tahun”
“Aku sudah menyiapkan kado buat ayah.”
“Ayah …. Ayah… Bangun jangan tidur terus!”
“Ayah ….jangan prank, ini gak lucu!”
“Ayahhh”….. hikss ….”ayah jahat”
(Sambil memukul dada bidangnya)

Ibuku menangis histeris melihat suami nya terbujur kaku, ibuku menenangkan ku.
Dia memelukku dengan erat.

“Ibu …. Ayah gak apa-apa kan?” hiks …..
“Ayah gak akan pergi kan Bu?”
“Ayah.. udah sembuh kan Bu ?”
“Ibu jawab Amel!”

Ibu hanya diam sambil menangis.
“Ayah,udah gak lucu …ayah udah.. ah pranknya!”
“Gak lucu tau .”
“Ayah… ihhhh,aku marah nih!”
“Ayah… kok gak jawab?, ayah… ayo dong buka matanya!”
Hiks……(menangis)
“Ya udah …ayah tunggu sebentar,ya!” aku pun berlari keluar.
Ibu hanya melihatku sambil menangis.

Aku berlari dari rumah sakit sampai rumah.
Langit berubah menjadi mendung.
Hujan turun dengan deras tetapi aku tetap berlari. Sesampainya di rumah
Aku mengambil kunci motor hadiah yang aku berikan untuk ayah besok.
Aku membeli nya karena motor ayah sudah jelek.
Aku mengumpulkannya dari bekal sehari- hari.
Aku mengendarai motor itu sampai rumah sakit.
Aku berlari dan masuk ruangan.

“Ayah aku datang.”
“Lihat yah aku beli motor buat ayah, ayah bangun ya!  kita motor-motoran bareng!”
“Ayah aku …. mo..ho..n bangun …..hiks”

Dokter prihatin melihatku.

Aku terduduk lemas dan akhirnya pingsan.
Aku demam karena hujan-hujanan. Dan akhirnya aku dirawat. Kemudian ayah dikebumikan.

Beberapa hari kemudian akupun keluar dari rumah sakit.
Aku mengiklaskan ayahku walau aku sangat terpukul karena dia pergi untuk selamanya.

The end ~~~~

 

(Visited 7 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan