INDAHNYA MENGADU DI SEPERTIGA MALAM

INDAHNYA MENGADU DI SEPERTIGA MALAM
Siti Suci Winarni

Indahnya keheningan “di sepertiga malam” hanyalah sepenggal kisah sebagai pembuktian tentang makna cinta sejati, bukan hanya janji-janji palsu tanpa bukti. Sebab, “di sepertiga malam” itu Sang Kekasih tak sekadar menanti. Tapi, memberikan kepastian atas segala pengharapan untuk para umat terkasih-Nya. Di setiap sepertiga malam, tak pernah jemu menanti kehadiran hamba-Nya, walau kadang hamba tak kunjung hadir. Namun, tetap saja kisah cinta tak bersyarat itu tiada pernah putus. Sang hamba hadir atau tidak, “di sepertiga malam” Allah tetap menanti dan selalu memberi kenikmatan, kesenangan, dan kebahagiaan kepada umat-Nya tanpa kecuali.

“Allah berfirman, “siapa yang berdoa kepada-Ku, lalu Aku kabulkan doanya. Siapa yang minta kepada-Ku. Lalu aku kabulkan permintaannya. Siapa yang minta ampunan kepada-Ku, lalu Aku ampuni dia” (HR. Muslim).

Mengapa harus di sepertiga malam? tidak di waktu-waktu lain yang lebih meringankan? karena di sanalah rasa cinta itu teruji dan diuji. Sebab, bangun di sepertiga malam bukanlah perkara yang mudah, godaannya begitu berat. Dari ujung rambut kepala hingga ujung kuku kaki seolah ada yang mengikat dan membebani, agar tidak mampu beranjak dari hangatnya selimut, dan lembutnya bantal guling. Sehingga tak semua orang rela menggadaikan sepertiga malamnya, untuk bangkit menyambut cinta Sang Pemberi Rahmat. Hanya pribadi yang mengerti makna cinta yang bersambut saja, yang segera memutuskan bangun dari tidur dan mimpi indahnya, lalu dingin-dingin berwudhu dan menegakkan qiyamul lail. Setelah itu dengan penuh harap Ia memohon pada-Nya, agar rasa cinta kepada-Nya tak putus sampai di situ, karena berharap keberkahan selalu mengalir setiap waktu.

Predikat seorang muslim sebagai mukmin sejati adalah pencinta yang abadi, tak akan rela melewatkan sepertiga malamnya begitu saja, ia selalu berusaha menjaganya walau kadang masih ada yang menghalanginya. Sejuknya wajah karena air _wudhu_ di sepertiga malam lebih dirindukan, dibanding meringkuk nikmat di kasurnya yang lembut dan empuk. Saat semua orang terlelap, ia larut dalam rinai lantunan _zikir_ indah di jiwa dan lisannya. Ia benar-benar menikmati saat-saat terindahnya, mengadu pada Sang Pemberi Keindahan, bak melambung tinggi memandang semesta raya nan indah yang sama-sama hening hanyut bersimpuh pada-Nya. Semua permohonan dan pengharapan itu, benar- benar akan dijawab Allah di waktu yang tepat. Bila selama ini kerap risau, galau, gundah gulana, bimbang, dan ragu tak tahu harus mengadu pada siapa atas segala persoalan yang mendera. maka, waktu sepertiga malam itu adalah saat yang tepat untuk melabuhkan dan menyandarkan segala kegelisahan yang membuncah melewati batas kemampuan daya pikir diri dalam membendung rasa. Cerita segala keluh kesah hanyalah pada-Nya, minta apa pun yang kita inginkan hanya kepada-Nya. Sebab, di sepertiga malam itu Allah tak sekadar hadir, tapi memberikan kepastian atas segala pengharapan dan permohonan umat-Nya … Aamiin Yaa Robbal Aalamiin.

Kehadiran Allah di sepertiga malam, sesungguhnya adalah saat yang tepat bagi umat untuk menghimpun rindu kembali kepada-Nya. Di sana Allah membuka ruang pengharapan, permohonan, pertaubatan bagi umat-Nya seluas- luasnya, tentu hanya orang yang merugi saja yang mau melewatkan begitu saja. Karena setan laknatullah tak akan tinggal diam melihat kesetiaan cinta sang hamba pada Khaliq. Sebab, ia tahu bangun di sepertiga malam untuk _qiyamul lail_ adalah saat yang penuh keikhlasan dan keridhaan. Itulah yang menggelisahkan setan-setan laknat, sehingga ia dengan segala daya upayanya mencegah setiap orang untuk bangkit dari tidurnya. Seperti yang disabdakan Rasulullah SAW. Setan mengikat tengkuk leher setiap orang dari kalian jika ia tidur, dengan tiga ikatan. Setan menepuk setiap ikatan dengan berkata (kepada orang yang bersangkutan), “ engkau masih punya malam yang panjang, karena itu tidurlah” (HR. Al Bukhari, Muslim, An Nasai, Ibnu Majah dan Imam Ahmad).

Duduk bersujud di sepertiga malam sesungguhnya merupakan amalan yang seharusnya tak pernah ditinggalkan oleh generasi terbaik agama yang mulia ini. Demikian juga Rasulullah, meski telah dijamin masuk surga padanya, qiyamul lail tak pernah ditinggalkan di setiap malamnya. Bahkan dalam salah satu riwayat dikatakan, bagaimana Rasulullah sampai bengkak kakinya demi menegakkan _qiyamul lail._ Bila kita perhatikan apa yang dicari Rasulullah, bukankah beliau telah pasti masuk surga. Inilah makna cinta sejati yang bersambut, kehadiran Rasulullah di sepertiga malam-Nya, adalah wujud rasa rindunya pada Ilahi Robbi.

“Hendaklah kalian mengerjakan _qiyamul lail,_ karena _qiyamul lail_ itu kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian. _Qiyamul lail_ itu mendekatkan diri kepada Allah SWT, mencegah dari dosa, menghapus kesalahan-kesalahan, dan mengusir penyakit dari tubuh” (HR. At Tarmdzi dan Al Hakim).

Semoga hamba yang masih lemah ini mau dan mampu berusaha meneladani Rasulullah Saw. dan ahli-ahli ibadah terdahulu, yang Engkau berikan derajad dan kedudukan yang tinggi dalam ketaqwaannya … _Aamiin Yaa Alloh Yaa Robbal Aalamiin_

Mohon maaf jika ada kata-kata yang salah, karena kesalahan datangnya dari saya, dan kesempurnaan hanyalah milik Alloh SWT.
Wallohu A’lam Bishawab.

Subang, 2020
#SSW

(Visited 8 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan