DUNIA MELIHATKU_SBILA_SMPN 1 CIBOGO

DUNIA MELIHATKU

 

Pandemi Covid-19 menjadi pesta para hewan dan tumbuhan. Pandemi Covid-19 juga menjadi ruang kebebasan kita meski harus terjadi karantina masal. Siapa sangka, ada senja cantik di tengah Pandemi Covid-19.

Senja memang cantik, tapi aku tak pernah benar-benar menyukai senja. Sesekali aku hanya dimabuk kecantikannya yang begitu semu. Kehadiran Senja tak pernah benar-benar nyata. Sama halnya seperti kamu. Bagiku, kamu hanya keindahan yang memberi setetes kebahagiaan dan akan menjadi kering seiring berjalannya waktu. Kamu adalah Senja itu sendiri.

Ada sekelumit rindu saat kamu tiba-tiba menyapa setelah melewati dua musim tanpamu. Bahkan aku telah menyimpanmu rapat-rapat dalam pojok folder memoriku. Ku anggap kamu hanya senja—yang hanya memberikan setetes kebahagiaan lalu mengering di malam hari.

Ada sedikit ragu, perlukah aku menjawab sapaan kecilmu di ponsel pintarku? Masih jelas dalam ingatanku, pada pertemuan terakhir kita, aku menghujanimu dengan begitu banyak kata yang bermakna “pergi dan tak perlu kembali, kamu hanya ditakdirkan untuk dia.” Siapa aku membuat takdirmu? Tuhan mungkin menertawakanku. Tapi, aku masa bodoh.

Kini aku bertanya-tanya, bolehkah aku menyukai senja?

Perkuliahanmu menjadi kuliah daring. Pacarmu pun pulang kampung, ia berada di kota lain untuk kuliah daring juga. Aku tak pernah menyangka kalian seolah menjadi jauh karena Covid-19. Sementara itu, pekerjaanku tak lagi benar-benar menyibukkanku.

Keadaan pandemi ini menjadi kesempatanmu untuk kembali mendekatiku. Sekali ini saja. Aku membiarkan kata hatiku yang memilih. Aku tak lagi menahan diri seperti di masa lalu. Aku tak lagi membatasi diri. Aku biarkan diriku menjadi aku. Aku biarkan dirimu melihatku yang sebenarnya.

Pertemuan demi pertemuan kita, membuatku semakin tahu mengapa aku menjadi begitu dimabuk keindahan senja. Aku membebaskanmu memelukku begitu erat. Aku bahkan dengan berani menyandarkan kepalaku pada pundakmu. Sepertinya hatiku menggiringku untuk berdoa, semoga Covid-19 tak segera usai, namun negara tetap dapat mengenyangkan seluruh penduduknya. Kali ini, Tuhan mungkin mencemoohku. Tapi, aku tak peduli.

Senja, aku tak sekuat siang dan tak setangguh malam. Aku tak sehebat sunyi.

Aku tahu. Sangat tahu. Kamu akan pergi setelah Covid-19 berakhir. Kamu akan kembali kepadanya. Sangat jelas sekali.

Meski aku tahu ini hanya sesaat. Namun, aku berhak merasakannya. Berkali-kali aku menguatkan diriku setiap kali aku menunggu kedatanganmu dalam cemas. Cemas Covid-19 tiba-tiba dinyatakan usai. Aku masih ingin berlama-lama denganmu. Aku tak lagi peduli dengan perbedaan usia kita, kamu sudah jauh lebih dewasa. Kukira. Ah, betapa beruntungnya pacarmu.

Netizen mungkin menganggapku bodoh. Mereka bisa jadi menghujatku. Namun, siapa mereka berhak mengatur hidupku? Aku sudah jauh lebih tahu bahwa yang nantinya akan sakit adalah aku. Namun, kali ini aku yakin bahwa kamu juga akan merasakan hal yang sama. Kalaupun tidak, aku yakin kamu juga akan merindukanku.

Selain menjaga imunitas tubuh di tengah Covid-19. Aku juga sibuk menyiapkan diri atas perasaan kehilangan setelah Covid-19 berakhir. Jika suatu hari kamu telah pergi, percayalah aku tengah menangisi kepergianmu.

Aku akan berdiam diri begitu lama untuk berduka cita atas kepergianmu. Aku akan menganggap bahwa aku tak akan bertemu denganmu lagi, di masa depan. Aku harap kamu turut berbelasungkawa atas perasaan kehilanganku. Setidaknya, masing-masing dari kita tahu bahwa cinta tak terbatas.

Terlepas dari persiapan atas perasaan kehilangan di masa depan. Setidaknya, rengkuh aku ke dalam pelukan hangatmu. Lupakan pacarmu sementara waktu.

Tak lupa, aku ucapkan terima kasih kepada Covid-19 dengan lirih. Ia menghijaukan bumi, menjadikan ruang pesta bagi hewan dan tumbuhan. Ia juga yang membuat kita saling merengkuh, membebaskan diri, dan mencurahkan perasaan rindu masing-masing.

Kapanpun kamu mau, kamu akan menghilang dari hidupku. Siap tak siap, aku akan kehilanganmu. Aku akan berduka cita atas rasa ini hingga aku kembali menguncimu rapat dalam pojok memori, Senjaku. Mau tak mau, kamu harus turut berbelasungkawa atas perginya kebahagiaan semu kita.

Begitulah senjaku di tengah Covid-19. Ia menjadi senja yang indah, memancara cahaya jingga dengah bebas nan elok. Berdiri kokoh di antara genting-genting rumah perkotaan yang sepi. Dan aku menjadi sepi yang dipeluknya.

  1. Mungkin di dunia ini, hanya aku yang berharap Covid-19 tak segera usai, namun negara tetap dapat mengenyangkan seluruh penduduknya

(Visited 5 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan