SINTA NAESYALENA_Sari Ater dalam Kenangan_SMPN 1 TANJUNGSIANG

IMG_20210423_195013_396.jpg

Sari Ater dalam Kenangan

Menikmati libur adalah hal yang didambakan oleh tiga sahabat yang juga sepupuan. Kepenatan hidup di Kota Jakarta membuat mereka merasa suntuk. Mereka ingin mencari tempat hiburan yang menyegarkan agar kelelahan dengan kondisi kotanya bisa buyar. Coba bayangkan, setiap hari, anak-anak itu bergelut dengan kemacetan dalam udara panas yang menyengat. Benar-benar membuat prustasi.
Pagi yang cerah, Putri dan Fatimah sedang berada di rumah Caca, mereka akan pergi berlibur bersama. Mereka akan berlibur di Kota Subang dan akan mengunjungi tempat wisata air panas yaitu Sari Ater, yang berada di Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB. Putri dan Fatimah sedang menunggu Caca yang sedang bersiap-siap.Tak lama terdengar suara ayah Caca dari luar rumah.
“Anak-anak, bawa barang-barang kalian yang sudah siap!” teriak ayah dari luar rumah.
Mereka pun memasukkan barang yang sudah siap ke mobil. Setelah semua barang sudah di masukkan ke dalam mobil, ayah menyuruh Caca untuk memanggil ibu agar cepat bersiap-siap. Ibu pun datang dengan membawa bekal makanan. Mereka pun naik ke mobil dan pergi berangkat ke Kota Subang. Selama di perjalanan, mereka asik bercerita dan tertawa sampai tertidur lelap.
Menjelang tengah hari, mereka sudah memasuki kawasan perkebunan Ciater.
“Subhanalloh…!” berka-kali ketiga remaja belia tersebut berucap. Mereka kagum dengan kesejukan dan keindahan perkebunan Ciater. Sejauh mata memandang, perkebunan itu terhampar luas, seperti pernadani hijau, benar-benar menyejukkan. Angin bertiup kencang dan langit terlihat biru cerah.
Sesampainya di tempat wisata Sari Ater, mereka turun dari mobil dan membawa barang-barang yang mereka bawa dari rumah dan berjalan menuju tempat pembelian tiket. Di sana sungguh banyak orang yang mengantri untuk masuk. Harga tiket sekitar Rp40.000.
Setelah membeli tiket, mereka pun masuk ke wisata pemandian air panas itu, lalu mereka mencari tempat untuk mereka berteduh dan menyimpan barang. Mereka menemukan sebuah gazebo yang disediakan untuk para pengunjung yang datang.
“Anak- anak kalian ganti baju duluan biar ibu dan ayah yang membereskan ini, nanti kita menyusul!” ucap ibu.
“Baik Bu, tapi beneran ibu tidak butuh bantuan kami?” tanya Caca.
“Beneran…! Sudah sana, kalian bersenang-senanglah! Biar ibu yang urus ini bersama ayah!” ucap ibu tersenyum.

Caca, Putri, dan Fatimah pergi ganti baju dan pergi berendam.

“Hai, hai… Ayo ke sini di sebelah sini!” seru Putri sambil berlari ke arah kolam yang akan mereka tempati. Mereka pun meloncat dan bermain air.

“Wah, hangat sekali!” ucap Fatimah.

“Hai, coba kalian ambil air ini pake tangan dan basuh ke muka lalu cipratkan ke mata!” ucap Putri yang ingin menjaili Caca dan Fatimah.

Dengan muka polosnya Caca dan Fatimah, mereka mengikuti perintah yang diucap oleh Putri.

“Ah… Perih!” jerit Caca dan Fatimah.
“Ih…. Kamu jail banget sih Put!” ucap Fatimah sambil cemberut.

“Hahaha…. udah tau airnya panas, masih aja diturutin! Ya pasti perihlah kalau kena mata!” ucap Putri sambil tertawa.

Fatimah dan Caca terdiam dan berniat akan membalas ke jailan Putri. Putri sedang duduk di pinggir kolam. Tiba-tiba Fatimah dan Cara mendekati Putri dan menyiraminya dengan air panas kolam itu. Fatimah dan Cara pun tertawa terbahak babak.

“Hahaha… makanya jadi orang jangan jail” ucap Caca kepada Putri.

Tak lama Putri pun membalas lagi dengan menyiram air itu kepada Fatimah dan Caca, Kemudian Fatimah dan Caca kesal, mereka keluar dari kolam itu lalu mengejar Putri. Saat Fatimah dan Caca mengejar Putri, tiba-tiba ada suara Ibu yang memanggil.

“Caca, Fatimah, Putri ke sini! Ayo kita makan dulu!” teriak ibu kepada Caca, Fatimah dan Putri.

Mereka pun berlari dan duduk di salah satu gazebo yang mereka tempati. Ibu pun menyiapkan makanan, dan mereka pun langsung menyantap makanan yang ibu bawa dari rumah.

“Hmmm… Emang ya masakan Ibu paling juara!” ucap Caca Sambil acungi dua jempol kepada ibunya.

Ibu pun tersenyum dan melanjutkan makannya. Tak lama, ayah tiba-tiba mengajak berfoto dan mereka pun berfoto. Setelah manghabiskan makan, Caca, Fatimah, dan Putri pergi mandi. Setelah mandi, mereka pergi berkeliling mengelilingi tempat wisata Sari Ater tersebut. Mereka menemukan Permainan bebek gowes, mereka pun berlari untuk mengantri. Antriannya sungguh panjang. Setelah lima menit mereka mengantri, akhirnya mereka naik bebek gowes. Mereka mengelilingi danau dan bersenang-senang. Tak lama, ayah datang dan mereka meminta ayah untuk memotokan mereka.

“Ayah, Ibu ayo ikut ikut!” teriak Caca.

“Ayo Yah kita naik!” bisik ibu kepada ayah.

“Ayo ayo!” jawab ayah.

Ayah dan ibu pun membeli tiket bebek gowes dan ikut bermain bersama Caca, Fatimah, dan Putri. Mereka asik bermain bebek gowes selama 15 menit. Setelah bermain bebek gowes, mereka melanjutkan permainan yang lain. Hampir semua permainan mereka mainkan, dari bebek gowes, kereta api, balon air, kuda tunggan dan banyak lagi yang lainnya.

Menikmati berbagai wahana permainan adalah kebahagiaan tersendiri bagi ketiga sahabat itu. Tapi yang paling seru adalah naik flaying foks, mereka bergelantungan di udara, takut tapi menyenangkan. Berendam di kolam air panas sambil bersenda gurau juga sama menyenangkan. Mereka betul-betul menikmati keasyikan objek wisata di daerah Ciater ini. Hawa dingin yang menerpa kulit mereka jadi terasa hilang karena berendam di air panas yang menyehatkan. Saking asyiknya mereka bermain, sampai lupa waktu. Mereka lupa kalau rumah mereka berjarak seratus kilo meter lebih dari Ciater.

Setelah selesai dan puas bermain, mereka pun pulang. Selama di perjalanan pulang , Caca, Fatimah, dan Putri tertidur lelap. Mreka kecapean karena seharian mereka asyik bermain.

Sebelum melanjutkan perjalanan pulang, ayah berhenti untuk mampir membeli buah nanas untuk dijadikan oleh-oleh karena Subang identik dengan nanas. Ayah dan ibu juga membeli oleh-oleh yang lainnya.

Setelah selesai membeli oleh-oleh, ayah dan ibu pun kembali masuk ke mobil dan melanjutkan perjalanan. Di tengah-tengah perjalanan, tiba-tiba ban mobil pecah dan Caca, Fatimah dan Putri terbangun dan turun dari mobil. Segera ayah mengganti ban mobil itu. Sambil menunggu mengganti ban mobil, ibu, Caca, Fatimah, dan Putri menunggu di pinggir jalan. Karena proses mengganti ban lama, ibu mengeluarkan nanas yang telah dibeli tadi untuk memakannya bareng-bareng.
“Caca, Fatimah, Putri, mau tidak ibu buatkan rujak nanas sambil menunggu ayah mengganti ban?” tanya ibu.

“Mau…” teriak Caca Fatimah, dan Putri kompak.

Ibu pun membuatkan rujak nanas yang bumbunya sudah disiapkan dari rumah. Setelah ayah selesai mengganti ban, ayah pun ikut makan rujak nanas bersama di pinggir jalan. Setelah menghabiskan rujak nanas, mereka melanjutkan perjalanan.

Sesampainya di rumah, Fatimah dan Putri berpamitan pulang dan tidak lupa mengucapkan banyak terimakasih kepada keluarga Caca karena sudah diajak jalan-jalan bersama oleh keluarga Caca. Caca langsung istirahat, dan Fatimah dan Putri pun pulang ke rumahnya masing-masing.

***

Keesokan harinya, Caca pergi ke sekolah. Sesampainya di sekolah, Caca bertemu dengan Fatimah dan Putri. Mereka duduk di bangku dan mengobrol. Mereka menceritakan kembali keseruan mereka saat di Sari Ater kemarin. Sungguh ini adalah liburan terseru mereka.

(Visited 3 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan