SINTA NAESYALENA_Fatimah Mondok_SMPN 1 TANJUNGSIANG

IMG_20210423_195013_396.jpg

Fatimah Mondok

Namanya Fatimah, hidungnya mancung, alisnya tebal, berkulit putih, berbadan tinggi. Fatimah berasal dari keluarga yang cukup berada.
“Fatimah… cepat ke sini bantu Ibu !!!” suara nyaring berasal dari dapur.
“Iya ibu…” Fatimah yang sedang memainkan handphone terkejut lalu berjalan menuju dapur.
“Ada apa sih, Bu ? Gangu Fatim lagi main handphone aja!” ucap Fatimah kepada ibunya sambil marah-marah.
“Sini bantu Ibu masak ! Jangan main handphone mulu!” ucap tegas ibu.
“Ih… kan ada si bibi yang bisa bantu Ibu kenapa harus aku, hari ini aku mau janjian sama temen-temen ke mall.” ucap Fatimah kepada ibunya.
Fatimah pun kembali lagi ke kamarnya sambil membantingkan pintu. Brak!
Ibu pun merasa sedih mengapa sikap anaknya seperti itu, dan beliau berpikir apakah fatimah harus dimasukkan ke pesantren ?
***
Keesokan harinya, Fatimah belum kunjung ke luar juga dari kamarnya. Akhirnya Ibu Fatimah menyiapkan sarapan kesukaan Fatimah, agar Fatimah bisa keluar dari kamarnya.
“Fatim, Fatim, Fatimah, ayolah ke luar! Ibu sudah memasak sarapan kesukaanmu. Ini ada nasi goreng telor ceplok!” ucap Ibu Fatimah.
Fatimah pun tergoda dengan harum nasi goreng buatan Ibunya. “Hmm… ih… wangi, lapar lagi, tapi kalo aku ke luar, nanti ibu ketawa lagi liat aku kemarin marah-marah, sekarang ke luar kelaparan. Sudahlah aku mau ke luar aja daripada aku kelaparan nanti mati, gimana?” ucap Fatimah dalam hati sambil memegang perutnya yang lapar dan membuka pintu kamarnya.
“Fatim! Akhirnya kamu keluar juga!” ucap senang ibu.
Lalu Fatimah pun berjalan menuju dapur dan memakan nasi goreng yang Ibu buat. Dengan sekejap nasi goreng itu pun habis dilahapnya. Ibu melihat kelakuan Fatimah sambil mengulum senyum.
“Gimana sudah kenyang?” tanya ibu sambil tersenyum.
“Eh Ibu… hehehe… makasih ya Bu, Ibu sudah membuatkan aku nasi goreng, maaf juga kemarin Fatim udah marah-marah sama Ibu”. ucap Fatim.
“Iya Ibu maafin, Ibu mau tanya kamu mau kan masuk ke pesantren?” ucap Ibu lemah lembut.
“Hmm… Ibu, nanti Fatimah pikir pikir dulu ya!” ucap Fatim.
Fatimah pun kembali ke kamarnya. Di kamar ia lamgsung mengurung diri dan memikirkan hal yang diucap oleh Ibunya.
“Hmm…gimana ya…?” ucap Fatim.
***
Tak lama ada ide muncul dari pikirannya, “Ahaa… daripada aku bingung kayak gini dan supaya dapet kepastian, mending aku pergi ke pesantren aja, buat cari info,” ucap Fatimah.
Di pesantren itu, Fatimah menemukan hal-hal baru yang dia pikir bisa membuatnya lebih nyaman di sana.
Beberapa hari kemudian, Fatimah sudah membayangkan bagaimana rasanya pesantren. Akhirnya Fatimah sudah punya jawaban untuk ibu.
‘Ibu, Ibu, setelah dipikir-pikir, Fatimah mau masuk pesantren ya.”
“Alhamdulillah… anak ibu solehah,” ucap ibu dengan senyum bahagia.
Fatimah berlari ke kamar lalu memakai kerudung yang diberikan ibu beberapa hari yang lalu.
“Masya Allah! Anak ibu cantik sekali!” seru ibu ketika melihat Fatimah keluar dari kamarnya.
“Ah… Ibu… bisa aja,” ucap Fatimah sambil tersipu malu.
***
Hari Ahad, Fatim siap diantar menuju peantrean oleh seluruh anggota keluarga.
“Fatim, Ibu, ayo mobilnya sudah siap!” teriak ayah dari luar rumah.
Ayo Fatim, bawa barang-barang kamu! Hati-hati jangan ada yang ketinggalan!” ibu mengingatkan Fatimah sambil berjalan ke luar.

Mereka pun pergi munuju ke pesantren. Selama di perjalanan mereka ngobrol, bercerita untuk terakhir kalinya. Ayah ibu terus menyemangati Fatim untuk selalu punya sengat menuntut ilmu agama buat bekal di hari nanti.
Wow… santrinya banyak, pesantrennya juga luas!” Fatimah berdecak kagum di dalam hatinya saat sampai di pintu gerbang pesantren.
Ayah memarkirkan mobil di area parkiran yang juga luas.
“Ayo Fatim keluarkan barang-barangnya! Kita akan mendaftar dulu!” ucap ayah.
Mereka pun masuk ke ruangan pendaftaran. Di sana sudah ada beberapa pengurus pesantren yang menyambut mereka dengan ramah.
“Assalamualaikum, selamat datang Bapak, Ibu, adik, silakan masuk! Silakan duduk!” ucap kakak-kakak pengurus itu.
“Waalaikumsalam, terimakasih,” kata mereka bertiga sambil duduk di kursi yang telah disediakan.
“Ini ada formulir yang harus diisi.” kata si kakak sambil menyerahkan formulir pendaftaran.
Ibu mengisi formulir sambil sesekali bertanya kepada kakak yang mendamping tersebut, Setelah itu, mereka didamping pula menemui kyai. Ternyata di depan rumah kyai sudah banyak yang mengantri untuk sowan.
Tiba giliran Fatimah masuk. Fatimah degdegan beragam kekhawatiran muncul di benaknya. Khawatir ditanya ini itu sama Pak Kyai. Dugaannya melesat. Ternyata beliau sangat ramah dan mendoakan sepenuh hati agar Fatimah betah mondok dan mendapat ilmu yang barokah.
“Ibu, Pa Kyai sama pengurus pesantren di sini ramah-rumah dan baik ya!” bisik Fatimah kepada ibunya saat mereka sudah ke luar dari rumah Pak Kyai.
Berikutnya Fatimah diantar ke pondok putri oleh para pengurus tersebut. Fatimah melihat ruangan yang cukup luas dengan lemari yang berjejer. Di atas lemari tampak gulungan Kasur dan selimut. Tak ada tempat tidur semua tampaknya tidur lesehan. Fatimah pun diperkenalkan dengan seluruh penghuni ruangan itu. Semua ramah-ramah menyambut dirinya. Mereka pun membantu meletakkan barang-barang miliknya. Ternyata barang yang dibawanya terlalu banyak. Bayangkan Fatimah membawa boneka kesayangnnya beberapa buah, Terpaksa hanya satu yang boleh disimpan sisanya harus dibawa kembali pulang sama ayah ibunya.
Setelah membereskan barang-barang, Fatimah keluar dari kamar untuk bercengkrama dengan ayah ibu terakhir kalinya. Mereka menuju tempat khusus yang disediakan untuk orang tua. Mereka pun menikmati makanan yang disediakan dari rumah sambil bersenda gurau. Hingga Fatimah lupa kalau ia mau ditinggalkan sendirian di tempat itu.
Tiba waktunya ayah dan ibu untuk pulang.
“Fatim, ibu dan ayah pulang dulu ya, kamu jaga diri baik-baik di sini, yang rajin belajarnya, ya Nak!” pesan ayah penuh haru.
Fatim memeluk ayah, menangis sesegukkan. Ayah mengusah kepala Fatim dengan lembut.
“Ayah dan ibu akan selalu mendoakanmu, Nak. Bersabar, ya! Insya Allah kamu akan mendapat ilmu yang barokah,” kata ayah lagi.
Fatimah beralih memeluk ibu dengan erat. Ia kembali menangis tersedu-sedu. Ibu tak mampu berkata apa-apa. Belum menangis memeluk erat Fatimah sambil berkata lirih, “Ibu sayang kamu, Nak!”
“Fatimah juga sayang Ayah Ibu, doakan juga biar Fatim betah mondok di sini,” kata Fatimah sambil terisak.
Mereka cukup lama berpelukan hingga tangis Fatimah reda. Ayah ibu berpamitan pada para pengurus sambil menitipkan Fatimah.Fatimah mengantar beliau sampai di pelataran parkir.
Ibu terus melambaikan tangan hingga mobil keluar dari gerbang. Fatimah terus berurai air mata. Teman-teman pondok menghiburnya dan menuntunnya menuju kamarnya.
***
Hari-hari pun dilalui Fatimah dengan suka duka. Akhirnya Fatimah betah mondok di pesantren.

(Visited 11 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan