SALWA NURSYAKINAH_Khanza_SMPN 1 TANJUNGSIANG

IMG_20210424_062543_275.jpg

KHANZA

Sudah beberapa hari ini, Khanza sakit flu dan batuk disertai demam yang tinggi.
Hari ini hari di mana seharusnya Khanza pergi ke dokter, tetapi ibu sedang pergi dulu ke rumah nenek, yang kebetulan nenek juga sedang sakit. Khanza terbangun dari tidurnya, dengan keadaan lemah tak berdaya. Pintu kamar dibuka perlahan.
“Ngek…”. Rupanya ibu yang sudah pulang, ibu berjalan menghampiri Khanza.
“Khanza…., Ayo kita bersiap-siap berangkat ke dokter!” ajak ibu sambil menyiapkan baju ganti untuk Khanza. Ibu menelepon paman yang ingin mengantar Khanza dan ibu ke dokter, Waktu sudah menunjukan pukul 09.00 WIB. Paman yang sudah siap untuk mengantarkan Khanza dan ibu ke dokter, sudah ada di depan rumah.
“Ayo, Dang kita berangkat!” ajak ibu kepada Paman Dadang. Paman menyelah motor hingga motor itu menyala.
Berangkatlah Khanza dan ibu ke dokter. Di perjalanan, Khanza pingsan, ibu berusaha menahan Khanza agar tidak jatuh ke bawah.
Sesampainya di rumah sakit, paman langsung menggendong Khanza menuju UGD. Ibu menangis melihat kondisi anaknya yang seperti itu, lalu terjatuh lemas tak berdaya. Seorang perempuan berusaha menenangkan ibu, dengan memberi ibu sebotol minum air putih. Setelah ibu sudah lumayan tenang, ibu mengikuti paman ke ruang UGD.
Setelah sampai di depan Ruang UGD, Khanza dibawa menggunakan ranjang rumah sakit ke dalam ruangan. Ibu dan Paman menunggu di luar. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya dokter pun keluar dari ruangan tersebut dengan menggunakan APD lengkap menghampiri ibu dan paman.
“Anak saya kenapa dok? Beritahu saya dok!” ucap ibu dengan perasaan panik.
“Maaf, anak ibu terjangkit Covid-19. Sehingga anak ibu harus menjalani perawatan lebih lanjut sampai keadaannya pulih kembali,” ucap dokter tersebut dengan suara yang agak sedikit tidak jelas.
Saat itu juga ibu menangis histeris, Paman Dadang yang berada di samping ibu, berusaha menenangkannya.
***
“Kukuruyukk……!” suara ayam berkokok di pagi hari.
Sudah hampir satu bulan, Khanza menjalani perawatan di rumah sakit untuk berusaha menyembuhkan dari penyakitnya itu. Ibu sudah sangat merindukan anak gadisnya itu, rencana ibu hari ini akan menelepon pihak rumah sakit untuk menanyakan keadaan putri satu-satunya itu. Saat ibu hendak mengambil telepon rumah, Suara ambulan terdengar sangat jelas berada tepat di depan rumah.
Seseorang mengetuk pintu rumah, ibu yang berada di ruang tengah, segera berlari menuju pintu depan dengan wajah penuh kekhawatiran. Saat dibukakan pintu, terdapat seorang gadis manis yang tak lain adalah Khanza, putri kesayangannya yang sudah sembuh dari penyakit yang meresahkan dunia itu. Ibu langsung memeluk Khanza dan mencium anaknya sambil menangis haru.
“Ibu………! Berkat bantuan Pak dokter Khanza bisa sehat lagi dan bertemu ibu…” ucap Khanza dengan perasaan yang sangat bahagia.
Ibu tersenyum bahagia karena sudah bisa melihat kembali anak gadisnya yang selama ini ia rindukan.
Khanza menoleh ke belakang, dan berbicara, “ Paman…, titip salam ya buat Pak dokter. Terima kasih banyak sudah merawat Khanza selama ini…” ucap Khanza kepada petugas rumah sakit. Dua orang lelaki yang tadi mengantar Khanza menganggukkan kepalanya, kemudian berpamitan meninggalkan rumah Khanza.
“Terima kasih sudah mengantarkan Khanza sampai rumah dengan selamat. Hati-hati di jalan ya… Jaga selalu kesehatan paman!” ucap Khanza sambil melambaikan tangannya.
***
Beberapa belas tahun kemudian, seorang gadis berpakaian jas berwarna putih hendak pergi menuju rumah sakit. Gadis itu adalah Khanza, yang kini telah menjadi seorang dokter yang bertugas di Rumah Sakit Pelita Harapan Kota Bandung. Cita-citanya yang sedari kecil ingin menjadi seorang dokter, kini telah tercapai berkat kerja kerasnya.
Saat di perjalanan, Khanza melamun sambil memandangi kaca mobil. Khanza teringat akan kejadian yang terjadi sekitar delapan belas tahun yang lalu. Memori yang sudah lama hilang, kini muncul kembali dalam pikiran Khanza.
“Bu…..!” suara panggilan memecahkan lamunan Khanza. “Sedang memikirkan apa ? kelihatannya sangat sedih?” tanya Pak Asep supir pribadi Khanza.
“Gak apa-apa kok, sudahlah lupakan saja!” jawab Khanza dengan raut wajah yang murung.
Perjalanan telah usai, sesampainya di gedung rumah sakit Pelita Harapan, Khanza membukakan pintu mobil dan langsung berjalan menuju ruangannya. Dibukanya pintu ruangan tersebut, terdapat dua orang pasien yang sedang berbaring di atas ranjang rumah sakit. Khanza langsung memeriksa kedua pasien itu secara bergiliran.
Setelah Khanza memeriksa beberapa pasiennya, ia langsung berjalan menuju kantin rumah sakit untuk membeli makan siang. Dibelinya sepotong ayam goreng dan sebungkus nasi putih untuk menemani makan siangnya.
Usai menikmati makan siangnya, Khanza didatangi satu orang pasien. Pasien yang mendatangi Khanza saat ini, berbeda dengan pasien-pasien sebelumnya. Kali ini, pasiennya mengalami kejang-kejang, sehingga Khanza kewalahan dalam mengatasi keluhan pasien tersebut.
“Suster…, cepat ambilkan tabung oksigen!” pinta Khanza kepada seorang suster.
Suster yang saat itu juga sedang kewalahan, entah kenapa tak menemukan tabung oksigen itu.
Akhirnya, Khanza dengan sedikit kesal ikut mencari benda penting yang seharusnya selalu ada di ruangannya ke ruangan sebelah.
“Aduh…, kenapa aku menjadi merinding begini? Ah.. masa aku menjadi seorang penakut, aku kan dokter!” ucap Khanza dalam hati sambil memberanikan diri.
“Brug…!” suara barang jatuh dari atas sebuah lemari.
“Hah.., suara apa itu? ucap Khanza kaget.
“Meong,,,,,meong,” suara kucing yang berada di pojok ruangan.
“Ih,,,dasar kucing! Mengagetkan aku saja!” dumam Khanza dengan kesal.
Namun, si tabung oksigen yang dicari tak kunjung ia temukan. Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Khanza dari arah belakang.
“Plak,,,,” suara pukulan yang sangat keras menimpa pundak Khanza.
“Aduh,,,,,” jerit Khanza saat itu juga.
Khanza pun spontan menoleh ke belakang.
“Siapa anda?” tanya Khanza
“Tenang-tenang, saya bukan siapa-siapa kok dok. Nama saya Nizar. Saya kerabat jauh dari pasien yang barusan mengalami kejang-kejang itu, dok”
Khanza tidak langsung percaya dengan perkataan orang secara nyata tidak dikenali dirinya. Khanza pun langsung membuang muka dan pergi meninggalkan orang tersebut. Dari penampilannya saja, orang itu sudah seperti orang yang tidak berpendidikan layaknya preman pasar.
“dokter…dok, kok pergi sih?” panggil orang itu sambil mengejar dokter yang bermuka cemberut.
“Kalo anda memang benar-benar kerabat dari pasien tersebut, coba anda pergi ke meja Resepsionis” Ucap Khanza dengan wajah cemberutnya.
Khanza pun langsung pergi kembali menuju ruangan dimana pasien tersebut dirawat.
Pasien yang sedari tadi ia tinggalkan, ternyata sudah memakai tabung oksigen. Seorang lelaki masuk ke dalam ruangan tersebut. Ternyata lelaki tersebut adalah yang tadi bertemunya di ruangan sebelah. Khanza terpaku karena merasa bersalah sudah menuduh yang tidak-tidak kepada lelaki tersebut.
“Maaf Pak, saya tidak tahu, ternyata memang benar Bapak adalah kerabat dari pasien ini,” ucap Khanza sambil meminta maaf kepada bapak tersebut.
Lelaki yang sedari tadi hanya berdiri dekat ranjang pasien tersenyum.
“Tidak apa-apa, sebaiknya kita tidak boleh memandang orang dari penampilannya saja” jawab lelaki tersebut dengan senyum kecilnya.
***

(Visited 56 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan