SALWA NURSYAKINAH_Keberhasilan yang tak Terukir_SMPN 1 TANJUNGSIANG

IMG_20210424_062543_275.jpg

Keberhasilan yang tak Terukir

Sekolah Menengah Atas Darul Ulum Mengikuti lomba Olimpiade Matematika. Anbiya seorang siswa yang terpilih mengikuti lomba tersebut. Tak disangka sangka dari sekian banyaknya Siswa yang mengikuti seleksi, Anbiyalah yang terpilih.
Hari Itu, Sepulang Sekolah Anbiya dipanggil ke ruang guru oleh Pak Agus, Yup, Pak Agus guru yang melatih Anbiya selama la mengikuti seleksi. Tetapi di tengah jalan saat Anbiya hendak berjalan menuju ruang guru seseorang dari arah belakang memanggil.
“Anbiya….”ucap seseorang yang memanggilnya dari belakang. Anbiya terlihat kebingungan dari mana arah sumber suara itu berasal. Seseorang memanggil lagi.
“Di sebelah sini…. di belakangmu!”Anbiya menoleh ke belakang, Seseorang berbaju hitam, Rassya yang sambil memegang buku tulis. Anbiya menghampirinya
“Ayo! Kita ke taman sekolah, Mengobrol sebentar saja!” Ucap Rassya kepada Anbiya.
“Baiklah, tapi…. sebentar saja ya! “Ucap Anbiya.
Seusai mengobrol cukup lama di taman, Anbiya dan Rassya akhirnya memutuskan untuk mengakhiri topik pembicaraannya.
“Anbiya dari mana saja kamu?” Seseorang berbaju putih, Pak Agus yang sedari tadi menunggu Anbiya di ruang guru. Anbiya pun mulai ketakutan, karena ia lupa bahwa sudah lama ia dipanggil ke ruang guru.
“Maaf Pak, ta-ta- tadi aku sedang mengobrol sebentar bersama Rassya di taman dekat sekolah,” ujar Anbiya sambil gemetar, Rassya yang sedari tadi menguping pembicaraan Pak Agus dan Anbiya, akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah. Agar tidak ketahuan Pak Agus, karena telah mengajak Anbiya ke taman untuk mengobrol, sehingga membuat temannya itu terlambat.
“Ya. Sudah tidak apa-apa sebaiknya kalo kamu ada keperluan bilang dulu kepada Bapak, agar Bapak tidak menunggumu di ruang guru dengan waktu yang cukup lama!”. Jawab Pak Agus dengan nada suara yang agak sedikit tinggi
“Ba-ba-baik Pak, Maaf Sudah membuat Bapak menunggu.” Ucap Anbiya yang sedari tadi masih berdiri dengan gemetar.

★★★

Keesokan harinya olimpiade pun dimulai, Sedari tadi Anbiya masih gugup, karena hari ini adalah hari di mana perlombaan di mulai.Sesudah siap, Anbiya pun berangkat menuju sekolah, yang kebetulan acara perlombaan tersebut diadakan di sekolahnya. Di tengah jalan Anbiya teringat, bahwa peralatan yang la perlukan untuk lomba tertinggal. Anbiya berbalik arah, dan Pulang kembali menuju rumahnya, sedangkan waktu sudah menunjukan pukul 07.30. Anbiya bergegas mengambil peralatannya. Anbiya mengambil jalan tikus, agar ia bisa sampai ke sekolah tepat waktu.
★★★
Waktu berjalan begitu cepat. Anbiya sampai di gerbang sekolah dengan menggunakan sepeda kesayangannya. Gerbang dibuka perlahan seseorang menepuk pundaknya.

“Plak….” Suara pukulan yang terdengar begitu keras Membuat Anbiya kesakitan. Anbiya menoleh ke belakang, Rassya yang sering mengagetkan, selalu muncul dan belakang.

“Huh… kau Ini mengagetkan aku saja sudahlah jangan membuatku terlambat lagi!”Ucap Anbiya dengan perasaan kesal. Anbiya melanjutkan perjalanannya menuju kelas. Kelas terasa sepi.
“Kok, kelas masih sepi sih. Apa… perlombaannya sudah dimulai?”
Ujar Anbiya yang berbicara sambil jalan dengan tatapan kosongnya. Anbiya mengintip sedikit dari jendela kelas tersebut. Tak disangka-sangka,ternyata belum Ada satu orang pun yang datang. Rasa gugup Anbiya perlahan mulai hilang dari dirinya.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya para peserta lomba pun berdatangan. Semua peserta harus menyiapkan alat tulis mereka, yang akan digunakan untuk lomba.
“ Baik anak-anak, Sekarang kalian Siapkan alat tulis yang akan digunakan, dikarenakan lomba akan segera dimulai. Baik kalau begitu, ibu bagikan soalnya sekarang?” ujar Bu Zahra sambil membuka lembaran lembaran soal yang akan dibagikan.
Waktu berjalan, para peserta mengerjakan soal dengan teliti, termasuk Anbiya.

Waktu berjalan begitu cepat, perlombaan pun telah selesai. Para peserta lainnya termasuk Anbiya menunggu pengumuman kejuaraan.
Beberapa menit kemudian, papan pengumuman pun dibuka. Terdapat selembar kertas yang berisi nilai-nilai beserta nama pesertanya. Anbiya membaca kertas itu, mulai dari bawah. Nama demi nama sudah Anbiya baca, Sampai di nama yang paling atas, tertera namanya yaitu Muhammad Anbiya Zakaria dengan nilai 939.Nilai yang paling tinggi, diraih oleh Anbiya. Rasa bahagia melingkupinya. Terdengar suara teriakan yang memanggil namanya.

“Anbiya…..” Suara teriakan dari arah belakang. Anbiya menoleh ke belakang, ternyata kedua orang tuanya yang sedari tadi menunggunya mengikuti perlombaan. Anbiya berlari dan memeluk kedua orang tuanya dengan perasaan bahagia.

★★★

Waktu berjalan begitu cepat. Seorang lelaki sedang diam di halte bus. Sambil menunggu bus yang akan berhenti. Anbiya, seorang mahasiswa yang dulu mengikuti lomba Olimpiade Matematika, melanjutkan pendidikannya di universitasi ternama di Kota Yogyakarta. Terlihat dari kejauhan, tampak sebuah bus yang sepertinya akan berhenti di halte bus tersebut. Anbiya berdiri dan melambaikan tangannya untuk memberhentikan bus tersebut. Anbiya masuk ke dalam bus, bus berjalan perlahan menyusuri Kota Yogyakarta menuju universitas ternama.
Sesampainya di kampus tersebut, Anbiya masuk ke dalam kelas yang ia akan ikuti. Anbiya masuk ke dalam ruangan tersebut, yang kebetulan kelas itu di mulai jam 16.00 WIB. Anbiya yang saat itu tidak mau membebani kedua orang tuanya, mengambil kerja sampingan di sela-sela waktu kuliahnya. Anbiya mengambil pekerjaan sebagai pelayan kafe, yang lokasinya tak terlalu jauh dari kampusnya. Sepulang dari kampus, Anbiya bersiap-siap untuk kerja. Anbiya bekerja kurang lebih lima sampai enam jam setiap hari, sesudah ia melakukan aktivitas di kampusnya. Meskipun Anbiya sudah terlihat sangat lelah, ia tetap melakukan pekerjaannya agar tidak membebani kedua orang tuanya. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB kafe masih ramai dengan pengunjung, sehingga Anbiya tak sadar, bahwa ia telah melewati waktu kerjanya, saatnya ia pulang. Anbiya pulang ke rumah dengan menggunakan taxi online yang ia pesan dari tadi.
Sesampainya di rumah, Anbiya membuka pintu perlahan. Suasana rumah, terlihat sangat sunyi jam dinding yang berdetak pelan, di sunyinya malam. Anbiya berjalan menuju kamar, di gantinya baju yang sudah dari tadi ia pakai seharian. Anbiya yang sudah lelah bekerja seharian, akhirnya tertidur lelap di atas ranjang kamarnya.
★★★
Hari- hari melelahkan telah berlalu. Perjuangan berat selama empat tahun lebih telah dilewatinya. Kini ia merasakan buah manis perjuangan itu. Usai wisuda, Anbiya melepas topi toga lalu ia lemparkan ke atas langit yang cerah. Teman-temannya pun melakukan hal yang sama.
“Alhamdulillah…” ucap Anbiya sambil melemparkan topi tersebut dengan perasaan bahagia. Rasa bahagia kedua orang tua Anbiya melihat anaknya sukses sebagai sarjana.
★★★
Beberapa tahun kemudian, di sebuah universitas ternama tempat mahasiswa-mahasiswa terbaik menimba ilmu. Seorang dosen masuk ke ruang kelas tersebut.
“Baik, Saudara-saudara, kalian mengikuti perkuliahan kelas saya ada aturan yang harus Saudara-saudara perhatikan” ucap dosen yang tiada lain adalah Anbiya si Juara Olimpiade Matematika SMA. Anbiya berhasil mencapai impiannya menjadi seorang ilmuwan yang mengabdi di dunia pendidikan,

(Visited 7 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan