NAJMAH SITI FAUZIAH_Fatimah, Aisyah, dan Khadijah_SMPN 1 TANJUNGSIANG

IMG_20210423_195018_981.jpg

Fatimah, Aisyah, dan Khadijah
OLEH : NAJMAH SITI FAUZIAH

Fatimah, Aisyah, dan Khadijah, pelajar kelas 8-E, mondok di pesantren yang bernama pondok pesantren AZ-ZIHAD. Dari kecil mereka sering kali bersama – sama sampai sekarang, pasti kemanapun mereka selalu bersama. Berawal dari kelas 2 SD, saling kenal, mulai mendekat.
Saat Aisyah datang ke pondok Aisyah seakan-akan disambut oleh semua orang.
“Selamat datang di pondok pesantren AZ-ZIHAD!” semua santri menyambut Aisyah.
Setelah itu semua santri meninggalkan Aisyah di depan kobong karena tidak ingin mengganggu kebersamaan Aisyah dengan keluarganya.
Hari Senin di mana Aisyah melakukan aktivitas santri yang pertama kalinya di pondok AZ-ZIHAD.
Tidak lama kemudian Fatimah dan Khadijah masuk ke dalam kobong Aisyah yang berdekatan dengan kobong mereka, mengajak Aisyah untuk berkeliling pondok pesantrennya.
Pukul 09.00 WIB Aisyah pun selesai berkeliling pondok. 30 menit setelah itu semuanya berkumpul di masjid yang berada di depan kobong perempuan. Di situ ada acara ta’aruf atau perkenalan diri santri yang baru datang, yang pertama memperkenalkan diri yaitu Aisyah . Semua orang menyoraki Aisyah yang berani ke depan paling awal.
“Wih…Aisyah hebat, berani ke depan paling pertama,” sorak temannya.
Setelah masa ta’aruf selesai, mereka segera menuju ke kobong kembali, untuk beristirahat. Waktu itu Khadijah menangis karena tidak kenal dengan siapa pun, sedangkan teman-teman yang lain sedang asik bermain. Semua itu membuat sedih Khadijah karena tidak bisa ikut bermain dengan teman-teman.
“Halo…teman-teman…!” sapa Khadijah sambil melambaikan tangannya.
Mereka pergi begitu saja tanpa menoleh Khadijah sedikit pun. Di situ membuat Khadijah semakin tidak betah di pesantren. Tapi, bagaimana lagi semua ini demi kebaikan Khadijah .
“Kenapa sih kalian manjauh dari Khadijah, terus apa karena Khadijah jelek?” ucap Khadijah sambil mengikuti mereka
“Nah gitu sadar diri dong!, kami semua orang yang cantik-cantik di pondok ini!” jawab salah seorang santri dengan nada angkuh.
“Ya udah kalau begitu,” ucap Khadijah dengan wajah murung.
Semua orang menjauhi Khadijah karena parasnya dan selalu membully Khadijah terus tanpa henti. Khadijah dengan sabarnya mengahadapi mereka tanpa perasaan, Khadijah anggap mereka patung.
Setelah beberapa menit berlalu Aisyah menghampiri Khadijah di belakang sawah. Aisyah kemudian mengajak Fatimah untuk menghiburnya,lalu Khadijah pun kembali senang seperti biasanya.
“Khadijah kamu baik-baik saja?” Tanya Fatimah sambil melihat kearah wajah Khadijah.
“Tidak apa-apa, aku cuman butuh waktu sendiri ko,” jawab Khadijah.
Kemudan mereka membiarkan Khadijah untuk menenangkan diri. Khadijah menangis tersedu-sedu tidak paham dengan semua ini. Khadijah sudah ancang-ancang untuk kabur karena Khadijah sudah naik ke atas batu yang tinggi.
“Astagfirullah! Khadijah kamu mau kemana?!..”Fatimah pun terkejut melihat Khadijah yang sedang naik ke atas batu.
“Aku sudah tidak kuat ada di sini!” jawab Khadijah
Fatimah pun langsung memeluk Khadijah sambil menarik tangannya ke bawah. Tidak lama kemudian Aisyah berlari menghampiri Khadijah dan menenangkanya.
“Kamu kenapa? Kok bisa seperti ini…” tanya Aisyah.
“Sut…” ucap Fatimah bisik-bisik.
Dan mereka pun membawa Khadijah ke dalam kobong, setelah semuanya beres. Semua santri berkumpul di masjid utuk berjelajah ke luar pondok.
“ Baik santri putra dan putri mari kita bagi kelompok untuk jelajah.” Ustadzah pun membaca kertas.
Ustadzah membagi enam kelompok. Tapi malangnya Khadijah tidak bersama Aisyah dan Fatimah. Tapi, Aisyah dan Fatimah sekelompok.
“Ya Allah… ini ujian apalagi ?” ucap Khadijah dalam hatinya.
Khadijah jalani, nikmat dan syukur jelajah dimulai dari kewajiban memakai baju gelap, nanti di pemberhentian ada pos-pos, mulai dari merasakan perasan daun mustajab dan air lemon, hingga semua santri memejamkan matanya satu persatu.
“Gimana rasanya?” tanya juri.
“Ehm… enak banget rasanya seperti jus,” jawab Aisyah.
“Iya banget!” kata Fatimah.
Khadijah hanya bisa melihat mereka bersenang-senang tidak bisa bersama mereka. Sekarang giliran kelompok Khadijah yang merasakan perasan daun mustajab dan air lemon tersebut, anggota kelompoknya tidak menikmati namun Khadijah yang menikmatinya.
“Gimana Khadijah, enak?” teman sekelompoknya bertanya
“Iya enak rasanya kaya apa gitu…” jawab Khadijah
“Ya udah minum nih sendiri!” seru teman sekelompoknya, sambil memberikan minuman mustajab dan air lemon.
Mereka sengaja menumpahkan air lemon ke bajunya. Juri terkejut sehingga terdengar oleh Aisyah dan Fatimah mereka bergegas membatu Khadijah mengganti pakaiannya, semua kelompok menuju pos pertama. Kemudian menuju pos selanjutnya yang dekat sawah.
“Ups… maaf Khadijah sengaja.” ucap salah seorang santri sambil mendorong Khodijah ke sawah.
“Aku pastiin dia nggak selamat…” bisik seorang santri pada temannya
Aisyah dan Fatimah datang tepat waktu, ketika itu mereka langsung menolong Khodijah yang tercebur ke dalam sawah kotor. Khadijah berlari menuju kobong sendiri diikuti oleh Fatimah dan Aisyah.
“Emang ya aku nggak bisa melakukan apapun!” seru Aisyah, marah – marah di dalam kobong.
“Kita berdua yakin kamu bisa, mari kita hadapi bersama.” ucap Fatimah dan Aisyah, menyemangati Khadijah.
Khadijah bangun dari kesedihannya dan mendengarkan apa yang mereka berdua bilang dan kembali ke jelajah lagi. Mereka sama-sama saling menyemangati satu sama lain.
Jelajah selesai. Mereka bertiga bersama bercerita dan mengobrol tentang perasaanya berada disini, Khodijah tetap sja murung namun, namun mereka berdua dapat membuatnya kembali tersenyum, hingga mereka menjadi sahabat dekat.
Semua kelompok di kumpulkan kembali untuk perlombaan massa ta`aruf selanjutnya yaitu lomba pidato bahasa Sunda, Indonesia, dan Inggris. Khadijah pun disuruh untuk berpidato bahasa Inggris. Mereka berfikir pasti ga bakalan bisa mendapatkan piala.
“Khadijah kamu yang jadi berpidato” ucap temannya sambil mengelus tangannya.
“Oke… Khadijah siap kok,” ucap Khadijah dengan penuh semangat.
Kahdijah mulai membuat pidato sendiri tanpa ada teman yang membantu membuat pidato. Namun Khadijah tetap semangat, membuat dan mengahafal teks pidato tersebut. Mulailah acara perlombaan pidato tersebut, Khadijah tampil dengan elegan dan bagus.
“Gak nyangka ternyata Khadijah mahir dalam berpidato” ucap temannya.
“Tuh kan bisa.” kata Aisyah dan Fatimah.
Semua terpukau dengan penampilan pidato Khadijah, yang tak disangka oleh semuanya. Penampilan Khodijah selesai semua bertepuk tangan.
“Wih kamu hebat, ternyata aku salah menilaimu,” ucap temannya
Semua terkejut melihat Khadijah yang dibalik diam, Khadijah adalah seorang multi-talenta.
Sejak itu, Khadijah menjadi percaya diri. Apalagi ia punya sahabat andalah, Fatimah dan Aisyah. Teman-teman yang dulu sering mengejeknya, malah banyak bersimpati apa lagi melihat persahabatan ketiganya yang begitu enak dipandang. Mereka bertiga selalu kompak dalam menjalankan aktivitas pembelajaran. Serius dan penuh semangat. Sehingga, tak heran mereka bertigalah yang menduduki peringkat tiga besar di kelasnya. Mereka tidak hanya pandai dalam pelajaran kitab-kitab di pondok, namun mereka pun pandai dalam melajaran umum di sekolahnya. Mereka bertiga mendapat julukan trio mantap.

(Visited 2 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan