CALLISTA NURFADZHILA PUTERI NADIA_Yang tidak Diinginkan_SMPN 1 TANJUNGSIANG

IMG_20210423_195037_836.jpg

Yang tidak Diinginkan
Oleh : Callista nurfadzira Puteri Nadia

Hari yang masih tertutup embun, ayam yang berkokok, matahari yang masih tertutup awan. Hari ini, gadis yang sedang meratapi nasibnya tanpa seorang ayah, sedang duduk di ayunan sekolah. Sebut saja namanya Zahratunnisa panggilan akrabnya Ara.
Tak terbayang bagi Ara, kejadian seperti ini terjadi padanya. Minggu lalu, rumahnya penuh dengan tangis duka. Menangisi ayah yang ia cintai. Ayahnya adalah pahlawan baginya. tanpa kuda yang Ara pikirkan.
***
Saat Ara sedang menulis di buku diarynya ada langkah kaki menuju ke arahnya, tapi Ara menghiraukannya. Seorang guru cantik memegang bahunya dan bertanya pada Ara, apa yang ia lakukan di sini.
Ara terkejut, ternyata itu Bu Susi guru Matematikanya, Bu Susi mencari cari Ara karena Ara belum masuk pelajaran Bu Susi sedari tadi. Biasanya Ara anak yang disiplin dalam masuk kelas dan selalu mengerjakan tugas dengan cepat dan tepat. Bu Susi selain guru Matematikanya, tanyata ia juga teman dekat ibunya. Jadi jika Ara mempunyai masalah, Bu Susi segera memberi tahu ibunya.
Setelah Bu Susi menanyakan sedang apa Ara duduk sendirian, Bu Susi langsung menyuruh Ara masuk kelas dan menyusul pelajaran Matematika.
Ara berlari dari taman sekolah menuju kelas, hampir saja Ara terjatuh karena kurang fokus. Bu Susi semakin bingung kenapa Ara menjadi anak yang murung dan tidak bersemangat seperti biasanya.
Bu Susi memutuskan menelepon Ibu Ara untuk menanyakan alasannya.
“Assalamualaikum Mira,” salam Bu Susi kepada Ibu Ara.
“Waalaikumsallam” jawab ibu Ara.
“Aku mau nanya, kenapa anakmu Ara sekarang sangat murung dan kurang bersemangat?” tanya Bu Susi pada Ibu Ara sambil duduk di ruang guru. Sebenarnya Bu Susi tahu bahwa ayah Ara sudah meninggal dunia, tapi Bu Susi tidak menyangka dampaknya akan seperti ini.
“Maksudmu gimana?” Ibu Ara balik bertanya keheran.
Bu Susi menjelaskan biasanya Ara anak yang periang dan bersemangat, dan kenapa sekarang menjadi anak yang murung dan jarang berbicara.
Ibu Ara menjelaskan mungkin Ara masih terpukul karena ayahnya meninggal. Ibu Ara meminta bantuan temannya, Bu Susi untuk menghibur Ara.
Bu Susi pun menyetujuinya, karena beliau merasa kasihan, melihat muridnya sekaligus anak temannya meratapi kesedihannya seperti ini. Kesedihannya membuat ia kurang fokus dalam belajar dan sangat memengaruhi kehidupan sehari-hari Ara.
Saat Bu Susi hendak menemui Ara, ternyata Ara sudah pulang. Bu Susi memutuskan akan menemui Ara besok pagi, sebelum masuk kelas.
***
Saat malam tiba, Ara segera tidur dan sangat pulas, sampai Ara bermimpi.
“Ara… Ayah minta tolong bawakan ayah air putih di dapur. Ucap seorang laki-laki berbaju serba putih. Muka yang pucat terlihat jelas di mimpinya, laki-laki itu ternyata ayahnya yang datang ke mimpinya. Saat tertidur Ara menangis karena bertemu dengan ayahnya. Suara yang telah lama hilang kini ia dengar kembali, muka yang selalu tersenyum manis padanya kini ia lihat lagi.
“Ayah?” Ara terkejut melihat ayahnya. Pahlawan yang masih ia harapkan dalam hidupnya. Langsung Ara menghampiri ayahnya dan memeluknya.
Saat bangun Ara terkejut, dan langsung menangis. Ia senang bisa bertemu dengan ayahnya tapi tetap merasa sedih karena bertemu dengan ayahnya hanya bisa lewat mimpi. Ara segera menghampiri foto ayahnya, sambil tetap menangis dan tubuhnya sangat lemas.
Ibunya sedari tadi melihat Ara dari balik pintu, karena ibunya tidak tega, ibunya langsung menghampiri Ara.
“Ara kamu kenapa menangis?” tanya Ibunya sambil masuk ke kamar Ara. Saat melihat ibunya, Ara langsung diam dan mengusap air matanya.
Ara menceritakan pada ibunya tentang mimpi yang baru saja ia alami. Ibunya mengerti apa arti dari mimpi itu.
Ibu menjelaskan bahwa ayahnya ingin didoakan oleh putri sulung satu-satunya. Karena memang Ara paling dekat dengan ayahnya. Ibunya menasehati agar Ara selalu mendoakan ayahnya dan sering-sering menziarahi kuburannya. Ara terdiam lalu duduk di sebelah ibunya.
Ara menatap ibunya dengan matanya yang merah karena menangis.
“Bu! Kenapa…? Kenapa ayah ninggalin Ara, Ara masih butuh ayah, Bu!” tanya Ara pada ibunya dengan nada tinggi sambil memukul-mukul kasurnya.
Ibunya menjelaskan bahwa ayah Ara meninggal karena sakit, jika ayahnya masih hidup ayahnya akan terus merasakan sakitnya. Ayah Ara meninggal karena sakit diabetes yang tinggi, bisa-bisa gula darahnya mencapai 1.000 atau lebih. Kemungkinan, jika ayah Ara masih hidup ia akan mengalami stroke. Karena kata dokter, itu salah satu penyebab penyakit diabetes.
Ibunya menceritakan bahwa pada saat itu, ayahnya sudah mulai stabil keadaannya. Tapi pada pukul 06.00 WIB keadaannya ngedrop dan semakin semakin parah. Lalu ibunya membawa ayahnya, dengan meninggalkan Ara dan adik-adik ke rumah sakit di Bandung. Tetapi ayahnya tidak bisa tertolong, ayahnya meninggal di rumah sakit itu.
Saat meninggal, Ara sangat sedih, karena tidak bisa melihat ayahnya untuk terakhir kalinya. Bahkan saat pemakaman pun Ara tidak datang karena jarak yang sangat jauh dari rumahnya.
Sebelum ayahnya ke Rumah Sakit, beliau berpesan pada Ara untuk menjaga dan membahagiakan Ibu dan adik-adik dan selalu rukun dengan adik-adik, Ara juga harus sekolah sampai serjana tanpa membebani ibunya.
“Ara mau tidak membahagiakan ibu?” ucap ibu sambil tersenyum dan memeluk Ara, “Jika Ara ingin membahagiakan ibu, Ara tidak boleh menangis. Ara harus terus semangat berprestasi di sekolah, walau ayah telah tiada….”
***
Jika teman-temannya ada yang menceritakan ayahnya, Ara selalu diam. Ara sangat lemah jika membicarakan soal ayah. Ara bisa dikatakan trauma jika mendengar ada orang yang meninggal dunia.
Ara sesekali mengeluh, tidak ada tempat curhatan hati Ara. Biasanya Ara selalu menceritakan semua hal pada ayahnya.
Ibunya sangat sulit mencari nafkah, karena umurnya yang sudah mulai menua. Ibunya mencari-cari lowongan pekerjaan tapi tapi tak kunjung mendapatkannya. Ibunya mencoba membuka warung kecil-kecilan, untuk menambah-nambah kebutuhan keluarga mereka. Tapi untungnya, banyak keluarga yang membantu membiayai Ara dan keluarganya.
Ara sangat sedih, ia berfikir dia anak sulung, Ia harus berbuat apa untuk membantu ibunya. Apalagi Ara mempunyai dua orang adik laki-laki yang masih kecil. Ara hanya bisa membantu mengurus adik-adiknya di rumah. Sesudah pulang sekolah, ia mengurus adik-adiknya dan beres-beres rumah. Walaupun ia lelah, ia tetap semangat membantu ibunya.
Dia berusaha tegar dan sabar, untuk menguatkan adik-adiknya. Ya, walaupun Ara masih belum bisa mengendalikan emosinya, dan masih terpukul.
Keluarga ayah dan ibunya telah mempersiapkan biaya sekolah untuk Ara dan adik-adiknya, mulai dari SMP, SMA, sampai kuliah nanti.
Ara Sangat senang, karena rezeki mengalir dari mana saja. Ara berterima kasih pada Allah SWT dan keluarganya. Ara selalu mendoakan agar keluarganya selalu Allah limpahkan rezekinya.
***
Keesokan harinya, Ibu, Ara dan adik-adiknya sarapan pagi di ruang makan. Adik Ara yang masih kecil menanyakan ayahnya.
“Bu, Kak, ayah mana kok gak ikut makan ?” tanya adik Ara yang masih polos, sambil melanjutkan makannya.
Ara kaget sampai tersedak makannya. Ara langsung buru-buru meminum air putih. Ara bingung harus menjawab apa pada adiknya.
“Ayah lagi di dalam tanah Dek, ayah lagi tidur,” jawab Ara sambil senyum terpaksa pada adiknya yang berumur 3 tahun.
Ibunya langsung melihat raut wajah Ara yang sangat sedih. Ara langsung menundukan kepalanya, karena Ara takut salah bicara pada adiknya.
Ara langsung bersiap-siap memakai sepatu dan langsung berangkat sekolah. Ara pamit dan menyalami ibunya yang menunggu Ara berangkat sekolah.
Ara berangkat sekolah dengan berjalan kaki, jika masih ada ayahnya, Ara diantar ayahnya menggunakan motor sambil bercerita-cerita. Tapi sekarang, Ara harus berjalan kaki sendirian, tidak ada teman.
Saat di perjalanan ada seorang guru memanggilnya, ternyata itu Bu Susi teman ibunya sekaligus gurunya. Bu Susi sedang mengendarai mobil miliknya, Bu Susi mengajak Ara untuk menaiki mobilnya. Bu Susi kasihan melihat Ara berjalan kaki dari rumahnya menuju sekolah yang jaraknya cukup jauh.
Awalnya Ara menolak, tetapi Bu Susi memaksanya. Bu Susi juga ingin mengajak ngobrol Ara agar Ara tidak sedih lagi. Bu Susi juga menanyakan soal Ara yang menjadi murung.
“Bu, terimakasih ya mau mengantarkan Ara, padahal tidak usah repot-repot,” ucap Ara yang sudah masuk mobil Bu Susi.
“Ya, tidak apa-apa dong, kan tujuan kita sama. Ibu mau tanya ya…” ucap Bu Susi agak serius pada Ara.
Bu Susi menanyakan apa penyebab Ara murung dan tidak ceria lagi. Ara pun menjelaskan bahwa ia kemarin-kemarin masih terpukul karena ditinggal ayahnya.
“Tapi sekarang kamu tidak sedih lagi kan?” tanya Bu Susi pada Ara yang fokus melihat jalan.
Ara pun mengangguk, “Tidak, karena Ara sudah berjanji membahagiakan ibu. Ara tidak mau membuat ibu menangis sedih. Ara ingin membuat ibu menangis bahagia karena prestasi Ara.”
“Betul Ara, jangan sesekali kamu menyalahkan takdir yang Allah SWT berikan pada kamu. Mungkin Allah lebih sayang pada ayahmu. Kamu harus selalu bersabar, karena sabar adalah kunci kebahagiaan. Kamu harus yakın ayahmu pasti bahagia jika kamu bahagia, begitu juga ibumu,” ucap Bu Susi sambil mengelus-elus kepala Ara dan juga sambil menyetir. Ara tersenyum dan berterima kasih atas nasehat Bu Susi yang sangat berarti baginya.

(Visited 5 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan