CALLISTA NURFADZHILA PUTERI NADIA_Pengalaman Pertama Sofira_SMPN 1 TANJUNGSIANG

IMG_20210423_195037_836.jpg

Pengalaman Pertama Sofira

Terik dan panasnya matahari siang, tidak menjadi penghalang bagi seorang gadis yang sedang mengikuti ekstrakulikuler menari di sekolahnya.
Gadis itu berbadan lentur, tinggi, dan berkulit sawo matang. Sambil tersenyum manis, tampak ia sedang menari dengan sangat anggun di ruang kelas menari yang cukup luas di sekolahnya.
Namanya Sofira Khairunnisa anak yang padai menari. Sedari kecil ia suka menari, mungkin juga karena keluarganya memang sangat mendukungnya dalam menari.
Di tengah-tengah waktu latihan, Sofira kelelahan, ia memutuskan untuk istirahat dulu di bawah pohon yang rindang dan sejuk. Sofira duduk sambil memakan bekal nasi goreng yang dibuatkan khusus oleh ibu tercintanya.
Sofira memakan bekal sambil memandang pemandangan yang indah, tanaman hijau, dan mendengarkan burung-burung yang berkicau di taman sekolah. Lalu, ia tidak sengaja mendengar percakapan kepala sekolah dengan salah satu guru di sekolahnya.
“Pak, bagaimana dengan acara peringatan 17 Agustus sekolah kita? Akan menampilkan apa?” tanya Bu Sinta yang bingung dengan acara peringatan 17 Agustus tahun ini yang sebentar lagi akan dilaksanakan.
Bapak kepala sekolah mengusulkan untuk menampilkan tari sisingaan untuk acara 17 Agustus. Bu Sinta menyetujuinya, kemudian beliau meminta tolong pada Bu Wulan dan Mang Asep untuk melatih tari sisingaan.
***
Kring…kring…. Jam bel pulang berbunyi.
Sofira sudah menghabiskan makannya dan ia langsung masuk ke kelasnya, bersiap-siap membereskan buku, alat tulis, dan lain sebagainya untuk pulang.
Sebelum pulang, Bu Sinta memberikan pengumuman dulu kepada seluruh siswa, bahwa sekolah mereka akan mengikuti acara peringatan 17 Agustus di Kota Subang dengan menampilkan tari sisingaan. Acara tersebut rencananya diadakan di salah satu SMP di Kabupaten Subang yang bernama SMP MEKAR JAYA.
Bu Sinta memilih Sofira, Chintya, Bunga, Putria, Suci, dan Mentari sebagai penari sisingannya. Sedangkan yang memikul tandu sisingaannya, Bu Sinta memilih Reno, Husen, Bagas, Rifky, Ajril, Alfin, Ahmad, dan Fikri. Mereka menyetujuinya dan bersemangat untuk berpartisipasi dalam memperingati 17 Agustus, mereka sangat antusias karena sudah terpilih.
***
Keesokan harinya, sepulang sekolah, Sofira dan teman-temanya yang ikut menari sisingaan, segera bersiap-siap untuk latihan menari. Sebelum latihan, mereka sholat Dzuhur dan makan terlebih dahulu agar perut mereka tidak kosong.
Seperti janji Bu Sinta, Bu Sinta meminta Bu Wulan melatih menari anak perempuan sebagai penari pengiring sisingaan dan Mang Asep melatih menari anak laki-laki yang memikul sisingaannya.
Bu Wulan sangat bersemangat melatih gerakan kuda-kuda, berputar mengelilingi sisingaan dan yang paling menariknya adalah atraksi menaiki singa. Tak kalah semangat, Mang Asep melatih tarian anak-anak yang memikul singa. Mang Asep memperaktikan atraksi seperti melompat, tidur-tiduran di bawah, dan masih banyak lagi. Sofira dan teman-temannya sangat senang bisa ikut menari sisingaan.
“Ih… Aku takut singanya melompat dan memakanku.” ucap Husen yang bercanda karena baru pertama kali melihat sisingaan. Sofira dan teman-temannya tertawa karena kelakuan Husen yang aneh.
“Ayo loh… Nanti dimakan singa… singanya kelaparan tuh butuh makan jadi mulutnya terbuka lebar untuk memakanmu!” ucap Chintya sambil tertawa terbahak-bahak dan memukul-mukul pundak Sofira.
“Chinya! Jangan pukul-pukul aku dong sakit tahu! Kamu suka sekali ya meledek orang lain!” ucap Sofira bercanda pada Chintya yang terbiasa jika tertawa sambil memukul-mukul pundak orang lain.
Di tengah-tengah latihan, mereka istirahat dulu sebentar, mereka memakan makanan yang dibawa oleh Bu Sinta. Bu Sinta sengaja datang melihat anak didiknya berlatih untuk acara lusa.
Mereka terus berlatih sampai lancar, terkadang jika Bu Wulan dan Mang Asep sibuk, mereka berlatih sendiri tanpa pengawasan Bu Wulan dan Mang Asep. Tapi berbeda dengan Husen yang selalu berlatih tidak serius dan selalu selalu bercanda. Husen selalu mengeluh lelah, tidak bisa, dan lain sebagainya. Tapi Husen heran pada teman laki-lakinya yang memikul singa, mengapa tidak pernah lelah dan selalu bersemangat.
“Hey… Kalian kenapa semangat banget sih, kok aku lemas banget? Singanya berat!” ucap Husen yang lelah dan duduk lemas sambil meminum air putih.
“Iya lah nanti kalau ga bersemangat singanya marah terus kita dimakan, haha…!” canda Rifky terbahak-bahak melihat raut wajah Husen yang lelah penuh keringat.
“Uhuk…! Ih serem banget sih! Ya udah aku semangat lagi biar ga dimakan singa!” Husen batuk saat meminum air putih yang ia minum. Ia mengejutkan teman-temannya.
“Ih… Air mancur dari mana ini…?” ucap Fikri aneh, karena Fikri ketiduran.
“Ih… Itu bukan air mancur, itu air dari mulut Husen, Fikri!” ucap Bunga yang melihatnya jijik sambil tertawa.
“Husen…! Kamu jorok sekali!” teriak Fikri sambil mengejar-ngejar Husen di lapangan sekolah.
Bu Sinta dan Bu Wulan menyuruh anak-anak latihan lagi.
***
Setelah beberapa hari latihan, sampailah hari H-nya sebagai hari peringatan 17 Agustus yang akan dilaksanakan di SMP Mekar Jaya. Sofira dari rumahnya sudah antusias mengikuti acara ini, ia meminta doa kepada ibunya supaya menarinya lancar, sukses, dan tidak ada kendala apa pun.
Setelah sampai di sekolah, Sofira dan teman-temannya langsung mempersiapkan diri mereka. Mereka langsung menggunakan baju tari sisingaan, dan didandani oleh guru-gurunya untuk memakai make up dan sanggul.
Setelah selesai berdandan, mereka segera berangkat menuju Kota Subang. Mereka sengaja berangkat pagi-pagi sekali agar datang tepat waktu.
Kota Subang merupakan kota yang sangat asri, mempunyai banyak tumbuhan hijau yang membuat sejuk, lingkungannya bersih dan tertata rapih. Oleh karena itu Sofira sangat mengagumi Kota Subang, kota kelahirannya
Sesampainya di tempat tujuan, mereka berbaris satu persatu untuk tampil ke depan. Mereka ditonton oleh puluhan orang bahkan lebih, karena acara itu dihadiri oleh sekolah-sekolah se-Kabupaten Subang. Sofira dan teman-temannya menari sangat baik dan maksimal seperti latihan kemarin-kemarin.
Semua orang suka dan kagum pada tarian yang dibawakan oleh kelompok Sofira, bahkan banyak yang memuji tarian mereka. Sofira dan teman-temannya mempunyai percaya diri yang tinggi, sehingga mereka tidak ragu untuk tampil menari dengan baik dan maksimal.
Tari sisingaan merupakan tarian yang melatih kekompakan dan ketelitian para penarinya. Setiap gerakan harus mereka lakukan dengan baik, supaya tarian mereka bagus. Aktraksi dalam tariannya juga harus membuat semua orang tertarik untuk menontonnya. Tarian sisingaan sangat pas untuk dijadikan tontonan pada peringatan 17 Agustusan, karena selain untuk memeriahkan acara, juga untuk mengembangkan dan melestarikan kesenian tradisional yang berasal dari Jawa Barat, khususnya Kabupaten Subang.
“Beri tepuk tangannya…!” teriak panitia acara 17 Agustus Kabupaten Subang.
“Wah… Bagus sekali tarian kalian, dan memilih tariannya pun pas sekali dalam peringatan 17 Agustus ini!” guru sekolah lain memuji.
“Alhamdulillah Bu, terimakasih,” jawab Sofira.
“Kalian sangat ramah dan baik hati, semoga kalian sukses selalu. Dan selalu ikut berpartisipasi ya, menambah kecintaan kalian mengembangkan karya seni tari di Kabupaten Subang ini. Jadikan saja dulu pembelajaran ya…!” ucap ibu itu sambil mengacungkan jempolnya lalu melambaikan tangannya dan meninggalkan rombongan Sofira.
“Aamiin… Terimakasih Bu… Sampai jumpa lagi… Dadah…!” ucap teman-teman Sofira sambil melambaikan tangannya juga.
“Wah seru ya! Aku jadi mau ikut tari lagi!” ucap Husen sambil tertawa mengingat dirinya yang pernah takut pada sisingaan. Mereka pun langsung beristirahat dan memakan makanan yang telah disediakan oleh guru-gurunya dengan wajah-wajah yang sangat bahagia. Mereka sangat berkesan dengan pengalaman pertama mereka, pengalaman ini tidak akan mereka lupakan, sampai kapan pun, khususnya Sofira.
***

(Visited 3 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan