CALLISTA NURFADZHILA PUTERI NADIA_Akan Indah pada Waktunya_SMPN 1 TANJUNGSIANG

IMG_20210423_195037_836.jpg

Akan Indah pada Waktunya
Oleh : Callista Nurfadzila Puteri Nadia

Panas matahari siang, seperti membakar punggung Pak Umar. Ia memakai handuk pada bahunya dan ujung handuknya dipakai untuk mengusap keringatnya. Tidak lupa Pak Umar memakai topi untuk melindungi kepalanya dari panasnya matahari yang sangat menyengat. Tidak lupa dia memakai masker untuk berjaga-jaga dari virus Covid-19.
Pak Umar keliling keliling mendorong gerobak baksonya. Di dalam hatinya ia bertanya-tanya mengapa baksonya tidak ada yang membeli, apa karena baksonya tidak enak, begitulah benak Pak Umar. Tapi pikirannya masih positif akan ada yang membeli baksonya. Di dalam hatinya ia selalu berdoa agar dagangannya habis semua hari ini.Tapi apa daya, semua kampung sangat sepi, Pak Umar mendorong gerobaknya dari satu kampung ke kampung lain tanpa lelah.
Pak Umar berkeliling kampung yang sangat sepi. Dan banyak gang- gang rumah yang ditutup karena sudah ada kampung yang menerapkan PSBB (Perbatasan Sosial Berskala Besar). Pak Umar tidak bisa membayangkan jika kampungnya akan ditetapkan PSBB, Pak Umar semakin sulit untuk mencari nafkah untuk anak Istrinya
la memutuskan beristirahat dipos ronda kampung sebelah karena habis berkeliling keliling, Pak Umar mengeluarkah sebotol air meneral yang ia bawa dari rumahnya. Dan Pak Umar membawa bekal sederhana dari rumahnya. Walaupun sederhana istrinya membuat bekal tersebut dengan cinta kasih sayang.
Pat Umar duduk di pos ronda, sambil melamun memikirkan dagangannya yang sedari tadi belum laku la bingung anak dan istrinya makan apa dan bagaimana caranya Pak Umar memenuhi kebutuhan keluarganya.
Bagaimana pun Pak Umar harus banting tulang setiap hari, karena ia seorang kepala keluarga. Belum lagi biaya sekolah anaknya. Hal ini membuat Pak Umar bingung.
Dari terbit sampai terbenam matahari, ia berjalan mencari orang yang ingin membeli baksonya.
***
Keesokan harinya Pak Umar berjualan di depan sekolah. Tapi percuma saja karena sekolah sekarang ditutup. Jika saja sekolah tidak ditutup pasti ramai anak-anak yang membeli baksonya sampai-sampai ada yang berebut.
Tiba-tiba ada yang memanggil Pak Umar dari belakangnya. Seorang remaja yang hendak memesan bakso. Remaja tersebut tampaknya sangat lelah karena berbain bola di lapangan sekolah.
“Pak pesan bakso 4 porsi ya!” teriak anak itu yang sedang bermain bola bersama teman temannya. Saat baksonya sudah jadi anak itu mengambil baksonya. la makan bakso dipinggir gerobak Pak Umar sambil melihat lihat gerobaknya. la heran kenapa baksonya masih banyak padahal bakso Pak Umar sangat enak menurutnya. Ia tadinya langsung pulang dan memberikan baksonya pada ibunya.
“Pak, bakso Bapak tidak laku?” tanya anak itu pada Pak Umar, lalu melanjutkan memakan baksonya.
“Hehe.. Iya Dek dari kemarin gak laku laku, karena dari kemarin sepi banget.” ucap Pak Umar sambil melamun.
“Kalau tidak habis mubadzir dong Pak,” ucap anak itu yang penasaran.
“Bapak kasih saja baksonya pada anak dan istri bapak, anak bapak aja bosen makan bakso terus, katanya lama kelamaan mukanya kayak bakso kalau makannya bakso terus.” Pak Umar tertawa, anak itu merasa kasihan pada Pak Umar. Saat anak itu hendak membayar, Pak Umar kaget karena anak itu membayar dengan uang 100 ribu. Saat Pak Umar hendak memberi anak itu kembalian , ia menolak, ia ikhlas karena anak itu tahu kondisi perekonomian keluarga Pak Umar menurun drastis saat pandemi seperti ini.
Pak Umar berterima kasih, dan terharu masih ada orang baik yang mau menolongnya betapa berharganya uang yang didapatkan Pak Umar.
Saat Pak Umar akan pulang, anak tadi memanggil, dan menawarkan sesuatu pada Pak Umar. Pak Umar diajar anak itu untuk ke rumahnya, karena ibunya sangat membutuhkan tukang bakso untuk acara santunan anak yatim. Awalnya muka Pak Umar tampak lelah, lesu, dan tidak bersemangat, menjadi semangat dan bahagia. Karena ibu anak tersebut menawarkan pesanan bakso 1000 porsi untuk santunan anak yatim seperti rencananya.
“Serius, Bu? 1.000 porsi? Alhamdulillah,” ucap Pak Umar bersyukur dan wajahnya ceria kambali. Anak itu dan ibunya ikut tersenyum bahagia. Ibu tersebut langsung memberikan uang cash pada Pak Umar.

Pat Umar langsung pulang dan menceritakan hal tersebut pada anak dan istrinya. Anaknya senang karena bisa makan dengan makanan selain bakso dan kebutuhan mereka terpenuhi.
Tidak lupa jika Pak Umar mempunyai rezeki lebih ia sedekahkan pada orang-orang yang kurang mampu dan anak yatim.
Mereka juga menabung uang yang mereka dapatkan mereka harus pintar- pintar memanaje uang. Karena sewaktu-waktu jika mereka butuh uang mereka bisa mengambil uang tabungannya.
Rencananya Pak Umar ingin membeli kedai untuk jualan bakso. Rencana ini sudah disusun dengan matang oleh Pak Umar sejak lama. Tapi karena Pak Umar baru mempunyai rezeki lebih, jadi baru membeli kedainya.
Walaupun kedainya tidak terlalu besar tapi setidaknya Pak Umar tidak berjualan lagi menggunakan gerobak.
Jika berjualan di kedai, sesekali anaknya bisa membantu Pak Umar melayani pembeli.
Toko Pat Umar sangat ramai. setiap harinya, banyak yang memesan baksonya.
Ada yang memesan untuk acara syukuran, pernikahan, santunan, untuk disumbangkan. Pendapatan keluarga Pak Umar semakin meningkat ia bisa membeli rumah yang sederhana, tidak mewah tapi nyaman ditempati. Pak Umar juga bisa membeli kendaraan
Anaknya bisa sekolah, dan tidak kekurangan. Istrinya tidak pusing lagi dengan kebutuhannya.
Salah satu cita-cita Pak Umar dan keluarga adalah menunaikan ibadah haji, jika mereka ada rezeki.
Pak Umar tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan nya. Jika ada rezeki ia tabungkan, karena bagaimana pun tabungan tersebut bisa berguna di masa depan. Seperti halnya sekarang, Pak Umar menyisihkan uangnya dan kemudian ia belikan kedai untuk bejualan bakso.
“Alhamdulillah ya Allah… terima kasih engkau telah mencukupi semua kebutuhan hamba. Ini sudah dari cukup yang Engkau beri pada hamba ya, Allah…”Ucap Pak Umar sambil sujud syukur atas semua rezeki yang ia dapatkan, karena rencana Allah lebih baik dari rencana kita. Allah memberikan rezeki pada setiap orang berbeda-beda.
“Nak, kamu jangan sesekali menyalahkan takdir ya, Allah terkadang bisa membolak balikan takdir seseorang. Kita diibaratkan roda, hidup kita bisa di poisisi atas dan juga diposisi bawah. Jadi jangan pernah juga kita menyombongkan diri, karena kita bisa merasakan apa yang orang lain rasakan. Dalam hidup juga harus saling membantu, memperbanyak sedekah, dan menabung. Karena hal-hal itu positif bagi masa depan kita.”Ucap Pak Umar menasehati anaknya, Pak Umar harap anaknya bisa menjadi orang yang sukses, yang dermawan, suka membantu orang lain, dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Pak Umar juga berharap anaknya tidak menyesali atas apa yang terjadi.
“Baik pak, Insyaallah Andi akan menjaga amanah bapak, Andi akan ingat kata-kata bapak. Andi selalu menjadikan bapak motivasi pertama Andi.” Ucap Andi anak Pak Umar satu-satunya.

(Visited 1 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan