Tragedi Pamoyanan_Silmi Nurmillaty_SMPN 1 Cisalak

foto-silmi.jpeg

Tragedi Pamoyanan

Untuk tiga orang yang sudah bersahabat lama, tak aneh jika di antara mereka memiliki hobi yang sama. Ini merupakan sepenggal cerita konyol dari seorang pemuda bernama Aldo beserta kedua temannya Rizky dan Fahri yang akan melakukan hobinya.

Tercatat sudah puluhan gunung yang pernah mereka daki. Dari mulai gunung yang berada di sekitar daerah Subang, hingga ke luar Subang. Momentum sunrise dan sunset yang selalu menjadi tujuan mereka mendaki gunung, dengan taburan lautan awan yang selalu memanjakan mata.

Subuh-subuh sekali terdengar nada dering telepon dari ponsel Aldo. Seketika ia terjaga. Aldo yang masih menutup matanya dengan setengah sadar mencari ponselnya yang terselip diantara bantal-bantal.

“Bro, nanti jadi kan jam 5?” ujar Rizky dari seberang telepon sana.

“Iya nanti jam 5 langsung kumpul di rumah gue” tutur Aldo seraya memicingkan matanya mencoba melihat jam dinding yang tepat berada di atas pintu kamarnya.

Setelah berbincang cukup lama, membicarakan dengan apa yang akan dibawa. Akhirnya Aldo menutup telepon lalu sigap beranjak dari tidurnya. Duduk di sofa coklat muda dengan kaki terlentang pada meja persegi panjang membuat Aldo sedikit tenang, untuk meregangkan tubuh yang belum stabil dari tidurnya.

“Eh Aldo udah bangun,” ucap ibunya Aldo yang baru saja beranjak dari dapur.

“Oh iya, itu Mamah udah nyiapain barang-barang buat kamu tracking di Pamoyanan. Sama Mamah juga udah nyiapin bekel makanan buat kamu sama temen-temen kamu, dibawa ya,” tutur ibunya Aldo.

“Hm… padahal ibu gak perlu nyiapin bekel makanan, nanti di Pamoyanan juga banyak warung kok yang nyediain makanan berat. Tapi karena Mamah yang udah nyiapin berarti pasti aku bawa,” ujar Aldo pada Ibunya dengan manja.

“Duh anak Mamah bisa aja. Ya udah sekarang gih siap-siap, mandi terus solat juga jangan lupa ya. Dan inget kalo di tempat kayak gitu, kamu harus jaga sikap ya Nak!” Tutur Ibunya Aldo seraya berlalu memasuki kamar.

Ya, Pamoyanan. Tempat yang akan Aldo dan kedua temannya kunjungi. Wisata Pamoyanan tersebut kerap menarik perhatian para wisatawan yang belakangan ini tenar dengan sebutan ‘negeri di atas awan tanah pasundan’.

Walau Pamoyanan hanya bukit dengan tinggi 600 meter dari permukaan laut, membuat Aldo dan kedua temannya ingin ikut mencoba mendakinya. Setidaknya Pamoyanan akan  tercatat dalam sejarah bukit yang pernah didaki oleh mereka bertiga.

Di bawah langit subuh, Aldo masih menunggu Rizky dan Fahri datang. Tak butuh waktu lama untuk menunggu mereka berdua datang. Dengan tas ransel di pundak, mereka berangkat dengan membawa motor Kawasaki KSR 110 yang sama, namun dengan warna yang berbeda.

Desa Kawungluwuk, Tanjung siang. Lokasi tepatnya bukit Pamoyanan. Tak cukup jauh dari rumah Aldo, hanya butuh kurang lebih dua puluh menit untuk sampai ke bukit Pamoyanan. Sesampainya di tempat tujuan, mereka bertiga disambut oleh pohon-pohon yang menjulang tinggi disertai udara yang sangat segar. Hanya dengan membayar tiket lima ribu rupiah saja, mereka bisa bebas menikmati pemandangan indah dan berswafoto sepuasnya.

Waktu menunjukkan pukul 05.25 pagi. Matahari terbit masih terlihat samar-samar. Kini Aldo, Rizky, dan Fahri telah sampai di puncaknya bukit Pamoyanan. Setelah memasang tenda untuk mereka berteduh, kini mereka hanya tinggal bersantai sembari menikmati bekal dari Ibunya Aldo yang masih hangat.

Sekitar pukul 06.00 pagi, matahari baru akan menunjukan wujud sepenuhnya di ufuk timur. Baru saja para pengunjung akan menikmati sunrise dan lautan awan, tetiba saja terdengar teriakan Ibu-Ibu meminta tolong.

“Tolong… Tolong… Tolong!” Teriak Ibu tersebut dengan lantang.

Matahari yang terbit diiringi lautan awan, kini bukan menjadi pusat perhatian. Teriakan dari Ibu paruh baya tersebut, menciptakan kerumunan dari para pengunjung.

“Tolong… tolong anak saya!” ujarnya dengan berurai air mata.

“Emang anak Ibu kenapa? Jatoh ke bawah?” Celetuk Aldo menambah ketegangan.

“Bukan, tapi itu loh anak saya… anak saya hilang!” Ujar si Ibu kini mengagetkan para pengunjung.

“Pasti itu diambil sama penghuni disini atau enggak juga diculik sama hantu Wewe Gombel. Iihhhh,” celetuk salah satu pengunjung yang ikut berkerumun.

“Hadeuh si Ibu tolong ya jangan meresahkan. Intinya sekarang kita semua berpencar. Biar Saya sama temannya saya Rizky, turun ke bawah buat laporan ke penjaganya. Gimana? Okey ya!” ucap Fahri yang sedari tadi hanya memerhatikan.

Sesaat setelah Fahri dan Rizky berlalu meninggalkan kerumunan, kini Aldo mulai memimpin untuk mencari anak tersebut.

“Okey, sekarang Ibu bisa jelaskan ciri-ciri anaknya,” ujar Aldo.

“Anak saya perempuan, umurnya sekitar 9 tahunan. Tadi dia pake celana item sama baju banana. Kalo kurang jelas ini fotonya. Gimana cantikan anak saya? Ya iyalah nurun dari Ibunya” ucap si Ibu.

“Gak nanya juga kali!” celetuk salah satu pengunjung yang ikut juga berkerumun.

“Okey sekarang kita berpencar, kalo udah ada yang nemu langsung bawa ke tempat ini” ujar Aldo dengan tegas.

Seorang anak dengan paras yang cantik, memakai baju banana yang sedang trend dengan celana hitam belum juga ditemukan oleh lebih dari tiga puluh orang yang mencarinya.

Sudah banyak para pengunjung yang tidak lagi perduli pada anak yang kini berumur sembilan tahun tersebut. Begitu juga dengan si tiga sekawan yang sudah merasakan peluh di sekujur tubuhnya.

“Kayaknya bener deh anak itu dijadiin tumbal sama penghuni sini, atau juga diculik ama wewe gombel” ujar Aldo yang memepercayai ucapan salah satu pengunjung tadi.

“Masa wewe gombel nyuliknya pagi sih” tutur Rizky.

“Mungkin hantunya kebagian sip pagi kali, jadi nyuliknya pagi,” ucap Fahri mencairkan suasana.

“Ya udah sekarang daripada debat mending kita nyari ke bawah. Toh kita dari tadi nyari di atas sini gak ada,” ujar si Ibu tersebut.

Rintikan hujan semalam membuat tanah sedikit licin. Pelan-pelan kami lewati turunan. Saling berpegangan satu sama lain.

“Restu… Restu…. dimana kamu Nak!” Teriak semua orang yang mencari anak tersebut.

“Udah di cari kemana-mana tetep gak ada, udah ah gua capek!” ujar salah satu pengunjung yang sedang mencati anak tersebut.

“Iya ya aku juga capek!”

“Ya udah deh, saya juga mau pulang!

“Ya sudah, saya duluan ya!”

Kini hanya tersisa Aldo, Rizky, Fahri, dan kurang lebih sepuluh orang lagi yang masih bertahan mencari Restu. Walau sudah mencari kemana-mana, masih belum ditemukan.

Di parkiran, tak begitu banyak yang memarkirkan mobil di sana. Hingga dengan sangat jelas terlihat mobil Toyota All New Voxy terparkir diantara mobil-mobil. Terlihat dari kejauhan seorang anak turun dari mobil tersebut.

Dengan wajah yang sama seperti dalam foto si Ibu yang kehilangan anaknya. Juga baju banana dilengkapi celana hitam. Terlihat anak yang selama berjam-jam dicari, baru saja turun dari mobil tersebut.

“Loh Mah, kenapa banyak yang manggil-manggil nama Restu?” tanya anak itu pada ibunya denga polos.

“Loh Restu, kamu dari mana aja Nak!” Ujar si Ibu seraya berlari menghampiri anaknya.

“Restu dari tadi ada di mobil kok Mah,” ujar Restu.

“Haduh, kok kamu gak bilang sama Mamah sih!” Tutur si Ibu sedikit membentak.

“Lah Mamah sih, beli pop mie aja lamanya kayak lagi ngerumpi,” ucap Restu memasang wajah cemberutnya.

“Iya sih, tadi Mamah sempet ketemu sama temen Mamah dulu” tutur si Ibu dengan polosnya.

Hadeuh Ibu sama anak sama-sama meresahkan,” celetuk Rizky mengalihkan pandangan semua orang.

“Shut!” Ujar Aldo dengan jari telunjuknya memanjang menghalangi bibirnya, “Alhamdulillah kalo ternyata anaknya gak ilang,” tutur Aldo lega.

“Wadidaw! Sekarang udah jam 9. Mampus deh, kita telat liat sunrisenya!” ucap Fahri sembari melihat jam hitam mengkilap yang melekat di pergelangan tangannya.

“Aduh, untuk semuanya saya minta maaf ya, udah ngerepotin kalian nyari anak saya,” ujar si Ibu malu.

“Ya udah gapapa. Sekarang kita bisa bubar. Dan untuk para pengunjung silahkan nikmati lagi pemandangan-pemandangan di Pamoyanan ini.” tukas sang penjaga Pamoyanan yang sedari tadi hanya memerhatikan.

“Eh tunggu kalian bertiga!” Teriak si Ibu pada Aldo, Fahri dan juga Rizky.

“Makasih banget ya. Kalian sangat antusias sekali mencari anak saya! Sebagai imbalannya kalian mau apa?” Tanya si Ibu.

“Hm… Boleh tuh. Beliin kita pop..” ujar Rizky.

“Enggak perlu kok Bu, Kita ikhlas nolong Ibu. Toh yang nyariin anak Ibu bukan kita aja kan,” potong Aldo seraya menutup mulut Rizky dengan kedua tangannya.

“Yaudah kita mau balik lagi ke atas ya Bu. Mari,” ucap Fahri sembari menarik tangan Rizky yang masih mengharapka imbalan.

Meninggalkan momentum sunrise juga lautan awan tidak membuat Aldo dan Fahri kecewa, mungkin sedikit bagi Rizky yang masih mengharapakan imbalan. Mungkin besok atau lusa mereka bisa kembali untuk menikmati pemandangan indah ‘negeri di atas awan tanah Pasundan’.

Peristiwa anak hilang, cukup menambah pengalaman baru mereka sesaat melakukan hobinya. Kini hanya pemandangan rumah yang terhampar luas juga sepetak sawah yang menghiasi pemandangan di puncak bukit Pamoyanan, karena lautan awan yag berarak telah berlalu.

***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Visited 17 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan