Sendiri_Siska Jamilatullatifah_SMPN 1 Cisalak

Foto-siska.jpeg

Sendiri

Di dalam kamar yang didominasi warna merah muda itu, tampak seorang gadis berambut sebatas pinggang sedang berdandan di depan cermin. Setelah merasa cukup puas dengan penampilannya, ia pun keluar kamar dan menuju ke ruang makan untuk sarapan. Saat sampai di ruang makan, yang ia lihat hanyalah makanan-makanan yang tersedia, tidak ada orang tua atau pun anggota keluarga lainnya. Pemandangan biasa bagi gadis itu, Alexa namanya.

“Mbak Alexa sudah siap? Itu Mang Ujang udah nunggu di depan,” ucap Bi Sumi, asisten rumah tangga di rumahnya.

“Iya Bi, tapi Alexa nyetir sendiri ko. Ya udah, Alexa pamit ya,” jawab Alexa sambil berpamitan.

Bi Sumi pun hanya mengangguk sebagai jawaban.

Alexa berjalan menuju garasi di rumah mewahnya itu. Setelah sampai, ia menyapa mang Ujang yang sedang memanaskan mesin mobil, sopir pribadi keluarganya.

“Mang, Alexa bawa mobil sendiri dulu ya hari ini,” ucap Alexa.

“Baik Mbak, ini kunci mobilnya.” jawab mang Ujang.

Alexa pun berangkat menuju sekolah. Saat tiba di sekolah, ia pun memarkirkan mobilnya di parkiran khusus mobil. Setelahnya, Alexa berjalan menuju kelasnya, kelas 11 IPA 2. Ia masuk kelas unggulan, karena ia pintar.

Alexa berasal dari keluarga dengan ekonomi berlebih, semua fasilitas ia dapatkan, semua yang ia mau akan ia dapatkan dari orang tuanya. Namun hanya satu yang Alexa tidak dapat, kasih sayang. Dari kecil hingga dewasa ini, Alexa tidak pernah merasakan  kasih sayang dari orangtuanya. Mereka selalu saja sibuk bekerja.

Saat tiba di kelas, tampak teman-temannya sedang asyik bercengkrama. Saking asiknya, sampai tidak menyadari kehadiran Alexa.

“Kalo ga pinter sama kaya raya mah, ogah gue temenan sama dia,” ujar salah satu temannya.

Alexa terkejut mendengarnya, meski ia sudah terbiasa mendapat fake friend seperti itu. Bahkan sejak ia duduk di bangku SMP dulu.

“Eh, si Alexa udah dateng tuh. Gimana kalo kedengeran,” bisik salah satu temannya kepada yang lainnya.

“Wah, Alexa udah dateng. Udah ngerjain tugas dari Pak Heru belum?” celetuk salah satu teman terdekatnya, Clara.

“Belum.” jawab Alexa. Ia tau, Clara pasti akan meminta contekan kepadanya.

“Yah…gimana dong,” ucap Clara.

Alexa hanya menaikkan kedua bahunya.

Tidak lama kemudian, guru PKN mereka, Pak Heru, memasuki kelas. Setelah membuka pelajaran dengan mengabsen dan berdoa, beliau pun memeriksa tugas.

“Yang sudah mengerjakan PR, silakan kumpulkan ke depan.” ujar Pak Heru.

Lantas Alexa dan beberapa siswa lain maju ke depan. Saat kembali ke mejanya, ia mendapat sorot mata tajam dari Clara.

“Bisa-bisanya lo bohongin gue, awas aja lo.” ucap Clara dengan nada penuh ancaman.

“Yang belum mengerjakan PR yang saya berikan, silakan mengerjakan tugas tambahan,” ucap Pak Heru.

Hanya tiga orang yang belum mengerjakan tugas, ketiga orang itu pun harus mengerjakan tugas tambahan yang cukup banyak, termasuk Clara.

***

Bel pulang sekolah berbunyi. Guru yang sedang mengajar pun menghentikan kegiatannya lalu mempersilahkan murid-murid untuk pulang. Setelah membereskan alat tulis, Alexa pun bangkit dari duduknya lalu pamit kepada gurunya.

Saat di depan ruangan kelas, ia diam sejenak untuk menunggu seseorang. Tidak lama kemudian, akhirnya orang yang ia tunggu keluar kelas, Clara. Ya, Alexa menunggu Clara untuk membicarakan sesuatu.

“Clara,” sapa Alexa.

“Apa? Udahlah males gue ngomong sama lo.” Clara hendak pergi, Namun Alexa menahannya .

“Dengerin dulu, maaf soal ta…,” ucapan Alexa terpotong karena Clara pergi begitu saja.

Memang sedari istirahat tadi, Clara berpindah duduk, dan juga selalu menghindar darinya. Padahal cuma gara-gara gak dikasih tugas, pikir Alexa. Kini, ia tidak memiliki teman lagi.

“Sudahlah, sendiri lebih baik,”’batin Alexa. Ya, begitu banyak orang-orang di sekelilingnya, namun ia kerap merasa sendiri.

***

Jam menunjukkan pukul 10.00 Alexa belum tertidur, ia sedang over thinking. Alexa memang sering begitu. Ia sangat rindu Ayah dan Bundanya, sudah dua Minggu tidak pulang. Mereka berada di luar kota karena urusan bisnis.

Alexa ingat, sebentar lagi pembagian rapor. Sudah dua kali, yang mengambil rapor ke Sekolah adalah Bi Sumi. Karena kedua orang tuanya tidak ada yang berkenan mengambil ke sekolah, dengan alasan sibuk karena urusan kantor. Aktifitasnya terhenti ketika mendengar suara bel rumahnya.

“Gak biasanya ada tamu di larut malam gini,” ujarnya.

Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya. Alexa pun membuka pintu, ia sangat terkejut mendapatkan sang bunda yang berada di ambang pintu.

“Bunda… Alexa kangen,” ucap Alexa yang langsung memeluk Bundanya. Bundanya pun membalas pelukannya.

“Apalagi Bunda, sayang, ” jawab bundanya, Mirna.

“Bunda udah dua Minggu loh ninggalin aku,” ucap Alexa lagi.

“Bunda juga begini demi kamu.” jawab Mirna.

Alexa melepas pelukannya.

“Tapi bukan ini yang Alexa mau, Alexa cuma mau bunda diem dirumah, Alexa kesepian. Lagian kalaupun cuma Ayah yang kerja, kan cukup buat menghidupi kita.” ujar Alexa.

“Bukan itu masalahnya sayang, bunda jenuh aja kalo cuma diem di rumah, kamu tau sendiri kan kalo bunda gak bisa punya anak lagi,” ucap Mirna.

“Terus, Bunda pikir aku selama ini gak jenuh sama kesepian? Punya orang tua tapi berasa gak punya orang tua,” Alexa mengeluarkan unek-uneknya.

“Alexa, jaga omongan kamu. Ayah sama Bunda begini juga demi kamu!” ucapnya dengan nada yang sudah dinaikkan satu oktaf. “sudahlah Bunda capek, baru pulang malah diajak berantem.” ucap Bundanya lalu meninggalkan Alexa begitu saja.

Alexa menutup pintu kamarnya.

“Aku gak butuh harta yang berlimpah, aku cuma butuh kasih sayang dari kalian aja.” ucap Alexa lirih.

Alexa mengembil buku diarinya, lalu menuliskan kejadian-kejadian yang ia alami di hari ini. Ia memang seringkali menuliskan kejadian-kejadian yang ia alami di buku diarynya itu.

***

Beberapa hari ini Alexa tidak masuk sekolah. Kepalanya terasa pusing dan badannya menggigil. Ia pun pergi ke dokter diantar Mang Ujang. Dokter pun menyarankan agar Alexa dirawat di rumah sakit. Kedua orang tuanya belum mengetahui kejadian ini.

Beberapa hari kemudian, ibunya pulang dari pekerjaannya dan kaget mendapati sang anak tidak di rumah. Ia pun segera menyusul ke rumah sakit saat mendapat kabar dari Bi Sumi. Di ruangan yang didominasi putih itu, ia menangisi putrinya. Ia sangat terpukul melihat putri semata wayangnya terbaring lemah.

Sejenak sebelum pergi ke rumah sakit, betapa terkejutnya ia ketika melihat isi diary Alexa yang tergeletak di kamarnya, penuh dengan isi hati Alexa.

“Bunda menyesal, sayang. Bunda gak tau kamu begitu kesepian dan menderita,” batinnya.

Setelah dua minggu lebih dirawat di rumah sakit, Alexa pun diperbolehkan pulang. Bunda Alexa memutuskan untuk berhenti bekerja karena ingin fokus kepada kesembuhan putrinya. Sekarang Alexa memiliki banyak waktu bersama kedua orangtuanya. Meski ia belum sepenuhnya pulih, tapi ia merasa bahagia. Inilah yang ia harapkan sedari dulu. Kebahagiaannya pun bertambah tatkala Clara dengan tulus meminta maaf dan menjenguknya ke rumah.

***

 

 

 

 

 

 

 

 

(Visited 18 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan