Penampakan Corona_Siti Aisah_SMPN 1 Cisalak

foto-aisah.jpeg

Penampakan Corona

Pemandian kolam air panas Sari Ater. Warga Subang mana yang tak mengenal tempat tersebut. Hampir semua orang, bahkan di luar Subang pun sudah tak asing lagi saat mendengar tempat itu. Terletak di Jalan Raya Ciater, Kecamatan Ciater Subang, tempat tersebut selalu ramai akan pengunjung yang datang untuk sekedar relaksasi atau menghabiskan waktu bersama keluarga.

Seperti halnya Reza. Hari ini ia bersama teman dan keluarganya akan pergi berendam di pemandian tersebut. Meski sedang pandemi seperti ini, mereka tetap semangat untuk pergi berlibur dengan tak lupa menerapkan protokol kesehatan.

Saat hendak pergi, Reza masih belum bangun, padahal alarmnya telah berbunyi berulang kali.

“Si Reza Icung sama Nana mana sih? Lama banget,” Jeno berbicara sendiri saat ia menunggu kedatangan Reza dan Nana di pos ronda bersama ibunya yang tengah sibuk memainkan ponsel.

“Icung, Icung, nama aku tuh Reza bukan Icung!” ucap Reza yang saat itu tiba-tiba datang bersama Nana dan orangtuanya.

“Akhirnya muncul juga. Idung kamu tuh mancung Za, jadi ya udah aku panggil aja Icung alias Si hidung mancung,” ujar Jeno.

“Oh iya dong, kan Reza tuh keturunan Turki jadi pantes aja idungnya mancung,” ucap Reza menyombongkan diri.

“Turunan kidul kali ah,” ujar Nana meledek.

“Eh, balita jaman sekarang udah pinter banget ya ngomongnya,” ucap Reza dengan tatapan matanya yang tajam. Nana itu baru berumur tujuh tahun, Reza dan Jeno sudah berumur dua belas tahun, jadi tak heran jika Reza berkata seperti itu.

 

Setelah semuanya berkumpul dan dirasa tak ada barang yang tertinggal, mereka pun pergi berangkat menggunakan mobil keluarga Jeno. Meski sesak di dalamnya, tapi itu adalah hal yang sangat mengasyikkan menurut mereka.

Tak sampai dua jam di perjalanan, mereka sudah sampai di tempat pemandian tersebut. Tempat parkir mobil yang luas saat itu sangat ramai meski sedang pandemi seperti ini. Tanpa menunggu lama lagi, setelah memarkirkan mobil mereka pun bergegas menuju tempat pembelian tiket. Tak lupa, mereka dicek suhu tubuh terlebih sebelum masuk ke dalam.

Terpukau. Ya, Reza memang selalu terpukau saat masuk ke tempat itu. Meski ini sudah ke sekian kalinya ia mendatanginya, tetap saja Reza selalu dibuat terpukau dengan pemandangan hamparan kolam panas yang menyejukkan mata. Apalagi Nana, ia sangat bersemangat saat melihat ada wahana sepeda air di sana.

“Kita simpen barang di sini aja,” ujar Ibu Jeno saat mereka sudah sampai di bawah pohon rindang. Ibu Nana dan Reza hanya mengangguk mengiyakan.

Mereka pun memilih menggelar karpet saat itu. Tempat itu tak jauh dari tempat wahana sepeda air. Itu membuat Nana semakin bersemangat, tak sabar ingin menaikinya.

“Nanti aja naik sepeda airnya, kita makan dulu, Mama udah laper nih,” seru Ibu Nana kala ia melihat anaknya yang sudah merengek. Nana yang mendengar hal itu malah menunjukkan muka bad mood-nya. Akhirnya Nana pasrah menurut kepada ibunya. Jika tidak dituruti bisa-bisa ia tak diizinkan untuk bermain bersama Reza dan Jeno selama satu bulan.

Makanan yang disantap saat itu sudah tak tersisa. Mereka hanya membawa bekal makanan untuk satu kali makan saja, jadi kini tak tersisa lagi. Nana yang baru menyelesaikan makannya itu langsung merengek ingin segera menaiki sepeda air berbentuk angsa putih di sana.

“Ya Allah ni anak bontot gak sabar bener, gak mau berendam dulu emang?” tanya ibu Nana menggerutu.

“Gak mau Mah, pengen naik itu,” jawab Nana sambil menunjuk ke arah sepeda air di sana.

“Hadeuh, ya udah deh kalau gitu. Reza sama Jeno mau ikut naik juga?” tanya ibu Nana.

“Mau dong Tante, masa iya gak ikut sih kan Reza sama Jeno juga mau naek, ya kan No?” jawab Reza antusias. Jeno pun mengangguk setuju.

“Ya udah kalau gitu naek sama Reza, Jeno aja ya. Reza sama Jeno harus jagain Nana, dia baru lahir masih bau minyak telon soalnya,” lanjut ibu Nana.

“Mama, anak udah gede gini masa sih dibilang bayi,” seru Nana sambil cemberut.

Setelah mendapat izin orangtuanya, Reza, Nana dan Jeno langsung menghampiri wahana sepeda air itu. Mereka menaiki sepeda berbentuk angsa putih yang sudah diincar Nana dari tadi. Nana yang kegirangan tidak bisa diam saat menaiki sepeda.

“Ni anak kenapa sih gak bisa diem kaya cacing kepanasan. Heh diem napa, nanti jatoh!” ucap Jeno yang sedang mengayuh sepeda dengan Reza di sampingnya. Nana yang masih kegirangan itu masih tak bisa diam. Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba saja Nana yang sedari tadi aktif tidak bisa diam itu mematung seketika.

“Kak Reza, itu apa?” tunjuk Nana kepada salah satu sosok makhluk yang sedang menaiki sepeda air menghampirinya mereka.

“Itu badut kali,” jawab Reza.

“Tapi badut kok kaya beneran idup gitu ya?” tanya Nana masih heran.

“Kaya Corona deh,” celetuk Jeno. Seketika Nana dan Reza menatap Jeno terkejut.

“Ih apaan sih, mana ada Corona segede gajah gitu,” ucap Reza tak terima.

Iya, saat itu mereka melihat sesosok makhluk besar yang berbentuk seperti gambar virus corona di tv-tv sedang menaiki sepeda air menghampiri mereka. Nana yang mendengar hal itu menangis kencang hingga membuat Reza dan Jeno panik.

“Eh, kok nangis? jangan nangis itu cuma badut, si Jeno mah becanda tadi, mana ada Corona segede gitu,” ujar Reza menenangkan Nana yang sudah manangis kencang.

“Cung… cung itu beneran Corona, liat itu banyak yang gak pake masker dibawa sama dia,” ucap Jeno panik. Nana dan Jeno seketika langsung memeriksa masker mereka masing-masing. Mereka sangat lega saat sadar sudah memakai masker.

“Cung, masker kamu mana?” tanya Jeno yang melihat Reza saat itu tak memakai maskernya. Reza yang baru sadar tak memakai masker karena tertinggal saat ia sedang makan tadi malah menangis.

“Aaaa… Reza gak mau dibawa Corona, nanti diisolasi, gak bisa main lagi dong…!!” Reza kini malah merengek.

Mereka bertiga sangat panik, Reza yang terancam ia akan dibawa Corona itu tak bisa diam di atas sepeda hingga ia tak sengaja menyenggol Nana hingga terjatuh.

Reza dan Jeno yang melihat Nana tercebur itu seakan jantung mereka juga ikut tercebur. Mereka sangat terkejut hingga susah untuk berkata-kata saat melihat Nana yang sudah basah kuyup.

“Astaghfirullah Nana.. Mau bunuh diri kamu?!!” teriak Jeno saat itu.

“Ya Allah itu si nana titeuleum, eh tenggelam, eh kelelep, eh duh gusti apa atuh kata yang benernya ini teh!!” teriak Reza tak kalah heboh.

Reza dan Jeno tak tahu harus melakukan apa saat itu. Bukannya menolong Nana, mereka malah berdebat menyalahkan satu sama lain di atas sepeda.

“Gara-gara kamu sih gak bawa masker jadinya kan Nana kecebur!!” bentak Jeno.

“Loh, kok jadi nyalahin Reza?!!” teriak Reza tak kalah lantang dengan rasa tak bersalahnya.

Mereka malah saling adu mulut menyalahkan satu sama lain sampai sepeda airnya bergoyang. Dan tiba-tiba Reza yang kehilangan keseimbangan malah ikut tercebur ke danau yang dalam itu.

“Astaghfirullah!!!” Reza berteriak sambil bangun dari posisi tidurnya saat merasakan badannya kedinginan. Ia melihat ibunya yang berdiri di hadapan Reza dengan gayung di tangannya.

“Mah..! si Nana kecebur Mah aduh gimana ini nanti Mamanya marah sama Reza gara-gara gak jagain Nana!!” Reza masih terbawa suasana.

“Apa sih, si Nana mah ada di rumahnya,” jawab Ibu heran dengan muka menahan tawa melihat ekspresi anaknya.

“Lah, kan tadi lagi naek sepeda air Mah sama Reza sama Jeno juga,” kata Reza masih dengan ekspresi kagetnya.

“Mimpi kali ah. Si Nana mah tuh lagi beli ciloknya Mang Kumis,” jawab sang ibu sambil menunjuk keluar jendela kamar Reza. Seketika Reza langsung melihatnya.

“Alhamdulillah, si Nana masih idup Mah..” ujar Reza sambil tertawa melihat Nana kala itu.

“Ngomong apa sih, Mamah gak ngerti,” ucap ibu sambil melenggang keluar kamar meninggalkan Reza yang masih senyum-senyum sendiri melihat Nana yang sedang jajan cilok.

“Reza.. cepet mandi kan mau ke Ciater..!” teriak ibu dari luar kamar saat itu. Reza yang baru menyadari kejadian tadi adalah mimpi malah tertawa sampai guling-guling di kasurnya yang basah karena tadi disiram air oleh ibunya.

Pagi itu, Reza sudah benar-benar bangun. Dengan tas ransel hitam di pundaknya, ia menghampiri Jeno dan Nana yang sudah menunggu di pos ronda. Reza tak henti senyum-senyum sendiri mengingat mimpi anehnya itu.

“Kenapa sih Za, kaya yang kurang obat tau senyum-senyum sendiri,” tanya Jeno saat itu yang sudah bersiap membawa tasnya.

“Tau gak, tadi Reza mimpi apa?” Reza malah bertanya kepada kedua temannya itu.

“Mana Nana tau, Nana gak bisa baca pikiran,” jawab Nana dengan polos. Reza sekarang malah tertawa kencang mendengar jawaban dari Nana. Ia kemudian menceritakan mimpinya itu kepada Jeno dan Nana.

Seketika Jeno yang mendengar Reza bercerita itu tertawa terbahak-bahak sampai perutnya terasa keram.

“Makanya Za, kamu tuh kalau mau tidur baca doa dulu jangan langsung tarik selimut bobo manis aja,” ucap ibu Reza yang saat itu sudah cantik dengan pakaiannya, membawa tas yang cukup besar berwarna merah muda.

“Lupa Mah, abisnya sih seneng banget karena sekarang mau ke Ciater, jadi ya gitu deh,” jawab Reza sambil memperlihatkan senyum mautnya.

“Masker mana masker Za?” tanya Jeno masih dengan tawanya mengingat mimpi Reza tadi. Reza yang mendengar hal itu langsung mengeluarkan 1 pack masker dari dalam tasnya.

“Ya ampun pantesan dibawa semua, tadi Mama nyariin sampe ke kamar mandi padahal,” seru ibu Reza menepuk jidatnya. Seketika semua orang di sana tertawa melihat tingkah keluarga yang satu ini.

***

 

 

 

 

 

(Visited 25 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan