Obsesi Tiara_SIti Aisah_SMPN 1 Cisalak

foto-aisah.jpeg

Obsesi Tiara

Tiara namanya. Seorang gadis yang duduk di bangku sekolah menengah atas itu selalu mendapat hal buruk setiap harinya. Meski memiliki peringkat pertama di kelas saat SMP, tak mempengaruhi sikap orang-orang di sekelilingnya. Kerap mendapat ucapan-ucapan tak mengenakan untuk didengar, tetapi ia selalu berusaha untuk bersabar menghadapi hal tersebut. Ia mengakui, penampilannya memang berbeda dengan teman-temannya: berkulit gelap, bertubuh gempal dengan deretan gigi gingsul saat ia tersenyum.

Jarak dari rumahnya ke sekolah tak begitu jauh. Jadi, hari ini Tiara berjalan kaki ke sekolah bersama Sindy, tetangga sekaligus teman dekatnya sejak kecil. Ini adalah hari pertama mereka duduk di bangku SMA. Saat sampai di sekolah, mereka langsung berjalan menuju papan pengumuman mencari tahu di mana letak kelas mereka. Kerumunan siswa baru saat itu cukup banyak di depan papan pengumuman, jadi ia harus berdesak-desakan mencari namanya di selembar kertas yang tertempel di papan itu.

“Ih, diem napa!” ucap salah seorang anak laki-laki yang tak sengaja tersenggol oleh Tiara. Tiara yang mendengarnya langsung melangkah mundur, tak ingin membuat orang lain terganggu. Ia terpaksa menunggu sampai kerumunan itu sedikit berkurang.

“Anak baru ya?” tiba-tiba seorang perempuan bertubuh tinggi dan ramping bertanya kepada Tiara.

“Eh, iya,” ucap Tiara dengan seulas senyum.

“Oh, pantesan,” ucapnya sambil memalingkan wajah.

“Saya Tiara,” ucap Tiara memperkenalkan diri sambil menjulurkan tangannya.

“Eh sorry, gak sudi gua kenalan sama anak kaya lo,” ujarnya sambil berlalu pergi meninggalkan tempat itu.

Tiara yang berusaha sabar hanya tersenyum hambar. Hatinya seakan teriris bilah bambu. Sakit sekali.

Tak lama kemudian, setelah orang-orang di tempat itu sudah berkurang, Tiara dan Sindy mencari namanya di papan pengumuman. Mereka menemukan namanya setelah beberapa saat matanya bergerak kesana kemari. Namun sayang sekali, kali ini mereka berdua tidak satu kelas. Tiara masuk kelas X IPA 2, sedangkan Sindy masuk kelas X IPA 3. Mereka pun berpisah menuju kelas masing-masing.

Kelas di ujung lorong yang menghadap lapangan basket masih sepi. Saat Tiara masuk ke dalam kelas, baru ada beberapa murid di sana.

“Hey, sini!” sahut salah seorang murid perempuan yang sedang duduk di bangku kedua dari depan. Tiara yang merasa panggilan itu untuk dirinya menghampiri gadis tersebut.

“Udah dapet tempat duduk?” tanyanya.

“Lah, dia baru masuk kelas tau, udah ditanya gitu,” ucap teman di sampingnya.

“Eh iya ya, duh dasar istrinya Park Seo-joon,” ujarnya sambil menepuk jidat.

“Sini aja duduknya, masih kosong kok kursinya,” ujar gadis itu. Tiara hanya mengangguk kepadanya.

“Kenalin, aku Farra istrinya Song Jong-ki,” ucapnya mengulurkan tangan.

“Tiara,” jawab Tiara menyambut uluran tangan itu sambil tersenyum menanggapi candaan teman barunya.

“Eh, tadi ngaku jadi istrinya Park Seo-joon, kok sekarang jadi istrinya Song Joong-ki?” ucap gadis di bangku sebelah.

“Kan suami ku banyak Eonni, jadi wajarlah,” ucap Farra seakan hal itu benar adanya.

“Aku Nuri, istrinya Park Chan-yeol,” ucap gadis di samping bangku Farra itu.

“Eh, eh itu suami ku!!” teriak Farra tak terima.

“Kan suami kamu udah ada, masa iya suami ku direbut juga sih!” jawab Nuri tak kalah lantang. Tiara yang melihat kedua gadis itu berdebat hanya tertawa kecil.

“Kalian suka sama Opa Opa Korea ya?” tanya Tiara yang sudah duduk di bangku depan Farra.

“Banget banget!! mereka tuh penyemangat hari-hariku,” ucap Farra sambil memeluk dirinya sendiri.

“Ih apaan sih, ganjen. Kalau kamu suka juga?” tanya Nuri kepada Tiara.

“Ah, enggak aku gak terlalu suka sama Korea Korea,” ujar Tiara.

“Wah, harus dikasih virus cogan nih, sini-sini aku liatin foto my husband haluku,” ucap Farra bersemangat. Tiara dan Nuri pun mendekat ke bangku Farra.

“Gimana ganteng kan?” tanya Farra dengan senyumnya.

Oh my God, my heart tak kuat melihatnya,” kata Nuri sambil menutupi wajahnya. Tiara hanya tertawa melihat tingkah Nuri.

“Eh, kamu juga suka Lisa Blackpink ya?” tanya Farra antusias saat melihat wallpaper ponsel Nuri yang disimpan di atas meja.

“Iya, kakak pertamaku dia,” jawab Nuri dengan percaya diri.

Tiara yang melihat foto tersebut seketika diam terpana. Sosok wanita dengan wajah cantik dan tubuh ramping itu sangat berbeda dengannya. Tiara yang memiliki badan yang berisi dan tak terlalu tinggi itu merasa seperti angka 0 dan wanita itu angka 1 jika disandingkan.

Insecure. Itu yang Tiara rasakan saat ini, ia mendadak tak menampilkan senyumnya yang sedari tadi terlukis di wajahnya. Ia jadi teringat hal-hal yang ia alami saat ia duduk di bangku SMP. Mendapat cacian karena memiliki wajah bulat penuh, bertubuh gempal dan pendek selalu menjadi bahan bully-an saat itu.

Tiara yang mengingat hal itu tak sadar meneteskan air mata. Farra dan Nuri yang menyadarinya menjadi bingung.

“Eh, kenapa nangis? Farra gak gigit loh?” tanya Farra sambil mendekat ke arah Tiara. Tiara hanya menggelengkan kepala pertanda ia baik-baik saja.

***

Pukul 10.00 pagi, sekolah sudah dibubarkan. Karena itu adalah hari pertama masuk, jadi tak ada kegiatan belajar mengajar. Tiara dan Sindy terlihat senang setelah mereka keluar dari kelas. Mereka pun berjalan beriringan menuju gerbang. Tak sengaja, mereka bertemu lagi dengan gadis tinggi yang tadi mengejek Tiara.

“Eh, ketemu anak kampung lagi,” ucap dia seenaknya. Tiara yang menyadari kata-kata itu ditujukkan untuknya tak merespon apapun.

“Heh, buru-buru amat tunggu napa,” ucapnya sambil menahan tangan Tiara yang hendak pergi. Tiara hanya bisa menunduk ketakutan. Sindy yang menyaksikan hal itu tak tinggal diam melihat sahabatnya diperlakukan seperti ini.

“Lepasin gak!” bentak Sindy.

“Ngapain lagi ni bocah ganggu aja, mentang-mentang temennya,” ucap gadis itu.

Tiara yang mendengar hal itu langsung memberontak melepaskan tangannya dari genggaman gadis itu. Ia langsung bergegas pergi dengan menarik tangan Sindy.

Ketika sampai di rumah, Tiara langsung masuk ke kamarnya, mengurung diri seharian. Ia masih sakit hati dengan kejadian tadi di sekolah. Di dalam kamar ia duduk termenung di meja belajarnya yang dipenuhi buku-buku sambil menopang wajahnya di kedua tangannya. Sesekali ia teringat teman-teman barunya, Farra dan Nuri yang amat  menyukai artis-artis Korea.

Mengingat mereka berdua, Tiara jadi teringat akan sosok perempuan yang dijadikan Nuri sebagai wallpaper ponselnya, yaitu Lisa Blackpink. Karena rasa penasarannya tak terbendung lagi, ia kemudian meraih ponselnya lalu mencari tahu siapa itu Lisa.

Tiara semakin iri saat ia melihat foto wanita itu. Berwajah cantik, dengan postur tubuh tinggi dan ramping membuat Tiara semakin ciut, tidak percaya diri. Ia kemudian berfikir, bagaimana jika ia memiliki wajah dan tubuh yang sama seperti kebanyakan artis Korea? apakah Tiara akan dihargai? apakah ia tak akan di-bully lagi? Hal itu terus berputar di kepala Tiara. Hingga ia pun memutuskan untuk menjadi seperti Lisa, itu yang ia niatkan saat ini.

Berolahraga secara rutin, makan teratur, hingga mengatur pola tidurnya yang tak menentu, Tiara lakukan. Meja belajar yang dulu dipenuhi dengan buku-buku kini dipenuhi alat make up. Ia jadi lebih banyak mengoleksi alat make up dibanding mengoleksi buku novel atau buku pelajaran.

“Kakak, ada paket…!” teriak Ara, adik Tiara dari ruang tamu. Tanpa berlama-lama Tiara langsung menuju ke luar mengambil paket tersebut.

“Kakak beli make up lagi?” tanya sang adik sambil memakan cemilan di depan TV.

“Kepo!” jawab Tiara ketus.

“Kakak tau gak, uang Ibu yang di tabungan ada yang ngambil 200 ribu, padahal uangnya buat beli beras sama bayar utang ke Pak Ahmad,” ujar Ara dengan tatapan fokus ke layar tv. Tiara yang mendengar hal itu sontak menghentikan langkahnya. Ia mendadak berkeringat dingin seketika.

“Iyakah? Ibunya aja kali yang lupa nyimpen,” ujar Tiara, kemudian ia bergegas masuk ke dalam kamarnya.

Di dalam kamar, ia jadi merasa bersalah. Uang yang ia gunakan untuk membeli make up ini adalah uang tabungan ibu. Tiara sangat ingin membeli make up dan baju-baju ala korea tetapi, ia tak punya uang. Jadi terpaksa ia mengambil uang tabungan ibunya diam-diam saat sang ibu sedang berada di kamar mandi.

Malam sudah larut, namun Tiara masih tak bisa memejamkan matanya. Ia pun pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Saat ia melewati kamar ibu dan ayahnya, ia tak sengaja mendengar suara ibunya yang terisak.

“Tiara lebih sering ngabisin waktu buat nonton drama-drama Korea daripada belajar, lebih boros ngabisin uang buat beli make up karena Ibu Yah, Ibu gak bisa mendidiknya sampe dia berubah kaya gini,” ucap Ibu dengan suara yang terdengar gemetar dari dalam kamar.

Tiara yang mendengar hal itu tak kuasa menahan tangis. Ia semakin merasa bersalah kepada ibunya karena telah mengambil uang tanpa sepengetahuannya. Tanpa berpikir panjang, setelah mengumpulkan keberaniannuya Tiara masuk ke dalam kamar hingga membuat ibu dan ayahnya terkejut dengan kedatangannya. Tiara menangis tersedu-sedu saat ia mengaku bahwa ia sudah mengambil uang tabungan ibunya. Ia juga meminta maaf karena selama ini sudah banyak merepotkan keduanya.

Ibu dan ayah Tiara saat itu tak bisa membendung lagi air mata karena kejujuran yang disampaika oleh anak kesayangan mereka. Memang sempat kesal karena putrinya sudah berani mengambil uang tanpa sepengetahuan orang tuanya. Namun sekesal apapun orang tua pasti memaafkan kesalahan anaknya. Begitupun kedua orang tua itu, sudah memaafkan Tiara dengan lapang dada. Dengan syarat, dirinya tidak akan melakukan hal itu lagi.

Mulai sekarang, Tiara berjanji ia tak akan lagi terobsesi untuk memiliki tubuh ramping dan berwajah cantik seperti artis-artis Korea. Karena ibunya pernah mengatakan, apapun yang diberikan Yang Maha Kuasa itu adalah anugerah, tentu kita harus mensyukurinya.

***

(Visited 13 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan