Kepedihan Reina_Hazna Bilbina Sopandi_SMPN 1 Cisalak

Foto-hazna.jpeg

Kepedihan Reina

Di pagi hari yang indah, seorang gadis cantik bernama Reina sedang bersiap berangkat ke sekolah. dia sedang berdandan di depan cerminnya. Dia menyisir rambutnya dengan sangat rapi dan membedaki tipis-tipis wajahnya. Setelah dia puas dengan penampilannya, dia pun segera pergi ke ruang makan untuk sarapan bersama ayah dan ibunya.

“Selamat pagi Sayang, ayo makan dulu!” sapa ayah dan ibunya ketika dia sampai di ruang makan.

“Pagi juga Ayah, Ibu,” balas Reina sambil mencium pipi keduanya.

Keluarga Reina terlihat sangat harmonis, ayah dan ibunya selalu mengajarkan Reina arti kasih sayang yang tulus. Segala cinta dan kasih sayang dicurahkan orang tuanya hanya kepada Reina seorang.

Setelah selesai makan, Reina pun diantarkan ke sekolah oleh sopir keluarga pribadinya yaitu pak Ahmad.

“Tumben pagi-pagi udah berangkat Neng ?” tanya pak Ahmad heran.

“Lagi pengen berangkat pagi aja Pak,” ucap Reina sembari tersenyum. Pak Ahmad pun hanya mengangguk.

Sesampainya di sekolah, Reina pun segera duduk di bangkunya, terlihat sahabat Reina, Salwa, sedang duduk sambil membaca buku. Ketika melihat sahabatnya tersebut sudah datang, Salwa pun menyimpan bukunya lalu menyapa Reina.

“Pagi Rei, tumben kok jam segini udah dateng? Biasanya suka agak siangan kamu dateng,” ucap Salwa heran.

“Pagi juga, lagi pengen aja,” jawab Reina.

“Oh…. Eh iya, kamu udah belajar belum buat ulangan besok?” tanya Salwa.

“Yahh, aku lupa Sal, ih lemot banget otak aku ini dikit-dikit lupa, dikit-dikit lupa, makasih ya dah diingetin,” ucap Reina sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Tuhh kan kamuuu…, untung aku ingetin. Coba kalo aku ga ingetin, kamu bisa-bisa dapet nilai jelek lagi kaya waktu itu loh Rei,” ucap Salwa.

Ya, Salwa adalah sahabat Reina yang sangat perhatian, selalu ada untuk Reina dalam keadaan apapun,  dan yang paling penting kalo sifat lupa nya lagi kumat, Salwa yang selalu ngingetin Reina.

***

Malam pun tiba, kini Reina sedang belajar untuk ulangan besok di dalam kamarnya. Berkali-kali dia membolak-balik halaman di dalam buku nya. Dia sangat fokus belajar agar bisa mendapat nilai yang bagus. Ketika sedang fokus-fokusnya belajar, terdengar dari luar kamarnya suara dua orang sedang bertengkar. Karena penasaran, Reina pun keluar kamar lalu mencari asal suara tersebut.

Ketika melewati kamar kedua orang tua nya, Reina melihat kedua orang tuanya sedang berdebat. Reina pun menghampiri mereka.

“Ibu, ayah, kalian kenapa?” tanya Reina tiba-tiba. Ibu dan ayahnya yang melihat Reina datang pun kaget.

“Tidak apa-apa Sayang, kamu lanjutin belajar aja ya,” ucap ibunya.

“Kamu belajar aja ya, ini urusan orang tua,” ucap ayahnya.

“Tapi kenapa kalian bertengkar?” ucap Reina sambil menahan air yang hendak keluar dari matanya.

“Jangan nangis Sayang, ga apa-apa kok, cuman masalah kecil, kamu belajar aja dulu ya,” ucap ibunya sambil memeluk Reina dan menenangkannya.

Reina pun terpaksa keluar dari kamar ayah dan ibunya, walau dia penasaran tentang masalah apa yang membuat ayah dan ibunya bertengkar. Dia mengerti bahwa itu urusan orang tua dan dia berharap agar masalah itu bisa diselesaikan dengan baik.

Di dalam kamar Reina melamunkan  kejadian yang terjadi pada ayah dan ibunya tadi, hingga dia tidak fokus kepada pembelajarannya, hingga akhirnya dia tertidur.

Keesokan harinya seperti biasa dia sedang berdandan di depan cerminnya karena akan bersiap berangkat ke sekolah. Setelah rapi dia pun pergi menuju ruang makannya.

Saat sampai di ruang makan, dia tidak melihat pemandangan pada pagi hari seperti biasanya. Biasanya ketika dia tiba di ruang makan, dia melihat ayah dan ibunya menyambut dirinya dengan senyuman. Namun tidak pada pagi hari ini, terlihat muka kedua orang tuanya sangat murung, pucat, dan nasi dibiarkan saja di atas piring.

“Pagi ayah, ibu, kenapa belum pada makan?” tanya Reina.

Ibu dan ayahnya hanya melamun dan tidak menjawab pertanyaan Reina.

“Ibu, ayah, kenapa kalian tidak menjawab?” ucap Reina sambil menepuk pundak kedua orang tua nya.

“Kamu makan duluan saja, ibu makannya nanti saja, ibu mau berangkat kerja sekarang,” ucap ibunya sambil meninggalkan meja makan. Dan begitu pun dengan ayahnya, nasi dibiarkan diatas piring lalu pergi begitu saja.

Reina merasa aneh melihat kedua orang tuanya, dia ingin tahu apa masalah yang dihadapi orang tuanya, tapi itu mungkin urusan orang tua jadi dia tidak berhak tau. Selesai makan, Reina pun seperti biasa diantar ke sekolah olah sopir keluarganya.

Di perjalanan, Reina yang biasanya banyak bicara dan selalu menceritakan apapun kepada pak Ahmad, mendadak diam seribu bahasa. Sikap aneh yang terjadi kepada Reina tersebut, membuat pak Ahmad heran kepadanya. Tapi pak Ahmad tidak berani bertanya.

Ketika sudah sampai di sekolahnya pun, Reina hanya bisa melamun. Karena merasa ada yang aneh terhadap sikap sahabat nya itu, Salwa pun memberanikan bertanya kepada Reina.

“Rei, kamu kenapa sih? Gak kayak biasanya, biasanya kamu dateng langsung nyapa aku, terus cerita-cerita sama aku. Ini kamu malah ngelamun aja, terus muka kamu aga pucet, kamu sakit ya Rei?” ucap Salwa.

“Gapapa kok Sal, aku baik-baik aja,” ucap Reina.

“Cerita dong sama aku kalo kamu ada masalah,” tawar Salwa.

“Nggak, makasih ya Sal,” ucap Reina menolak.

Ketika sedang istirahat pun Reina hanya bisa melamun, sebuah perubahan yang sangat drastis terjadi pada diri Reina. Reina yang biasanya ceria, sekarang jadi lebih sering melamun, menangis, dan menyendiri.

***

Hari-hari pun berganti. Semakin hari orang tua Reina semakin sering sekali bertengkar, bahkan mereka sudah mulai pisah rumah. Begitu pun dengan Reina, semakin hari kondisi psikis dia terganggu. Reina jadi mudah marah, malas belajar, lebih sering melamun dan menyendiri.

Orang-orang terdekat Reina pun seperti Salwa dan pak Ahmad merasa kasihan kepada Reina, walaupun mereka sudah menghibur Reina dengan segala cara, tapi tetap saja tidak berhasil. Sikap Reina berubah 180 derajat semenjak orang tuanya sering bertengkar dan Reina kekurangan kasih sayang.

Di pagi hari ini, karena ini hari minggu dan sekolahnya sedang libur,  seperti biasa Reina sedang menyendiri di kamarnya sambil menghibur dirinya sendiri dengan membaca buku. Biasanya ketika hari libur seperti ini, orang tuanya selalu mengajak Reina untuk jalan-jalan kemana pun yang Reina sukai, tetapi semenjak kejadian yang tidak mengenakan itu, orang tuanya tidak pernah mengajak Reina untuk jalan-jalan lagi. Sang Ibu sudah pindah ke rumah barunya, dan ayahnya juga sudah pindah ke rumah lain. Sekarang, Reina di rumah hanya tinggal dengan Bik Inah, asisten rumah tangganya. Kadang neneknya datang ke rumah Reina sepekan sekali.

“Neng Reina, ayo keluar makan dulu yuk!” ajak seseorang dari luar kamarnya yaitu Bik Inah, orang yang merawat dia sejak kecil kalau ibunya sedang tidak sempat mengurus dia.

“Ehh Bik, nanti aja aku belum laper,” ucap Reina.

“Ayo makan dulu, Bibi gak mau nanti Neng sakit,” ucapnya.

Akhirnya dengan terpaksa Reina menuruti permintaan Bik Inah. Ketika sedang makan tiba-tiba tantenya datang ke rumah Reina. Tante Reina itu bernama Isabella, tapi Reina sejak kecil memanggil nya dengan sebutan “bunda”.

“Assalamualaikum, Reinaa sini!” panggil tantenya ketika menghampiri Reina.

“Bundaaa!” teriak Reina sambil berlari menuju tantenya kemudian memeluknya dengan sangat erat. Wajahnya mulai terlihat senang melihat tantenya datang ke rumah.

“Sayang, Bunda kangen banget sama kamu,” ucap tantenya sambil membalas pelukan Reina.

“Aku juga kangen,” ucap Reina.

“Eh bunda bawa hadiah loh buat kamu, sini Sayang,” ucap tantenya sambil memberikan hadiahnya kepada Reina. Ketika hadiah tersebut dibuka, terdapat sebuah jam tangan yang Reina inginkan semenjak dulu, tetapi ayah dan ibunya belum sempat memberikannya. Reina pun sangat senang dan berterimakasih kepada tantenya tersebut.

“Oh iya sayang, Bunda mau bicara sama kamu,” ucap tantenya.

“Iya, bunda mau bicara apa?” tanya Reina.

“Jadi kan, selama hampir satu bulan ini, orang tua kamu udah ga tinggal bersama lagi. Kemarin ibu kamu nelpon ke bunda, kalo ayah sama ibu kamu udah cerai Nak, terus ibu kamu nyuruh kamu buat tinggal sama bunda, gimana? kamu mau kan?” ucap tantenya.

“Cerai? e-em iya bun, aku tinggal sama bunda aja,” ucap Reina sambil menahan tangisnya.

“Ehh sayang jangan nangis, bunda akan selalu ada buat kamu, udah jangan nangis ya, mending kamu sekarang beres-beresin barang kamu ya,” ucap tantenya, “nanti Bik Inah dan pak sopir dipindahin kerja ke rumah bunda sayang, tenang aja, eh sebentar kok badan kamu panas sih? Kamu sakit ya? Ke rumah sakit dulu ya sayang yuk, takut kamu kenapa-napa,” ucap tantenya khawatir. Reina pun hanya bisa tersenyum lesu. Tantenya pun segera mengantarkan Reina ke rumah sakit dan menelpon orang tuanya untuk datang menengok Reina.

“Sayang, kamu gapapa kan?” tanya ibu dan ayahnya khawatir ketika sampai di rumah sakit.

“Ayah, ibu, aku gapapa kok,” ucap Reina sambil tersenyum lesu.

“Emm, itu siapa ya?” tanya Reina saat melihat seorang wanita berbaju warna hitam dan seorang lelaki yang memakai baju warna hijau.

“Kenalin sayang, ini suami baru ibu, nama nya pak Rayn kamu bisa panggil Papa aja yah,” ucap ibunya.

“Terus ini istri baru ayah nama nya bu Mirna, bisa kamu panggil mama aja ya,” ucap ayahnya.

Reina yang mendengar itu pun terkejut, tapi dia hanya bisa ikhlas atas semua kejadian yang telah menimpa dirinya.

***

 

 

(Visited 10 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan