Kegigihan Caroline_Hazna Bilbina Sopandi_SMPN 1 Cisalak

Foto-hazna.jpeg

Kegigihan Caroline

 

“Assalamualaikum. Anak-anak, Ibu hanya ingin mengumumkan kalau mulai besok akan libur sekolah selama 14 hari. Tetapi kalian tetap belajar di rumah dengan menggunakan moda daring, yaitu belajar secara online melalui handphone.”

Itulah pesan yang Caroline terima 14 hari yang lalu di grup chat sekolahnya. Dan hari ini ibu gurunya memberikan pesan baru kalau sekolahnya akan libur lagi sampai pemberitahuan lebih lanjut. Caroline,yang sering di panggil Oline itu mulai bosan karena walaupun dia libur sekolah,dia tetap belajar dan tidak bisa pergi keluar rumah. Tidak bisa bermain ke rumah teman-temannya.

Virus covid-19 yang mulai muncul pada akhir tahun 2019 di kota Wuhan negara China ini membuat Caroline harus merubah aktivitas dengan kebiasaan yang baru. Ibunya pun diharuskan untuk bekerja di rumah, dan perekonomian keluarga Caroline mulai menurun, Caroline harus belajar menggunakan ponsel sang kakak karena ponsel miliknya sudah rusak. Dan ayah nya sedang tinggal dan bekerja di kota lain yang cukup jauh.

“Oline, sini hp-nya, Kakak mau ngerjain tugas,” ucap kakaknya, Liana.

“Aku mau belajar Kak, gimana dong?” tanya Caroline.

“Pinjem hp aja sama mama bentar,” jawabnya.

Caroline pun menurutinya.   “Huuuhhh… susah banget kalo mau belajar harus pinjem hp mama atau kakak. Aku harus nabung sendiri buat beli hp, tapi uang dari mana?” ujar Caroline dengan kening berkerut.

***

“Sekarang kita makan seadanya saja ya, jangan yang mahal-mahal. Terus kalo selain kebutuhan pokok, lebih baik kita jangan beli ya, kita utamain kebutuhan yang penting-penting dulu,” ucap ibu menasehati.

Tak tega rasanya Caroline ingin meminta uang kepada ibu nya untuk membeli sebuah ponsel, tapi dia juga harus mengerti kalau perekonomian keluarganya sedang tidak baik, jadi Caroline harus mencari cara agar dia bisa membeli kebutuhannya tapi dari uang hasil diri sendiri.

“Oline, sini!,” panggil kakaknya.

“Kenapa Kak?” tanya Caroline.

“Duduk dulu sini, Mmm… gini Lin, rencananya kakak mau ngajak kamu jualan online, biar kamu bisa beli handphone dan bisa ngeringanin beban mama juga,” ucap kakaknya.

“Jualan online? gimana cara nya kak?” tanya Caroline.

“Pertama-tama kita siapin modal, tentuin barang yang kita mau jual,terus kita promosiin barang yang mau dijual. Kira-kira kita akan jual apa ya?, ” ucap kakak nya.

“Emm, kita harus jual barang yang bener-bener bisa berguna di masa pandemi ini kak!,” ucap Caroline memberi ide.

Setelah mereka berfikir, akhirnya mereka pun memutuskan untuk menjual masker, handsanitizer, face shield,dan barang-barang yang bisa melindungi dari virus covid-19.

“Tapi,modalnya dari mana Kak?,” tanya Caroline.

“Tenang aja, kakak udah siapin modalnya. Kakak punya sedikit tabungan dari sisa uang jajan Kakak. Kita tinggal beli barang-barangnya aja ya. Sekarang kamu beli beberapa masker, sama face shield, kakak beli handsanitizer sama vitamin-vitamin gitu, oke?”

Caroline pun hanya mengangguk dengan sebuah senyum terukir di bibir mungilnya.

***

Caroline dan sang kakak pergi ke pusat perbelanjaan di kota kecil mereka. Banyak orang yang berjualan beberapa barang yang dibutuhkan oleh mereka. Caroline pun mulai membeli beberapa masker, untung harga masker yang mereka butuhkan tidak terlalu mahal jadi tidak mengeluarkan modal terlalu banyak.

“Nahh, jadi kita jual barang ini di aplikasi Shopee, lalu nanti kita promosiin di media sosial oke!,” ucap kak Liana.

“Terus nganterin barangnya gimana Kak?” tanya Caroline.

“Kita paketin lah Dek,” ucap kakak nya. Caroline pun mengangguk dengan mata berbinar.

Mereka pun mulai mempromosikan barang-barangnya di media sosial, dan kakaknya mulai berhasil mendapatkan beberapa konsumen. Alhamdulillah akhirnya mereka mendapatkan pesanan sebanyak 20 masker,dan 12 handsanitizer. Caroline pun dengan cepat mengemas barang-barangnya. Sementara Liana dengan segera mengirimkan barang-barang tersebut melalui paket.

Memang tidak mudah menawarkan barang kepada pembeli. Namun mereka selalu gigih mempromosikan barang dagangannya. Tentu semua itu mereka kerjakan setelah selesai menuntaskan tugas sekolah mereka. Mereka tidak ingin meninggalkan tugas utama mereka yaitu belajar.

Dalam waktu tiga hari mereka berhasil mendapatkan pesanan sebanyak beberapa puluh pesanan. Pembeli-pembeli setia mereka sangat menyukai produk mereka, dan menyukai pelayanannya. Konsumen pun senang karena barang yang mereka beli cepat sampai.

“Wah, Alhamdulillah kita dapat banyak pesanan dalam tiga hari ini,perjuangan kita tidak sia-sia Dek,” ucap kakak Liana senang.

“Iya Alhamdulillah Kak. Oh iya, sebagian keuntungannya kita tabung ya Kak, nanti kalo uangnya udah cukup,aku bisa beli handphone dan kuota kakak juga, kita bisa ngeringanin beban mama biar mama ga cape sendiri,” ucap Caroline.

“Iya, Alhamdulillah kita bisa bantu mama buat ngeringanin bebannya. Nanti kalo uang nya udah kekumpul banyak, sebagian kita beliin kebutuhan dulu,terus sebagian kita tabungin ya,” ucap kakaknya.

“Iya Kak, yang paling penting sisanya ditabungin, biar uangnya jadi simpanan buat kita dan jangan lupa berhemat!” ucap Caroline.

Kak Charliana pun hanya tersenyum dan bangga melihat semangat yang melekat di diri sang adik.

***

Satu bulan berlalu, bisnis Caroline dan kakaknya semakin dikenal. Meski dengan keuntungan yang belum begitu banyak, namun mereka tetap gigih. Pembeli mereka pun semakin bertambah banyak, mereka bisa menabung uang untuk membeli ponsel dan kuota,untuk belajar. Bahkan mereka juga bisa membeli kebutuhan mereka tanpa meminta kepada sang mama. Pesanan barangnya datang dari berbagai tempat, para pembeli sangat suka dengan kualitas barang yang dijual Caroline dan kakaknya. Tidak hanya karena kualitas barang yang bagus, tapi pengiriman barang yang sangat cepat dan harga barang-barang yang terbilang murah.

Saat Caroline dan kakaknya sedang mengemas barang-barang untuk dijual, tiba-tiba ibunya menghampiri mereka.

“Wah, lagi pada ngapain nih anak-anak Mama yang cantik? Mama liat akhir-akhir ini kalian sibuk banget. Ngemas barang-barang gitu, tapi mama belum sempet nanya sama kalian,” ucap ibunya.

“Sebenernya, kita lagi jualan Ma selama sebulan ini. Waktu itu aku sempet pusing juga karena aku ga bisa beli handphone dan kalau mau belajar harus pinjem handphone mama atau kakak. Akhirnya kakak nawarin aku kalau kita jualan online dan akhirnya aku setuju. Alhamdulillah selama sebulan ini aku bisa menabung untuk membeli handphone dan kuota untuk kakak juga,” ucap Caroline.

“Dan kita juga bisa ngeringanin beban Mama, dari jualan online ini, kami bisa membeli kebutuhan dengan uang hasil jerih payah kami sendiri, tidak selalu bergantung kepada mama dan papa,” ucap kak Liana.

Mama pun tersenyum dan sangat bangga kepada kedua putrinya karena di saat ekonomi sulit seperti ini, mereka bisa berpikir kreatif dengan mencoba berjualan online. Keduanya tidak pernah memaksa untuk meminta uang kepada dirinya, melainkan mereka berusaha sendiri untuk mendapatkan apa yang mereka butuhkan.

“Maaf ya, Nak! Kalian harus berjuang seperti ini. Mama merasa sedih. Keadaan kita berubah drastis seperti ini. Tapi Mama bangga, kalian tidak pernah mengeluh, dan jangan melupakan kewajiban utama kalian, yaitu belajar,” ujarnya dengan berurai air mata.

Caroline dan Liana menjawab dengan anggukan kepala. Mereka lantas memeluk sang Mama dengan penuh rasa kasih sayang.

***

..

 

 

 

 

 

(Visited 20 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan