Egois_Ririe Muzizah_SMPN 1 Cisalak

Foto-Ririe.jpeg

Egois

Siang yang begitu cerah. Matahari tepat berada di atas kepala. Semua siswa berada di lapangan. Keringat bercucuran. Rasa haus mulai meronta-ronta. Di depan mereka, kepala sekolah berdiri dengan tegap. Mengumumkan bahwa dua hari yang akan datang ada pemilihan OSIS. Jadi, hari ini akan diadakan pemilihan calon OSIS.

Semua siswa berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Salsa salah satunya. Ia adalah siswa kelas 8A. Ibu Salsa bekerja menjadi guru di sekolah tersebut. Salsa menjadi leluasa dengan apa yang ia lakukan di sekolah.

Setiap kelas mengajukan sedikitnya satu orang untuk menjadi calon OSIS. Wali kelas 8A kebetulan adalah ibu kandung Salsa. Siswa kelas 8A berkumpul di kelas. Kelas sangat ricuh, semua menanyakan siapa yang akan menjadi calon kelasnya.

“Hey, siapa yang bakal jadi calon  dari kelas kita?” teriak salah satu siswa.

“Kalo aku aja gimana?” tanya Salsa.

“Gak yakin kita,” jawab mereka.

“Kok gitu sih? Liat aja, aku bakal menang,” ucap Salsa.

Semua siswa duduk kembali, karena Ibu Sinta datang ke kelas. Ibu Sinta datang dengan membawa kertas. Lalu ia mengguntingnya menjadi beberapa bagian. Satu per satu kertas dibagikan kepada setiap siswa. Ibu Sinta mengumumkan akan memilih calon OSIS kelasnya dengan cara musyawarah. Agar tidak ada yang merasa terbebani. Ada tiga calon yang direkomendasikan oleh Ibu Sinta. Salah satu dari calon tersebut adalah Salsa.

Setelah voting selesai, kertas pilihan tersebut dikumpulkan di depan meja ibu Sinta. Ibu Sinta memanggil dua orang untuk menjadi saksi, dan ia yang menulis hasilnya di papan tulis. Nama Salsa keluar paling banyak. Hampir semua orang memilih Salsa. Hanya ada dua kertas yang memilih orang lain.

“Wah, banyak yang milih Salsa nih?” tanya Ibu Sinta.

“Jelas dong bu,” sahut Salsa.

“Jadi jelas ya, calon OSIS dari kelas kita itu Salsa,” Ibu Sinta mengumumkan.

Semua calon dari setiap kelas berkumpul di ruang guru. Semua siswa menyampaikan visi dan misi mereka jika menjadi OSIS. Akan ada tiga orang yang dipilih dari seleksi tersebut. Dari tiga calon nanti akan ada yang menjadi Ketua OSIS, sekretaris, dan bendahara.

Selesai berunding, hasilnya pun diumumkan langsung di lapangan. Semua siswa dikumpulkan kembali di lapangan. Hasil perundingan tersebut diumumkan kepala sekolah, calon tersebut salah satunya Salsa. Kelas 8A bersorak-sorak gembira. Memberi tepuk tangan untuk calon dari kelasnya. Setelah itu siswa mulai menyiapkan untuk pemilihan besok.

Bel berbunyi. Tiba saatnya pulang. Salsa berlari ke kelas untuk membawa tasnya. Kemudian, Salsa pergi ke kelas lain. Salsa mengajak teman kelas lain untuk belajar di rumahnya. Ia juga bilang akan menjamu mereka di rumahnya nanti. Banyak yang setuju dengan ajakan Salsa. Lalu, Salsa pun pergi ke ruang guru menemui ibunya. Salsa meminta ijin untuk belajar bersama teman-teman di rumahnya. Ia juga meminta uang untuk membeli makanan untuk teman-temannya nanti.

Sesampainya di rumah, Salsa langsung pergi mandi dan bersiap-siap untuk belajar bersama. Ia memakai baju santai tetapi tetap terlihat elegan. Sebelum teman-temannya sampai, Salsa memesan banyak makanan enak. Lalu ia menatanya dengan rapih di atas meja. Lalu, mengambil foto makanan tersebut dan mengirim ke teman-temannya.

Tidak lama kemudian, Salsa mendengar bel berbunyi. Ia langsung membuka pintu rumahnya, mempersilahkan mereka masuk. Salsa menanyakan tentang OSIS yang akan mereka pilih besok.

“Ngomong-ngomong, besok kalian bakal pilih siapa?” tanya Salsa.

“Belum kepikiran nih,” jawab salah satu temannya.

“Kalo kalian pilih aku, aku bakal traktir kalian makan di kantin satu hari,” ucap Salsa.

“Kalo kita pilih kamu terus kamu menang traktirnya jadi seminggu, gimana?” tanya temannya.

“Iya dong, kalo gitu kita setuju,” sahut temannya.

“Oke, asal ajak yang lain juga buat pilih aku,” pinta Salsa.

Semuanya pun setuju. Setelah itu mereka memakan makanan yang ada di meja. Terdengar suara bel berbunyi. Salsa Langsung melihat dari balik jendela. Ternyata ibunya pulang. Salsa dan teman-temannya segera membuka buku. Lalu Salsa membuka pintunya.

“Eh lagi pada belajar nih,” ucap Ibu Sinta.

“Iya Bu,” jawab mereka.

“Bagus nih, tiap hari dong belajar bareng,” ucap Ibu Sinta.

Ibu Sinta pun masuk ke kamarnya. Mereka lalu memutuskan untuk pulang. Setelah itu Salsa bergegas membereskan piring bekas makanan tadi, dan langsung mencucinya. Salsa pergi ke kamarnya dan tidur, karena ia tidak ingin ibunya banyak bertanya tentang belajar tadi.

Pagi hari yang sibuk. Ibu Sinta menyiapkan sarapan untuk anaknya. Salsa yang baru bangun langsung pergi mandi. Setelah mandi ia pun pergi sarapan bersama ibunya. Diam-diam Salsa membawa banyak uang ke sekolah. Ia juga meminta uang lebih kepada ibunya.

“Ibu, minta uang buat beli buku sama pulpen,” pinta Salsa.

“Masa udah habis?” tanya ibunya.

“I-iya soalnya kemarin ada siswa yang gapunya uang buat beli buku, jadi aku kasih buku aku,” jawab Salsa.

“Ya udah nih, kembaliannya simpen aja buat kamu,” Ibunya menyodorkan uang tanpa curiga sedikit pun.

Kemudian Salsa pergi ke depan rumah untuk memakai sepatu. Tidak lama setelah itu ibunya pun keluar. Mereka segera pergi ke sekolah.

Pukul 06.30 mereka sampai di sekolah. Ibunya langsung pergi ke ruangannya. Sedangkan Salsa pergi ke kelasnya. Di luar kelas terlihat banyak siswa kelas lain. Ternyata itu teman Salsa yang kemarin ke rumahnya. Salsa pun mengajak mereka ke kantin tanpa menyimpan tasnya. Di kantin mereka berbincang-bincang tentang rencananya. Salsa mengeluarkan uang dari dalam tasnya.

“Kalian bagiin uang ini, dan suruh mereka pilih aku, jangan sampe calon yang lain tau,” perintah Salsa.

“Siap salsa!” jawab mereka.

Mereka pun membagikan uang tersebut kepada siswa yang ada di kantin itu. Tidak lupa menyuruh mereka memilih Salsa. Setelah itu, Salsa pergi ke panggung sekolah untuk membantu membersihkannya. Hampir semua persiapan untuk pemilihan ia ikuti. Semua guru kagum padanya.

“Eh Salsa udah biarin sama yang lain aja, kamu istirahat dulu,” ucap salah satu guru.

“Gak apa-apa bu, ini kewajiban Salsa,” jawab Salsa.

“Salsa rajin banget sama kayak ibunya,” ucap guru tersebut sambil melirik Ibu Salsa.

Pukul 09.00 bel berbunyi. Semua siswa dikumpulkan di lapangan. Pemilihan OSIS pun dimulai. Dibuka dengan membaca do’a. Setelah itu ketiga calon dipersilahkan mengutarakan visi dan misi mereka. Saat Salsa dipanggil, terdengar suara tepuk tangan dari siswa-siswa kelas dan teman-teman yang lainnya. Setelah itu, guru-guru membagikan kertas untuk mereka memilih calonnya nanti. Pemilih pertama dilakukan oleh calon-calon tersebut. Kemudian masuk tiga siswa ke dalam ruangan pemilihan. Salah satunya teman Salsa, Aldo yang kemarin ke rumahnya.

“Eh, kamu milih siapa?” tanya Aldo.

“Gak tau nih, bingung,” jawab teman disebelahnya.

“Kamu mau uang? Kalo mau aku kasih tapi kamu pilih Salsa, gimana?” tanya Aldo lagi.

“Ta-tapi…” jawabnya bingung.

“Gak usah takut, Salsa kan anaknya Ibu Sinta,” sambil menyodorkan uang kepadanya.

Setelah itu mereka berdua keluar lebih dahulu. Sedangkan di ruangan tersebut masih ada satu siswa lagi. Ia mendengar percakapan Aldo dan siswa tersebut. Ia adalah Dimas teman sekelas salah satu calon OSIS. Ia keluar dari ruangan tersebut dan langsung pergi ke ruang guru. Dimas memberitahu guru bahwa salah satu dari ketiga calon ada yang berbuat curang. Ia sengaja memberitahukan ini kepada ibunya Salsa yaitu Ibu Sinta. Karena ia tahu Salsalah yang berbuat curang.

Di lapangan sangat ramai orang. Saat semua sedang sibuk, Ibu Sinta berbicara lewat mikrofon, bahwa ada yang berbuat curang dari ketiga calon di depan. Salsa sangat kaget mendengar ibunya berbicara. Jantungnya berdebar dengan cepat. Keringat bercucuran dari atas dahinya. Ia mulai panik.

Kepala sekolah menghampiri Ibu Sinta. Menanyakan akan hal ini. Ketiga calon tersebut pun dibawa ke ruang guru. Satu per satu calon ditanya Ibu Sinta. Saat akan tiba giliran Salsa. Ia sangat takut dan tidak bisa menahan tangisannya.

“Loh Salsa kenapa menangis?” tanya kepala sekolah.

“Salsa kenapa?” tanya ibunya panik.

Salsa tidak menjawab pertanyaan tersebut. Lalu guru memanggil pelapor tadi yaitu Dimas. Dimas bercerita tentang apa yang ia dengar tadi saat di ruangan pemilihan. Ibu Salsa sangat tercengang. Kaget akan kelakuan anaknya itu.

“Apa ini benar Salsa?” tanya ibunya.

“Kalo Ibu gak percaya, coba tanya sama Aldo,” ucap Dimas.

“Ini benar Bu, aku pengen jadi OSIS, aku takut kalah,” jawabnya sambil menangis.

“Tapi kamu curang. Kamu gak boleh menghalalkan semua cara cuman buat kamu menang,” ibunya menasehati.

Setelah masalah selesai. Kepala sekolah mengumumkan akan diadakan pemilihan ulang. Jika yang menerima sogokkan dari salah satu calon tidak mengaku maka akan dikenai hukuman. Semua siswa yang menerima uang dari Salsa langsung menghampiri kepala sekolah dan meminta maaf atas kesalahan mereka.

Pukul 11.30 pemilihan OSIS selesai. Dan kepala sekolah mengumumkan hasil musyawarah tersebut. Salsa terpilih menjadi sekretaris. Kepala sekolah memberi ia kesempatan untuk memperbaiki ini semua. Salsa pun meminta maaf atas kesalahannya langsung di hadapan semua siswa di atas panggung. Ia berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

***

(Visited 22 times, 1 visits today)

2 thoughts on “Egois_Ririe Muzizah_SMPN 1 Cisalak

  1. Ceritanya menarik,memberi pelajaran dan nasihat supaya apapun masalahnya,jangan pernah berbuat curang

Tinggalkan Balasan