Berbuah Manis_Siska Jamilatullatifah_7C_SMPN 1 Cisalak

Foto-siska.jpeg

Berbuah Manis

Suara bel istirahat berbunyi. Seluruh siswa berhamburan keluar kelas setelah diizinkan oleh guru yang sedang mengajar. Tetapi lain halnya dengan salah satu siswi dikelas Xl IPS 1. Dia sendirian di kelas sambil memakan bekalnya yang ia bawa dari rumah seperti biasa. Ya, ia tidak punya cukup uang untuk makan di kantin yang tentunya mahal baginya.

Dia masuk kelas unggulan ini karena pintar, tetapi dia selalu merasa tidak pantas berada di kelas itu karena rata-rata murid di kelasnya tergolong kaya. Dia juga tidak memiliki teman. Seringkali juga ia dibully, tetapi ia masih semangat bersekolah karena ada seseorang yang harus ia bahagiakan, yaitu nenek kesayangannya. Dialah Alana, gadis yatim piatu yang memiliki mimpi setinggi langit.

Alana terkejut, ia tersadar dari lamunannya karena ada seseorang yang menepuk pundaknya.

“Kamu kenapa ngga istirahat, kenapa juga ngelamun?” ujar Bu ayu, guru matematikanya yang sedari tadi masih di kelas.

“Eh, Ibu…nggak kenapa-napa bu” jawab Alana sambil tersenyum.

“Oh, ya sudah ibu tinggal ya, jika kamu ada masalah, jangan sungkan cerita ke Ibu ya,” ujarnya kemudian. Alana hanya mengangguk menanggapi ucapan gurunya itu.

Merasa bosan di kelas, Alana pun beranjak dari duduknya menuju perpustakaan, waktu istirahat masih ada 20 menit lagi. Di perpustakaan hanya ada beberapa murid, Alana membaca-baca buku tentang ekonomi. Beberapa menit kemudian, Alana kembali ke kelasnya, tetapi tiba-tiba ada seseorang yang menghadangnya

“Heh! Kerjain tugas gue dong.” ucap Adel, salah seorang temannya sekenanya.

“Kenapa nyuruh aku, kan kamu yang harusnya ngerjain tugas,” ujar Alana.

“Jangan ngebantah, kerjain aja. Gue tunggu besok!” jawab dia sambil memberikan dua LKS dan buku catatannya kepada Alana. Namun, Alana tidak menerimanya dan membiarkan buku orang itu jatuh ke lantai.

“Jangan mengira aku takut sama kamu cuma karena aku miskin dan anak beasiswa di sini. Aku gak akan tinggal diam jika diperlakukan seenaknya,” jawab Alana lagi, dengan berani.

Orang-orang yang melihat kejadian itu tercengang, antara kaget dan juga tidak menyangka, seorang Alana si anak beasiswa seberani itu. Orang-orang yang melihatnya hanya menatap prihatin kepadanya.

“Aku selama ini diam bukan berarti takut sama kamu,” ucap Alana lagi.

“Berani ya lo. Awas aja,” ujar Adel sambil berlalu. Rupanya ia cukup malu dilihat orang-orang di sekelilingnya.

***

Sepulangnya sekolah, Alana harus berjualan setelah ia salat dan melahap makan siangnya. Alana menjual berbagai makanan yang neneknya buat, seperti macaroni, keripik pisang, dan beberapa makanan ringan lainnya.

Pulang berjualan, Alana akan belajar. Terkadang, ia juga belajar melalui ponsel yang ia punya, hasil nabungnya sedari dulu. Memang hanya sebuah ponsel bekas, tetapi setidaknya masih layak untuk digunakan. Alana belajar tambahan melalui aplikasi atau sumber belajar lainnya. Salah satu alasan Alana memakai ponsel untuk belajar juga adalah, karena ia tidak mampu untuk membayar guru les.

***

Bel istirahat berbunyi, Alana merapihkan alat tulisnya, lalu keluar kelas dan berjalan menuju kantin. Saat sampai dikantin, orang-orang menatap aneh kepada dirinya, Alana juga dapat melihat banyak orang berbisik-bisik.

Alana tidak meng-indahkan tatapan-tatapan yang ia dapat, ia melanjutkan langkahnya mencari bangku kosong. Namun tiba-tiba ada seseorang yang manghalangi langkah kakinya, Alana tersungkur ke lantai. Seisi kantin menertawakan dirinya.

“Ups, sorry sengaja.” ledek Adel yang ternyata menghalangi langkah kakinya tadi.

“Mau gue bantu?,” ucapnya lagi, sambil mengulurkan tangannya. Alana menerima uluran tangan Adel dengan terpaksa, karena Alana pun kesusahan untuk berdiri sendiri. Ketika Alana sudah menerima uluran tangan Adel dan hendak berdiri, tiba-tiba Adel melepaskan uluran tangannya, alhasil Alana kembali terjatuh ke lantai. Seisi kantin menertawakannya kembali.

“Apa belum puas sama apa yang selama ini kamu lakuin ke aku?!” jawab Alana dengan nada tinggi, ia sudah kehilangan kesabarannya.

“Oh, jadi lo udah siap angkat kaki dari sekolah ini?” ucap teman Adel yang lain.

“Apa hubungannya sama masalah aku sama Adel?,” tanya Alana.

“Ternyata gak tau siapa gue?” ucap Adel

“Kenalin, gue anak dari Donatur terbesar di sekolah ini” sambungnya.

Alana terkejut, ternyata dia berurusan dengan anak seorang donatur terbesar sekolah ini. Artinya, dia bisa dikeluarkan kapan pun Adel mau. Ia bingung harus apa sekarang.

“Apa? kaget kan lo? Berurusan sama orang yang salah,” ucap Adel dengan senyum liciknya.

Alana pun bangkit. Namun tanpa sengaja ia menyenggol gelas berisi minuman dan menumpahkannya tepat ke atas rok Adel.

“Heh!, gak tau diri banget lo jadi orang, jangan salahin Adel kalo abis kejadian ini lo gak bisa sekolah lagi.” ucap Caca.

Rasa bersalah dan juga takut menyelimuti dirinya, ia tidak bisa apa-apa sekarang.

Beberapa hari kemudian, Alana pun dipanggil oleh pihak sekolah. Alana berjalan menuju ruangan kepala sekolah. Setelah sampai, Alana mengetuk pintu lalu setelah dipersilahkan masuk, Alana masuk lalu menyalimi kepala sekolahnya itu. Di sana juga sudah nampak guru BK.

“Alana, kenapa sampai bisa sih kamu bermasalah dengan Adel, memang kalian ada masalah apa?”  tanya kepala sekolah. Alana menunduk tidak berani mengangkat kepalanya.

“Adel yang mulai duluan Pak, dia selalu menghina saya,” jawab Alana.

“Jangan mengarang kamu, Adel tidak mungkin seperti itu. Jujur!” ucap kepala sekolahnya dengan nada bicara yang sudah naik.

“Saya berkata jujur Pak, banyak saksi di kantin yang melihat kejadiannya kok,” Alana memberanikan diri untuk menjawab.

“Saya tidak sengaja menumpahkan minuman itu. Saya minta maaf Pak, kalau mau hukum, hukum saja Pak asalkan jangan keluarkan saya dari sekolah,” Alana mwmohon dengan mata yang berkaca-kaca.

“Baiklah, saya juga tidak mau memperpanjang masalah dan juga saya tidak melibatkan orang tua di masalah ini, tapi sebagai peringatan, kamu di skors selama tiga hari,” sahut kepala sekolahnya

“Tapi Pak…”

“Sudahlah Alana…,” ucap guru BK yang sedari tadi hanya menyimak.

“Baiklah,” ucap Alana pasrah.

Sejak itu Alana tidak mau berurusan lagi dengan Adel. Ia lebih baik mengalah. Ia pun tetap belajar dengan bersungguh-sungguh untuk mencapai cita-citanya.

***

Waktu berjalan dengan sangat cepat. Seorang gadis sedang berjalan menyusuri trotoar di tengah teriknya matahari. Gadis bertubuh tinggi itu akan melamar kerja, setelah beberapa kali ditolak di banyak Perusahaan. Kini ia akan mencoba melamar di suatu perusahaan.

Gadis itu tak lain adalah Adel. Ayahnya dipenjara karena kasus korupsi, dan sang Ibu sakit-sakitan. Ayahnya dipenjara tepat saat ia akan mendaftar Kuliah, maka dari itu ia tidak jadi berkuliah. Ibunya juga mendadak sakit-sakitan setelah Ayahnya dipenjara. Karena Adel anak tunggal, jadi ia satu-satunya harapan ayah dan ibu nya.

Setelah tiba di Perusahaan yang ia tuju, ia langsung masuk dan menuju meja resepsionis, setelahnya ia dipersilahkan untuk mengantri. Sudah lama menunggu, akhirnya gilirannya untuk menuju ruangan HRD sesuai dengan petunjuk yang resepsionis berikan. Setelah mengetuk pintu lalu dipersilahkan masuk, Adel pun masuk. Namun ia sangat terkejut dengan apa yang ia lihat. Seseorang yang sangat ia kenal tengah duduk di meja besar di ruangan itu.

“ALANA?!” pekik Adel.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Visited 137 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan