Babak Seleksi_Silmi Nurmilaty_9E_SMPN 1 Cisalak

foto-silmi.jpeg

Babak Seleksi

“Babak seleksi Festival Seni Subang  akan dimulai 2 jam lagi di aula, Ibu harap kalian hadir tepat waktu dengan penampilan terbaik,” ucap Bu Rini sembari meninggalkan kelas.

“Baik, bu…,” suara koor dari seluruh siswa mengiyakan.

Aku bergegas ke luar kelas. Memilih tempat di bawah rimbunnya pepohonan, menyempatkan diri untuk menyantap bekal siangku. Nasi putih dan sepotong ayam goreng buatan ibu. Kunikmati bersama kicauan burung, sambil sesekali bersenandung menghapal lagu. Hingga tak kusadari beberapa menit lagi giliranku tampil. Aku bergegas menuju aula. Napasku terengah-engah, Kulihat jam di tanganku, tinggal beberapa menit lagi. Namun tiba-tiba seseorang yang sangat kukenal, Kesya, menimpakan air ke bajuku. Aku terhenyak, tak menyangka dia akan senekad itu. Dadaku berdegup kencang. Ingin kuluapkan kemarahanku. Namun tak ada guna.

Saat ini, aku hanya ingin pergi. Meninggalkan orang-orang yang menyorotkan pandangannya padaku. Namun, tiba-tiba Kesya, memegangi tanganku, “Ups! Maaf ya, disengaja!” tuturnya sambil menatapku sinis, “gue pastiin lo ga bakal lolos dalam babak seleksi ini,” bisiknya sembari bergegas ke aula.

Tak ada waktu lagi untuk melampiaskan amarah, kini aku harus segera mengeringkan baju lalu bergegas ke ruang aula, tak mungkin aku diizinkan mengikuti babak seleksi dalam keaadan basah kuyup.

“Gue bantu ngeringin baju lo, cepet ikut gue!” ucap Mirra, teman sekelasku yang kala itu melihat adeganku dengan Kesya.

“Tapi babak seleksi bentar lagi dimulai, kalo lo bantuin gue nanti lo telat,” ucapku kepada Mirra.

“Makanya ayo cepetan!” serunya sembari menarik tanganku menuju toilet.

“Pake kaos dalem kan? Sekarang buka seragam lo biar gue keringin”

“Ga usah Mir, biar sama gue aja”

“Ga ada waktu, babak seleksi bentar lagi dimulai, lo fokus bersihin rok aja”

Waktu berjalan begitu cepat. Hingga tak kusadari giliran tampilku terlewat beberapa menit sudah.

“Gue rasa udah cukup Mir, udah kering kan seragam gue?” tuturku sembari merapikan rok yang sudah mulai kering dan tak menghiraukan Mirra yang kurasa sedang mengeringkan seragamku.

Kupanggil Mira beberapa kali, namun tak ada jawaban darinya. Aku pun heran. Kuarahkan pandanganku, telihat sorotan tajam dari bola mata Mira. Kuterhenyak melihat bajuku yang ia pegang semakin basah dari sebelumnya, membuat amarahku semakin menggebu-gebu.

“Mir apa-apaan sih? Kok baju gue makin basah?”

Mirra tidak menjawab. Ia lantas keluar dari kamar mandi dan mengunci pintu dari arah luar. Tak ingin membuang waktu, aku pun berlari, bergegas membuka pintu. Jantungku seakan berhenti seketika. Dengan tangan gemetar kucoba membuka pintu.

“Mir…, Mirra…, jangan tinggalin gue,”

“Gak ada gunanya Lo teriak-teriak, gak akan ada yang bukain pintu!” suara Mirra terdengar di balik pintu.

“Setega itu Lo sama gue?”

“Makannya jangan sok mau ngalahin Kesya!”

“Mir, jangan mau Lo disuruh-suruh sama Kesya. Gue yakin sekarang Lo juga dijebak. Dengan ga hadirnya kita berdua, itu jadi peluang besar buat Kesya lolos babak seleksi,” ucapku mencoba menyadarkan Mirra.

“Bahkan tentang seleksi pun, gue dijanjiin bakal lolos, udahlah jamgan coba-coba ngehasut gue. Sekarang buka aja pintunya semampu yang lo bisa,” ucapnya dengan nada tak bersalah sedikitpun.

Aku pun ku tertegun, hanya bisa berdiam diri. Bahkan sekarang Mirra yang kini kuanggap sebagai teman, malah membuatku terjebak dalam situasi yang tak diharapkan ini.

“Sepertinya kita tak bisa menunggu lebih lama lagi untuk mengharapkan Viona dan Mirra datang, maka dari itu kami selaku juri babak seleksi Festival Seni Subang akan merundingkan siapa yang akan jadi pemenang , dengan keputusan Viona dan Mirra didiskualifikasi,” suara Bu Rini di pengeras suara terdengar menggema, hatiku pun pecah.

***

Aku yang sedari tadi terkunci di toilet terus berusaha menggedor dan mendobrak pintu berharap pintu bisa terbuka. Walau badan penuh peluh, kini aku mulai berusaha membuka kunci pintu dengan jepitan rambut. Setelah ku berusaha mencongkel lubang kunci dengan jepitan rambut, akhirnya pintu pun terbuka. Mengetahui hal itu, Mirra pun mengikutiku dari belakang.

Dengan nafas yang terengah-engah, kulihat jam tangan, waktuku tampil kini sudah lewat tiga puluh menit. Dengan berusaha berlari sekencang mungkin, ku lewati lorong-lorong kelas, jalan pintas satu-satunya menuju aula.

“Setelah dilakukan urun rembug dengan para juri, maka yang akan maju ke babak final Festival Seni Subang jatuh kepada Kesya dan Tasya”

Pengumuman diumumkan tepat dengan tibanya diriku di aula. Hal itu membuat ruang aula yang baru saja dipenuh dengan semarak dan antusias siswa lain atas lolosnya peserta terbaik, seketika hening saat mendengar langkah kakiku dan melihatku datang dalam keadaan basah kuyup.

“Maaf Pak, Bu, Viona telat, tapi tolong kasih Viona kesem….”

“Sayang sekali waktumu sudah habis, maafkan kami Viona kami selaku dewan juri hanya ingin berlaku adil kepada peserta lain. Sudah kami putuskan kamu dan Mirra didiskualifikasi,” ucap Bu Rini selaku panitia sekaligus salah satu dewan juri.

“Tolong Bu, izinin Viona buat tampil, toh waktu tampil Viona cuma terlewat beberapa menit kan?” ucapku sungguh-sungguh.

“Tapi datang tepat waktu juga salah satu penilaian babak seleksi, dan didiskualifikasi adalah konsekuensi kamu karena tidak tepat waktu. Dan kenapa bajumu basah begitu?”

“Viona dikunci di kamar mandi….”

Terkejut dengan apa yang ku katakan. Kini suasana di aula semakin hening.

“Hah? Siapa yang ngelakuin itu?” tanyanya seakan tak percaya dengan apa yang kukatakan.

“Kesya!” Ucapku, “kenapa lo ngunci gue? Takut kalah dari gue? Atau ga percaya diri sama penampilan pas-pasan lo itu?” tuturku dengan tatapan tajam mengarah kepada Kesya.

“Apa-apaan ni kok jadi nuduh gue!” ucap Kesya tidak terima.

“Cukup!” ujar Bu Rini “Gimana kamu bisa tau kalo Kesya yang ngunci kamu di kamar mandi?”

Tak butuh waktu lama untuk menunggu, akhirnya Mirra pun sampai dengan nafas yang masih terengah-engah. Setelah ku katakan bahwa aku terkunci di toilet bersama Mirra. Kini semua mata tertuju padanya berharap ia mengatakan yang sebenarnya.

“Ada apa ya? Kok pada ngeliatin sih!” ujar Mirra.

“Seperti yang dikatakan Viona. Apa benar kalo yang ngunci kalian di toilet itu Kesya?” tanya Bu Rini.

“Hah? Ya gak mungkin lah Bu, kalo Kesya yang ngunci pintu. Itu tadi pintunya bermasalah deh kayaknya, makanya susah dibuka.”

“Setelah lo didiskualifikasi, lo masih mau ngasih kesaksian palsu?” tuturku.

Mirra tak berkutik setelah mendengar perkataan ku. Kini sorotan matanya tertuju pada Kesya. Dengan sebuah kepalan di tangannya, tampak tubuh Mirra gemetar menahan amarah.

“Benar Bu, aku disuruh Kesya untuk ngelakuin hal itu,” ucap Mirra sambil tertunduk.

“Viona mohon Bu, kasih kesempatan Viona buat ikutan babak seleksi, Viona butuh sertifikat Festival Seni Subang, cuma dengan sertifikat itu Viona bisa masuk sekolah seni terbaik tanpa biaya,” ucapku berharap diberi kesempatan.

“Gak Bu, ini semua bohong. Viona, kalo iri karena gue lolos babak seleksi, jangan gini dong caranya,” ucap kesya, “lo juga Mir, bisa-bisanya lo nuduh gue,” ucap Kesya berusaha mengelak.

“Stop! Bisa-bisanya gue ngelakuin apa ya lo suruh dengan janji gue juga bakalan lolos babak seleksi, “ucap mirra dengan volume tingginya, “bisa-bisanya gue sebodoh ini.”

“Mirra mohon Bu kasih Viona kesempatan buat ikutan babak seleksi, soal didiskualifikasi Mirra terima, mungkin ini balasan buat Mirra atas keegoisan Mirra” ucapnya menyesal diiringi isak tangis.

“Ibu gak paham dengan apa yang terjadi sekarang, yang pasti penetapan kelolosan babak seleksi ini dibatalkan,” ucap Bu Rini, “bahkan acara babak seleksi ini tidak bisa dilanjutkan hari ini, kemungkinan ada pengulangan,” tambahnya.

“Wah gak bisa gitu dong, Ibu gak boleh ngebatalin penetapan kelolosan Kesya untuk lanjut ke babak final. Ibu juga gak bisa nyimpulin kalo Kesya yang bersalah atas apa yang menimpa Viona!” tutur Kesya.

“Cukup Kesya!” ucap Bu Rini, “setelah apa yang kamu lakukan, kamu sama sekali gak merasa bersalah bahkan terus saja mengelak!” tambahnya.

Terdengar riuh sorakan para siswa menggema di aula, membuat Kesya semakin malu. Mencoba menahan malu, ia lingkupi wajah semu merahnya dengan tangan mungilnya. Lantas setengah berlari meninggalkan ruang aula.

“Ibu harap peristiwa ini tidak terulang lagi. Cukup berlatih dengan keras dan menampilkan yang terbaik. Karena usaha tidak akan menghianati hasil,” tutur Bu Rini mengingatkan.

“Baik, setelah kami diskusikan, Pengulangan Babak Seleksi Festival Seni Subang akan diberlakukan besok dengan kesepakatan Viona dan Mirra kembali menjadi peserta, mungkin sudah cukup jelas, kini kalian bisa bubar dan mempersiapkan penampilan terbaik untuk besok. Dan semoga kejadian barusan tidak terulang lagi, ibu mohon kepada kalian bersainglah secara sehat,” jelas Bu Rini.

***

 

(Visited 30 times, 1 visits today)

2 thoughts on “Babak Seleksi_Silmi Nurmilaty_9E_SMPN 1 Cisalak

Tinggalkan Balasan