Tiara Ardian_ONE DAY A MILLION STORIES_SMPN 3 Subang

Tiara.jpeg

ONE DAY A MILLION STORIES

Bulu kuduk lagi-lagi dibuat merinding oleh dinginnya udara waktu subuh di kota Subang. Namun hal itu tidak mengurungkan niat untuk pergi menghabiskan waktu libur sekolah di tempat kelahiran kami yaitu kota Subang. Aku Shanon dan dua orang temanku yaitu Elvara dan Gebby, saat ini tengah menyusuri suatu tempat wisata indah yang dikenali banyak orang yaitu Pemandian Air Panas Ciater.

Kami berangkat setelah shalat shubuh tepatnya pukul 05.30 WIB. Berangkat lebih awal agar liburan hari ini terasa lebih lama. “Tungguin!” Ucapku dibalik layar handphone yang sedang melakukan video call dengan temanku. “Okay, langsung kumpul di depan warung langganan kita ya.” Gebby menjawab. “Okay Geb” Balasku dengan Elvara kompak. Setelah mematikan video call, aku menyalakan motor. Lalu menjalankannya dengan kecepatan sedang di atas rata-rata. Hari masih terlihat gelap, namun saat ini aku sudah berkumpul dengan temanku di warung Bi Eem langganan kita. “Sampe” Ujar Elvara sambil memberhentikan motornya, dia menghela nafas lelah. “Belum! Masa udah capek aja sih.” Aku mendengus dan kini tengah duduk sambil melahap nasi dengan bakwan jagung yang ku bekal tadi. “Bagi dong pelit amat.” Ucap Gebby sembari mencomot bakwan milikku.

Aku, Elvara dan Gebby melanjutkan perjalanan setelah berkumpul di depan warung Bi Eem yang ternyata masih tutup. Kami menaiki motor masing-masing lalu satu persatu menjalankan motornya. “Aku duluan ya, kalian ikuti aku dari belakang.” Ucapku kepada teman-teman. “Okay, awas pokoknya jangan sampe terpisah loh.” Elvara menjawab. “Nah” Gebby membenarkan perkataan Elvara, kemudian kami meneruskan perjalanan kami menuju Pemandian Air Panas Ciater dengan sangat lancar.

Sudah satu jam berlalu, walau sebentar lagi sampai di tempat tujuan, Elvara temanku merengek ingin turun di warteg pinggir jalan karena perutnya yang sedari tadi menahan lapar. Sesuai permintaan Elvara kami mengistirahatkan diri kami sebentar lalu berhenti di  sebuah warung lesehan. Aku dan teman-teman duduk seraya memilah-milah makanan yang akan di pesan. “Biasa, aku mau pesan mie kuah aja.” Pinta Gebby pada Elvara yang saat ini tengah membuat list pesanan kami. “Aku juga deh.” Ucapku, “Aku juga ah” Elvara melanjutkan. Sambil menunggu pesanan datang, aku dan teman-teman melakukan fotbar (foto bareng) di setiap pemandangan cantik yang ada di sana. Beruntung sekarang masih pukul 07.00 WIB karena udara di sini dingin, semakin membuat fotbarnya terlihat bagus.

Dilihat jam tanganku sudah menunjukan pukul 07.45 WIB. “Guys udah jam setengah delapan, ayo lanjut lagi.” Seruku pada teman-teman. “Gas” Jawab Elvara dan Gebby kompak. Setelah membayar makanan tadi oleh Elvara, kami melanjutkan perjalanan dengan lebih leluasa karena sudah mengganjal perut. Tinggal menghitung beberapa menit lagi kami sudah sampai di tempat tujuan. Sesampainya aku di sana, antrian panjang terlihat oleh indra penglihatanku  bahkan dari jauh. “Panjang betul, sanggup ga?” Ujar Gebby sambil menyipitkan matanya. “Aku ga sanggup, kalian aja yang ngantri deh aku tunggu di motor yak.” Elvara memundurkan langkah kakinya untuk kembali ke motor yang dia tuju. “Eits.. Walaupun kalian ga ikut ngantri, tunggunya jangan di motor harus bisa ngerasain berdiri juga.” Timpalku dengan lantang sambil menarik tangan kanan Elvara. “Iya deh Sha maaf.” Ucap mereka berdua.

Tiga puluh menit menunggu, cukup lama bagiku yang harus berdiri mendapatkan tiket masuk, sementara temanku hanya berjongkok menatapku dengan bosan. “Masih lama?” Tanya Elvara sambil berjongkok. Tangannya tidak bisa diam memainkan tanah layaknya anak kecil. “Bentar lagi kayanya, berdiri! Jangan bikin malu ih bisa ga si haduh.” Jawabku sambil berbisik. Elvara dan Gebby pun berdiri dan masih mencetak wajah bosannya. “NAH UDAH, TINGGAL KAMU SHA” teriak Gebby kegirangan. “Ni lagi anak satu kenapa si, udah tau kali” Aku membalas sambil menaikkan satu alisku terheran akan tingkah dua temanku ini.

Akhirnya aku, Elvara dan Gebby segera masuk ke dalam setelah mendapatkan tiket masuk. Dari dalam kami tercengang melihat keindahan yang ada di tempat wisata Pemandian Air Panas Ciater tersebut, bahkan dari luar pun sudah terlihat keindahan yang disuguhkan oleh tempat itu. “Keren” Mataku tidak bisa berhenti melihat bagaimana cantiknya tempat ini. Di detik berikutnya, aku dengan Gebby dikejutkan oleh kelakuan Elvara yang berlari sambil melompat-lompat tidak jelas mendahului kami berdua. “CEPETAN! OMG! INI KECE BANGET!” Teriak Elvara yang terdengar samar karena kebisingan sekitar. “Temen kamu kenapa si Sha?” Gebby menyenggolku sambil mengedipkan matanya berkali-kali. “Ga tau labil banget dia tu, please dia bukan temenku.” Jawabku menggeleng-geleng kepala lalu mengusap wajah frustasi.

Setelah menyimpan perlengkapanku dan mengganti baju, aku segera berlari untuk berendam di air panas bersama temanku. “Panas ya? gimana kalo pas aku nyebur langsung meleleh?” Tanya Gebby tak masuk akal. “Ya ga akan lah! Gimana si, sini turun.” Ajakku pada Gebby yang kini masih berdiri di atas, bajunya belum basah sama sekali. “DARRR!” lagi-lagi aku dikejutkan oleh kelakuan Elvara yang membuatku ingin sekali memakannya. “ALLAHU AKBAR!”  Ia membuat Gebby jatuh ke air, Elvara memegang perutnya tertawa berlaga seperti tidak bersalah. “Bener bener ngeselin si ini anak sumpah.” Geram ku kesal pada Elvara sambil mencubit pinggangnya. “Aduh sakit” Elvara menjerit pelan mengusap pinggangnya dan masih tidak berhenti tertawa.

Tempat yang cantik ditambah pemandangan yang indah pastinya tidak terlewati dengan bidikan kamera disetiap saat. “Shanon cantik, fotoin aku di sini dong.” Seru Gebby padaku. “Ribet kamu”  Aku mendengus seraya mengambil kamera yang diberi Gebby. Gebby tersenyum lebar hingga terlihat deretan gigi rapihnya lalu berpose menghadap kamera. “So cantik” Elvara sedari tadi memperhatikan Gebby yang sedang berfoto sambil memanyunkan bibirnya. “Diem kamu,  so asik” Gebby menjawab Elvara dengan nada kesal. “Bercanda ututuu, jangan ngambek ya.” Elvara terkekeh sambil mengusap pelan punggung Gebby.  “Ssst, gimana kalo abis dari sini.. kita ke Tangkuban Perahu?” Ucapku menengahi mereka. Karena  hari terlihat masih siang aku ingin liburan dengan waktu yang lebih lama lagi, maka dari itu aku mengajak mereka  melanjutkan perjalanan kami ke Gunung Tangkuban Parahu. “Bagus tu, aku mau banget kesana.” Elvara menyetujui ajakanku begitupun dengan Gebby.

Waktu menunjukan pukul 12.30 WIB, selesai shalat dzuhur di mushola yang disediakan oleh tempat tersebut, kami segera menyiapkan barang-barang yang kami bawa tadi untuk pergi ke Gunung Tangkuban Perahu. Kami kembali menghampiri motor yang diparkirkan lalu menjalankannya dengan kecepatan maksimal. Perjalanan dari Pemandian Air Panas Ciater ke Gunung Tangkuban Perahu bisa ditempuh hanya dengan itungan menit. Walau siang hari, daerah sekitaran Gunung Tangkuban Parahu terasa dingin bagiku. Untungnya aku membawa jaket agar aku tidak merasa dingin disini. Empat puluh menit berlalu, kami telah sampai di tempat tujuan, kami langsung mempersiapkan kamera untuk memotret pemandangan indah yang terlihat jelas di depan mata.

Setelah memarkirkan motor di dekat penjual warung jagung bakar, kami bergegas naik ke atas untuk mencari objek foto yang lain. “Keren, kaya berdiri di atas awan” Aku tercengang saat naik ke atas begitu pula dengan temanku. Kami merekam semua keindahan yang disuguhkan alam dengan lensa kamera maupun mata. “Coba fotoin aku disini.” Pintaku pada Gebby sang photographer handal kami bertiga. “Keren, bagus banget ini pemandangannya. Coba boomerang guys.” Ucapku setelah melihat hasil foto tadi lalu mengajak temanku ikut berfoto. “Bagus tu, sebentar” Sahut Elvara sembari mengeluarkan handphone dari tasnya. Di detik berikutnya kami melakukan hal yang sama seperti sebelumnya.

Karena waktu yang sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB, setelah lamanya menikmati keindahan alam langsung dari lereng gunung dan merasakan awan yang menyelimuti kaki. Kami segera bersiap untuk pulang,  lalu menjemput motor yang kami titipkan pada penjual jagung bakar. Sampai di warung, aku dengan teman-teman mampir untuk memesan makanan. Aku memesan jagung bakar, teman-temanku pun tak akan lupa untuk membeli menu makanan spesial disini. Hari semakin petang, membuat udara menjadi lebih dingin, kami mengobrol kecil sembari menunggu makanan datang. “Liat foto yang tadi dong Sha.” Sahut Gebby. Setalah mendengar apa yang dikatakan Gebby tadi, aku segera mengeluarkan kameraku dari dalam tas lalu memperlihatkan foto-foto tadi kepadanya. “Bagus banget, dua tempat dalam waktu sehari, keren.” Ucap Elvara sambil tersenyum hingga terlihat lesung pipinya.

Tidak terasa, hari sudah sangat petang. Kami sedang berada di perjalanan menuju pulang sekarang. Dipandang matahari sudah mengakhiri tugasnya, dan tak nampak lagi hingga malam ambil bagian. Teman-temanku sudah pulang ke rumahnya masing-masing, sementara aku masih mengendarai motorku menuju pulang. Di jalan aku membayangkan hari-hari yang ku lakukan tadi, dan ku tandai hari ini sebagai hari paling bahagia yang pernah aku rasakan.

(Visited 9 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan