Tiara Ardian_KESUKSESAN SEORANG PEMUNGUT SAMPAH_SMPN 3 Subang

Tiara.jpeg

KESUKSESAN SEORANG PEMUNGUT SAMPAH

Siswa-siswi di SMP Bakti Negeri saat ini sedang menikmati jam istirahatnya di luar kelas. Saat itu pula Syafiq mantan murid di sekolah tersebut sedang memandangi sekolah lamanya dan teman-temannya yang pasti sangat ia rindukan. Ia berharap tidak ada orang yang mengetahui keberadaannya di sana, karena jika ada yang tahu, ia akan kembali di olok-olok oleh teman sekolahnya. Karena terlalu asyik sendiri, Syafiq sampai lupa untuk bekerja, dari posisi ia yang sebelumnya berjongkok kini ia berdiri hingga terlihat wajahnya yang dekil tidak terurus itu.

Tak lama dari itu, di detik berikutnya teman-temannya melihat Syafiq dan salah satu dari mereka berbicara dengan sangat lantang “Eh liat itu kan Syafiq? HEH ORANG MISKIN! Ngapain kesini lagi si? Mau sekolah ya? Kasihan ga mampu.” Terdengar jelas sekali olokan temannya itu di telinga Syafiq yang saat ini masih berdiri di belakang gerbang sekolah. Hinaan banyak menimpanya saat itu, hingga pada akhirnya Syafiq pun berlari meninggalkan tempat tadi sambil menahan untuk tidak meneteskan air matanya.

Syafiq adalah seorang anak laki-laki yang tinggal di lingkungan di mana sebagian besar dari mereka bekerja sebagai pemungut sampah, termasuk dia sendiri. Dia anak yang pintar, dulu waktu masih sekolah dia selalu menduduki peringkat dua maupun tiga di kelasnya. Namun dia terpaksa berhenti karena orang tuanya tidak mampu membayar biaya sekolah. Impian dia selama ini hanya ingin kembali bersekolah dan bermain bersama teman-teman di sekolah.

Saat ini dia tengah melamun, meratapi nasib sembari duduk di bangku kayu depan rumahnya. Memandang langit malam yang anehnya tidak ada kilauan bintang, tidak indah seperti biasanya. Omongan jahat temannya siang tadi yang sangat tidak pantas untuk diucapkan, sampai saat ini masih terngiang di otaknya. Miskin, ga mampu, bau sampah, dan berbagai kata tidak mengenakan hati selalu memenuhi pikirannya. “Nak” panggil bapak saat keluar dari pintu rumahnya. Syafiq masih terdiam, tidak berbicara atau bahkan mengedipkan mata. “Syafiq” panggil sang bapak sekali lagi sembari menepuk pelan punggung anaknya. Syafiq terbangun dari lamunannya saat itu lalu menggeleng-gelengkan kepala. “Kamu kenapa Fiq, ngelamun terus coba cerita sama bapak ada apa?” Bapaknya terus terang melihat keadaan anaknya yang sepertinya tidak baik-baik saja. “Engga ada pak, tadi Syafiq cuma mikirin kenapa ga ada bintang malam ini.” Ucap Syafiq sembari tersenyum tipis mencoba menyembunyikan masalahnya. “Kamu ada-ada aja” Bapaknya tertawa seraya mengusap pelan rambut anaknya.

Rasanya tidak pantas bagi seorang anak seperti Syafiq untuk bekerja, tidak seperti anak seumurannya yang seharusnya menikmati masa-masa bahagianya. “Syafiq ayo berangkat nak” Ajak bapaknya kepada Syafiq untuk bekerja memungut sampah bersama, yang mereka cari adalah sampah seperti botol bekas, kaleng, kabel dan lainnya yang bisa dijual untuk mendapatkan uang. Penghasilan dari memungut sampah seperti ini memang sedikit tapi setidaknya pekerjaan ini bisa membantu mereka untuk hidup selama ini.

Lima jam lamanya mereka bekerja di bawah terik matahari, ketika sudah menjual sampah dan mendapatkan uangnya, mereka segera pulang ke rumah. Di rumah, Syafiq membekal sesuatu saat ia memungut sampah tadi, ia membawa pulang buku tulis, buku bacaan, pulpen bekas yang masih bisa dipakai untuk dia belajar. “Alhamdulilah dapet buku, ini masih bisa dipakai, aku bisa pakai ini sekarang buat belajar” Syafiq berbatin sambil tersenyum menggenggam alat-alat belajar itu.

Syafiq memiliki janji bersama Pelangi untuk pergi belajar bersama sore ini. Sampai di rumah temannya, orang tua Pelangi menerima kedatangan Syafiq dengan sangat baik. Hanya Pelangi lah satu-satunya teman yang bisa mengerti keadaan Syafiq dan menerima dia menjadi temannya. “Syafiq, bisa bantuin aku ngerjain soal ini ga?” Tanya Pelangi sembari menunjuk soal yang membuat dia kesusahan menjawab. Syafiq melihat soal yang ditunjuk Pelangi sembari memahaminya. “Oh ini, ini doang mah kecil”  Jawab Syafiq  terkekeh. “Ish, ngeselin banget huu” Pelangi mendengus. Syafiq kemudian mengajarkan soal yang tidak dipahami Pelangi dengan baik, hingga akhirnya Pelangi paham. “Kamu kok pinter banget si Fiq, padahal kamu ga sekolah.” Ucap Pelangi seraya membereskan tempat belajarnya. “Cuma baca buku doang kok, terus ngerjain latihan soalnya.” Jawab Syafiq bersiap-siap untuk pulang. Pelangi memperhatikan dan mendengarkan perkataan Syafiq tadi dengan serius.

Esok harinya, Syafiq kembali pergi ke tempat dia bekerja, bersama bapak tentunya. Di lain tempat Pelangi sedang mengerjakan test dari gurunya untuk mengikuti olimpiade matematika lusa. Namun, Pelangi berkata “Bu aku ga sanggup buat ngerjain olimpiade ini. Apa ga ada orang lain buat menggantikan aku?”, “Disini kamu yang paling pintar Pelangi” Jawab guru tersebut. Pelangi terdiam sesaat, pikirannya langsung tertuju kepada Syafiq. “Bu, aku tau siapa yang lebih sanggup buat ikut olimpiade ini” Kata Pelangi. “Siapa nak?” Ujar sang ibu guru. Tanpa pikir panjang pelangi langsung menjawab “Syafiq bu, kemarin dia yang ngajarin aku materi ini” Kata pelangi sembari menunjuk salah satu soal dari test tersebut. “Syafiq yang keluar sekolah karena tidak ada biaya itu, setau ibu dia memang pintar. Kamu tau dia ada dimana sekarang?” Tanya sang ibu guru. Pelangi langsung mengiyakan pertanyaan tersebut.

Mereka berdua langsung menuju tempat bekerja Syafiq. “Nah itu Syafiqnya bu.” Ujar Pelangi sambil menunjuk Syafiq yang sedang memungut botol bekas. “Eh Pelangi? Kok ada di sini, kamu ga sekolah? Terus ini siapa?” Tanya Syafiq setelah menoleh ke arah pelangi. “Kenalin, saya guru matematikanya Pelangi di sekolah. Saya kesini mau menawarkan kamu buat ikut olimpiade matematika yang tadinya di wakilkan oleh Pelangi. Pelangi sendiri yang mengusulkan kamu buat ikutan olimpiade ini.” Ucap ibu guru. “Iya Fiq, kalo kamu yg ikutan pasti menang!” Kata Pelangi sambil bersemangat. “Wah apa boleh bu? Aku kan ga sekolah?” Kata Syafiq ragu. “Sebenarnya tidak apa nak, mungkin kalo kamu menang olimpiade ini, kamu bisa sekolah lagi di SMP Bakti Negeri.” Kata guru itu. “Wah mau bu! Aku mau sekolah lagi, tapi buat biaya sekolah gimana?” Tanya Syafiq. “Jika kamu menang, kamu bisa menggunakan uang hasil olimpiade itu buat biaya sekolah kedepannya” Jawab guru itu. Syafiq menerima tawaran tersebut, dan diberi latihan soal untuk olimpiade.

Acara olimpiade tersebut memang mendadak, tetapi Syafiq sudah siap untuk mengikutinya. Dua hari kemudian, Syafiq telah berkumpul di sekolah  untuk mengikuti olimpiade matematika yang telah disepakati untuk mewakili SMP Bakti Negeri. Para siswa di sekolah tersebut menatapi Syafiq rendah seperti sangat tidak menyukainya. Namun Syafiq membalasnya dengan senyuman khasnya yang selalu dia beri setiap saat. Satu jam berlalu, Syafiq diarahkan oleh guru matematika untuk memasuki gedung tempat olimpiade tersebut dilaksanakan. Kemudian di menit berikutnya, olimpiade dimulai dan Syafiq pun mengangkat tangannya untuk berdoa terlebih dulu. Benar kata Pelangi, dia tidak mungkin sanggup melaksanakan olimpiade ini. Syafiq saja yang mengikuti sedikit keliru saat menjawabnya. Tetapi, percaya atau tidak, Syafiq yang hanya belajar dua hari dan itu pun tidak full karena terselang oleh pekerjaannya, mampu menjawab semua soal dengan benar dalam waktu yang singkat. Dengan menggunakan kertas saja, dia mampu merumuskan semua soal matematika yang dibacanya terjawab dengan tepat dalam hitungan setengah jam saja.

Besoknya, semua peserta yang melaksanakan olimpiade kemarin dikumpulkan di tempat yang sama dalam acara pengitungan skor dan pengumuman kejuaraan. Setelah satu jam lamanya menunggu, akhirnya pengumuman tersebut diumumkan. “Baik, karena tidak ingin menunggu lama, kami langsung umumkan saja kejuaraannya beserta skor yang dicapai oleh peserta.” Ujar MC pada acara tersebut. Syafiq dengan guru pembimbingnya duduk berdampingan sambil memerhatikan MC dengan tatapan serius. MC mengumumkan kejuaraannnya mulai dari peringkat ketiga terlebih dulu, nama Syafiq belum disebutkan semakin membuat Syafiq tidak yakin dirinya akan menang. Saat MC akan mengumumkan siapa yang menduduki peringkat satunya, Syafiq malah memerhatikan MC tidak semangat karena pikirnya dia tidak akan menang. “Peserta yang menduduki juara pertama akan memenangkan hadiah uang sebesar Rp. 5000.000 lengkap dengan beasiswa yang menemaninya sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Mari langsung kita sebutkan namanya saja ya” Ujar MC membuat para hadirin keringat dingin. Berbeda dengan Syafiq yang saat ini memerhatikan mereka dengan wajah yang terlihat bosan. “Ini dia siswa cerdas yang berhasil memecahkan rekor tertinggi yaitu Syafiq Al-Ghazali. Yang dipanggil silahkan maju ke depan untuk menerima hadiah” Syafiq saat ini terkejut mendengar apa yang dikatakan MC tadi, dia masih diam kaku di tempat sambal memasang wajah tidak percaya. Guru matematika yang ada di sebelahnya tertawa sembari menyuruh Syafiq untuk maju ke depan. Syafiq pun berjalan ke depan dengan mata berkaca sambil menerima piala dan medali yang diberikan, saat itu pun dia hanya mengingat Bapak dan teman terbaiknya yaitu Pelangi.

Sampai di sekolahnya, ia mendapat sambutan bagus dari kepala sekolah maupun para guru juga terlihat olehnya. Pelangi yang kini tengah tersenyum menatap Syafiq lalu melambaikan tangannya. Syafiq segera menghampiri Pelangi kemudian memeluknya dengan penuh rasa terima kasih. “Makasih buat kesempatan yang kamu kasih, sekarang aku bisa ngelanjutin sekolahku.” Ucap Syafiq sembari menangis dan mempererat pelukannya pada Pelangi. “Iya fiq sama-sama, aku seneng liat kamu bisa sekolah lagi.” Jawab Pelangi tersenyum sambil melepas pelukannya perlahan. Mulai dari hari itu, Syafiq bersekolah kembali dan berteman baik terutama dengan Pelangi, juga teman-temannya yang lain. Sampai ia lulus SMP dan masuk ke SMA dia tetap bersama sahabat terbaiknya, yaitu Pelangi.

(Visited 14 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan