Syahida Parmawati_DUO AMBIS_SMPN 3 Subang

syahida.jpeg

DUO AMBIS

“Eh ada Nara, kapan nyampenya? Bunda sehat?” Tanya Bunda Tania, Nara yang tadinya duduk langsung berdiri mengalami Bunda Tania, “Baru aja nyampe Tante, Bunda sehat kok tadi Bunda titip ini Buat Tante.” ucap Nara sambil memberikan sebuah bingkisan, “Oalah ini toh yang bikin Bunda kamu ketagihan sama rasanya, Tante ke dapur dulu ya sambil ngambil minuman buat Nara” ucap Bundanya Tania sambil melihat lihat bingkisan yang diberi Nara, “Nara doang? Tania juga mau, kebiasaan kalo ada Nara lupa sama anaknya sendiri.” Nara sudah dianggap seperti anaknya sendiri untuk Bunda Tania begitu juga Tania yang dianggap anak oleh Bunda Nara, mereka dulu tetanggaan tapi Nara pindah rumah, walaupun begitu mereka masih berteman baik.

“Wih makin banyak aja buku buku lu wih sabi nih pinjem.” ucap Nara sambil melihat sekeliling kamar Tania yang banyak buku, “Minuman datang.” ucap Bunda Tania sambil menyimpan dua gelas sirup, “Alhamdulillah, akhirnya bunda sadar punya anak secantik Tania.” ucap Tania sambil meminum sirup yang dibawakan Bundanya, “yaelah cantikan juga bunda, yaudah ya diminum tuh, setiap kesini bawaannya sibuk baca buku mulu.” ucap Bunda Tania keluar kamar, Tania dan Nara berbincang bincang sambil membaca buku koleksi Tania.

“Nara pulang dulu ya tan”, pamit Nara sambil menyalami Bunda Tania, “Eh iya Nara sampain salam Tante ke Bunda ya, Tania anterin dong Naranya ke depan.” Tania segera menghantarkan Nara ke garasi karna Nara membawa mobil, Tania tidak repot menghantarkan Nara ke rumahnya, “Lain kali gua yang mau ke rumah lu, biar Bunda lu gua rebut tau rasa lu Ra.” ucap Tania sambil membuka gerbang, “Bunda gua kaga tertarik sama anak kaya lu.” ejek Nara, “heh sini lu ursidae, gua banting lu pake sendal gua ye.” ucap Tania sambil mengangkat sandal yang dipake ya ke atas tetapi Nara sudah menjalankan mobilnya, kebiasaan mereka memang kalau bercanda selalu pake kata ilmiah.

Di jalan Nara melihat toko buku yang baru buka, dan Nara tertarik untuk masuk kesana, akhirnya Nara memutuskan untuk pergi ke dalam, dan melihat lihat dan membeli beberapa buku, setelah dari toko itu Nara menelpon Tania karna ingin memberi tahukan ada toko buku yang baru buka, mereka memang sangat berminat pada buku buku terlebih buku mata pelajaran menurut mereka pendidikan hal terpenting dalam hidup.

“Halo assalamualaikum anak pungut.” sapa Nara pada Tania disebrang telepon, “Enak aja lu manggil gua anak pungut.” Ucap Tani, “Salamnya dulu jawab neng ampun dah.” ucap Nara sambil melihat lihat buku yang dibelinya tadi, “Eh iya lupa waalaikumsalam, ape dah sampe rumah?” tanya Tania, “Belum, gua tadi dijalan liat toko buku baru buka, buku bukunya bagus woi gua beli beberapa nanti temenin gua kesini ye.” aja Nara, “Yaelah Napa harus ditanya sih, ya gas lah besok ye?” ucap Tania disebrang telepon, “Iye ayo gas, dah dulu gua mau pulang nih wassalamu’alaikum.” pamit Nara, “Waalaikumsalam.” ucap Tania.

“Bunda mau nitip? besok Tania mau ke toko buku, katanya bunda mau buku resep.” Tania menawarkan, “Boleh 3 ya Tan pake uang Tania dulu nanti Bunda ganti.” ucap Bundanya sambil mengangkat kedua alisnya, “Ih satu aja ya Bunda malah tiga sekaligus, pake uang Tania lagi.” ucap Tania kesal, “Mau jadi anak durhaka?” ancam bundanya, “Iya iya deh, ngancamnya selalu gitu” Tania menghela nafas.

“Bunda Nara pulang assalamualaikum.” ucap Nara girang karna telah membeli beberapa buku untuk koleksinya, “waalaikumsalam, Lala liat tuh kakak pulang bawa apa.” ucap Bundanya Nara, “Wih apa tuh kak? Aduh buku lagi kenapa sih buku terus.” Lala mengeluh karena yang dibikingsan itu bukan makanan atau mainan untuknya, “Terserah kakak dong, buku ini kan buat kakak biar nambah pinter ngga kaya kamu.” ejek Nara, “Ih Bunda liat kakak, aduin ke ayah loh nanti wee”, ucap Lala sambil menjulurkan lidahnya.

Tania sudah siap siap dari pagi karna hari ini upacara bendera, dan kini ia sedang sarapan setelah sarapan ia memarkirkan mobilnya dari garasi dan segera berangkat ke sekolah, upacara telah selesai karna gurunya sedang rapat Tania merasa bosan di kelas akhirnya ia memutuskan untuk ke perpustakaan di tengah jalan ia melihat mading dan ada satu poster yang membuat Tania tertarik untuk membacanya tidak lain itu adalah poster olimpiade matematika, karna Tania sangat menyukai matematika ia akan mendaftarkan diri.

Karna rapatnya akan lama akhirnya siswa dipulangkan lebih awal, “Halo assalamualaikum Nia, lu masih sekolah?” tanya Nara ditelpon, “Waalaikumsalam, gua pulang cepet Gurunya rapat” jawab Tania, “Nah sama ayo ke toko buku sekarang, gua shareloc.” ajak Nara, sejak Nara pindah rumah ia juga pindah sekolah.

“Nyampe juga lu Tan, tumben ngga ngaret.” ucap Nara, “Yaelah sejak kapan sih gua ngaret soal buku?” jawab Tania, “Ya udah yu masuk.” ajak Nara, mereka melihat-lihat buku dan membeli beberapa buku setelah dari sana mereka ke kafe yang tidak jauh letaknya dari sana.

“Eh Ra, di sekolah tadi gua liat poster olimpiade matematika, gua ngedaftarin diri.” ucap Tania, “Oh ya? Gua juga ada dan gua ngedaftarin diri, nanti kita jadi lawan di olimpiade.” ucap Nara.

Hari terus berlalu kini olimpiade matematika akan segera dimulai, Nara dan Tania sudah siap mengerjakan soal soal yang diberikan panitia, mereka mengerjakan dengan teliti, waktu telah berakhir soal yang selesai maupun tidak harus dikumpulkan.

“Ra tadi lu nomer 13 jawabannya 358 kan?” tanya Tania, “Iya, tapi di soal pilihan ganda ga ada, akhirnya gua jawab E.” jawab Nara, “Nah bagus, gua juga jawab E.” ucap Tania, setelah menunggu beberapa lama akhirnya pengumuman untuk final, Nara dan Tania masuk babak final.

Selang satu hari akhirnya babak final dimulai, sekarang mereka sedang mengerjakan soal yang diberikan, sampai mereka di titik tidak bisa mengerjakan salah satu soal, entah mengapa seolah-olah mempunyai pikiran yang sama mereka bertatapan tanpa isyarat dari salah satunya, dan menentukan jawaban mereka.

“Baik agar tidak menyita waktu, langsung saja kepembagian juara untuk juara tiga diraih oleh Tasya Kamila SMA 64 Semarang, dan untuk juara satu dan dua hanya selisih satu point saja, juara dua oleh Tania antasyifa SMA 2 Jakarta dan mendapatkan beasiswa universitas Kyoto di Jepang, dan untuk juara satu SMA Kartini Elnara Azura yang mendapat beasiswa universitas Yonsei di Korea Selatan, selamat untuk para pemenang” ucap pembawa acara, dan penyelenggara menyerahkan piala pada para pemenang.

“Nara, selamat.” ucap Tania, “Selamat juga buat lu Tan, nanti jangan lupain gua ya kalo udah ke Jepang awas aja lu.” ucap Nara dan akhirnya memeluk Tania, “Yaelah santai aja kali Ra, lu kali yang lupain gua.” ucap Tania.

Empat tahun sudah berlalu Nara dan Tania sudah kembali ke Indonesia, dan tidak sengaja bertemu di toko buku yang sama pada saat itu, “Eh sorry, loh Tania?” Nara tidak sengaja menabrak Tania saat berjalan, “Maaf siapa ya?” tanya Tania, “lu beneran ga inget?” tanya balik Nara, “Ya kali gua lupa sama sahabat sendiri, gila kali.” ucap Tania sambil tertawa dan segera memeluk Nara, “Ya ampun gua kangen banget sama lu Tan, lu gimana kabarnya? Kapan pulang, ganti nomer ga bilang-bilang”, ucap Nara, “Ya maaf, lu juga ganti nomer kali, gua baik kok, lu gimana? Eh daripada disini sambil berdiri mending ke kafe yu.” ajak Tania.

Mereka mengobrol mengobati rasa rindu yang dipendam selama empat tahun karna selama mereka disana tidak pernah menelpon atau apapun, karna Tania mengganti nomer telponnya begitu juga Nara.

(Visited 21 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan