Sri Sakinah Agustian_UNEXPECTED_SMPN 3 Subang

Sri-Sakinah.jpeg

UNEXPECTED

Siang ini di tengah terik mentari yang menyangat kulitku, aku mengendarai sepeda motorku untuk pergi swab test di Rumah Sakit dekat tempat tinggalku, dikarekanan aku akan pulang ke kampung halamanku jadi aku akan melakukan swab test. Supaya aku mengetahui apakah aku terpapar Covid-19 atau tidak.  Saat ini aku sudah berada di Rumah Sakit aku sedang menunggu giliranku untuk di swab. Tak berselang lama, kini gilaranku untuk swab. Aku masuk keruangan dan duduk di depan nakes yang memakai APD.

“Dengan mba anggun?” Tanya nakes itu dibalik baju APD-nya, aku mengangguk sebagai jawaban, “Sakit ya ka?” Tanyaku. Nakes itu terkekeh “Nggak ka, rasanya kaya wasabi.” Aku tertawa “Maskernya di copot dulu ya ka” Kata Nakes itu, aku membuka maskerku lalu menyimpannya di dalam tasku. Lalu nakes itu memasukan alat swab ke hidungku.” Tahan ya ka, 1…2…3…4…5.” Nakes itu lalu mencopot alat swab dari hidungku. Rasanya benar-benar ngilu hingga air mata menetes “Baik ka sudah selesai, kakak boleh pakai lagi maskernya.” Ucap nakes itu. “Aku harus nunggu berapa lama supaya hasilnya keluar?” Aku lalu mengambil masker di tasku dan langsung memakainya. “Kakak bisa tunggu sehari, besok hasilnya sudah keluar. Setelah pulang dari sini Kakak harus isolasi mandiri dulu, sampai hasilnya keluar. Untuk hasilnya sendiri akan dikirim via e-mail.” Ucap nakes itu dengan jelas. Aku mengangguk tanda bahwa aku paham. “Jika kakak terkonfimasi Covid-19 nanti akan ada petugas dari rumah sakit yang menjemput.” Jelas nakes tersebut. “Oh baik ka”.

Setelah dari Rumah Sakit aku langsung pulang menuju kost-an, berhubung aku menjadi mahasiswa yang merantau, jadi aku tinggal di kost-an. Setelah sampai di kost-an aku langsung membersihkan diri, lalu aku melihat ke atas naskah. Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB cacing di perutku sudah merona-ronta minta asupan. Akhirnya aku memasak mie instan untuk mengisi perut. Aku makan seraya mengerjakan sebagian tugasku, kebetulan hari ini ada tugas yang harus segera diselesaikan hari ini juga. Waktu berlalu, keesokan harinya aku terbangun, aku bersandar lalu mengambil minum di naskah dan dikejutkan dengan sebuah e-mail yang masuk. Hasil swab-nya sudah keluar, and ya aku terkonfirmasi positif Covid-19. Hatiku seperti terbentur batu besar, tubuhku kaku aku masih tidak percaya. Dering telpon masuk menyadarkan diriku.

Ibu is calling

Aku terkejut yang menelponku ialah ibu, aneh ibu sepagi ini menelponku. Tidak seperti biasanya. Kemudian aku mengangkatnya.

“Assalamualaikum teh.” Suara ibu masih terdengar sama, aku jadi merindukannya.

“Walaikumsalam, kenapa bu?”

“Baru bangun ya teh?”

“Iya bu, semalam teteh bergadang ngerjain tugas.”

“Teteh jadi pulang sekarang?”

“Teteh belum bisa pulang bu, ada apa?” Ujarku.

“Bapak teh—“

“Bapak kenapa bu?”

“B-bapak udah gak a-ada teh.”

Badanku menjadi lemas, seketika badanku luruh ke lantai pikiranku sudah berkecamuk, di pagi hari aku sudah mendapat kabar buruk seperti ini, sungguh aku membenci hari ini. Suara ibu lagi-lagi menyadarkanku.

“T-teh?”

“I-bu bilang ke Anggun ini boongan!” Air mataku sudah bercucuran membasahi pipi.

“Ibu gak akan bercanda soal nyawa teh, teteh pulang sekarang ya, bapak mau dimakamin sore ini.”

“Teteh belum bisa pulang bu.”

“Loh kenapa teh?”

“Kemaren teteh swab, hasilnya positif.”

“Astagfirullahaladzim, teteh sekarang dimana?”

“Teteh masih di kost-an bu, lagi nunggu jemputan dari Rumah Sakit.”

“Yasudah, teteh jangan dulu pulang. Setelah teteh sembuh nanti teteh langsung ngelayat saja ke makam bapak. Teteh gak usah pikirin keadaan di sini, cukup teteh sehat dulu saja.”

“Anggun pengen pulang Bu.” Isak tangisnya semakin kencang.

“Lebih baik Anggun gak pulang sekarang, dari pada Anggun memaksakan pulang, nanti malah kita semua yang di kampung terpapar juga.”

“Yaudah Bu, nanti saat proses pemakaman, suruh Adek buat video call. Teteh tetap pengen menyaksikan proses pemakaman bapak walaupun virtual.”

“Iya Nak, nanti Ibu Bilang ke Adek. Teteh cepet sembuh ya, teteh kuat pasti bisa cepet sembuh.”

“Iya Ibu, Ibu tetap jaga kesehatan di sana juga, sehat-sehat.”

“Yasudah Ibu tutup dulu teleponnya, masih ada yang harus ibu urus, jaga diri ya teh.”

“Iya bu, Ibu juga harus kuat.”

Sambungan telpon itu terputus, aku masih setia duduk dilantai dengan air mata yang tidak berhenti mengalir, pikiranku sudah melayang kemana-mana. Suara ketukan pintu itu menalihkan perhatianku, aku merapihkan diriku terlebih dahulu. Aku berdiri lalu mengintip dari jendela ada siapa yang datang, ternyata nakes dengan APD lengkap sudah di depan kost-anku. Kemudian aku membuka pintunya.

“Selamat Pagi Mbak Anggun.” Ucap nakes itu. “Pagi Kak.” Jawabku wajahku tidak menampilkan ekspresi karena pikiranku sudah tidak karuan. “Mbak Anggun bisa siapkan dulu kebutuhan yang mau dibawa, sebutuhnya saja.” Kata nakes itu. Aku mengangguk lalu masuk kedalam dan membereskan barang-barang yang akan aku bawa, setelah aku rasa cukup aku menghampiri nakes itu “Ini sudah siap ka.” Nakes itu mengangguk. “Baik Mbak Anggun ikuti kita.” Saat keluar Kost-an aku hanya menunduk, tidak berani mengangkat kepalaku.

Aku masuk ke dalam ambulans, lalu duduk di belakang. Air mataku kembali keluar di sepanjang perjalan air mataku tak berhenti mengalir, sungguh pikiran dan hatiku sangat kacau. Mobil ambulans berhenti sepertinya sudah sampai rumah sakit, dan ternyata benar, nakes itu menembuka pintu ambulans. “Mbak Anggun boleh keluar.” Aku mengikuti perintahnya aku keluar dan nakes itu membawaku ke ruang isolasi.

“Silahkan masuk Mbak, nanti akan ada petugas yang mengecek keadaan mbak dan juga untuk makanan akan di simpan di depan pintu, jika nanti ada yang mengetuk pintu satu kali tandanya ada makanan datang. Jika dua kali akan ada pemeriksaan. Ada yang ingin di tanyakan?” Ujar nakes itu. “Aku di test lagi kapan ka?” Tanyaku. “Setelah mbak isolasi dua minggu nanti akan ada test kembali.” Jelas nakes itu. Aku mengangguk sebagai jawaban. “Baik Mbak saya pergi dulu, jika Mbak ingin memanggil kami bisa tekan bel di sebelah tempat tidur.” Nakes itu keluar dari kamar isolasi.

Setelah nakes itu pergi aku berkeliling ruang ini, tempatnya bersih. Di ruangan terdapat dapur, satu set lemari, satu set meja belajar, kamar mandi dan satu ranjang tidur. Aku langsung merapihkan barang yang aku bawa. Setelah semuanya selesai aku merebahkan diri di ranjang. Saat aku akan terlelap ke dalam mimpi bunyi dering dari gawaiku membuatku tidak jadi tidur.

Dek Fina is calling

“Assalamualaikum, ada apa Dek?”

“Wa’alaikumsalam,  Fina sudah di makam , teteh jadi video call-nya?”

“Iya Dek jadi, cepetan alihkan ke video call!”

Telepon beralih menjadi video call, terlihat disana proses pemakaman sedang berjalan. Aku sudah tak kuasa membendung air mataku, air mataku mengalir terlihat ibu yang ada di pelukan Bi Umay, terlihat bahu ibu bergetar pertanda ibu menangis. Prosesi pemakaman berakhir, panggilan video berakhir. Tangisanku semakin pecah aku memeluk lututku, sungguh hari ini sangat berat. Dari luar kamar terdengar ketukan pintu, sepertinya sudah ada yang mengantar makanan. Aku berdiri lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Tak berselang lama setelah selesai mandi, aku langsung keluar kamar dan ternyata makan siang sudah siap, aku membawa makanan tersebut ke dalam dan memakannya di meja belajar. Untungnya hari ini aku tidak ada kelas jadi aku bisa menenangkan diri sejenak.

Waktu di dinding menunjukan pukul 15.00 WIB aku mengambil matras yang aku simpan di koper lalu melakukan rutinitas soreku yaitu melakukan yoga. Setelah selesai yoga aku membersihkan badan lalu mengambil makanan ringan yang ada di koper, aku memakannya di atas kasur seraya menonton Netflix. Hari berganti terhitung sudah dua minggu aku berada di tempat isolasi ini, di sini aku terbilang lebih produktif, aku lebih banyak waktu untuk diriku sendiri menikmati waktu sendiri ini. Aku bersyukur setelah kepergian Bapak aku masih di kelilingi oleh orang-orang yang baik hati.

Tok tok

Ketukan pintu itu terdengar di indra pendengaranku, sepertinya akan ada nakes. Aku membuka pintu dan ternyata benar ada nakes di depan. “Selamat Pagi Mbak Anggun, saya akan melakukan cek rutin seperti biasa.” Tanya nakes itu. “Pagi Dokter Alvin, silahkan dok.” Nakes itu merupakan Dokter Alvin, dokter yang merawatku selama isolasi. “Hasil swab kemarin sudah keluar, Mbak Anggun bisa cek di e-mail masuk.” Ujar Dokter Alvin seraya memeriksa keadaanku. “Oh begitu, baik dok nanti saya cek e-mail Saya.” Dokter alvin telah selesai memeriksaku. “Sudah selesai, kalau begitu saya pergi dulu, jaga kesehatan ya Mbak Anggun.” Aku mengangguk sebagai jawaban.

Setelah Dokter Alvin pergi aku langsung mengecek e-mail dan langsung membuka pesan masuk, ternyata hasil testnya menunjukkan bahwa aku negatif Covid-19, sungguh aku sangat bahagia, itu pertanda aku sudah boleh pulang. Aku jadi tidak sabar untuk mengunjungi kampung halamanku. Tetap jaga kesehatan dan jangan menyerah. Ingatlah Allah tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan hambanya.

 

(Visited 16 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan