Sri Sakinah Agustian_ONE THOUGHT_SMPN 3 Subang

Sri-Sakinah.jpeg

ONE THOUGHT

Suasana dipagi hari  yang cerah di SMP ini, nampak seluruh siswa dan siswi sedang melaksanakan KBM di kelasnya masing-masing. Suasana yang begitu tentram nampak di halaman sekolah, tiba-tiba pengeras suara itu berbunyi.

Kring Kring Kring

“Di beritahukan kepada seluruh siswa-siswi di mohon segera berkumpul di aula.” Pemberitahuan itu membuat siswa-siswi berhamburan keluar dari kelasnya. suasana di dalam aula terlihat begitu ramai. “Van ini ada apa si kok rame banget?” Tanyaku yang sedari tadi memainkan ponselnya. Kelvan hanya menggelengkan kepalanya pertanda bahwa dirinya tidak tahu.“Ah elah, kutub ngomong napa, jangan diem-diem aja.” Agam menyenggol bahu Kelvan untung saja Kelvan bisa menjaga keseimbangan tubuhnya jadi dirinya tidak terjatuh ke lantai, perseteruan mereka terhenti saat pengeras suara itu berbunyi. Selamat Pagi anak-anak.” Ucap Guru kesiswaan melalui pengeras suara. “Pagi bu.” Jawab seluruh murid dengan serentak.

“Di pagi yang cerah ini, ibu akan memberitahukan kabar yang lumayan menyenangkan untuk kalian dengar. Karena Covid-19 telah ditemukan di Indonesia, mulai besok hingga dua minggu kedepan kalian semua akan belajar dari rumah.” Sontak terdengar sahutan-sahutan kebahagiaan dari siswa-siswi. “Harap tenang anak-anak!” Suasana yang tadi gemuruh sekarang menjadi hening. “Sekarang kalian kembali ke kelas masing-masing, lalu bereskan perlengkapan kalian, dan pulanglah kerumah jangan keluyuran langsung pulang ke rumah masing- masing!”. Setelah mendengar perintah dari guru kesiswaan, para murid langsung berhamburan keluar aula. Sebagian besar dari mereka menuju ke kelas lalu pulang, dan sebagian lainnya masih diam di aula.

Di gerbang depan sudah penuh dengan siswa-siswi yang berlarian pulang, sedangkan Agam dan Kelvan masih di koridor sekolah, mereka menunggu sekolah sepi terlebih dahulu barulah mereka keluar dari lingkungan sekolah. “Ayo van kita nongs dulu sebelum pulang.” Ajak Agam pada Kelvan. “Nongs?” Alis Kelvan terangkat Agam yang melihatnya tertawa “Ptttt…jangan bilang lu gak tahu nongs itu apa?”  dengan polos Kelvan mengangguk “Allahu Akbar nongs itu NONGKRONG Kelvan!” Agam mengacak-ngacak rambutnya frustasi, dia berpikir mengapa dia bisa berteman dengan Kelvan si kudet ini. “Lu gak denger tadi kata bu Ratna kita suruh pulang langsung?!” Kelvan berjalan menuju gerbang meninggalkan Agam yang masih bengong, karena tersadar Kelvan meninggalkannya lantas ia menyusul Kelvan “Ah lu mah patuh banget sih, sekali-kali kita nongkrong!” Kelvan masih menghiraukan Agam.

Disepanjang jalan Agam masih ngotot untuk pergi nongkrong namun Kelvan tetap menghiraukan Agam, hingga memasuki komplek tempat mereka tinggal. Agam masih bersikeras mengajak Kelvan untuk nongkrong, hingga Agam menyerah mengajak Kelvan. Akhirnya mereka sudah sampai di persimpangan jalan, mereka harus berpisah karena rumah mereka berbeda blok.

 

AGAM POV

Rumah bergaya minimalis itu tampak tentram jika dilihat dari luar bagaimana tidak halaman depan yang begitu sejuk, membuat orang yang berlalu lalang menjadi ingin tinggal di rumah itu. Tetapi jika kalian sudah masuk ke dalam rumah akan membuat kalian berpikir dua kali untuk tinggal di rumah itu.

Prak prak prak

Baru saja aku membuka pintu, sepasang suami istri kembali berdebat, hal itu sudah biasa terjadi, aku memakai earphone-ku berjalan menuju tangga. “Agam kamu udah pulang nak?” Suara wanita yang tak asing menghentikan langkahku, aku hanya menengok ke arah mereka tanpa berniat untuk menjawab. “Kamu lihatkan Mah, gegara kamu yang sibuk dengan kerjaan kamu itu Agam jadi seperti itu!” Suara seorang pria terdengar nyaring. “Loh itu salahmu juga!” Gertak wanita itu.

Aku yang sedari tadi jadi penonton menjadi bersuara “Kalian bisa diam tidak?!” Perdebatan itu menjadi terhenti “Kalo kalian masih ingin bertengkar setidaknya jangan dihadapanku!” aku berlari menaiki tangga lalu memasuki kamar dan menutup pintu dengan keras. Sepertinya untuk dua minggu ke depan aku hanya akan mendengarkan perdebatan mereka. Hari berganti, sudah dua minggu aku berada di rumah. Aktivitasku hanya tidur makan tidur makan saja, sungguh sangat membosankan. Sore ini aku sedang menikmati senja di balkon ditemani musik dan teh manis kesukaanku. Besok aku sudah kembali belajar seperti biasa, senang rasanya karena aku akan sibuk kembali.

 

Ting ting ting

Notifikasi pesan masuk itu terdengar digawai milikku, ternyata grup kelasku sedang ramai.

KELUARGA BESAR IX-G

Pak Padlan (wali kelas)

Assalamualaikum wr.wb…

Sehubungan kasus Covid-19 masih terus bertambah, belajar di rumah di perpanjang kembali dua minggu.

Perihal UN mulai tahun ini ditiadakan. Seharusnya tahun sekarang pelaksanaan UN yang terakhir, namun berhubung ada Covid-19 jadi di tiadakan mulai tahun sekarang.

Semangat semuanya!

Jangan lupa 3M, kalau lupa mantan boleh banget!

Wassalamualaikum wr.wb.

Kelvan kutub

Waalaikumsalam, loh kok UN dihapus sih pak.

Ina

Wa’alaikumsalam, Alhamdulillah masih  bisa begadang.

Gita Fitrin

Waalaikummussalam, Alhamdulillah baik pak, yang lama aja pak liburnya wkwk.

Ratna

Waalaikumsalam, loh pak ko UN udah dihapus aja, lantas standar kelulusan dilihat dari apa pak?

Tya

Waalaikummussalam, pak ko UN di hapus sih?

Gibran

Waalaikumsalam, ah ga asik pak masa UN dihapus.

Pak Padlan (wali kelas)

Standar kelulusan dilihat dari nilai raport anak-anak.

Jangan bersedih ya nak, masa depan kalian masih panjang!

Fernand

Waalaikumsalam, yah pak ko di undur si, masa UN dihapus pak.

Saya sudah bosen dirumah ni pak.

Agam

Waallaikumsalam, bener pak kata Fernand kita sudah bosen dirumah  pak

Pak Padlan (wali kelas)

Aneh bapak sama kalian berdua, yang lain malah ingin libur.

Fernand

Kita emang beda dari yang lain pak.

Aku menutup smartphone-ku, hilang sudah harapanku untuk pergi ke sekolah, mungkin aku harus bersabar lebih lama lagi. Aku beranjak dari kursi yang ada di balkon dan masuk ke dalam, aku berjalan mendekati rak buku yang ada di kamarku, lalu memilih buku mengenai mental health. Mungkin bagi orang-orang kelihatannya aneh seorang pemuda di masa kini memiliki banyak buku bacaan di kamarnya, membaca sudah menjadi kebiasaanku dari kecil.

Keesokan harinya, aku mengeluarkan sepeda yang ada di garasi rumah. Aku mengendarai sepeda tidak lupa memakai masker, lalu aku bersepeda mengelilingi komplek, aku memasuki blok rumah Kelvan. Saat di depan rumahnya aku menghentikan sepedaku, terlihat Kelvan sedang mencuci sepedanya lantas aku mendekatinya.

“Widih anaknya Bu Mirda rajin kali.” Aku menepuk bahu Kelvan. “Astagfirullah, lu ngagetin aja Gam.” Terlihat raut wajahnya terkejut aku yang melihatnya tertawa terbahak-bahak. “Ada apa lu kesini?” Kelvan mematikan keran air yang sedari tadi mengalir. “Sepedahan kuy, lu kali ini harus mau ga boleh nolak!” Ujarku memperingati Kelvan. “Yaelah baru juga gua cuci ni sepeda.” Ucap Kelvan.

Akhirnya kelvan setuju lalu mereka bersepeda mengelilingi komplek seraya menikmati udara pagi, walaupun udara pagi di kota tidak sejuk seperti udara di pedesaan namun tetap bisa dibilang sejuk.  Mereka menghentikan sepeda mereka di tukang bubur yang ada di depan komplek. Mereka lalu memesan bubur, “Van UN dihapus ya?” Ucapku membuka pembicaraan, Kelvan mengangguk sebagai jawaban, ”Pendapat lu gimana?” Tanyaku.

“Dari lubuk hati yang paling dalam gua sendiri kurang setuju kalau UN di tiadakan, tapi apa boleh buat. Ini semua sudah jadi kebijakan pemerintah, kalau kita tetap ngelaksanain UN gua yakin orang tua kita juga pada ga setuju, sekarang kasus Covid-19 lagi melonjak di Indonesia, apalagi di Subang kasusnya lagi naik. Takutnya kalo masih menjalankan UN nanti muncul klaster baru di Sekolah.” Kelvan menjawabnya dengan bijak, aku kaget baru pertama kali mendengar Kelvan bicara lebih dari satu kalimat. “Hmm, benar juga.” Aku meminum susu kotak yang ada di tangan Kelvan, Kelvan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan diriku.

Senang rasanya aku bisa berteman dengan orang yang se frekuensi denganku. Walaupun Kelvan bicara sebutuhnya saja, namun Kelvan selalu nyambung jika menjadi lawan bicara, oleh karena itu aku bertahan lama berteman dengan Kelvan.  Waktu berjalan dengan cepat, rasanya aku ingin lebih lama berada di luar rumah, apalagi ditemani oleh sahabatku yang kutub ini. Setidaknya ketika bersama Kelvan, aku bisa melupakan sejenak penatnya suasana rumah.

(Visited 9 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan