Sri Sakinah Agustian_Cahaya Di Tengah Gelap_SMPN 3 Subang

Sri-Sakinah.jpeg

Cahaya Di Tengah Gelap

Nabila Gistha Herjaya, yang akrab dipanggil Nabila anak tunggal dari pasangan Darmanto Herjanya & Ambarawa Herjaya. Anak dari seorang CEO terkaya di Jawa Barat. Gadis yang baik hati, pintar, manja dan tentunya ramah. Nabila tergolong anak dari keluarga berada. Bak seorang puteri di kerajaan, semua kebutuhannya bisa terpenuhi, keluarganya yang berada membuat segala keinginannya terpenuhi.

Benar semua keinginannya dari semenjak dirinya lahir selalu terpenuhi. Tetapi itu semua dulu sebelum pandemi ini datang. Akibat masuknya COVID-19 di Indonesia, pada awal tahun 2020 menyebabkan perusahaan milik ayahnya gulung tikar. Tidak hanya karena pandemi, ini pun disebabkan oleh salah seorang direktur perusahaan yang menilap uang perusahaan. Penjualan yang menurun akibat PSBB menyebabkan perusahaan milik ayahnya harus mem-PHK sebagaian besar karyawannya.

Semua aset yang dimiliki keluarganya terpaksa harus dijual termasuk rumahnya yang seperti istana, terpaksa keluarga Herjaya harus berpintah tempat tinggal ke rumah yang sederhana. Seluruh Harta Kekayaan mereka terpaksa dijual untuk membayar uang pesangon para karyawan dan juga untuk membayar pajak kepada negara. Seluruh harta kekayaan yang dimiliki keluarga Herjaya ludes, yang tersisa hanya sebuah mobil minibus dan satu unit sepeda motor. Di sebuah kamar rumah sederhana, terlihat seorang gadis cantik tengah termenung di depan meja belajar yang terdapat di kamar barunya. Wajah yang cantik itu terlihat pucat, rambut yang berantakan, juga kantung mata yang tebal, dirinya terlihat seperti orang yang kehilangan arah. Tentu saja benar dirinya kehilangan arah, bagaimana tidak  peristiwa yang tak dia inginkan terjadi. Semua harta, kejayaan, kekuasaan hilang dalam waktu singkat.

Seorang wanita cantik memasuki kamarnya lalu mendekati dirinya lantas memeluknya dari belakang. “Ikhlaskan nak.” Ucap Nyonya Herjaya seraya mengusap rambut anaknya yang terlihat begitu berantakan. “Bunda” lirihnya dengan airmata yang membanjiri pipinya. “Kita harus bagaimana bunda.” Tangisannya menjadi lebih kencang. “Kita mulai semuanya dari awal sayang.” Tutur katanya yang lembut membuat Nabila menjadi sedikit tenang. “Kita mau mulai dari mana bunda?” Manik mata mereka bertemu, terlihat nyonya Herjaya tersenyum, “ Kamu mandi dulu sana, bunda tunggu disini.” Ucap nyonya Herjaya. Seraya menunggu Nabila mandi, nyonya Herjaya membereskan kamar anaknya yang terlihat seperti kamar pecah.

Tak berselang lama keluarlah Nabila dari kamar mandi. Nabila lalu menghampiri bundanya yang duduk di ranjang, dia mendekat dan duduk di sebelah bundanya. “Jadi sekarang kita harus gimana Bunda?” Tanya Nabila, “Kita harus merintis dari awal lagi sayang.” Ucap bundanya. “Bila ngerti kita harus mulai lagi dari nol, tapi kita dapat modal dari mana bunda? Uang tabungan Bila habis buat nambahin beli rumah ini.” Ucapnya menatap Bundanya “Bunda punya tabungan yang cukup buat kita mulai usaha sayang.” Kata Bunda sambil mengelus tangan anaknya.

“Kita mulai usaha apa bunda?” tanyanya. “Nabila gapunya keahlian seperti bunda.” Lanjutnya. Nyonya Herjaya tersenyum “Sayang kamu punya keahlian, kamu hanya tidak menyadari apa keahlian kamu. Waktu kamu mau masuk Kuliah, kamu yang merengek ke Ayah sama Bunda pengen masuk jurusan DKV, akhirnya kamu masuk di sana. Kamu sudah punya keinginan sayang tinggal bagaimana cara kamu mengembangkannya.” Jelas Nyonya Herjaya seraya tersenyum “Bunda dulu kan ngambil Tata Boga, keahlian memasak bunda lumayan“ Ucapan Nyonya Herjaya terpotong “Ih bunda, masakan bunda itu terenak ngalahin restoran bintang lima tau!” Ucap Nabila dengan sumringah “Ah kamu bisa aja mujinya, ucapan bunda jangan dulu dipotong sayang.” Nabila hanya cengengesan menanggapi Bundanya.

“Bunda sama Ayah sudah sepakat membuka usaha kuliner, Bunda yang jadi Kokinya, Ayah yang menjadi bagian marketing, berhubung desain kamu bagus, kamu yang mendesain usaha kita.” Ucap Bundanya. “Boleh bunda untuk masalah desain serahin ke Bila aja.” Kata Nabila. “Terus kita mulainya kapan Bunda?” Tanya Nabila dengan begitu antusias “Lihat jam, sekarang sudah malam, waktunya tidur. Kita mulainya besok saja sayang.” Ucap Bunda “Baiklah Bunda, anakmu yang cantik ini akan segera tidur supaya besok bisa lebih bertenaga.” Ucap Nabila dengan meniru aksen Putri Kerajaan.

Keesokan harinya, terdengar suara gaduh di dapur, terlihat seorang lelaki yang paruh baya berjalan menuruni tangga. “Wah, wanita-wanita Ayah kelihatannya sedang sibuk.” Lelaki tersebut ialah Tuan Herjaya yang merupakan Ayah Nabila. “Ayah sini bantuin kita.” Kata Nyonya Herjaya yang sedari tadi berkutat dengan masakan. Keluarga kecil itu bahu-membahu saling membantu. Semua anggota keluarga itu terlihat sibuk dengan tugasnya masing-masing. “Bunda, ini semua sudah selesai, kita jualnya gimana Bunda?” Tanya nabila seraya memindahkan tas makanan buatan dirinya.

“Kita jual di Sosial media dulu, untuk saat ini kita melayani yang satu kota aja dulu.” Jelas Tuan Herjaya selaku Pengelola Kuliner. “Benar apa kata Ayahmu, untuk sekarang uang kita belum cukup untuk membuka toko.” Jelas Nyonya Herjaya. “Oh begitu pesanan pertama ini buat siapa?” Tanya Nabila. “Buat Bu Yeyen, di rumahnya ada arisan kebetulan mereka pesan makanan dari kita.” Ucap Nyonya Herjaya seraya memasukkan berbagai makanan buatannya kedalam Paper Bag. “Oh gitu, nanti Bila yang anter ke rumahnya.” Kata Nabila sambil menata makanan yang sudah lengkap. “Jangan nak biar Ayah saja, nanti ada yang akan Ayah bicarakan dengan Suami Bu Yeyen.” Saut Tuan Herjaya. “Ya sudah deh.” Kata Nabila.

Sampailah Tuan Herjaya di rumah Bu Yeyen, disana Tuan Herjaya bertemu dengan Suami Bu Yeyen yaitu Pak Raden, Pak Raden merupakan sahabat karib Tuan Herjaya. Terlihat Pak Raden sedang membaca koran di halaman depan rumahnya. “Pak Raden akhir-akhir ini sibuk apa?” Tanya Tuan Herjaya membuka pembicaraan. “Biasa Pak, saya hanya mengelola perusahaan pusat,” Kata Pak Raden “Keadaan Perusahaan Bapak…?” Tuan Herjaya mengangguk “Seperti yang sudah Bapak ketahui, Perusahaan saya sudah bangkrut.” Jelas Tuan Herjaya. “Keluargamu bagaimana keadaanya?” Pak Raden mengalihkan pembicaraan, “Lumayan membaik.” Sahut Tuan Herjaya. “Rekeningmu masih yang dulu Jay?” Pak Raden mengetikkan beberapa pesan di gawainya namun terhenti saat Tuan Herjaya berkata, “Aku kesini bukan untuk pinjam uang Den.” Pak Raden menengok ke Tuan Herjaya “Lantas ke depannya kamu mau gimana jay?” Tuan Herjaya mengeluarkan dokumen yang ada di dalam tasnya “Ini Proposal pengajuan Investasi, kamu tinjau saja dulu.” Tukas Tuan Herjaya seraya menyeruput teh. Pak Raden berkata, “Baik aku pertimbangkan dulu, nanti aku kabari lagi.”

Setelah pulang dari rumah Pak Raden, semua anggota keluarga Herjaya tengah berkumpul di ruang keluarga seraya menonton televisi, fokus mereka terbuyarkan oleh dering telepon lalu Tuan Herjaya mengangkat teleponya.

Pak Raden       : “Hallo Jay”

Tuan Herjaya  : “Hai Den, sudah kamu pertimbangkan den?”

Pak Raden       : “Sudah, kira-kira kapan kita akan bertemu?”

Tuan Herjaya  : “Besok, nanti aku atur jadwalnya.”

Pak Raden       : “Baik besok aku tunggu.”

Panggilan berakhir, rasa senang terasa oleh Tuan Herjaya. Nabila yang penasaran mengapa Ayahnya terlihat bahagia akhirnya bersuara “Ayah ada apa?” Tuan herjaya duduk mendekati mereka “Pak Raden sudah mempertimbangkan mengenai investasi.” “Alhamdullilah, terus hasilnya gimana?” Nyonya Herjaya memakan cemilan yang di pegang oleh Nabila “Belum tahu, besok Ayah akan bertemu dengan Pak Raden.” Sahut Tuan Herjaya.

Siang berganti malam, mentari berganti dengan bintang dan rembulan, bulan berganti bulan. Setelah Pak Raden setuju untuk berinvestasi, akhirnya usaha kuliner mereka sudah bisa dinikmati oleh semua kalangan yang ada di dalam negeri. Bahkan varian makanannya sudah berbagai macam, terdapat makanan cepat saji dan makanan instan. Namun, untuk yang di jual di E-commerce hanya makanan instan, semua makanannya sudah terdaftar di BPOM. Toko offline-pun sudah tersedia di berbagai kota besar yang ada di indonesia.

Perekonomian keluarga Herjaya pun membaik. Bahkan Nabila mengikuti jejak orang tuanya, setelah Nabila menemukan jati dirinya dia memberanikan diri  membuat brand fashion. Memanglah tidak mudah membangun brand fashion-nya sendiri, namun dengan hasil kerja kerasnya dan dukungan dari orang terdekat, brand fashion yang dimiliki Nabila sudah di kenal di dalam negeri dan tentunya sudah terkenal dikalangan para milenial.

Pandemi ini merupakan tantangan terberat dari sejarah keluarga Herjaya. Pandemi ini memberikan banyak pelajaran bagi keluarga Herjaya sendiri. Jadikan Keluarga Herjaya sebagai panutan dalam hidup dimana saat kita berada di bawah  kita berdiri bersama-sama bukannya saling meninggalkan. Jangan jadikan Pandemi untuk menjadi pengaruh perkembangan diri, walaupun dalam masa pandemi kita sebagai makhluk sosial harus bisa meng-upgrade diri sendiri menjadi lebih dari sebelumnya.

(Visited 10 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan