Ratu Septiana Dewi_Nilai Tak Pandang Kasta_SMPN 3 Subang

ratu.jpeg

Nilai Tak Pandang Kasta

Pagi itu Ayam jantan berkokok hingga membangunkan Azila Putri Maharani, gadis yang sudah lama ditinggal orang tuanya karena bencana tsunami di kotanya. Sejak kejadian itu Azila menetap di sebuah panti asuhan bernama Gryffindor. Meski begitu, gadis itu sangat tegar menjalani kehidupannya. Azila segera beranjak dari tempat tidur dan bergegas mandi untuk memulai aktivitas sekolah di SMA barunya. Ia mendapatkan beasiswa di salah satu sekolah elit itu. Kecerdasannya membuat ia menerima banyak beasiswa di berbagai sekolah terbaik di kotanya.

Suara pijakan sepatu di lorong XI IPS 4 tampak menyita perhatian seluruh siswa yang sedang duduk di depan kelas, Azila pun tersenyum dan segera memasuki kelasnya. “Ayo semua masuk kelas! Perhatian, pagi ini kedatangan murid baru.” Senyum Ariska, wali kelas XI IPS 4. “Halo teman-teman nama saya Azila Putri Maharani, salam kenal semuanya!” Sapa Azila. Azila pun duduk setelah mendengar intrupsi dari Ariska untuk duduk di samping anak yang bernama Alexander Mecusrine, memang mereka berdua sudah berkenalan sebelumnya.

Tak terasa bel istirahat berbunyi, Azila berdiri dari tempat duduknya untuk segera menuju kantin, namun tangannya dicekal oleh Alexander. “Lo ga mau ngajak gue gitu Az?” Azila terkekeh geli lalu melepaskan tangannya dari genggaman Alexander. “Azila Putri Maharani, anak yatim piatu yang orang tuanya meninggal karena bencana tsunami?” Tawa sinis Mikhaella Ancelline, ketua geng di kelas tersebut. Mikhaella tidak sendiri, ia diikuti oleh kedua temannya Aura dan Andin. “Berani banget si masuk SMA elit?” Ucap Aura, “Berani karena aku memiliki nilai yang cukup baik sehingga mendapatkan Beasiswa” Azila sengaja menyombongkan dirinya terhadap gadis-gadis centil di hadapannya itu. “Sombong banget ya lo!” Ucap Mikhaella. Alexander menarik tangan Azila dan membawanya ke kantin sekolah lalu mengajak Azila duduk di meja paling pojok untuk memastikan kondisi Azila. “Az, lo ga apa-apa?” Alexander mengamati Azila, “Udah biasa, pas SMP juga sering diginiin kok!” Alexander menahan nafasnya karena terlalu kaget, “Lo kuat si menurut gue Az.” Ucap Alexander, Azila hanya tersenyum lalu berkata “Kita mau makan atau meratapi nasib aku?” Alexander tertawa. Sebagian anak di kantin memandang Azila sangat sinis, namun Azila hadapi semua dengan senyuman.

Pembelajaran pun dilanjutkan seusai istirahat, kini waktunya untuk belajar Fisika. Guru Fisika menjelaskan tentang beberapa materi di papan tulis, “Oh iya aku paham.” Azila menanggapi setelah penjelasan materi selesai. “Lo ngerti? Tuker otak dah!” Ucap Alexander yang tampak frustasi, “Dari pada kamu duduk misuh-misuh gitu, mending nulis yang di papan tulis!” seru Azila, Alexander menghela nafas dan pasrah. Tak terasa pembelajaran selesai, sebagian besar anak di kelas memasang wajah muram. “Az, gue duluan ga apa-apa?” Alexander bertanya pada Azila, gadis itu hanya mengangguk simpul dan melanjutkan catatannya.

Kini tinggal Azila, Mikhaella, Aura, dan Andin yang berada di kelas. Mikhaella, Andin, dan Aura berjalan dengan melenggak-lenggok, mereka mulai menghampiri Azila sambil memperlihatkan senyuman sinis. “Sibuk amat?” Mikhaella sambil tertawa dengan nada mengejek, Azila  tak peduli. “Jawab dong!” Andin pun menggebrak meja hingga Azila mendongakan kepalanya, “Ada apa sih?” Azila berdiri lalu melipat kedua tangannya. “What? Berani ya lo, sini lawan gue!” Aura menantang, Azila pun maju lalu menatap ketiganya. “Ga ada nyali, mainnya keroyokan.” Ucap Azila. Aura dan Andin geram namun Mikhaella menghentikan mereka, “Cukup girls, lanjut nanti!” Mereka pun pergi meninggalkan Azila, Azila menunjukan ekspresi gelisahnya setelah mereka pergi.

Tiba di rumah panti asuhan, Azila merasa bahwa hari ini ia harus merasakan pelukan hangat dari seorang wanita yang telah merawatnya dari kecil. Azila mulai mengetuk pintu, lalu wanita paruh baya bernama Rani berjalan untuk membukakan pintu tersebut. “Azila, muka kamu kenapa?” Rani hendak menuntun Azila yang saat itu terlihat lemas. “Sebenarnya ada apa Azila?” tanya Rani, Azila pun memeluk tubuh Rani hingga menangis, “Seperti biasa Azila di bully Bu.” jawab Azila. Marvendo, Cheryn dan Putri yang juga tinggal di panti asuhan itu pun merasa jengkel. “Tapi ini udah ke sekian kalinya ka!” Cheryn, gadis berumur 13 tahun itu pun bersuara. “Kak Azila kenapa ga ngelaporin mereka?” kini Putri, gadis yang sebaya dengan Cheryn itu pun ikut berbicara. Marvendo meneguk ludahnya menahan amarah, “Ingat pesan Ibu, perlihatkan dengan nilai!” Ucap Marvendo, “Iya tapi kalo terulang lagi harus dilaporkan ke pihak sekolah!” usul Rani. Azila pun tersenyum dan mencoba bangkit kembali, ia bersyukur karena masih dikelilingi orang-orang yang sangat menyayanginya walaupun bukan keluarga sendiri.

Keesokan harinya Azila menguatkan diri untuk tetap berangkat ke sekolah, ia berusaha untuk berjalan tegap agar terlihat tegar. Bel masuk pun berbunyi, teman-temannya sedang membicarakan tentang ulangan Matematika di kelas. Alexander pun gelisah, dan segera menghampiri Azila yang saat itu baru tiba di kelas. “Katanya bakalan ada ulangan  loh Az!” Azila menengok ke arah Alexander, “Ehmmm!” suara Vian, guru Matematika di kelas itu pun terdengar tepat di belakang Alexander. “Sudah siap kan? Keluarkan kertas selembar dan alat tulis!” Seru Vian. Azila menanggapi dengan santai. “Victoria, nilai kamu selalu memuaskan. Bapak harap kamu mempertahankannya ya!” Senyum bangga Vian terhadap Victoria. “Harus lah, jangan kalah sama beasiswa Vic!” Mikhaella menyindir tajam, “Merdu banget suara titisan dakjal.” Seru Alexander membuat Azila menahan tawanya mati-matian.

Hasil ulangan Matematika pun dibagikan sebelum bel pulang berbunyi, mereka tampak gelisah. Vian membagikan selembaran kertas yang berisi urutan nilai ulangan Matematika kelas XI IPS 4. “Victoria, kamu berada di peringkat kedua diulangan bapak kali ini, bukan nilai kamu yang turun tapi nilai Azila yang lebih tinggi.” “Lo kalah sama gadis beasiswa?” Sindir Alexander sambil menatap Mikhaella. Mikhaella pun tampak kesal. “Sudah, sudah. Pokonya kalian harus semangat meningkatkan nilai kalian. Lebih giat lagi belajarnya!” Seru Vian. Mereka pun mengangguk paham, dan segera kembali ke rumahnya masing-masing.

Ujian Akhir Semester pun semakin dekat, Azila berusaha lebih giat lagi untuk mempelajari materi pelajaran yang sudah ia dapat. Ia tak mau menyia-nyiakan waktu, maka dari itu ia belajar hingga larut malam. Ia mengulangi pola belajarnya itu beberapa hari berikutnya, namun Rani khawatir akan kesehatan Azila. “Azila, akhir-akhir ini kok kamu sering tidur malam sekali?” tanya Rani, “Kan sebentar lagi Ujian Akhir Semester bu, jadi Azila harus lebih giat!” Jawab Azila. “Ibu ngerti, tapi awas jangan sampai sakit. Makan yang banyak yaa nak!” Seru Rani. Azila tersenyum dan memahami betapa besarnya rasa sayang Rani terhadapnya, tak lama Azila pun segera tidur.

Ujian Akhir Semester pun tiba, pagi itu terlihat awan yang sedikit mendung. Azila tampak bahagia di tempat duduknya hingga suara bel masuk, menandakan ujian akan segera di mulai. Seluruh siswa SMA itu memanjatkan doa agar bisa mengerjakan soal dengan lancar, setelah itu mereka mengerjakan soal dengan hening. Beberapa jam sudah dilewati, Azila yang tengah selesai mengerjakan soal itu hendak memeriksa kembali jawabannya. Azila pun berdiri dan segera menuju meja Guru untuk menyerahkan kertas ujiannya. Terlihat senyum bangga Arka selaku Guru Olahraga yang saat itu menerima kertas ujian Azila.

Ujian telah selesai, Azila kembali pulang ke panti asuhan. Tiba di sana Azila duduk di ruang tamu bersama Rani, Azila teringat bahwa pembagian rapot akan segera tiba. “Bu, bentar lagi dibagi rapot, Ibu nanti bisa dampingi Azila?” tanya Azila, “Insya Allah bisa nak, semoga nilai kamu memuaskan ya!” Seru Rani. Azila yang saat itu sedang meminum teh, tiba-tiba berhenti dan menatap Rani dengan senyuman, “Makasih Ibu!” Ucap Azila. “Tapi Ibu boleh minta ditemani Bang Marvendo?” Azila pun mengangguk.

Hari pengambilan rapot pun tiba, langit begitu cerah seperti suasana hati Azila saat itu. Azila mendengar bisikan kecil dari teman-temannya, “Pasti yang juara 1 Victoria lagi.”, “Yakin nih gue, Victoria menang lagi kayak kemaren-kemaren.” Ditemani Rani dan Marvendo, Azila memasuki kelas dan disambut senyuman manis dari Alexander. Pengumuman nilai pun dimulai, Azila nampak terkejut saat Wali Kelas mengumumkan nilai tertinggi di kelasnya, “Selamat Azila!” Ucap Wali Kelas sambil menjabat tangan Azila. Mikhaella, Aura, dan Andin nampak heran, sedangkan Alexander memberikan selamat pula pada Azila, “Selamat Az. Oh iya jangan lupa, nanti bakal diumumin juara paralel di SMA kita!” seru  Alexander dan Azila pun mengangguk.

Kini seluruh siswa berada di lapangan upacara, mereka sedang menyimak amanat kepala sekolah di bawah teriknya matahari. “Baik, langsung saja Bapak umumkan Juara Umum di sekolah kita kali ini. Apakah kalian sudah siap? Juara Umum tahun ini jatuh kepada Azila Putri Maharani kelas XI IPS 4!” Suara tepukan riuh terdengar di penjuru sekolah, Azila yang saat itu menatap kepala sekolah pun terkejut atas pencapaiannya. “Az, lo menang Az!” Alexander bersorak, Azila bersyukur atas apa yang diberikan oleh Tuhannya. Azila pun bergegas maju untuk menerima penghargaan dari kepala sekolah.

Setelah acara pembagian rapot selesai, Azila berfoto sambil menggenggam piala dan sertifikat bersama Rani dan Marvendo. Nampak senyum yang bahagia di wajah mereka, Rani dan Marvendo sangat bangga terhadap Azila. “Selamat Az, Ibu bangga sama kamu!” Ucap Rani dengan mata yang berkaca-kaca, Azila pun kembali memeluk Rani. Tak lama Mikhaella, Aura, dan Andin datang menghampiri Azila untuk meminta maaf atas kesalahannya. Azila pun dengan senang hati memaafkannya, “Jadi lo mau kan temenan sama kita? tanya Mikhaella, “Tentu dong!” Mereka pun akhirnya berteman. Mikhaella, Aura dan Andin menyadari bahwa kecerdasan tidak dilihat dari status sosial, namun seberapa keras mereka berusaha untuk mencapai apa yang dituju.

(Visited 4 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan