Julia Shalma_HIDUP ITU TIDAK SELALU HARUS SEMPURNA_SMPN 3 Subang

Julia-Shalma.jpeg

HIDUP ITU TIDAK SELALU HARUS SEMPURNA

Covid-19 siapa yang tidak tahu virus ini? Semua orang pun tau virus ini, virus yang dimulai dari kota Wuhan di China yang sekarang menyebar hampir ke seluruh dunia. Hampir semua negara terkena dampaknya, baik secara ekonomi, pendidikan, maupun sosial dan budaya, yang lebih tragisnya virus ini berdampak pada keutuhan rumah tangga, karena terganggunya penurunan ekonomi yang memicu pertikaian dalam keluarga bahkan sampai terjadinya perceraian. Salah satunya adalah keluarga Amira, teman Vanya, dia harus menjalani hidupnya dalam keadaan keluarga tidak utuh.

 

20 September 2020.

“Vanyaa!” Terdengar suara ibunya memanggil Vanya dari rumah.

“Iya mah, mamah sudah pulang?” Ucap Vanya.

“Iya, ini mamah bawa formulir pendaftaran untuk ke SMA negeri.” Ucap mamah Vanya.

“Oh iya mah, nanti Vanya isi.” Ucap Vanya.

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, teringat 5tahun yang lalu aku terpisah dari keluargaku yang lain, saat itu aku masih kelas 5 SD. Di usiaku saat itu aku belum mengerti apa penyebab dari perpisahan antara kedua orangtua ku, yang aku ingat waktu itu mamahku bilang.

 

4 Juli 2016.

“Vanya, minggu depan ikut pindah ya dari rumah.” Ucap mamah Vanya.

“Terus kakak ikut juga?.” Tanya Vanya.

“Kakak – kakak kamu tidak ikut, mereka tetap tinggal disini dengan papahmu, tidak apa – apa kan rumah kita dengan mereka tidak berjauhan.” Ucap mamah Vanya.

“Baik mah, nanti malem Vanya akan mulai beres – beres barang Vanya.” Ucap Vanya.

 

1 minggu kemudian.

Saat ini aku sudah pindah ke kontrakan yang tak jauh dari rumahku, mamahku menjalani usaha kecil-kecilan di kontrakan. Meski aku merasa asing dengan kehidupanku yang baru, tapi lama-lama aku mulai terbiasa menjalani kehidupan bersama mamahku. Suka dan duka kita jalani berdua, meskipun terkadang aku rindu berkumpul bersama keluargaku yang lain, tapi aku sadar bahwa inilah jalan kehidupan yang tuhan berikan untuk kami.

Drtttt..drttt…

“Astagaa ternyata aku melamun.”  Ucap Vanya dalam hati.

Lalu Vanya mengambil ponselnya dan melihat siapa yang  mengirim pesan kepadanya, ternyata itu dari temannya Amira.

Amira 9f

Amira : Kamu sudah mengambil formulir?

Vanya: Sudah

Amira : Sama siapa?

Vanya : Tadi diambil mamahku, kalau kamu diambil sama siapa?

Amira : Kalau aku ngambil sendiri

Vanya : Kan harus sama orangtua?

Amira : Ayahku kan kerja, sedangkan mamahku pulang kampung

Vanya : Oh gituuu

Amira : Kamu mau masuk SMA mana ?

Vanya : Pilihan 1 ke SMA negri 1, kamu sendiri ?

Amira : Aku mau ke SMA Tasik Mir

Vanya :”Lah.?

Amira : Iya van, nanti deh aku ceritain heehee

Vanya : Okee, yasudah kalau begitu aku mau ngisi formulir dulu

Amira : Okeyy

Dan Vanya lanjut mengisi formulir dan mengerjakan tugas-tugas yang belum beres. Setelah itu Vanya melanjutkan kewajiban-kewajibannya di rumah.

Malam harinya.

“Vanya gimana sudah diisi formulirnya?” Tanya mamah Vanya.

“Sudah mah.” Ucap Vanya.

Selanjutnya Vanya dan mamahnya lanjut mengobrol tentang sekolah dan sesekali mereka bercanda.

 

 

Enam hari kemudian, Vanya mengirim pesan pada Amira untuk mengumpulkan formulir bersama.

Amira 9f

Vanya : Amira hari ini pengumpulan kertas formulir ke sekolah, kita sama-sama yuk

Amira : Oh iya boleh, sekalian aku ingin curhat sama kamu

Vanya : Okeyy, sampai bertemu di sekolah nanti

“ Mah Vanya berangkat dulu yaa, trus nanti Vanya mau main dulu sama Amira” Ucap Vanya berpamitan.

“ Iya Vanyaa, hati – hati di jalan  jangan pulang malem.” Ucap mamah Vanya.

“ Iya mah.” Ucap Vanya.

 

|~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~|

 

Sesampainya di sekolah Vanya bertemu dengan Amira dan mereka langsung menyerahkan formulirnya pada guru. Setelah selesai Vanya mengajak Amira ke Upnormal, dan di sinilah mereka sekarang di upnormal.

“Amira kamu beneran mau lanjut SMA di Tasik?” Tanya Vanya.

“Iyanih papahku ada kerjaan disana, jadi terpaksa aku ikut papahku ke tasik.” Ucap Amira.

“Eh iyaa, lagi covid gini upnormal sepi ya, biasanya disini rame banget sebelum covid.” Ucap Vanya.

“ Iya kamu bener Vanya, aku terakhir kesini awal tahun rame banget, tempat duduk pun penuh semua.” Ucap Amira.

“Emang ya covid-19 ini merubah segalanya..” Ucap Vanya.

“Iya termasuk merubah kehidupanku dan keluargaku juga.” Ucap Amira sedih.

“Hah emang keluargamu kenapa?” Tanya Vanya.

“Emmm… jadi ginii… papah mamahku dua bulan yang lalu udah resmi cerai, yang aku denger sih mereka sering berantem membahas masalah ekonomi keluargaku yang ambruk, entah mungkin ada masalah lain lagi aku gak tau, yang jelas mamahku memutuskan untuk kembali ke rumah nenekku. Mamahku bilang aku tinggal sama papahku saja soalnya mamahku tidak ada uang untuk biaya sekolah aku. Mamahku benar-benar ninggalin aku berdua sama papahku, aku sedih sebenarnya tapi mau bagaimana lagi ini sudah  takdir. Lagian kalaupun aku ikut dengan mamah aku tidak tega  ninggalin papahku saat lagi terpuruk gini. Dan ya aku sama papahku mau pindah ke Tasik untuk memulai lagi usaha papahku dari awal lagi.” Jelas Amira.

“Ya sudah kamu jangan sedih terus dan jangan ikut menyalahkan mereka, karna kita tidak tau apa yang mereka hadapi, kita tidak akan bisa memahami karna tugas kita hanya untuk  mendukung mereka, kalau bisa menghibur mereka dengan cara tetap belajar agar kita bisa jadi kebanggaan mereka, tunjukan pada dunia bahwa punya keluarga yang tidak utuh tidak lantas jadi frustrasi, tapi tetap berprestasi.”  Ucap Vanya sambil tersenyum.

“Iya Van, terimakasih sarannya.” Ucap Amira sambil senyum.

Mereka pun asik mengobrol sampai menjelang ashar, kemudian  setelah itu mereka pulang  ke rumah mereka masing-masing .

 

|~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~|

 

Sepanjang perjalanan pulang Vanya bersyukur bisa memberikan sedikit motivasi pada temannya yakni Amira, yang hampir punya kesamaan dalam kehidupan keluarganya yaitu keluarga yang tidak utuh walaupun dengan permasalahan yang berbeda. Dulu saat awal perpisahan kedua orang tuanya, Vanya hanya tahu bahwa dia harus memilih salah satu orang tuanya yaitu mamanya, meski itu berat tapi Vanya memang harus memilih.

Sekarang saat Vanya remaja, dia sedikit bisa memahami, bahwasanya sebagai seorang anak tak seharusnya selalu dimengerti, terkadang sebagai anak harus bisa memahami kondisi orang tua, Vanya hanya ingin kedua orang tuanya bahagia karena mereka pun berhak untuk bahagia.

Hidup tak selalu harus sempurna, karena apa yang kita inginkan tak semua bisa terwujud. Manusia hanya bisa berencana, tetapi keputusan ada ditangan Tuhan. Adapun keputusannya kita sebagai manusia harus bisa ikhlas menerimanya, kita bisa selalu bahagia dengan cara mensyukuri yang ada. Jangan berputus asa dengan masa lalu yang tidak mengenakan, karena masih ada masa depan yang harus diperjuangkan. Bersyukurlah kita masih diberikan umur, karna dengan begitu kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu, masih diberi kesempatan untuk mewujudkan mimpi yang belum terwujud.

(Visited 12 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan