Cristiane Nelta Viona_SEMUA BISA DILALUI DENGAN ADANYA NIAT_SMPN 3 SUBANG

WhatsApp-Image-2021-04-25-at-11.38.44.jpeg

SEMUA BISA DILALUI DENGAN ADANYA NIAT

Perempuan yang bernama Andorra Kate Clovis sedang melakukan kegiatan upacara. Ucapan kepala sekolahnya tadi membuatnya tertegun. “Seenggaknya kalo nem gue kecil, gue bisa masuk SMA lewat jalur prestasi.” Monolog Andorra. “Jika kalian minat bisa hubungi bu Camlyn di perpustakaan.” Putus kepala sekolah.

Kelas Andorra sangat ramai karena mereka saling tunjuk untuk mengikuti lomba puisi yang di maksud kepala sekolah. Andorra berdiri membuat seisi kelas hening. “Biar gue aja yang daftarin diri.” Seisi kelas menengok sepenuhnya ke arah perempuan yang sedang mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa? gue salah?” Satu orang perempuan mengangguk yakin. Dia adalah Brianne Latheisa Mary, perempuan yang pintar dan sangat cantik di kelas Andorra. “Ya salah, puisi itu berhubungan sama pelajaran bahasa Indonesia, sedangkan ulangan bahasa Indonesia lo aja di bawah KKM. UPS..” Andorra mengepalkan tangannya merasa direndahkan. “Yakin? gue bakalan buktiin.” Yakin Andorra.

Perempuan dengan Rambut panjang di gerai itu sedang menuju perpustakaan untuk menemui Bu Camlyn. Decitan pintu membuat penjaga perpustakaan mengalihkan fokus ke pintu, terlihatlah perempuan cantik dengan senyum tulusnya menghampiri sang guru. “Pagi Bu, saya Andorra Kate clovis dari kelas IX J saya ingin mendaftarkan diri untuk lomba puisi Bu.” Tampaknya Bu Camlyn tersenyum bangga. “Kamu adalah orang pertama yang mendaftarkan diri ke ibu.” Senyum tulus Bu Camlyn dibalas dengan cengiran bangga oleh Andorra. Tak terasa lusa sudah dimulainya lomba puisi, istirahat kali ini Andorra harus ke perpustakaan untuk gladi resik bersama Bu Camlyn. Telapak tangannya terasa dingin karena menahan gugup. “Pagi Andorra, sudah siap?” Andorra mengangguk kaku.

Gladi resik telah selesai, Andorra kembali ke kelasnya. Namun sesampainya di tempat duduk, Brianne telah mencemooh Andorra dengan kata-katanya yang tidak mengenakan hati. “Gue bakalan yakin ini sekolah ga bakalan menang kalo bukan gue yang ikut lomba.” Sombong Brianne. Untungnya saja Andorra tidak menanggapi gadis sombong itu. “Banyak ngomong Lo! Biar ape si.” Cuek Andorra.

Hari inilah di mana hari Andorra lomba salah satu SMA di kota. “Sebelum kamu benar-benar berangkat ke tempat perlombaan, kamu gladi resik di lapang ya di depan teman-temanmu.” Ucap Bu Camlyn. Andorra melotot kaget. Seketika dadanya berdegup sangat kencang. “Pagi anak-anak, hari ini teman kalian yaitu Andorra Kate clovis dari kelas IX J akan mengikuti lomba puisi, kalian akan menyaksikannya. Silahkan Andorra.” Andorra maju perlahan dan menjalankan aksinya, ada berbagai macam reaksi yang ia dapat ketika selesai berpuisi. “Itu beneran Andorra?” Monolog kecil Brianne. “Keren banget..” Dengan tak sadar Brianne memuji Andorra.

Andorra dengan guru-guru yang lain telah sampai di depan gerbang SMA yang bertuliskan SMA GARUDA INDONESIA. Andorra diantar oleh guru-gurunya menuju ruang perlombaan. Andorra mendapat urutan ke 18 dan kini perempuan yang sedang membaca puisinya sudah ke urutan 16. “Selanjutnya, urutan ke-18 Andorra Kate clovis dari SMP WISMAGAMA dipersilahkan untuk memasuki ruangan.” Andorra menatap Bu Camlyn takut. Bu Camlyn memberikan seyuman tulusnya sambil mengangguk yakin. “Kamu bisa.” Bu Camlyn mengacak kecil rambut Andorra. Mereka telah kembali ke sekolah, degup jantung Andorra semakin menjadi kala sore inilah pengumuman siapa pemenang dari lomba tersebut. “Bu, Andorra ga yakin..”Lirih Andorra, Bu Camlyn langsung menatap Andorra tajam memberi kode untuk berhenti bicara yang tidak-tidak.

Pagi ini kabar baik itu tersebar di sekolah Andorra. Ya….dia menang menjadi pemenang juara ke dua. Sangat bersyukur karena gadis itu ditandingkan oleh 180 sekolah di Bandung. Upacara tengah dilaksanakan sekolah tersebut, berkali-kali Andorra menyeka keringatnya untuk menghilangkan rasa gerah. Di akhir upacara para siswa dan siswi diharapkan duduk dipinggiran lapangan, karena ada sedikit pengumuman yang membuat sekolah mereka bangga. Tidak menyangka bukan? Sekolah kita ini mendapatkan juara ke dua se-Bandung!” Tepukan tangan bangga terdengar. “Kita akan kasih penghargaan kepada Andorra Kate clovis! Silahkan nak maju ke depan.” Andorra harus memutuskan urat malunya sekarang, perempuan itu maju lalu menyalami kepala sekolah.

Terpampanglah gadis cantik dengan piagam di lehernya dan sertifikat di tangannya. “Walau Andorra kurang mampu di bidang pelajaran tapi dia mampu di luar itu, jujur saya bangga kepadanya.” Andorra tersenyum kikuk di hadapan semua warga sekolahnya. Ia pun heran bisa-bisanya dia ulangan bahasa Indonesia di bawah KKM namun ia bisa memenangkan lomba puisi, itu impresif. “Ada satu info lagi, minggu depan ada perlombaan bulu tangkis. Jika ada yang minat silahkan hubungi Pak Brama di ruang olahraganya, terima kasih saya Jevon. Selaku kepala sekolah di sekolah ini pamit undur diri, terima kasih.” Andorra kembali ke kelasnya. Kata-kata kepala sekolahnya masih berputar di otaknya. Perempuan itu sangat suka sekali dengan bulu tangkis. Apakah gadis itu minat? Tentu.

Di sinilah dia sekarang, di mana tempat itu terdapat banyak alat-alat olahraga dengan Pak Brama dihadapannya. “Kamu yakin ingin mengikuti lomba bulu tangkis ini Andorra?” Tanya pak Brama. Andorra mengangguk yakin. “Tentu! Karena papa saya adalah atlet bulu tangkis di Jakarta.” Pak Brama tersenyum bangga. Benar kata pak Jevon, Andorra memang kurang di nilai pelajarannya tapi dia mampu mengimbangi kecerdasannya di luar itu. Pak Brama sendiri pun bangga. “Baik dua hari ke depan kita akan melakukan latihan khusus.” Andorra tersenyum lalu keluar dari ruangan olahraga dan berniat langsung ke kelasnya.

Brianne datang dengan wajah yang datar. “Selamat, gue yakin lo menang bukan buatan puisi lo, tapi puisi Bu Camlyn.” Sinis Brianne. Perempuan songong itu tak sadar di belakangnya ada Bu Camlyn dengan memandangnya heran. “Andorra bikin puisi sendiri tanpa bantuan ibu kok.” Brianne tampak terkejut di tempat, lalu membalikan badannya kaku. “Kamu tidak berhak mempunyai rasa iri kepada Andorra, takdirnya menang ya menang.” Brianne jalan menunduk melewati Bu Camlyn dengan perasaan malu.

Hari ini, hari di mana latihan khusus bulu tangkis diadakan, penyiar suara dari Pak Brama membuat Andorra harus bergegas ke lapang indoor sekolahnya. “Sore Pak, bisa kita mulai sekarang?” Tanya Andorra. Pak Brama mengangguk lalu segera berdiri mengambil raket dan koknya. Tiga puluh menit berlalu, Pak Brama tampak kelelahan melawan Andorra. Keringat di pelipis guru tersebut terus mengalir hingga membasahi leher Pak Brama. “Jago banget kamu andorra. Duh..bapak ngos-ngosan.” Kekeh Pak Brama. Sedangkan Andorra hanya merasakan lelah biasa. Sampai keringatnya bercucuran dan sampai ngos-ngosan hanya lelah biasa. “Okelah kalau begitu. Hari ini kamu boleh menang besok sore kamu akan bapak latih lagi.” Senyum Pak Brama.

Andorra keluar dari ruangan indoor, katanya dirinya di panggil oleh Pak Ronal guru khusus di bidang renang. “Bapak panggil saya?” Pak Ronal mendongakkan kepala lalu mengangguk kecil. “Jadi gini, bapak mau kamu ikut lomba renang. Gimana mau ngga?” Andorra cukup terkejut dengan penuturan gurunya itu. “Dadakan sekali Pak?” Andorra masih tak percaya. “Iya, karena baru hari ini beritanya tersampaikan di sekolah kita.” Andorra meneguk ludahnya kasar. “Lombanya kapan Pak?” Ronal menatap manik mata Andorra dengan bingung. “Sehari sebelum kamu lomba bulu tangkis.”, “HAHHH!?!” Ya, Andorra saking terkejutnya ia sampai teriak di ruang Pak Ronal. “Bapak sudah minta persetujuan bapak kepala sekolah?”.

Andorra bertanya untuk mengalihkan hatinya yang sedang terkejut. Anggukan kepala itu membuat Andorra menghela nafas lelah. “Kok milih saya? Kan masih ada Jeva Pak dari kelas IX G.” Andorra masih terheran-heran. “Jeva itu anaknya menye-menye bapak ga suka itu. Nah kan katanya kamu anak yang cerdas dibidang luar pelajaran bapak ingin kamu yang mengikuti lomba ini. Bisa?” Tanya sekali lagi Pak Ronal. Andorra menggit bibir bawahnya. “Kalo bentrok gimana Pak?” Gelengan simpul terlihat. “Tidak, tadi bapak, pak kepala sekolah, dan Pak Brama sudah rapat. Tidak akan adanya pembentrokan.” Andorra mengangguk-angguk simpul. “Siap?” Tanya Pak Brama menantang. Andorra membalasnya dengan senyum miring. “Tentu.”

Hari ini di mana Andorra harus latihan bulu tangkis dengan Pak Brama lagi. “Dua jam ini kamu latihan sama saya, satu jam kedepan kamu akan latihan renang dengan Pak Ronal. Mengerti?” Sejujurnya Andorra lelah, namun ia harus lewati karena sebentar lagi lulus dan takut nemnya kecil. Perempuan tersebut mengikuti lomba ini dan itu untuk mendapatkan sertifikat.

Berbulan-bulan lamanya hari inilah di mana Andorra lulus. Jangan ditanya bagaimana perlombaan gadis itu tentu lancar. “Andorra?” Wali kelas Andorra yang bernama Bu Taylor menghampiri Andorra dengan senyum bangganya. “Prestasi kamu di sini sangat banyak, oleh karena itu kamu bisa tinggal pilih SMA mana yang kamu tuju.” Andorra bersorak riang dalam hati. “Tapi Bu nem Andorra?” Bu Taylor tampak tak enak. “Kurang nak, maka dari itu kamu bisa masuk SMA manapun lewat jalur prestasi. Tak apa, pasti kamu bisa lewati ini.” Nahkan benar dugaannya, pasti nemnya kurang. Tapi dia punya prestasi yang harus dia tunjukkan kepada semesta.

 

 

(Visited 8 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan