Christiane Nelta Viona Siagian_PERJUANGAN SEORANG GADIS_SMPN 3 Subang

christine.jpeg

PERJUANGAN SEORANG GADIS

“Aku harus bisa banggain ibu, kasian ibu udah capek ngejagain aku, dan aku harus balas semuanya dengan cara banggain ibu!” kata Tiara sambil mengayuh sepeda nya. Setelah sampai di rumah, Tiara langsung membantu ibunya menyusun gorengan yang akan dijual. “Uhukk uhukk” Tiara mendengar ibunya yang batuk pun langsung khawatir. “Ibu sakit?” Ujar Tiara yang menatap cemas wajah ibunya. Sudah ibu duduk aja biar Ara aja yang jualan.“ibu tidak apa-apa, Tiara jangan mengkhawatirkan ibu” kata ibu Tiara sambil mengelus tangan Tiara. “Tapi ibu lagi sakit, udah biar Ara aja ya bu” jawab Tiara dengan muka cemas nya. “Gapapa ibu kuat, kamu di rumah aja ya ibu pamit jualan dulu” pamit bu Tiara sambil mengelus rambut Tiara. “Iya bu, ibu hati-hati ya” Tiara mencium tangan ibunya dan mengantarkan ibunya ke depan rumah.

Setelah ibunya berangkat, dia memasak untuk makan ibunya ketika pulang nanti. Tiba-tiba Tiara diam sambil berkata “Aduh, aku lupa besok kan terakhir bayar uang spp, kalo besok aku engga bisa bayar aku takut nanti dikeluarin oleh sekolah. Aarghh gimana ini? Kalau minta sama  ibu tapi engga enak  ibu kan lagi sakit” kata Tiara saat dia memasak. Setelah selesai memasak, Tiara masuk ke kamar saat belajar dia tidak tenang, kepikiran bagaimana jika dia dikeluarkan dari sekolah, kalau dia dikeluarkan bagaimana caranya dia bisa mewujudkan cita-citanya? Tiba-tiba Ara memandang celengan ayamnya, “Apa aku harus pecahin celengan ayam ini? Ibu marah ga ya kalo aku pecahin? Hmm biarlah, aku pecahin aja terus nanti jujur ke ibu” ucap Tiara dalam hati. Dia mengambil celengan itu dan menjatuhkannya ke lantai. Preeeek… Uang receh berserakan di lantai, kemudian Tiara langsung menghitung jumlah uangya “Yahh ada lima ratus ribu, pas banget buat bayar spp bulan kemarin sama bulan sekarang” kata Tiara dengan wajah senang.

Pagi harinya, ibu memanggil Tiara untuk sarapan. Tiara langsung keluar kamar dan dia duduk di meja makan. Tiara menatap ibu lesu dan kemudian Tiara berkata “Bu, maaf Tiara bongkar celengan Tiara buat bayar spp sekolah. Hari ini hari terakhir pembayaran spp”. Ibu Tiara memalingkan wajah dan menatap Tiara “Loh kok kamu ga bilang nak? Kan kalo kamu bilang ibu bisa kasih kamu uang, jadi kamu ga usah bongkar celengan” . “tapi bu, Tiara ga mau nyusahin ibu, ibu masih sakit, biar uang  celengannya nanti Tiara kumpulin lagi dari awal” jawab Tiara. “nak ini kewajiban ibu buat bayar sekolah kamu” kata ibu. “Udah bu, biar Ara saja yang bayar uang sppnya, Ara udah selesai bu sarapannya, Ara berangkat sekolah dulu ya” pamit Tiara pada ibu nya. “iya nak hati-hati ya” jawab ibu.

Sesampainya di sekolah, Tiara langsung masuk ke kelas. Seperti biasa, Tiara duduk di belakang dan sendirian. Tidak ada yang mau berteman dengan Tiara karena dia miskin. Tiba-tiba pengeras suara berbunyi dan berkata “Kepada Tiara dari kelas 11 MIPA 2 ditunggu di ruang guru, terimankasih” Pemberitahuan dari guru piket membuat Tiara berpikir mungkin dia akan ditagih uang spp, tapi kan pembayaran spp biasanya di ruang tata usaha? Kemudian Tiara meminta izin kepada guru yang sedang mengajar di kelasnya sekarang. Saat  Tiara sudah sampai di ruang guru, tiba-tiba ada seorang guru Fisika yang memanggilnya “Tiara bukan? Sini nak ke meja ibu” Kata bu Rika sambil memanggil Tiara. Dengan cepat Tiara jalan menuju meja ibu itu, “Iya bu? Kalau boleh tau ada apa ya?” tanya Tiara. “Begini nak, jadi kamu dipilih untuk mengikuti olimpiade yang akan di adakan sebulan lagi, dan ibu rasa kamu sanggup untuk mengikuti olimpiade ini, bagaimana nak?” tanya bu Rika. “Olimpiade bu? Tapi Tiara tidak berpengalaman di olimpiade, Tiara takut akan kalah bu.” jawab Tiara. Ibu Rika yang mendengar pun tersenyum dan mengelus tangan Tiara, “Ibu pilih kamu karena ibu yakin kamu pasti bisa, jadi kamu sanggup kan nak? Masih ada sebulan untuk belajar, nanti kita belajar bareng-bareng.” Ujar bu Rika. Guru Fisika pun membuat Tiara setuju untuk ikut olimpiade ini.

“kringggg, kringgg” Bel pulang berbunyi, Tiara langsung menuju ke perpusatakaan untuk latihan pertamanya. Tak lama kemudian ibu Rika pun datang Tiara langsung belajar. Beberapa jam kemudian latihan persiapan olimpiade pun selesai kemudian ibu Rika pun berkata “Besok kita latihan lagi ya Tiara seperti biasa setelah jam pulang sekolah ibu tunggu Tiara di sisni”. Tiara menjawab “Iya siap ibu” sambil senyum dan berpamitan pulang.

Beberapa hari selanjutnya Tiara dan bu Rika terus latihan seperti biasa, Tiara sangat bersemangat dalam latihan ini, dia tidak mau mengecewakan orang orang yang mendukungnya. Hari yang ditunggu tiba, hari dimana lomba akan diadakan. Sebelum berangkat sekolah Tiara pamit dan meminta doa pada ibunya. “Bu, Tiara pamit ya. Tiara juga minta doa buat kelancaran lomba nanti” pamit Tiara. Ibu Tiara yang mendengar perkataan Tiara pun tersenyum, “iya nak, ibu selalu mendoakan kamu. Tinggal kamu berusaha dan berdoa kepada yang di atas ya.” Ujar ibunya. “Siap bu, Tiara pergi ke sekolah dulu ya” Tiara mencium tangan ibunya dan berangkat sekolah.

Tiara sudah sampai di sekolah, dia memarkirkan sepeda tuanya di parkiran sekolah. Ibu Rika yang sedang memarkirkan motornya pun menyadari kehadiran Tiara, dan langsung menyapa Tiara. “Selamat pagi nak, bagaimana hari ini? Siap untuk bertarung dengan soal?” Sapa bu Rika ramah. “Tiara kaget mendengar Bu Rika karena dia tidak tau ada Bu Rika disekitarannya “e – eh ibu, pagi juga bu, Tiara siap buat hari ini” kata Tiara. “Bagus kalo kamu siap.” Bu rika dan Tiara pun pergi ke perpustakaan dan membahas materi yang belum dimengertinya. Jam sudah menunjukan pukul 09.00 WIB, kurang dari sejam lagi perlombaan dimulai. Tiara dan bu Rika bergegas ke parkiran untuk berangkat. Tapi, saat di parkiran Tiara kaget karena bu Darmi tetangganya memanggil namanya dengan muka cemas. “Ara Araa” panggil bu Darmi. “iya bu? Ibu kenapa? Kok buru-buru?” tanya Tiara sambil menghampiri bu Darmi. “Ibumu nak, ibumu masuk rumah sakit, tadi dia pingsan saat berjualan.” Perkataan bu Darmi membuat Tiara dan bu Rika kaget. “h – hah? Ibu pingsan? Ibu di rumah sakit mana bu?” tanya Tiara panik. Setelah diberikan alamat rumah sakit, Tiara langsung berlari mencari angkutan untuk ke rumah sakit, dia tidak memperdulikan perlombaan yang akan dimulai.

Tiara sudah sampai di rumah sakit dan dia langsung ke tempat ibunya dirawat. Saat membuka pintu ruangan Tiara langsung menangis memeluk ibunya “Ibu, kenapa ibu bisa seperti ini? Hiks hiks.” Suara tangisan Tiara. Ibu Tiara kaget melihat kehadiran Tiara “Nak kok kamu di sini? Bukannya kamu mau lomba?” Tanya Ibu. Sambil menangis Tiara menjawab “Tapi…tapi ibu lagi sakit”, “Ibu gapapa nak, udah jangan nangis kembali ke tempat lomba ya, ibu gapapa beneran” ucap ibu sambil menenangkan Tiara. “Ibu beneran gapapa Tiara tinggal?” tanya Tiara. “Gapapa nak, lihat sudah jam 10 kurang 15 menit cepat nanti kamu telat” kata ibu Tiara. “Iya bu, Tiara minta doanya ya” pamit Tiara. “Ibu selalu doakan kamu nak.” Jawab Ibu sambil tersenyum.

Tiara bergegas mencari angkutan umum untuk berangkat ke lokasi lomba. Sebuah angkot berhenti di depannya, Tiara naik dan memberi tahu alamat yang dia tuju. “Pak kalo bisa ngebut ya, saya hampir telat ini,” Ujar Tiara gusar. “Siap neng.” Sopir angkot itu menaikan kecepatan angkotnya. Tibalah Tiara di tempat lomba, dia turun dan langsung membayar ongkosnya. Tiara mencari keberadaan bu Rika tapi dia kesulitan karena banyak orang di tempat ini. Sampai-sampai dia mendengar pemberitahuan “kepada seluruh peserta lomba fisika di tunggu di ruangan tiga” Tiara langsung berlari mencari ruangan tiga. Setelah dia menemukan ruangan 3, Tiara melihat ada bu Rika di depan ruangan tersebut “Ibu…ibu apa perlombaannya sudah dimulai?” tanya Tiara. “Belum nak, kamu datang tepat waktu, kamu langsung masuk saja ya, ingat jangan lupa berdoa sebelum mengerjakan” “Siap bu” Tiara masuk keruangan tersebut dan duduk di bangku yang di sediakan.

Bel pertanda lomba dimulai berbunyi, Tiara berdoa dan meminta restu kepada yang di atas agar diberi kemudahan dalam mengerjakan soal-soalnya. Suasana kelas mendadak hening, semua peserta fokus mengerjakam soal soal tersebut, begitu juga dengan Tiara. Tiara dengan sangat mudah mengerjakan soal-soal tersebut. Dua jam berlalu, bel tanda berhenti mengerjakan berbunyi, dan semua peserta menghelakan nafasnya. Tiara bersyukur karena bisa mengerjakan soalnya dengan mudah “Syukur, aku bisa kerjain semua soal” Ucap Tiara dalam hati. Semua peserta keluar dari ruangan dan menunggu hasil akhir. Tiara pun menunggu bersama bu rika. Tiara sangat takut dia kalah, jantungnya pun berdetak kencang.

Inilah saatnya, pengumuman juara akan dimulai. Semua peserta gugup mendengar MC yang sedang berbicara. “Juara 1 Olimpiade Bidang Fisika adalah …. Selamat kepada Tiara dari SMA Nusantara, kamu berhasil menjadi juara 1 di ajang Olimpiade ini” Semua hadirin yang ada di sana bertepuk tangan, Tiara kaget karena namanya disebut, dia langsung memeluk bu Rika “Buu buu Tiara menang buu” ucap Tiara ceria. “Iya nak, kamu hebat, sana ambil piala kamu” kata bu Rika sambil membalas pelukan Tiara. Tiara naik ke atas podium dan dia menerima piala yang diberikan, Tiara tersenyum bangga dan berbicara di dalam hati, “Ibu, Tiara menang bu, Tiara bisa bikin ibu bangga”.

(Visited 7 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan