ATIKA RAHMA RINDU_NEGERI DI ATAS AWAN_SMPN 3 Subang

atika.jpeg

NEGERI DI ATAS AWAN

Liburan  akhir tahun  merupakan moment yang selalu aku tunggu, keluargaku selalu mengajak aku berwisata ke berbagai tempat wisata di Nusantara. Tempat-tempat wisata yang pernah aku kunjungi diantaranya Kepulaun Seribu, Pangandaran, Ubud Bali, dan Gunung Bromo sebagai tempat  terakhir  yang aku kunjungi sebelum pandemi Covid-19 mulai merebak di Indonesia.

Pagi itu ibuku sudah nampak cantik dengan balutan baju berwarna merah muda dengan hijab dan masker warna selaras, sedangkan aku masih menggunakan gaun tidur alias daster duduk di depan televisi menyaksikan film kartun kesayanganku “ibu mau kemana?” tanyaku, lalu ibu menjawab “kamu lupa ya sayang? kalau hari ini jadwal pembagian rapot kelasmu nak”…”oh iya bu, aku lupa” sambil tersenyum aku menjawabnya. “ehmmm… libur setelah pembagian rapot, apakah ada acara liburan keluarga?” gumamku dalam hati, walau aku tau jawabannya pasti tidak. Hampir satu tahun aku di rumah dan itu rasanya membosankan sekali, jika aku ajukan permintaanku untuk liburan pun rasanya tidak mungkin. Pandemi ini benar-benar mempenjarakanku, aku yang  dulu suka traveling sekarang ku habiskan waktu dengan sleeping, eating, sleeping, etiang. Aku berharap sekali pandemi ini segera berakhir.

Assalamualaikum, ibu pulang” suara ibu terdengar dari pintu depan “waalaikum salam, gimana nilai rapotku bu?” tanyaku. Lalu ibu menyodorkan rapot itu ke padaku dan alhamdulillah nilai rapotku diluar dugaan, aku menjadi peringkat pertama di kelas. “Ibu bangga padamu nak, kamu berjuang untuk mendapatkan yang terbaik” kata ibu sambil mengusap kepalaku, “semua juga berkat ibu, ibu selalu ada buat aku, terima kasih bu” kupeluk ibuku untuk beberapa saat. Tak lama ayahku pulang dari tempat kerjanya, tak biasanya ayah pulang lebih awal “Assalamualaikum, wah ada apa ini kok ada acara peluk-pelukkan? Ayah juga mau donk” ucap ayah ketika melihat aku dan ibu sedang berpelukan. Kemudian ibuku menceritakaan tentang nilai rapot dan prestasiku di kelas, dan lagi-lagi pujian datang kepadaku, rasa syukur aku panjatkan kepada Allah karena aku memiliki kedua orang tua yang menyayangiku dan selalu memberikan aku dukungan.

Setelah sholat dzuhur, tiba-tiba ayah mendekatiku yang sedang asik bermain kucing di halaman belakang, kemudian ayah mengajukan aku satu pertanyaan. “Kalo hari ini kita berangkat liburan mau gak?” mendengar kata liburan sontak membuat aku girang teramat sangat senang “beneran ayah kita mau liburan, kemana?” tanyaku, ayah menjawab dengan senyuman, lalu aku lontarkan pertanyaan kembali. “Bukannya berpergian keluar daerah itu masih diperketat?” sambil menunjukan sebuah gambar pemandangan yang sangat indah di layar handphone-nya ayahku menjawab “kita liburan ke negeri di atas awan saja ya” ehmmm negeri di atas awan, nama tempat yang belum pernah aku dengar selama ini, “Di mana itu yah? Pasti sangat jauh, apa ayah sudah pesan tiket pesawat dan hotelnya?”  dengan senyum ayahku menjawab “tiketnya nanti dibeli langsung ditempat, murah kok hanya sepuluh ribu rupiah perorang dan untuk akomodasi penginapan kita hanya membayar seratus ribu rupiah semalam”, “Haah…. sepuluh ribu murah banget, aku rasa itu seharga kalo aku naik odong-odong keliling komplek waktu aku masih kecil deh, lalu ibu kemudian ikut dalam pembicaraan kami. “Bagaimana mau gak? Kalo mau ayo siap-siap kita berangkat” pertanyaan yang dilontarkan ayah untuk kedua kalinya, “ehmmm… baiklah aku mau” jawabku sambil sedikit ragu.

Perjalanan menuju negeri di atas awan pun dimulai, seperti biasa aku duduk dibangku belakang sambil mendengarkan musik dengan headset di telingaku, tak sadar ternyata aku tertidur selama perjalanan “Sayang bangun, kita sudah sampai” kubuka mataku perlahan, kupandang semua arah kaca jendela mobil, tak nampak sedikitpun awan seperti digambar yang aku lihat di handphone, disini yang ada hanya pepohonan, kemudian kulihat jam ditanganku masih menunjukan pukul 16.30 WIB, di kota manakah aku berada? Tanyaku dalam hati, perjalanan dari rumah ke sini hanya 2 jam lebih sedikit, “Ayah apakah kita benar-benar sudah sampai? ini dimana ayah?” Kuajukan pertanyaan seraya mencari tau jawaban dari rasa penasaranku, “Belum nak, kita harus melewati jalan kecil itu, lalu melewati hutan dan bukit, tempatnya ada diatas bukit itu, ini masih termasuk Subang sayang…  ayo bawa perlengkapanmu, biar kita sampai sana sebelum magrib”, Subang??? Jadi kita liburan disubang??? Gumamku, ya sudahlah toh aku sudah disini kita nikmati saja, kebetulan aku sangat suka menjelajah seperti ini. Setelah sekilan lama di rumah saja, ini perjalananku pertama dimasa pandemi Covid-19. Lalu kami pun berjalan menuju tempat yang ditunjukan oleh ayah, sesekali aku selfie ketika menemukan tempat yang indah untuk berfoto, “ayo sayang, jangan kebanyakan berhenti nanti keburu gelap” kata ayahku, lalu aku mulai perjalananku kembali.

Satu jam akhirnya aku sampai diatas bukit tersebut, barisan tenda warna warni serta pijaran lampu menciptakan pemandangan yang begitu indah, udara dingin pun mulai terasa ditubuhku yang sebelumnya bercucuran keringat selama perjalanan, kemudian kami pun mendekati tenda yang telah dipesan ayah ketika aku masih terpesona melihat alam sekitar “ayo masukan barang-barangnya di tenda, lalu kita siap-siap sholat magrib ya”, wow sholat di atas ketinggian, serasa aku semakin dekat dengan sang maha pencipta.

Semakin malam semakin terasa dinginnya udara pegunungan, api unggun cukup membuatku terasa hangat ditambah lagi pelukan kedua orang tuaku dimalam itu, kami menghabiskan malam dengan membakar jagung, sosis, ayam dan makanan lain yang ibu bekal dari rumah. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 01.00 dini hari, kemudian kami pun masuk tenda dan tidur dengan pulas. Saat sholat subuh tiba, ibuku membangunkanku dengan menarik selimut yang sengaja aku gulungkan disekililing tubuhku. “Ayo bangun sayang, sholat subuh dulu, habis ini kita kedepan tenda menunggu matahari terbit” dalam benakku berkata “menunggu matahari terbit? biasanya di rumah tak pernah aku sengaja keluar hanya untuk melihat matahari terbit, apalagi di masa pembelajaran jarak jauh seperti ini, kadang aku terbangun disaat matahari sudah berada diatas dengan terik yang sangat menyengat.

Setelah sholat subuh, aku dan kedua orang tuaku sambil minum secangkir teh hangat duduk dipinggiran bukit yang tak jauh dari tenda, sambil bercakap-cakap tak terasa hari mulai terang dan kulihat begitu indahnya matahari mulai terbit dengan awan-awan di bawah bukit terlihat tampak indah, betul-betul aku merasa seperti di negeri di atas awan “Subhanallah ibu ini indah banget” ucapku. Tak pernah sebelumnya aku melihat pemandangan matahari terbit seindah ini. Semakin lama matahari semakin menghangatkan tubuhku, rasanya tak ingin aku beranjak dari tempat ini, tapi sayang besok ayahku harus kembali bekerja, sehingga kita harus bekemas-kemas untuk segera pulang. Semalam di negeri di atas awan rasanya tak cukup, aku ingin lebih lama lagi.

Kemudian kami pun melanjutkan perjalanan pulang, diperjalanan kubuka handphone-ku dan ku cari artikel tentang “Negeri di atas awan kota Subang” ternyata tempat ini bernama Bukit Pamoyanan, “moyan” kata dalam bahasa sunda yang berati berjemur, ya memang di sana tempat paling enak untuk berjemur, dan sebutannya sebagai “Negeri di atas awan.” Sangat pantas karena saat berada di sana kita melihat pemandangan di bawah bukit penuh dengan awan dan seakan kita bena-benar berada di atas awan. Objek wisata ini memang belum lama viral di media sosial letaknya disebuah kecamatan Tanjung Siang Kabupaten Subang.

Belum jauh kendaraanku berjalan, tiba-tiba ayahku berhenti disebuah parkiran yang terlihat cukup ramai “Kita dimana ini ayah?” tanyaku,  lalu ayahku menjawab “ini namaya cimincul kolam renang air alam, ayo turun”, lalu segera aku buka pintu mobil dan kulangkahkan kakiku dengan mata yang tak henti-hentinya memandang alam sekitar. Kolam renang yang betul-betul alami, batu-batuan terlihat jelas dibawah dasar air kolam, airnya yang begitu jernih dan terasa menyegarkan membuatku rasanya ingin berenang, namun aku tak membawa baju untuk berenang. Aku keliling disekitarnya sambil mengambil foto untuk menambah koleksi perjalananku, terlihat bentangan sawah dan kebun, sedangkan ayah dan ibuku duduk di salah satu gajebo yang disediakan oleh salah satu warung ditempat tersebut.

Setelah lelah berkeliling, akhirnya aku menuju ketempat ayah dan ibuku berada dan aku memohon padanya liburan berikutnya aku ingin kembali ke sini dan membawa pakain renang. Akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan pulang, seperti biasa aku selalu meng upload foto-foto perjalananku di semua media sosial yang aku punya termasuk facebook. Tak lama banyak yang memberikan komentar keindahan alam dan mereka sangat menyukai tempat yang aku kunjungi tersebut, bahkan pertanyaan “itu di mana kak?” muncul dari lebih 50 pengguna facebook.

Baru kali ini aku tahu ada tempat-tempat yang begitu indah di kota kecilku, sungguh malu rasanya selama ini aku selalu membanggakan kota-kota lain yang pernah aku kunjungi, ternyata Subangku begitu indah, Subangku begitu alami dan aku bangga menjadi anak yang dilahirkan dan dibesarkan di kota SUBANG. Aku berharap pemerintah dapat lebih meningkatkan perhatinnya kepada tempat-tempat indah di Kabupaten Subang sehingga menjadi salah satu objek wisata yang diminati dan dikunjungi semua masyarakat di nusantara ini. “Selamat Ulang Tahun Kotaku, Selamat Ulang Tahun Subangku Semoga Jaya Selalu”.

(Visited 11 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan