Atika Rahma Rindu_GENERASI SMARTPHONE_SMPN 3 Subang

atika.jpeg

GENERASI SMARTPHONE

       Juli 2019, hari pertama dimana aku menginjakan kaki di sekolahku yang baru, “dag dig dug” jantungku terasa semakin kencang dengan irama yang tak beraturan saat memasuki pintu gerbang sekolah. Bola mataku tak henti-hentinya bergerak ke kanan dan ke kiri seolah rasa ingin tau tentang semua sudut yang ada di sana,  hanya satu bagian tubuhku yang serasa lambat untuk berfungsi dan itu adalah kakiku. Bagaimana tidak aku adalah tipe orang pemalu, tertutup, dan selalu merasa tidak nyaman dengan hal-hal baru. Sampai pada akhirnya aku berada tepat di depan sebuah ruangan yang berisikan para guru, dengan kata yang terbata-bata aku menanyakan letak kelasku kepada salah satu guru yang kebetulan berada di depan pintu ruangan tersebut.

“As..as..assalamualikum bu, maaf bu kelas VIII E sebelah mana?” kemudian guru tersebut menunjukkan arah dimana kelasku berada, lalu aku berjalan menuju kelas tersebut. Ada beberapa siswa tengah duduk dan berbincang-bincang di dalamnya, aku masuk sambil mengetukkan pintu “tok tok tok” dan kembali kuajukan pertanyaan untuk lebih meyakinkanku. “Apa betul ini kelas VIII E?”, salah seorang siswa menjawab dan langsung menghampiriku, terlihat orangnya sangat akrab dan hangat, kemudian kami saling memperkenalkan diri dan sejak saat itu lah dia menjadi sahabat terbaikku di sekolah.

Hari-hari di sekolah aku lewati dengan begitu indah dan menyenangkan, ditambah lagi kegiatan study tour yang dilaksanakan oleh pihak sekolah membuatku merasa semakin akrab dengan teman-teman kelasku. Banyak hal-hal yang berkesan selama perjalanan dan masih terlukis dengan sangat nyata  dihati dan pikiranku, tanpa sadar bahwa itu adalah perjalanan terakhir kebersamaan yang kami lewati, karena pada bulan Maret 2020 awal pandemi covid-19 merebakd di Indonesia. Berbagai aktivitas di berbagai bidang seakan terhenti termasuk dunia pendidikan.

Virus Corona datang tiba-tiba menjadi wabah yang sulit untuk dikendalikan, sehingga  membuat semua pihak merasa khwatir dan takut yang berlebihan. Peraturan dan kebijakan dikeluarkan oleh pemerintah untuk mencegah penyebaran virus mematikan, salah satunya adalah kebijakan dalam bidang pendidikan, dimana semua pembelajaran siswa dilakukan di rumah masing-masing melalui pemanfaatan teknologi internet. Pada saat itu aku dan teman-teman tengah asik bersenda gurau di dalam ruang kelas, pembelajaran belum juga dimulai tiba-tiba terdengar suara keras dari speaker, kami semua diharapkan berkumpul di lapangan sekolah, tak lama kemudian Kepala Sekolah mengumumkan kebijakan pemerintah untuk pelaksanaan belajar di rumah selama dua minggu. Suara sorak bahagia pun terdengar dari berbagai sudut “asik…asik…asik…kita libur”.  Kami semua bahagia, bagaimana tidak…kita membayangkan setiap hari bangun  siang tanpa tergesa-gesa dan memikirkan bahwa pintu gerbang sekolah tertutup setelah lewat pukul 07.15 WIB. Selain itu kami bisa belajar sambil rebahan ditemani televisi dan berbagai minuman serta cemilan.

Dua minggu pun berlalu, ternyata kondisi tidak semakin membaik. Covid-19 benar-benar menyebar dengan sangat cepat, jadwal masuk sekolah pun diundur. Pada saat itu kami merasa sangat senang, karena sudah terbiasa dengan kehidupan santai di rumah. Suara pesan masuk di smartphone yang aku letakkan di meja kamarku terdengar dan bergetar, beberapa pesan whatsApp masuk baik itu dari grup atau perorangan. Salah satu grup isinya penuh dengan pembahasan tentang perpanjangan waktu pembelajaran di rumah, semua mengungkapkan rasa bahagianya dengan berbagai komentar.

Satu semester telah aku jalani dengan pembelajaran di rumah. Aku mulai merasakan kelelahan dan mulai merindukan hal-hal yang biasa  dilakukan di sekolah, percakapan di whatsApp pun mulai berbalik arah, semua mengeluhkan rasa bosan, rasa jenuh, dan rasa rindu ingin kembali bersekolah. Sampai pada suatu hari kami mendapatkan informasi bahwa sekolah akan dibuka pada awal ajaran baru, “ehmmm…tak sabar rasanya bisa bertemu dan bekumpul lagi dengan teman-teman di sekolah,” gumamku dalam hati. Tapi berita itu hanya sesaat membuatku bahagia karena ternyata pemerintah belum menginjinkan pembelajaran di sekolah. Lagi-lagi kami harus menahan rasa rindu ini.

Kondisi pembalajaran selama masa pandemi sangat terasa memberatkan terlebih bagi siswa yang tidak mampu, temanku salah satunya. Ia menceritakan bagaimana perjuangan orang tuanya untuk dapat membeli sebuah smartphone agar anaknya dapat terus belajar. Orang tuanya terpaksa pinjam uang kesana kemari termasuk untuk memenuhi kebutuhan kuota internet setiap harinya. Itu salah satu gambagaran bagi orang tua yang peduli, lalu bagaimana dengan orang tua yang tidak peduli??? Beberapa temanku sering kali namanya terdaftar sebagai siswa yang belum mengumpulkan tugas sama sekali, entah apa permasalahan yang sebenarnya??? dimana orang tua mereka???.

Pada suatu malam aku sulit untuk tertidur, ku buka smartphone dan tanpa sengaja sebuah artikel tentang pendidikan terpampang jelas di layar kaca smartphone, kubaca sekilas dan kudapati ungkapan bahwasannya pendidikan pada dasarnya untuk memanusiakan manusia. Setelah ku tutup layar smartphone pikiranku  pun semakin terbang jauh, aku berpikir dimasa pandemi ini tujuan untuk memanusiakan manusia seakan sulit terwujud. Sekolah sebagai salah satu sarana untuk kami belajar berinteraksi dan bersosial dengan sesama seakan melemah lalu bagaimana nilai kemanusiaan terbentuk dengan sempurna? Duniaku 180 derajat berubah, aku satu dari jutaan generasi bangsa indonesia yang merasakan terkurung dengan selalu tetap di rumah, bahkan untuk megambil dan mengumpulkan tugas sekolah pun hanya orang tua yang diperbolehkan, walaupun pada kenyataannya ada beberapa anak yang terpaksa melakukannya sendiri karena kesibukan kedua orang tuanya.

Dunia virtual menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dunia pendidikan saat ini, smartphone menjadi salah satu sarana untuk menuntut ilmu, berkomunikasi dengan guru dan teman. Teknologi memang bisa menggantikan guru, akan tetapi teknologi tetaplah teknologi dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya. Tetap  saja aku merasa ada ruang hampa di dalam benakku, ruang yang biasanya terisi oleh  sosok guru yang selalu mentransferkan ilmunya serta memberikan bimbingan dengan penuh rasa tanggung jawab dan kasih sayang yang sama sekali tidak aku dapatkan dalam sebuah smartphone. Aku rindu kehadiranmu wahai guruku.

Pada suatu ketika sebuah kabar menggembirakan muncul kembali dari salah satu grup whatsApp kelas, dimana sekolah akan dibuka pada bulan Desember 2020, akan tetapi kenyataan pahit harus aku telan kembali karena belajar tatap muka belum dapat dilaksanakan. Untuk berkomunikasi saja hanya menggunakan smartphone, apa itu bisa menghapus rasa rindu kami? Hanya ada kata harapan Covid-19 segera hilang, “segera” yang berarti entah kapan.

Ujian sekolah pun telah di depan mata akan tetapi pandemi ini belum juga hilang dari muka bumi. Ujian dimasa pandemi Covid-19 sangatlah berbeda dengan masa sebelumnya, dimana soal-soal ujian dibagikan kemudian dikerjakan di rumah masing-masing sampai batas waktu pengumpulan. Tidak ada lagi perjuangan untuk belajar dan semangat untuk menghafal setiap pelajaran yang akan diujikan, walaupun persamaannya tetap ada yaitu SKS (Sistem Kebut Semalam), karena batas waktu pengumpulan tugas akan segera berakhir. Malam itu frekuensi percakapan di whatsApp semakin meningkat, semua saling bertukar pikiran untuk memecahkan soal-soal yang sulit diselesaikan, penerapan azas “gotong royong” benar-benar tercipta di dalamnya. Bulan Maret 2021, tepat satu tahun aku melalukan pembelajaran di rumah dan itu bukan waktu yang sebentar bagiku, berbagai keluh kesah dari teman-teman pun mulai bermunculan, kerinduan akan sekolah pun tak terbantahkan.

Tuhan kapan semua akan berakhir??? aku sangat berharap negeriku kembali sehat, duniaku kembali indah dan masa depanku kembali cerah, itu penggalan doa yang tak henti aku panjatkan sehabis sholatku. Ada hikmah dan pembelajaran dari setiap musibah, itulah keyakinan yang aku tanam dalam jawabku, agar aku bisa menjadi generasi yang kuat, mandiri dan yakin akan kemampuan diri sendiri untuk selalu siap menghadapi setiap ujian dalam kehidupan dan melibatkan Tuhan dalam setiap perjalanan. Tak terasa kini aku harus bersiap-siap meninggalkan sekolah menengah tingkat pertama dan melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi. Semoga masa pandemi ini segera berakhir dan dunia pendidikan kembali normal, sekolah tak lagi sepi dan kami bisa menutut ilmu dengan rasa aman dan nyaman.

(Visited 80 times, 1 visits today)

One thought on “Atika Rahma Rindu_GENERASI SMARTPHONE_SMPN 3 Subang

Tinggalkan Balasan